Deep Talk

1654 Kata
Kanaya dan Indira baru nyampe di mall yang tadi siang mereka datangi, mereka langsung menuju tempat makan yang biasanya mereka kunjungi. Indira sedang mengantri, dan kanaya duduk manis dikursinya. Tak lama kemudian Indira kembali dengan membawa nomor meja besarta pesanan. Kanaya langsung memulai pembicaraan, “Dir, tadi katanya lu mau cerita terkait di ruang wawancara, pertemuanlu ama kak Bryan. Dira pun menceritakan kejadian tadi dengan meluap – luap masih emosi jika mengingat kejadian di ruang wawancara tersebut. Ga mungkin akh kak Bryan bersikap kayak gitu Dir ke lu? Buktinya lu lolos beasiswa Dir, mungkin kak Bryan mau denger suara lu lebih lama kali, secarakan kalian sudah lama tidak berkomunikasi, kangen kali cerocos Kanaya. Indira hanya mengedik malas mendengar jawaban Kanaya. Dia cukap malas menangkapi pembahasan terkait dengan Bryan, toh juga pria itu kini sudah ada pendampingnya. Lu juga tadi mau ngomong, lu mau ngomong apa Nay? Kanaya pun mengungkapkan bahwa dia tak memilih kampus yang sama dengan Indira, alasan – alasannya pun dia sebutkan, meskipun mood perempuan itu lagi tak baik, lebih baik mengutarakannya sekarang. Indira hanya menggangguk, “sebenarnya gua udah tau kalau lu ga ambil kampus yang gua ambil waktu lu balas pesan gua, gua kenal lu dah belasan tahun Nay, lu ga bakal berani bohong ke gua dengan mengiyakan ajakan gua, lu pasti berdalih. Untuk alasan – alasan lu, gua ga terima waktu lu bilang kurang mampu untuk kuliah disana, yang pertama uang beasiswa gua, gua bakal kasih ke elu, orangtua gua ga mengharapkan beasiswa tersebut, berhasil dan enggak berhasilnya gua dapat beasiswa bokap gua akan membayar full uangkuliah dan jajan gua. Gua ngelakuin itu, karena gua ga mau pisah ama lu Nay, gua mau kita pakai almet bareng, sama – sama lulus dengan kampus yang sama. Atau lu udah bosan ya sama -sama terus sama gua? Kanaya langsung menjawab pertanyaan tersebut, sampai kapan gua bergantung terus sama lu Dir? Dan lagipula fakultas yang kita ambil berbeda yang otomatis jadwal kita akan berbeda pula. Kita akan disibukkan dengan dunia kita nanti. Dan menurut lu ketika lu ngasih uang beasiswalu ke gua, pertemanan kita akan sehat? Gua akan merasa kalau lu kasihan ama gua, ataupun gua akan merasa akan memanfaatkan lu sebagai teman. Dan jika suatu saat orang tau beasiswalu ke gua, maka gua akan dianggap sebelah mata Dir. Lu pernah mikirin kemungkinan – kemungkinan ini ga sih Dir? Dira hanya terdiam dengan jawaban – jawaban Kanaya yang tak dipikirkannya sebelumnya, dia hanay ingin terus bersama sama dengan Kanaya. Syukur gua temanlu Dir, kalau yang lain ga yakin gua akan ngomong kekgini ke elu, lu emang sebaik itu Dir, tapi apa yang lu dapat lu harus belajar menikmati, ini untuklu. Masalah orangtualu yang ngebiayaiin lu, itu keberuntunganlu sayangku cerocos Kanaya panjang lebar. Mata Kanaya tak sengaja menangkap siluet seseorang yang Dia kenal, Bryan, Allan dan cewek itu memasuki restaurant yang sedang mereka tempati. Suara pramusaji menghentikan pandangan Kanaya, Ini mbak pesanannya 2 tea manis dingin, 1 nasi, 1 kwitiew siram sapi, 1 bakmi goreng seafood, dan ayam goreng mentega dan 1 cah kangkung, dan untuk es tellernya nanti menyusul ya mbak seperti pesanan mbak. Iya sahut Indira dengan cepat. Setelah pramusaji tersebut pergi, Eh Kanaya Cantika Brahmana, suara kak Allan mengintrupsi, kita disini aja bro seru kak Allan kepada kak Bryan yang sedang berjalan sepertinya dia baru selesai mengantri, berbarengan dengan gadis itu. Gapapakan kita gabung, Indira ingin protes tetapi Kanaya menatapnya memelas seperti biarin aja, toh juga kursi yang lainnya penuh. Membuat Indira yang tadinya membuka mulutnya hendak protes menutupnya kembali. Lagi pesta kelulusan beasiswa ya, takjub melihat pesanan mereka berdua. Kemudian memilih mengambil tempat disamping Kanaya, Indira langsung berpindah tempat disamping Kanaya, untuk membiarkan kedua pasangan itu duduk berdampingan, atau lebih tepatnya Kini Dia berhadapan dengan Bryan. Kak Allan memanggil pramusaji agar diberikan tambahan meja. Eh tadi pertanyaan kakak belum dijawab, kalian perayaan kelulusan? Enggak kok kak, sahut Naya ini memang kebiasaan makan kami, maklum lagi masa pertumbuhan, sahut Kanaya dengan cengiran. Oh ya lupa ngenalin ini teman kakak, namanya. Belum sempat Alan mengenalkan Bryan langsung mengintrupsi, ga perlu lu kenalin gua udah kenal mereka berdua adik kelas gua waktu SMA. Oh ya, mereka berdua lulus bukan karena ada konspirasi disinikan? Tanya kak Allan, ya enggak lah dodol, Kanaya kan lu yang lolosin gimana konspirasi, sahut Bryan melihat temannya nyerocos mulu dari tadi berbeda dengan gadis itu, dia tetap tenang menikmati makanannya dengan melihat handphonenya ntah apa yang dilakukannnya dengan ponselnya. Lalu Indira, lu ga konspirasikan, secara kan lu yang uji Dia? Indira yang namanya disebut hanya mendelik tak suka. Ya enggak lah kan yang ngewawancara ga gua sendiri, lu boleh tanya ama bu Nita dan Budi. Manatau lu kasih tau mereka kalau yang ini adik kelas lu juga. Bryan diam aja malas ngejawab pertanyaan temannya itu, Dia ga tau aja bagaimana marahnya perempuan itu ketika sesi wawancara tadi. Oh kalau kak Bryan kalian udah kenal, ini namanya kak Putri katanya sih temannya kak Bryan, eh gua ralat deh masih teman kedepannya ya ga tau sahut Allan dengan cekikikan yang dibalas tatapan tajam Bryan. Oh salam kenal, aku Kanaya sambil mengulurkan tangannya, selain itu kakinya juga menyenggol Indira, untuk melakukan hal yang sama. Indira pun menatap perempuan itu, Indira sambil menyalam gadis itu. Dari tadi diam mulu, giliran ngomong, cuman sebut nama doang, anteng banget neng ama makananya. Kanaya hanya tertawa melihat kak Allan meledeki temannya selain itu juga dia ingin menghidupkan suasana yang sudah awkward banget ini. Pramusaji tadi mengantarkan pesanan mereka, yang pasti tidak sebanyak pesanan mereka. Kak putri makannya dikit banget kak, sahut Kanaya yang melihat perempuan itu membagikan makanannya pada Bryan. Iya soalnya sudah terlalu malam, nanti aku bakal cepat naik timbangan apalagi tubuhku itu minum air saja jadinya lemak, jawabnya berkelakar. Padahal Naya melihat tubuhnya sudah body goal banget dan tak ada lemak, berbanding terbalik dengan tubuhnya. Kanaya hanya mencelos melihat Indira yang tetap diam menikmati kwitiew siramnya dengan sambal yang banyak. Ntar lu sakit perut, kanaya memprotes gerakan tangan Dira yang hendak menambah sambalnya. Dira langsung menuangkan sambal itu ke mie gorengnya Kanaya, lu berisik Nay, gua mau buat ke bakmi gorenglu biar lu makan dan diem, nyerocos mulu, sahut Indira. Suara Allan mengintrupsi sekali ngomong malah ngomel Dir. Emang dia mah kak, ngomel mulu kerjanya tiap hari. Oh lu udah ada tempat pengaduan sekarang, goda Indira dengan tawa, bukan kak, dari tadi ngomong mulu udah nambah ni rasa mie gorengnya karena ludahnya udah terciprat, Gua boleh minta kwitiew siram lu Dir, tanya Bryan. Dira menggeleng, enggak kak aku suka, kakak pesen aja lagi yang baru. Bryan langsung memanggil pramusaji untuk menambah pesanannya 1 kwitiew siram sapi, dan mengambil langsung kwitiew milik Indira dan menuangkannya ke piringnya. Indira menatap tajam Bryan dengan tingkah laku pria itu, tak tau kah Dia bahwa gadisnya kini menatapnya heran. Bryan bersyukur mengambil makanan Dira, setelah dia makan memang pedas banget, gadis itu pencinta pedas tetapi perutnya tak bisa menerima pedas, jika tak sakit perut, asam lambung gadis itu akan naik. Bryan aja sampai mengambil setengah kwitiew siram yang baru datang untuk menetralisir cabai dipiringnya. Setelah itu dia meracik sambalnya sesuai dengan tingkat kepedasan yang bisa diterima oleh perut Indira, dan dia langsung bergerak cepat menjauhkan cabainya, dia tau Dira akan berbuat kekanak -kanakan dengan menambahkan cabai di kwitiewnya agar dia kesal. Makan ini kwitiew kamu yang saya makan tadi. Indira menatapnya tak suka, dia harus kembali menormalkan wajahnya agar wanita yang disamping pria itu tak tau bahwa dia sebenarnya siapa. Dia memakan kwitiew tersebut, pramusaji kemudian datang bu Dira, apakah es tellernya sudah bisa kami buat sekarang? Kanaya mengangguk, karena makanannya sudah habis, dan untuk jus alpukat 2 di bungkus 5 menit setelah penyajiannya ya mbak baru dibuat, sahut Kanaya. Buset makan kalian banyak sekali, cerocos Allan. Sedangkan Bryan, tau ini kebiasaan gadis tersebut jika makan, es teller tak pernah lupa dan jus alpukat dibawa pulang, Bryan tersenyum mengingat waktu mereka berpacaran dulu. Selesai makan, langsung pulang atau mau kemana tanya Allan, kami mau langsung pulang kak, lagipula sudah jauh malam, yasudah bareng kami aja pulangnya dibanding panggil taksi. Indira menolak enggak kak, kami naik taksi aja, lagipula rumah kami ga jauh dari sini, Bryan yang tau Dira berbohong, langsung mengatakan, pulang bareng aja, tapi kita ngantar Putri dulu kebandara ga jauh dari sini, soalnya besok siang dia ada rapat dikampus, putus Bryan langsung pergi tak ingin mendengar alasan Dira lagi. Mereka memasuki mobil Bryan, sudah ganti mobil rupanya, tanya Kanaya pelan, yang diangguki oleh Dira. Didepan Bryan yang mengemudi disampingnya Allan sedangkan dibangku tengah Kanaya berada ditengah, Dira tepat dibelakang Bryan. Setelah mengantar Putri ke stasiun kereta, mereka melajukan mobil pelan. Lu nginap dimana malam ini Yan? Kayaknya ngantar lu dulu dah Lan, soalnya gua masih ada urusan yang lokasinya ga jauh dari rumah mereka. Dibanding gua bolak – balik. Allan mengiyakan tapi lu besok ke perusahaan ya, mumpung lu di Jakarta. Bryan menganggukan kepalanya. Setelah Allan turun dari mobilnya, Kanaya mencubit pinggang Dira menyuruhnya pindah kedepan, tapi Dira pura – pura tidur. Ga ada yang pindah kedepan nih? Tanya Bryan melihat keengganan mereka berdua, gua bukan supir loh ini, seseorang yang memberikan beasiswa aku ini, kelakarnya. Iya nih kak, Dira tadi katanya mau kedepan tapi harus kakak suruh dulu, dengan tampang wajah tak bersalahnya Sumpah ingin rasanya dia mencekik sahabatnya saat ini. Dir, ke depan Dir, saya bukan supir kamu, dengan menggerutu Dirapun keluar dari mobil dan mengambil posisi duduk di depan, baru dah mobil berjalan. Tak lama keluar dari perumahan Allan, Allan mengirim pesan “kayaknya ada yang perlu lu jelasin deh Yan”.  Bryan melihat notifikasi langsung membalas “ntar gua jelasin”. Tak terasa rumah Kanaya sudah sampai, makasih kak Bryan, luan ya Dir, Ok jangan lupa mandi lu, kasihan pak dan bu Brahmana putrinya bau busuk. Bye Bye sayangku. Bryan melajukan mobilnya dan membelokkan ke arah lain bukan kearah rumahnya, rumah aku masih lurus kak, sahut Dira mengingatkan, iya aku masih ingat tapi ada yang mau aku bahas sama kamu. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN