Suara radio yang yengah memutar lagu tahun 90 an menjadi suara tunggal di ruangan denga empatbkepala yang sibuk dengan pekerjaannya masing masing itu. Ito duduk di depan komputer, sibuk menganalisa data hasil penelotian lapangan yang bertumpuk di meja sampingnya. Sementara Iskandar dan Dewi sibuk dengan proposal dan lembatan lembaran kuisioner. Duduk berhadapan tidak membuat mereka bercakap cakap. Dewi berulangkali merapikan tumpukan berkas tanpa mengeluh, untuk kemudian diacak lagi saat Iskandar memerlukab salah satu diantaranya.
Miftah menatap keduanya sambil tersenyum, kebersamaan yang saling melengkapi seperti halnya dirinya dan Ito. Dialihkannya pandangan keluar, menatap hujan yang masih belum menunjukkan tanda tanda berhenti walaupun sudah mengguyur bumi sejak pagi tadi. Biasanya di jam jam seperti ini Sisy datang. Hari ini ia tidak ada kuliah, han upya latihan pagi dilanjutkan kursus bahasa prancis yang mestinya selesai dua jam yang lalu ... Kenapa kamu gak minta dijemput ? Bagaimana kamu bepeegian saat hujan lebat seharian seperti ini ?.... Dihembuskannya nafas, mencoba berkonsentrasi pada laporan keuangan yang terhampar di meja kecil yang kembali ditariknya lebih mendekati jendela, merasakan angin yang menerobos masuk do dari jendela yang dibiarkan terbuka.
Langit sudah hampir sepenuhnya gelap, kendati jam di dinding bahkan belum menunjukkan pukul lima sore, saat Miftah mengangkat kepalanya dan menemukan sosok dengan jas hujan merah menyala memasuki halaman tanpa sedikitpun tergesa.
" Hai." serunya dari teras.
" Kok hujan hujanan gitu ?" Miftah meminggirkan meja kecilnya.
Sisy melepas sendal jepit, kemudian celana dan jas hujannya lalu melebarkan tangan , " Gak basah kan ?"
Memang tidak, air hanya sedikit membasahi ujung jeans yang digulungnya. Ransel andalannya tampak membesar dengan sepasang sepatu teegantung dengan pongahnya.
Sisi membentangkan celana dan jaket parasutnya di kursi teras bersama topi yang nampak lembab, membawa masuk ranselnya setelah melepaskan sepatu dan meletakkannya disamping pintu.
" Darimana" Iskandar tertawa melihat gadis itu kedinginan.
" Menjalani apa yang harus dijalani."
" Hujan deras begini ?"
" Halaaah ini masih taraf memperlambat, belum badai yang mengharuskan berhenti ," dikeluarkannya map plastik dari tas ," Masih bisa dihadapi." Tersenyum lebar pada segelas teh hangat yang disodorkan Miftah ," Makasih kak."
" Keringkan dan tutup kakimu, sudah pucat begitu."
" Hehehe iya." Sisy menatap jemari kakinya yang memucat dan sedikit bergetar, sebelum mengalihkan pandangan pada lelaki yang kembali ke mejanya dan bersiap melanjtkan pekerjaannya. Diambilnya handuk kecil dari dalam ransel untuk membungkus kakinya sampai sedikit hangat.
Ito dan Dewi berpandangan, tersenyum tipis seolah sepakat apa yang mereka lihat menguatkan dugaan akan perasaan khusus yang disimpan lelaki pendiam itu pada Sisy yang tengah duduk disofa sambil memeluk lutut.
...Bodoh ! Mengapa aku tidak melihat ini sebelumnya ? Aku terlalu sibuk dengan usahaku sendiri sampai tidak menyadari Miftah menyimpan rasa yang sama ? Bagaimana bisa aku mendata semua pesaingku diluar sana dan melupakan dia ... yang selama ini bersamaku dan Sisy ? Kalau hanya kesabaran yang bisa menundukkan hati Sisy, Miftah sangat berpotensi...
" Is, ini literatur yang kamu butuhkan, dan sudah ada terjemahannya." Sisy mengulurkan sebuah buku hukum berbahasa Belanda dan satu bendel berkas.
Iskandar tersentak ," Dingin ?" tañyanya melihat Sisy menggosok lengannya ," Nih Pake." dilemparkannya jaket yang dari tadi teronggok di sebelahnya.
" Thanks." Sisy mengenakan jaket tebal itu. Keningnya sedikit berkerut melihat sikap posesif dan menantang ditunjukkan oleh Iskandar, tidak seperti biasanya ...Ada apa ini ? Aku gak kepingin ge er, tapi ini harus dihentikan. Setidaknya mereka harus tahu tentang kamu dan hubungan kita ... walaupun kamu sulit dihubungi belakangan ini Yud ...
Miftah menangkap perubahan pada wajah Sisy yang berusaha memusatkan perhatian pada proposal didepannya ...Apa kamu merasakan persaingan ini, Sy ? Apa kamu merasa tidak nyaman ? Kelihatannya begitu. Maafkan aku, tapi aku tidak bisa membohongi perasaanku sendiri. Aku tidak berharap banyak, hanya ingin menyimpan rasa ini dan berada didekatmu.... Miftah menghembuskan nafas perlahan dan kembali pada laporab dihadapannya. Sebentar kemuadia semua tenggelam dalam pekerjaan masing masing.
Lebih dari dua jam kemuadian, Ito mematikan komputer ," Sudahlah, ayo kita pulang. Sudah malam juga."
Sisy merapikan berkas dan catatannya sebelum memasukkannya ke dalam ransel tanpa bicara. Suasana hatinya mendadak murung."
" Makan malam sekalian yuk." Miftah menggoyangkan kuncinya.
Ito dan Iskandar mengangguk,," Ayo aja."
" Sy ?"
" Aku mau langsung pulang saja."
" Nanti kita antar pulang."
Sisy menatap Miftah, lalu menggeleng sambil tersenyum.
" Ayolah kalau gitu aku antar kamu pake motor sekarang."
Sisy menggeleng ," Aku lagi pengen sendirian. " dibereskannya barang barangnya di teras ," Aku duluan." dilambaikannya tangan dan melangkah cepat menyusuri jalanan yang gelap Maaf, aku lagi bad mood. Aku tahu gak seharusnya bersikap seperti ini
" Sy ...."
Ito menepuk bahu Iskandar ," Biarkan dia sendirian. Kamu gak lihat moodnya lagi gak bagus sejak tadi ?"
Mereka menghembuskan nafas panjang hampir bersamaan