Bryan dan Indira

1436 Kata
Brayan melajukan ke jalan raya yang sudah langgeng, malam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Apa kabar Dir? Tanya Bryan untuk membuka percakapan. Dira hanya menatap Bryan malas membalasnya kemudian menutup matanya, berpura – pura tidur, itu yang dilakukan gadis itu, berharap akan menyadari kalau dia mengantuk dan akan memulangkannya sesegera mungkin ke singgasananya. Aku tau kamu pura -pura tidur Dir, ini belum waktunya kamu tidur. Masih tak ada jawaban dari Dira. Baiklah aku telpon kakak kamu, malam ini kamu sama aku ya, ga pulang. Aku bilang kamu ketiduran dan kita sudah jauh dari rumah, kamu ga lupakan kalau kakakmu masih salah satu temanmu, ancam Bryan. Dira langsung menegakkan badannya, dia cukup malas jika di intograsi kakaknya terkait hubungannya dengan Bryan. Waktu mereka putus aja, kakaknya kepo setengah mati, Bryan ga selingkuhkan dek, lu ga disakitin ama Bryan kak Dek. Membuat tenaga indira habis terkuras untuk mengatakan hal yang sama berulang ulang kali. Indira terlalu gengsi untuk mengatakan putus karena ga bisa jarak jauh, jadi alasan yang dia gunakan adalah ga cocok ama Bryan. Dan tentu saja kakaknya harus melakukan konfirmasi kepada Bryan, dan Bryan hanya bilang, adiklu yang mutusin gua, tanya dia alasannya. Kalau adiklu mau putus yakali gua tahan. Hal itu lah yang membuat kakaknya masih berteman dengan Bryan. “Kabar aku baik kak, udah bisa kakak antar aku pulang” jawab Dira. Bryan hanya diam, dan terdengar dering ponselnya Putri meneleponnya. Ntah apa yang mereka percakapkan yang Dira tau Bryan hanya menjawab pertanyaan Putri seperti kata Iya, masih di Jalan, kayaknya rumah Allan, dan lain – lainya. Dira cukup jengah yang melihat Bryan masih bertelepon dan tertawa. Dia memutuskan memalingkan wajah dan menutup mata, pura -pura tidak tau apa yang terjadi. Tak lama kemudian suara hening dan sepertinya Bryan sedang menelepon seseorang, Lex, tunggu tunggu Lex, jangan bilang Alex kakak gua, dan selanjutnya terdengar. Lex gua jalan ama adiklu dulu, mungkin agak malam pulangnya. Ini udah malam Yan, jam berapa adik gua lu pulangin, suara kakak ku terdengar jelas sepertinya Bryan mengloudspeakerkan. Tergantung adiklu bisa di ajak negosiasi atau enggak, kalau bisa cepet. Kalau enggak ya lama. Adek gua pulangnya harus utuh tanpa kekurangan apapun ya Yan. Kalau itu lu tenang aja, utuh dia, ntar lu cek, gua cuma mau ngabarin doang, ntar kalian kecarian tuan putri panduwinata ga ada, udah satu – satunya, kelakar Bryan. Yaudah coba lu tanya aja dia punya kunci rumah atau enggak, kalau enggak biar rumah ntar ga usah gua kunci. Tanya langsung aja, adiklu denger kok Cuma dia pura -pura tidur aja. Dira langsung menjawab, aku bawa kunci kok kak sahut Dira. Kok lu bawa kunci dek, lu tau ya mau diajak jalan Bryan, goda kakaknya sambil tertawa. Indira hanya menggerutu, jika dia tau kalau Bryan adalah salah satu pencetus dan pewawancara hari ini lebih baik dia memutuskan untuk tidak mengikuti beasiswa tersebut. Tapi dia malas meninggali godaan kakaknya, dia hanya mengatakan udah ya kak, kakak tidur aja. Ye mau berduaa.. belum selesai kakaknya menggodanya Indira langsung mematikan panggilan tersebut. Kak, kakak mau bahas apa, aku udah ngantuk? Tanya Indira cepat. Bryan hanya diam seperti sedang menikmati jalanan. Kak.. panggil Dira tegas. Kamu ga tanya kabar aku Dir, setelah 2 tahun tidak bertemu? Dira menghembuskan nafasnya pelan, aku tau kabar kakak baik, buktinya ada disini. Kalau kakak sakit kakak pasti ada di Bandung dan kalau parah ya terbaring dirumah sakit, sarkas Dira. Bryan hanya tertawa, kamu udah ga peduli ama aku lagi. Dira diam menatap jalanan dan memalingkan mukanya, dalam hatinya kan sekarang sudah ada yang peduli ama kakak, jadi mengapa nanya ke aku, ingin rasanya Dira mengatakan seperti itu tapi dia takut dia ketahuan kalau sedang cemburu, bisa diatas angin Bryan jika mengetahui Dia sedang cemburu. Kok Wa ku kamu block Dir, tanya Bryan lagi Bryan tau bahwa Dira enggan menanggapi pertanyaan sebelumnya. Dira mengeles ga kok kak, aku ga ada block nomor kakak. Kamu block Dir, no kakak kamu block, soalnya kakak tanya kakakmu nomormu masih yang lama, bahkan mengirimkan kontakmu. Dira masih mencoba mengeles, enggak kak, aku malah ga tau kalau no kakak ke block. Kan yang minta putus kamu dengan alasanmu yang ga jelas itu, kenapa kamu block no kakak, seharusnya kan kakak yang ngeblock? Yaudah ntar aku buka blockan no kakak, biar kakak aja yang block no aku, sahut Dira ingin mengakhiri percakapan. Toh juga siapapun yang block kan satu sama lain tak bisa komunikasi lagi. Tuh kan kamu akuii kalau kamu block kakak, sahut Bryan lagi. Iya iya aku block kak, udah puas, kalau nanya apa alasannya, aku ga tau, mungkin waktu itu masih anak – anak SMA, jadi ngeblock no mantan adalah solusi yang baik. Sekarang juga masih anak – anak kok, sahut Bryan. Ga siapa bilang, sahut Dira marah tak terima dengan ucapan Bryan. Tadi buktinya di ruang wawancara, kamu ngomongnya sampai uratnya keluar loh, sahut Bryan. Itumah kakak yang ngeselin, siapa yang ga marah kalau dikataiin egois, jawab dira berapi – api. Bryan hanya menanggapi udah dong jangan marah lagi, kan tadi udah marah marahnya. Sebenarnya Aku kaget tadi itu kamu, dan pengen aja denger suara kamu, meskipun marah marah, terdengar lucu aja. Dan kamu yang marah marah itu meloloskan ujianmu, kata mbak nita dan pak budi kamu bagus dalam mempertahankan harga dirimu, makanya mereka memberi kamu point lebih. Awalnya aku mau tidak meloloskanmu dan membondongmu ke Bandung, tapi aku tau kamu bakal lebih marah dari itu, bisa – bisa instagramku pun kamu block, terus aku bisa melihat kegiatanmu dari mana lagi kalau enggak dari situ, kakakmu jika ditanya tentangmu hanya menjawab seadanya dan tidak sesuai ekspektasiku. Seperti kamu udah makan, tapi ga dijelasin makan apa, kan aku pengen tau kamu makan pedas enggak, kamu galau ga pas putus ama aku, tapi harapanku sia – sia. Udah itu ya kamu upload photonya malah jarang lagi, jadi kerjaanku hanya melihat lihat photo mu yang sudah -sudah ataupun menstalking Kanaya, tapi Kanaya sama seperti mu upload photo terlalu lama. Cerocos Bryan. Dira sempat tertegun dengan ucapan Bryan, tapi menguatkan hati bahwa kini lelaki itu sudah memiliki tambatan hati, jadi tak mungkin dia kembali masuk dihati pria itu. Ucapanmu jika didengar gebetanmu, bakal bahaya kak, bilang gitu ke pacar kakak saja. Bryan hanya mencerna perkataan gadis itu, aku ga punya pacar Dir. Oh ga punya, didepan aku ga diakuiin, sifat playboymu ga mempen ke aku kak, jangan jadi b******k, sarkas Dira. Aku ga punya kekasih saat ini dan ga perlu menjaga perasaan siapapun, aku ga gerti perkataanmu. Dira diam malas menanggapi. Maksudmu putri, sahut Bryan tak lama kemudian. Putri itu Cuma temanku Dir. Mana ada teman di bawa ampe ke Jakarta, sahut Dira tak lama kemudian menutup mulutnya, mampus dia ketauan cemburu. Gelagak tawa Bryan terdengar jelas di mobil, kamu cemburu, sahut Bryan. Putri itu teman aku, kebetulan dia jurusan psikologi, dan pewawancara kurang satu yaudah aku ajak aja, mumpung waktunya hari ini senggang. Lagipulakan di ig aku upload photo berdua dengan caption hanya teman, ya artinya Cuma teman, jelas Bryan, Bryan tau ini bukan saatnya untuk menggoda gadis itu, bisa - bisa yang terjadi gadis itu makin bersikap dingin terhadapnya. Buka blockan Wa aku, sekarang biar kita pulang. Dira langsung melakukannya, Ini udah ku buka, coba telpon no aku, Dira langsung melakukannya. Bryan langsung membelokkan mobilnya menuju rumah Dira untuk saat ini Dia rasa sudah cukup, jangan terlalu terburu -buru. Dia akan berterimakasih kepada Allan dan temannya yang tak bisa ikut seleksi beasiswa, sehingga Ia bertemu dengan Dira. Menurutnya ini cukup, menjadi penyemangatnya melewati macet Bandung Jakarta di Minggu Pagi. Flashbacck Allan memberitahunya untuk menggantikan teman meraka yang tak bisa menjadi pewawancara. Bryan sudah menolak mati – matian, dan menyatakan kenapa ga dia aja sih, kan kalian sama sama di Jakarta. Dia lagi ada masalah, restaurantnya. Ya lu aja napa yang datang, lagian lu dah lama ga ngecek perusahaan, keasyikan ama cewek Bandung sih lu, sama cewek yang lu upload. Cuman teman gua itu sahut Bryan. Pokoknya gua ga mau tau, lu datang dan cewek itu ajak aja, kan dia anak psikologi, kita kekurangan 1 pewawancara. Berkali kali Allan mengingatkan dan menelponnya pagi pagi buta untuk berangkat ke Jakarta. Setelah mengantar pulang Dira, Bryan mengwa Allan, lan Gua tidur di apertemen Rius, b*****t lu memang, gua tunggu lu ampe jam 1 pagi, malah tidur diapertemen Rius, Bryan hanya tertawa melihat kejengkelan temannya. Tadi waktu Dira turun dia tak mengatakan apapun. Bryan langsung chat Dira, selamat tidur tuan putri panduwinata, jangan lupa sikat gigi dan cuci kaki ya. Mimpi yang indah, dan semoga aku salah satunya. Gimana -gimana, Kanaya dalam episode kali ini ga kita bahas yaaa. Siapa itu Rius ? ada orang baru ceritanya, semoga suka ya dengan cerita -cerita aku
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN