Hari Pertama Kuliah

1036 Kata
            Kanaya memulai perkuliahannya pagi ini, pagi – pagi sekali Bu Lana menyiapkan bekal makanan putrinya. Naya yang melihat dimeja makan sudah tersedia makanan dan juga bekal untuknya, membuat mulutnya ingin sekali memprotes. “Ma Naya masuk kuliah loh mah, bukan masuk tk”, protes putrinya yang terdengar hanya suara tawa Papanya, protesan putrinya tentu saja tak pernah didengarkan istrinya. Bagi kami itu masih anak tk Nay, goda papanya. Hari ini ga ada pelancongan kayak gitu Nay, ntar kalau kamu disuruh- suruh yang aneh – aneh, jangan mau ya, apalagi kalau ada yang bersikap kurang ajar sama kamu, harus dilawan, Ibunya mewanti – wanti putrinya. Ga ada ma, agenda hari ini Cuma perkenalan kampus doang kok mah, sama pembagian kelas. Setelah itu langsung pulang Naya. Oh ya ma. Hari jumat, Naya ama Dira mau jalan – jalan ke Bandung, acara perpisahan. Kalian berdua ini, kayak pisah kayak gimana aja, rumah masih berdekatan kayak ga bakal ga bertemu lagi aja, protes Ibunya. Kanaya hanya tertawa sambil mencopot tempe goreng, dan juga memberi selai di piring adiknya Revi.  Yaudah kalau gitu pah, jumat libur aja ikut nginap bareng Kanaya, usul Mamanya. Enggak enggak ada ya kalian ikut, Naya udah gede pah, mah, sekali kali Naya mau quality time berdua ama Dira. Kan Mama Papa udah ada Revi dan Alea yang diurus, jadi kalian berdua mengenang waktu kalian muda dulu, mengurus bayi, protesan putrinya disetujui oleh Papanya, udah saatnya mereka memberikan kebebasan kepada putrinya. Udah ya Kanaya berangkat dulu. Tunggu bareng papa aja. Kan kampusnya ga searah pah, gapapa Naya naik angkutan umum aja. Enggak papa ini hari pertama kamu kuliah, jadi Papa wajib mengantarkan princess Papa ini ke bangku kuliahnya. Baiklah Baginda Raja, tuan putri akan mengikuti titah Baginda. Jalanan tak terlalu macet pagi ini, mungkin masih terlalu pagi. Tak banyak percakapan diantara keduanya. Sebelum turun Papanya menambahkan uang sakunya, yang jelas ditolak oleh Naya. Pah uang saku Naya masih ada, kan beasiswa Naya baru dikirim. Itu simpan aja, sebagai seorang Papa, akan sangat senang memberi uang jajan lebih kepada putrinya. Naya mengambil uang itu dan menyimpannya. Untuk mahasiswa baru dipersilahkan ke auditorium begitu bunyi pengeras suara yang didengar oleh Kanaya. Dia Bersiap menuju ruang auditorium amengikuti mahasiswa mahasiwa baru, yang jelas berpakaian sama dengannya, menggunakan almamater. Tak banyak arahan dari Rektor hanya memperkenalkan sejarah kampus dan juga susunan organisasinya, tak lupa pula semangat memotivasi. Dan sejauh ini Kanaya belum berkenalan dengan siapapun termasuk orang disebelahnya. Bukan apa – apa takutnya bukan satu kelas, dan mubajir jika otaknya dipaksa untuk mengingat orang – orang yang bukan sekelas dengan dia, menurutnya tak ada gunanya. Selesai arahan dan pertemuan angkatan pagi itu, mereka disuruh untuk menuju ruang kelasnya. Kebetulan kelas Naya berada di lantai 3, melihat banyak orang yang mengantri di lift Naya memutuskan untuk menggunakan tangga saja. Cukup ngos – ngosan dia menaiki tangga, kemudian dia merutuki badannya yang memang sedikit overweight dan tak lupa pula menyalahkan ibunya yang turut berkontribusi membesarkan badannya dengan menyajikan makanan – makanan yang enak. Setelah mencari kelas sekalian mencocokan dengan ruang kelas yang didapatnya di group kelasnya, ternyata cukup jauh juga dari tangga yang dia naiki tadi. Setelah menemukan kelasnya, dia duduk paling depan dekat pintu masuk. Dia terlalu cukup malas untuk duduk di belakang melihat sudah banyak yang menempati kursi tersebut, dia malas untuk berbaur. Ntar juga seiring bertambahnya waktu mereka akan dekat tanpa perlu memaksakan berpura – pura ramah untuk berkenalan. Seorang perempuan dan laki – laki berbarengan masuk kelas tersebut dan mengambil tempat duduk di samping Naya. Perempuan itu bersikap ramah hei kenalin nama gua Clara sambil menjulurkan tangannya, Gua Naya balasnya, dan ini teman gua namanya Agung, kami satu SMA jelas Clara, Hei agung, gua Kanaya. Gua kursi belakang aja ya Ra bareng ama laki laki yang lain, seperti bukan meminta ijin, karena belum sempat Clara bersuara, pria itu sudah lebih dulu bangkit, mungkin hanya sebuah pemberitahuan saja. Dosen pembimbing akademik masuk kekelas kami, menjelaskan fungsinya sebagai apa. Kurang lebih selama semester 1 jika ada yang ingin kami tanyakan langsung kepadanya, perannya kurang lebih seperti wali kelas jika di SMA. Setelah itu dilakukan pengangkatan ketua kelas, sekretaris dan bendahara. Dilakukan volling untuk pemelihan struktur kelas, dan diharapkan jika ada yang pernah menjabat sebagai ketua kelas, sekretaris, bendahara ikut pendaftaran organisasi kelas, tak lupa juga disarankan untuk mengikuti keorganisasian. Minimal dari kelas ada 2 perwakilan. Untuk ketua kelas yang terpilih adalah Willi, Sekretaris Clara dan Bendahara Nia. Diharapkan mereka dapat berkontribusi dan bekerja sesuai dengan perannya masing – masing. Setelah dosen pembimbing akademik keluar, masuklah himpunan organisasi mahasiswa akuntansi dengan segala program program yang ada. Clara mengajakku untuk ikut organisasi yang langsung kutolak, Kenapa ga mau lu bisiknya, enak tau ada kakak tingkat, jadi kita bisa berbaur yang dibalas Naya dengan gua ga suka berbaur dengan orang – orang yang gua ga kenal Ra. Dari kelas kami ada sekitar 5 mahasiswa yang ikut Clara, Agung, Wili, dan untuk 2 lagi gua ga tau siapa namanya siapa namanya. Kelas bubar pada hari itu cukup cepat. Langsung saja Naya menchat Dira, Dir lu udah pulang? Ngemall yuk, Dira membalas sorry jangan hari ini Nay, gua masih belum pulang dan gua ikut organisasi mahasiswa, jadi masih harus di seleksi. Naya memandangi balasan chat Dira, dia tau suatu hari nanti Dira dan Dia hanya akan sekedar bertukar pesan dan bertanya kabar saja. Ok good luck ya Dir balasnya cepat dia tak ingin temannya menduga duga terkaitnya. Dia menyimpan handphonenya sepertinya pulang kerumah bermain dengan Revi dan Alea sepertinya asyik juga Itu dia perbedaan Naya dan Dira. Naya memiliki sikap tertutup untuk orang – orang yang tidak dikenalnya, sedangkan Dira dia cukup easy going untuk berkenalan dengan siapa saja. Jika dunia Naya hanya Dira, maka berbeda dengan dunia Dira, Dira dapat melakukan semuanya tanpa mengesampingkan urusan pertemanan dengan Dira jika mereka bersama. Dari dulu Dira memang sudah anak organisasi tapi tak pernah lupa dengan sahabatnya. Kerjaan organisasi selalu dilakukannya jika sedang diorganisasi, tetapi jika waktunya istirahat dia akan segera bersama dengan Naya kembali, jarang berkumpul dengan anak organisasi. Palingan jika ada acara organisasi baru Dira akan gabung, itupun Naya diajak olehnya dan Naya hanya duduk diam dipojokkan dengan handphone ditangannya. Itulah sebabnya Dira tak mau pisah, bagaimana Naya bisa berbaur jika tak ada dirinya .
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN