Dewi mengangkat muka, menatap Iskandar melangkah masuk dengan tampang keruh , " Ada apa ?"
" Aku perlu bicara sama kamu. " Tanpa menghiraukan Roni yang duduk dihadapannya, Iskandar menyalakan rokok dan menghempaskan tubuh disamping Dewi.
Roni menatap Iskandar tanpa menyembunyikan ketidaksukaannya, menghela nafas melihat lelaki itu tak sedikitpun menganggapnya ada , " Aku pulang dulu. "
Dewi mengantarnya hanya sampai pintu, bahkan sudah berbalik sebelum Roni mencapai mobilnya , " Ada apa ?"
" Aku tadi ketemu. "
" Sisy ?"
" Ya, sama cowoknya. Mereka mengajak malan siang sama Ito dan Miftah. "
" Aku sudah cerita sebelumnya kan ?"
Iskandar mendengus jengkel , " Iya, tapi aku pikir mereka tidak akan seserasi itu. "
" Mereka bertolak belakang. "
" Tapi saling melengkapi. "
Dewi mengiyakan dalam hati. Barangkali Sisy tahu bagaimana Rayudha mencintainya dengan caranya sendiri , " Lalu kamu mau bagaimana ?"
Iskandar menyalakan rokoknya yang kedua, kali ini Dewi membiarkannya , "Entahlah. " disandarkannya lepala ke bahu Dewi , " Aku melihat hubungan mereka sangat kuat. Aku nyaris tak punya nyali untuk berusaha masuk kedalamnya. "
" Dengan jarak antara mereka ?"
" Pernah dengar ada urusannya cinta dengan jarak ?"
" Tapi tidak mudah. "
" Mungkin buat yang lain, tapi bukan buat Sisy. " dimatikannya rokok yang masih setengah " Dia kuat ... dia setia. Kalau tidak, aku tidak akan seputus asa ini. Aku tahu bagaimana Sisy menjaga semua selama ini. " dinyalakannya lagi rokok baru " Pantas saja tidak ada yang istimewa baginya. "
Dewi menggenggam tangan Iskandar tanpa bersuara ... Aku tidaknpernah menyangka kamu bisa seserius ini. Pasti ini sangat menyakitkan ....
" Aku harus gimana, Wi ?" Iskandar bertanya pelan , " Ini sakit sekali, aku gak pernah mengira akan seperti ini. Aku gak pernah seperti ini, kecewa dan sakit hati tapi tidak bisa menyalahkannya. "
Dewi mengusap rambut yang sedikit lembab itu , " Aku gak tahu Is, aku akan menyediakan bahuku ... untuk jalannya, kamu akan menemukannya sendiri. "
Iskandar mensesah, membuang rokoknya dan bertahan di bahu Dewi ... Bagaimana aku bisa begitu jelas melihat cinta mereka padahal jelas jelas aku sangat cemburu ? Begitu besarkah rasa yang mereka miliki ? Bagaimana aku bisa bersaing dengan Rayuda kalau Sisy begitu memujanya ? Bagaimana aku bisa berharap kalau mereka begitu saling percaya dan menjaga kepercayaan itu ? Mengapa bukan lelaki pencemburu dan posesif yang menjadi pacarmu, Sy ? Akan lebih mudah menghadapi yang seperti itu ....
***
Sementara itu Ito duduk disamping Miftah yang mengemudikan. mobil dengan tenang , " Mif ... kamu ngomong dong"
Miftah tersenyum , " Aku gak apa apa, To. Dari semula aku memang gak berharap banyak, " sahutnya getir , " Aku tahu gak ada yang istimewa buat Sisy disini. " dihelanya nafas berar, satu satunya tanda ia gundah , " Lagipula aku senang mereka saling mencintai, teramat sangat. Aku bisa melihat itu. "
" Dengan jarak ?"
Miftah tersenyum , " Jarak bukan masalah, setidaknya buat Sisy. Aku menghargainya, dan aku lega ... ternyata perasaanku tidak jatuh pada orang yang salah. Gadis itu begitu loyal, aku tidak bisa berbuat apa apa .... dari awalpun aku tidak berbuat apa apa. " pungkasnya pelan.
Ito terdiam. Ia tahu sahabatnya terluka. Tapi memang benar yang dikatakannya, kehadiran Rahyuda tidak mengubah apa apa karena dari awal Miftah tidak melakukan apa apa.
Sepasang kekasih yang hadir dihadapan mereka tadi, Ito, Mifah dan Iskandar, memang tidak terlalu mencolok. Tidak dibuat buat maupun mesra secara berlebihan, bahkan teekesan menjaga diri .. tapi mereka bisa merasakan kuatnya perasaan mereka berdua. Miftah benar, tidak ada yang bisa diperbuat pada mereka. Sejenak Ito berharap Iskandar juga bisa menerima sedewasa Miftah.