Sisy mendorong pintu paviluun rumah Dewi yang tidak sepenuhnya tertutup itu sambil meneriakkan salam , " Eh ... maaf." dianggukkannya kepala kepada lelaki yang duduk dihadapan Dewi.
" Masuk, Sy ... dari mana ?" Dewi berdiri ," Kenalkan ini Roni, temen dari Yogya. "
Sisy mengulurkan tangannya ," Halo, aku Sisy." ujarnya sambil tersenyum, mencegahnya lebih lebar saat menyadari betapa lembut kilit tangan lelaki ini dan betapa tidak kuatnya genggaman lelaki denga tubuh setegap ini ... Jadi ini sosok yang tengah sering dibicarakan orangtua kak Dewi ? Terlalu jauh dari sosok Kak Ito ... dan kalau mereka sampai bersama, tidak akan banyak langkah yang bisa diambil oleh sepasang manusia pasif .... Sisy menggigit bibir, mengumpat dirinya sendiri dengan pikiran sinisnya , " Kak, aku mau nanya buku dari Kak Mif. Ditaruh sini apa belum ? "
" Tuh, dimeja. Sebentar ya Ron. " diikitinya Sisy ke ujung ruangan ," Kamu jangan pergi dulu ya ... kalau Ito datang gimana ?" bisiknya sambil meraih dua buku tebal ," Yang mana ? Kamu lebih cepat ngerjainnya dibanding Miftah. "
" Iyalah ... aku cuma nyaling doang, sementara lak Mif pake dipelajari , " Dikeluarkannya flashdisk ," apa perlu diprint sekalian sekarang ?"
" Tentu saja, biar aku segera memasukkannya ke pekerjaan yang sudah bisa ditagih. " ditatapnya Sisy dengan pandangan penuh rasa terima kasih, bersyukur gadis ini cepat tanggap, karena biasanya dia yang ngeprint.
" Kakak tadi lagi kerja ?" digerakkannya mouse dan laporan keuangan mereka terpampang disitu ," sana temenin dia dulu, nanti sebentar aku panggil lagi. " bisiknya.
Dewi menurut ," Simpan saja, kamu bisa pakai untuk ngeprint."
" Kak .... kertasnya dimana ?" teriak Sisy beberapa menit kemudian.
" Di lemari dibawah mejamu itu ... kemarin siah aku habis belanja sama Ito. Sekalian Cek tintanya, Sy."
" Sibuk ya ? "
" Begitulah . . diminum Ron. "
Lelaki itu meminum es teh dihadapannya , " Tugas kuliah ?"
" Bukan, kerjaan."
" Kamu kerja ? Untuk apa ?"
" Memangnya kenapa ? Waktuku juga masih luang. "
" Bukan begitu .... " sahut Roni cepat melihat gadis didepannya sedikit meninggikan suara , " Apa gak mengganggu kuliahmua ?"
" Gak." sahutnya singkat, menatap Sisy saat mendengar telepon dimeja berbinyi ," Angkat aja, Sy."
" Kak Ito ." Sisy mengacungkan benda beewarna silver itu, tersenyum jahil saat Dewi bergegas menghampirinya dan meraih telepon. Diangkatnya alis lalu kembali sibuk dengan pekerjaannya.
" Iya ... itu tadi Sisy. Sekarang kamu dimana ? Mau ... Sebentar." disentuhnya bahu Sisy , " Mau es durian gak ? "
" Ditempat biasa ? Mau. " sahut, Sisy antusias.
" Mau, To .... sama si kembar juga ya. Daa ... hati hati. Gak, kita sudah makan. Sy kamu sudah makan siang ? "
Sisy mengangguk.
" Sudah, es nya aja. bye. "
" Kak Ito sendirian ? "
" Sama Miftah, habis nyari pembimbingnya tadi. " ... Tolong ... ujarnya tanpa suara.
Sisy memberi tanda untuk pergi , " Kaaaak tolong ini gimana ? " serunya sedikit panik, memaksa Dewi kembali ke mejanya bahkan sebelum sempat duduk kembali di sofa.
" Yang mana ? Sebentar."
Sisy berdiri memberikan tempatnya , " Tolong ya kak. " diangkatnyan ponsel yang berdering pelan , " Siang ...." sahutnya sebelum berbicara panjang dalam bahasa Jerman, bergaya serius kendati Helga, gadis Berlin yang tengah tugas belajar di Jakarta itu hanya sekedar menanyakan kabar. Diberikannya tanda pada si kembar yang menutup mulut menahan tawa dari balik pintu geser saat melihat Dewi begitu serius hanya untuk mengedit page setup dan nomor halaman.
" Wi, aku pulang dulu ya ... kelihatannya kamu lagi sibuk."
" Oh iya ... sorry ya Ron." Dewi beranjak dari kursinya, sempat mencubit lengan Sisy sebelum mengantarkan tamunya ke pintu.
" Ada tamu ?" Miftah menatap Roni dan mengangguk kecil.
" Ini Roni, temanku."
Kedua lelaki itu bertatapan dan berjabat tangan. Roni mengangguk sebelum melangkah keluar, menganghik juga pada Ito yang berpapasan dengannya di dekat mobil.
Baru ketika mendengar mobil yang dikendarai Roni menjauh tawa Sisy meledak disambut sikembar yang muncul dari balik pintu. ketiganya tergelak sampai mengeluarkan air mata.
" Ada apa sih ?" Ito menatap mereka dwngan kening berkerut.
Miftah emnatap Dewi yang kendati ikut tertawa, matanya menyiratkan sedikit ketakutan ," Oh ... itu tadi tamunya Dewi ?"
Ito menatap gadisnya tajam sebwlum melunak melihatnya ketakutan ," Apa yang kalian tertawakan ?" serunya pada Sisy da
n si kembar yang masih kesulitan menghentikan tawanya.
Deni meraih minuman Dewi yang tak tersentuh dan meneguknya ," Tadi sudah banyak yang kami coba, tapi kak Sisy tetap yang terbaik. Mbak dipaksanya sibuk didepan komputer, entah disuruh ngapain."
" Persiapan ngeprint itu butuh ahlinya ," Sisy menelan tawanya ," Mana es nya ?"
Miftah mengulurkan kantong plastik ," Ambil mangkuk di dalam, Sy."
" Devi, bantuin Kak Sisy." Ito menepukmlembut bahu gadis berkacamata itu ," atau pecah semua mangkuk kalian."
Sisy mencibir dan mengikuti Devi ke dapur.
Miftah membaca tulisan Sisy, teesenyum.mendapati gadis itu menyesaikan nya kurang dari seminggu ," Thanks," diterimanya mangkuk yang diulurkan Sisy ," Sudah selesai ?"
" Punya kakak sudah ?"
" Belum."
Sisy menekan beberapa tombol dan membiarkan mesin printer bekerja, sebelum duduk di lantai bersama Deni dan Devi. Beberapa kali matanya melirik Ito dan Dewi, dan tiba tiba saja rasa rindu itu muncul ... sudah hampir dua bulan gak ada kabar, kamu kemana sih Yud ? Begitu sibukkah kamu sampai membalas pesanpun tidak sempat ....
" Wah lagi pesta apa nih ?" tiba tiba Iskandar berdiri di depan pintu ," Masih ada, gak ?"
" Ada di lemari es, ambil sendiri ya." sahut Sisy.
Lelaki itu melangkah cepat ke dapur dan kembali membawa sebuah rantang ," Aku gak nemu mangkuk lagi."
" Ada banyak di lemari." sergah Dewi.
" Sama saja." Iskandar menghempaska tubuh disebelah Sisy dengan sikap kepemilika. yang tinggi ," Eh,. ada beberapa penelitian yang bisa kita kerjalan nih."
" Tugas akhir ?" Miftah berhasil memaksa suaranya tetap tenang.
" Ya ... lumayan ada beberapa topik."
" Mantap juga kerjamu cari order, Is." Ito meletakkan mangkuknya yang sudah kosong.
" Iskandar gitu lho." sahutnya jumawa sebelum terpekit ketika Sisy menginjak kakinya dengan tampang sebal.
" Nyombong .... itu tandanya teman temanmu banyak yang malas."
" Eh, mereka membantu kita memulai bisnis. " tergelak ketika gadis itu lembali menginjak kakinya.
" Kemaren kemana ?"
" Citatah. "
" Manjat ? "
" Bukan neng, jualan krupuk. Ya manjatlah ... mau ikut ? "
Sisy menggeleng, berdiri membereskan beberapa mangkuk kosong ... apa kamu juga sibuk memanjat tebing tebing itu ? atau tengah mendaki gunung sampai tak pernah berkabar ? ....
" Lama amat, mangkuk kotor gak akan bersih kalau cuma dilihatin gitu."
Sisy teesentak,enatap sebal pada Iskandar yang sudah berdiri diaampingnya. Diraihnya rantang dari tangan lelaki itu, mulai mencuci tanpa suara.
" Kamu kenapa ? Mendadak bad mood gini."
Sisy menatapnya sekilas, tersenyum tipis pada lelaki keren yang tengaj bersndar di sisi meja sambil mengantongi tangannya.
" Laku bisu ya ?"
" Cerewet." Sisy membilas tangan dan mengeringkannya dengan handuk kecil yang tergantung di dinding ," Berlagak jadi mandor ? Cuma ngawasin doang ?" semburnya.
Iskandar tersenyum ," Itu baru Sisy yang biasanya." ditariknya rambut yang diikat menyerupai ekor kuda itu " Ito kenapa sama Dewi ?"
Sisy tersenyum geli ," Tadi ada Roni."
" Den Mas Roni ?"
Sisy mengangguk ," Jangan sinis gitu." ujarnya sambil menutupi malu karena tadi pikiran itu sempat melintaa dibenaknya.
" Kamu melihatnya gimana ?".
Sisy mengangkat bahu ," Entahlah, bukan urusan kita."
" Dewi sama Ito teman kita, Neng."
" Aku percaya Kak Ito cukup kuat, tapi itu saja gak cukup kan ? Banyak faktor yang bicara disini, termasuk Kak Dewi sendiri san keluarganya. Kita dukung, tapi kembali laginpada mereka berdua memperjuangkannya."
Iskandar menatapnya dalam ...Aku kira, dengan pembawaan ringanmu, kamu akan berpikir seperti aku. Ternyata dalam hal ini kamu sejalan dengan Miftah ... pemikiranmu sejauh itu ...
" Hei, bengong."
" Kok kamu jadi kayak Miftah ?"
" Sialan..." digebuknya punggung Iskandar ," Setidaknya aku sedikit lebih hidup."
Iskandar tergelak ," Aku bilangin."
" Takuuut." Sisy meleletkan lidah, berlari menjauh ketika Iskandar akan menjitak kepalanya.
Miftah , Ito dan Dewi menatap mereka yang berkejaran sambil tersenyum tipis dengan makba berbeda.
" Devi sama Deni kemana ?" tanya Sisy.
" Siap siap mau latihan basket."
Sisy mengeluarkan oh panjang lalu duduk mengatur kembali hasil cetakan, menyusunnya menjadi beberapa bab yang berurutan.
" Sudah selesai ? Tolong print kan ini." Miftah mengulurkan flashdisk.
" Tadi katanya belum selesai ?"
" Buku itu ? Belum ... Ini print out hasil perhitungan statistik."
Sisy membuka file, begidik ngeri melihat deretan angka didepannya ," Tinggal ngeprint aja kan kak ?"
" Iya." Miftah tersenyum melihatnya.