Aroma cat yang masih baru terasa menyengat begitu pintu dibuka. Sisy dan Miftah serentak mundur selangkah sambil mengibaskan tangannya. Setelah beberapa saat, udara yang masuk melalui pntu mulai mengurangi aroma tersebut, terlebih setelah keduanya membuka jendela depan dan dua jendela samping.
" Lumayan juga. " Sisy mengedarkan pandangannya. Baru dua minggu yang lalu mereka mendapatkan rumah kontrakan yang sesuai dengan yang mereka butuhkan, dan sesuai dengan budget. Lokasinya cukup bagus, walaupun keadaannya cukup memprihatinkan. Setelah menyerahkan perbaikan atap, kusen dan daun pintu serta jendela pada tukang, mereka minus Dewi menggosok dinding dan mengecatbulang dengan warna kuning pucat. Kalau semua diserahkan ke tukang cukup mahal, untuk ukuran usaha mereka yang baru berdiri.
" Lantainya harus digosok. " Miftah menekuri lantai yang nampak semakin suram dengan dinding yang bersih.
" Iya, kita mulai saja." Sisy meletakkan ransel di satu satunya meja diruangan itu dan masuk ke kamar mandi, sebentar kemudian sudah keluar dengan menenteng jeansnya.
" Siap perang ?" Miftah menatap celana selutut biru dan kaos senada yang sudah pudar warnanya.
Sisy tertawa, menyimpan jeans dan kemejanya diatas ransel , " Kakak mau ganti ? Sekalian ember dikamar mandi diisi air ya kak. " serunya lalu meraih emver, sikat dan sabun dari bawah tangga.
" Ini. " Miftah meletakkan ember berisi air lalu menyimpan celana panjang dan kemeja diatas pakaian Sisy , " Mudah mudahan Ito sudah selesai mengukur meja, lemari dan sebagainya. " dimasukkannya sabun.
" Sudah, kemaren waktu membersihkan sisa sisa cat. Dari kemaren juga sudah mulai bikin di tempat Iskandar" diraihnya sikat , " kita mulai dari belakang saja. "
Miftah mengguman, jongkok disudut lain ruangan dan mulai menghosok lantai. Rumah kecil ini tidak pinya sekat kecuali kamar mandi dan ruangan kecil dibawah tangga yang bosa dipakai sebagai dapur darurat untuk sekedar memasak air.
Lantai dua yang berlantaikan papan sudah selesai di cat dan dibersihkan, rencananya akan dipakai sebagai tempat istirahat. Dewi sudah bersedia meletakkan dua sofabed tunggal disana, dan saat ini sedang sibuk main rumah rumahan denganenjahit pembungkus sofa, tirai, karpet serta benda benda kecil lain untuk memastikan tempat itu layak ditinggali.
Sesekali Sisy melirik lelaki yang menggosok lantai dengan sedikit kikuk. Mungkin kalau untuk menyapu dan mengepel lantai dia terbiasa, tapi menggosok seperti ini .... ? Jelas lelaki itu tidak terbiasa, tapi ia menjalani hidupnya dengan sederhana, cukup untuk mau mencoba melakukan pekerjaan seperri ini.
Bibir Sisy berkedut menahan senyum mengingat bagaimana kikuknya Moftah mengecat dinding kemarin. Tapi dengan kehalusan dan pembawaannya yang tenang, walaupun terbilang lambat bahkan dibanding dirinya, hasilnya tidak mengecewakan.
" Kamu gak apa apa pulang liburan cuma sebentar ?"
Sisy memalingkan wajahnya " Dua minggu sudah cukup. "
" Orang tua kamu gak keberatan ?"
Sisy tertawa , " Dua minggu ngobtol semalaman, sudah habis bahan ceritanya. "
" Rahyuda ?"
" Cukup. " dijawabnya pertanyaan itu seringan mungkin. Sikap Miftah memang selalu baik, tapi ada yang sedikit berbeda sejak ia mengenalkan Rahyuda semester kemarin. Tatapan penuh makna dari Ito dan Dewi baru ia sadari sedikit membuka kemungkinan kalau lelaki ini memiliki bentuk rasa yang sama dengan Iskandar terhadapnya ... Maaf ...
" Kamu biasa ngecat ya ?" Miftah menatap gadis yang mulai berkeringat itu.
Sisy mengangkat bahu " Resiko jadi anak tunggal. Pas sama ibu dipaksa masak, beberes dan lainnya ... sementara bersama ayah diajari ngecat dan benerin genteng. "
" Kamu ?"
Sisy menirukan ekspresi heran Miftah, tertawa melihat lelaki itu sedikit malu. " Kakak gak biasa ya ?"
" Gak terlalu, kalau main di kebun lumayanlah." sahutnya jujur.
" Orangtuaku gak punya lebun sih, kecuali kalau jajaran polybag ibu berisi sayuran di teras samping bisa disebut kebun. " Sisy menggerakkan pinggangnya yang terasa pegal. Berdiri dan membiarkan Miftah menyelesaikan sedikit area di dekat pintu " Tadi di mobil ada minum kan kak ?"
" Ada dimobil. Ambil saja, gak dikunci. "
" Kakak mau ? " dicucinya tangan di kran dekat gerbang.
" Cola. " Miftah membersihkan ember dari sisa air sabun sekaligus mencuci tangannya. Ditariknya saputangan dari saku celana pendeknya dan mengeringkan tangan sebelum menerima minuman kaleng yang diserahkan Sisy.
Sisy tertawa malu, " Sempat pakai saputangan. " menggeleng ketika Miftah mengulurkan saputangannya " Pake ini saja. " diusapnya tangan ke celana pendek , " sekalian kotor. "
Setelah menghabiskan minumannya Sisy beranjalk ke dalam " Aku mau ngepel, kakak disitu saja. Kain pelnya cuma satu. "
Miftah mengangkat bahu " Kalau begitu aku ke tempat Ito dulu ya ... barangkali ada yang bisa dibantu. "
Sisy mengiyakan tanpa menoleh.
" Eh Mif .... " Ito mengangkat kepalanya awjwnak dari potongan kayu yang tengah digosoknya , " dari kantor ?"
" Iya, menggosok lantai."
" Sendiri ?"
" Sama Sisy. "
Ito meletakkan kayu ditangannya , " Perasaan itu masih belum berubah ?" ditatapnya Miftaj yang tengahnmempermainkan potongan kayu lain yang sudah selesai dikerjakannya.
Yang ditanya mengangkat bahu , " Biarkan saja. Kalau waktunya hilang rasa itu akan pergi dengan sendirinya." diusapnya kayu yang sudah halus dan mengkilat , " Ide darimana ini ?"
" Gadismu. " ditunjuknya potongan kayu bekas peti yang sudah berubah fungsi , " Dia ngasih ide dan menghitungnya ... selisihnya lumayan daripada beli."
" Kamu dan Iskandar lumayan juga jadi tukang kayu. "
" Simple aja sih modelnya, kalau yang rumit ya gak berani. gak apa apalah buar permulaan, daripada kantor kosong gak punya furniture. " disusunnya potongan kayu menjadi beberapa ikat, " Kamu bawa mobil kan ? Ayo kita angkat ke kantor. "
Miftah mengangkat beberapa ikat membawanya ke mobil yang diparkir diujung gang.
" Woeeey bantuin. " serunya pada Sisy begitu sampai di kantor.
Sisy segera keluar dan membantu , " Untung lantainya sudah kering." dilemparnya kaleng minuman ke tempat sampah " Mau langsung dipasang ?"
" Ayolah. meja yang besar dulu. " Ito menumpuknya di tengah ruangan , " Dimana kemaren yang meja besar ?"
Sisy menarik lembaran kertas dari ranselnya , " Di sana. " ujarnya setelah melihat denah asal asalan yang mereka buat beberapa hari yang lalu. Sebentar kemudian ketiganya sibuk memasang meja disusul dua meja lecil, dua bangku panjang dan lemari di dinding.
" Ayo makan dulu. " Dewi masuk bersama Iskandar, menenteng kantong plastik berisi lima nasi bungkus sementara Iskandar membawa satu karton air mineral.