Hari yang ditunggu – tunggu oleh Kanaya dan Indira datang juga. Kamis malam Kanaya di bantu oleh Mamanya untuk mengemasi barang - barangnya. Kanaya sudah tak sabar, berlibur berdua dengan temannya tanpa recokan Ibu dan Bapaknya. Pagi pagi sekali sekitar jam 6 Dira sudah sampai dirumahnya, mereka langsung berangkat. Mobil baru berjalan menuju jalan raya, jalanan sudah mulai macet dipenuhi oleh orang – orang yang mau berangkat kerja ataupun anak – anak sekolah. Udah nyusun rencana, kita mau kemana aja Dir selama di Bandung? Tanya Kanaya. Belum jawab Dira, ntar aja sampai hotel baru kita buat skedjul kita kemana aja. Tiga hari di Bandung, apakah kita bisa mengelilingi kota yang terkenal dengan pria – pria tampannya, mencicipi kulinernya dan juga ke paris van java, tanya Kanaya. Kira – kira akan ketemu pria tampan ga ya? Kanaya bertanya lebih dengan mengerling nakal. Ketemu sih pasti, tapi mengajak kita kenalan ya ga tau lah ya, sahut Dira jail. Kak Bryan tau kita ke Bandung? Kanaya tiba – tiba mengingat bahwa temannya sudah memiliki hubungan yang lebih baik dibanding sebelumnya dengan mantannya. Setidaknya nomor kak Bryan sudah tak di block oeh Dira, itu yang Naya tau, selebihnya dia belum tau karena temannya belum ada bercerita dan Naya tak suka berprasangka terkait hubungan temannya itu. Kak bryan cukup baik untuk temannya yang bar bar ini. Dan Naya sangat mendukung apabila mereka memutuskan untuk kembali bersama kembali. Enggak, dan lu jangan bilang ke Bryan kita ke Bandung ya? Sahut Naya. Kenapa, lu mau kasih surprise ke kak Bryan? tanya Naya. Enggak ada surprise Naya, kita bakal berlibur berdua aja dan tidak akan diditangi atau pun mendatangi siapapun. Jadi supaya ini lebih berkesan perpisahan berdua, jangan memberikan clue apapun di media sosiallu ya. Ok baik boss, sahut Naya cepat. Kita ke hotel mana? Tanya Kanaya. Hotel Padma yang ada di Ciumbuleuit, sempat liat – liat riviewan orang sepertinya hotelnya bagus dan yang lebih penting, ada snack sorenya. Aku baru booking 1 hari sih, ntar kalau enak kita tambah hari kalau enggak ke hotel mercure aja kali ya. Sahut Dira. Jangan yang mahal – mahal Dir hotelnya yang biasa aja dan cari yang dekat ke tempat wisata. Ini hotelnya dekat Dago ga terlalu jauh paling 45 menitan nyampe Dago, jadi kita makan malamnya di Dago sambil menikmati kota Bandung di malam hari, sahut Dira antusias. Aku lapar Dir, nanti kalau ada rest area kita makan dulu ya. Lapar mulu nih anak Pak Brahma, tuh dibelakang ada chiki – chiki, roti tawar dan selai Srikaya kesukaanmu. Rest area masih jauh lagi. Memang kalau jalan jalan sama anak Pak Pandu dijamin perutku akan aman, sahut Kanaya sambil memakan roti yang sudah dilapisi selai. Kanaya juga mengolesi roti tersebut untuk temannya, dia tak perlu bertanya. Dia yakin temannya itu belum sarapan. Siapa juga yang sempat sarapan di pagi buta seperti itu. Nah ini untukmu, Gomawo sahut Dira, chun man-e balas Kanaya. Mereka pun tertawa setelah mencoba bahasa korea, mereka tertarik sejak menonton Drakor. Menyukai dramanya membuat mereka berdua sekali kali mengucapkan sepatah dua kata bahasa korea. Dira mennghidupkan lagu kesukaan gadis itu, sambil bersama sama menyanyikannya. Kali ini lagu yang dipasang adalah lagu lagu sounddtrack drama descendent of the sun. Sekali kali mereka bernyanyi bersama sama.
Sarangheoyo gomawoyo.
Ttatteushage nareul anajwo
I sarang ttaemae naneun sal su isseo.
Mereka berhenti di rest area dan tentu saja yang mereka tuju kali ini adalah restaurant yang biasa mereka makan. Setelah mereka makan, kita ga langsung ke hotel deh Nay, main main ke ITB yuk, hanya sekedar jalan saja, mana tau ketemu oppa – oppa. Lagipula reservasi hotelnya jam 2 siang dan ini baru pukul 10. Jalanan cukup macet membuat mereka baru 2/3 perjalanan. Seharusnya jika ga macet 2 jam lagi akan sampai. Sesuai perkiraan jalanan kali ini tidak semacet tadi dan jam baru menunjukkan pukul 12.00. jadi ke ITB? Jadi dong, mobil membelokkan ke arah yang lainnya ITB menjadi tujuan mereka. Gimana kalau kita ketemu kak Bryan, kan kak Bryan anak ITB. Kita cuma dijalannya doang ga masuk ke kampusnya. Yakali kita ketemu kak Bryan sahut Dira. Cukup banyak mahasiswa berjalan di pinggir trotoar mungkin sudah waktunya pulang kuliah. Tunggu – tunggu sepertinya aku melihat mobil kak Bryan ada didepan kami sedang meminggirkan mobilnya dan tak lama kemudian kulihat Putri memasuki mobil itu. Kuliat raut wajah yang kembali datar, kemudian tersenyum. Gwenchana? tanyaku Gua ga papa Nay, kan gua dan dia sudah ga ada hubungan. Jadi ya terserah aja kan dia mau menumpangi cewek mana aja. Kita kembali ke hotel aja kali ya. Mau cendol Elisabet Dir, toh juga hotel belum bisa masuk. Baiklah tuan putri. Mobil melaju mencari cendol elisabeth sekitar 30 menit dari tempat mereka berada. Memang benar kata mereka terkait cendol tersebut. Uenak parah kalau kata Dira, cendolnya dapat mendinginkan hatinya yang lagi panas. Mobil melaju ke Hotel, udaranya cukup sejuk. Kanaya dan Dira menyukai udara seperti itu tidak panas dan juga tidak terlalu dingin. Sesampainya dihotel mereka di jamu dengan minuman lemon yang sangat segar asam manis rasanya. Dira memesan kamar yang pemandangannya langsung ke kolam renang. Sekedar informasi jika hotel biasanya menjulang tinggi ke atas, tidak demikian hotel ini. Semakin besar lantai nomor kamar yang ditempati maka semakin mendekati ke dasar tanah. Bisa dibilang seperti dibangun di jurang. Kami berada di lantai 3 sedangkan kolam berenang berada di lantai 5. Kolam renangnya menggunakan air hangat, tentu akan sangat menyenangkan berenang berlama lama dan jangan lupakan berendam di jasuzinya yang mencapai 40%C. Selain itu ada makan snack khas Bandung yang dapat dinikmati dari pukul 3 sore hingga pukul 16.30. Dira dan Kanaya memutuskan untuk berenang dulu, cuaca memang tidak terlalu panas dan melihat kolam renang besar dan tidak ada berenang membuat jiwa Kanaya meronta – ronta seperti memiliki kolam berenang pribadi katanya. Dira langsung menyebur kekolam sedangkan Kanaya hanya mencelupkan kakinya. Ayo berenang, untuk apa lu kegirangan jika yang dilakukan hanyalah mencelupkan kaki saja. Naya pelan -pelan memasukkan tubuhnya kedalam air yang memang cukup hangat untuk membuat tubuhnya rileks. Perjalanan panjang dan macet tadi yang membuat tubuhnya lelah, menjadi lebih ringan dan lebih enak. Cukup lama Kanaya belajar berenang dan Dira yanng berulang -ulang berenang bolak balik. Dirasa cukup mereka kembali kekamar dan membasuh diri saatnya untuk memakan snack ala ala Bandung. Tahu sutra, pisang goreng, crapes, sekuteng, es campur, menjadi menu hari ini.cukup keyang mereka menikmati semuannya. Jam sudah menunjukan pukul 16.30 saatnya balik ke kamar. Mereka memutuskan untuk tidur sebentar. Dira masih terlalu lelah mengendarai mobil. Mereka terbangun pukul 19.00. Mau cari makan atau masih kenyang Nay? Nanti saja pukul 8 kita akan keluar. Dira membuka handphonenya terlihat panggilan tak terjawab dari Bryan, dia malas menelfon kembali suasana hatinya masih belum baik. Dira kembali meletakkan handphonenya, menuju lemari pendingin sepertinya tadi dia meletakkan minuman dingin dan apel di lemari itu, tak lama kemudian Bryan kembali menghubungi Dira. Dir, Bryan nelfon, panggil Kanaya. Biarin aja, sahut Dira. Tapi handphone tersebut sepertinya sedang tidak mau diam, Bryan terus – terusan menelfonnya, Dira kemudian mengangkatnya Kenapa dari tadi telfon ku ga kamu angkat Dir? Baru selesai mandi sahut Dira. Ada apa kak, kalau enggak ada yang penting aku mau kerumah Naya. Kenapa kamu kembali dingin lagi Dir? Kali ini apalagi salahku? Tanya Bryan. Tak ada jawaban Dira langsung mematikan telfonnya dan menonaktifkannya. Kayaknya lu belum cerita hubungan lu yang terbaru deh Dir? Ga ada hubungan terbaru Naya, masih sama statusnya masih mantan dan teman kakakku, sahut Dira. Naya tau Dira tak mau membahas lebih lanjut. Yasudah ayo cari makan ajak Naya. Dengan menggunakan pakaian ini, tanya Dira memperlihatkan dirinya dan Naya yang saat ini menggukan piyama. Ayolah kita berdandan dikit, manatau ketemu AA kasep, lanjut Dira. Dandan ala mereka bukan seperti readers pikirkan ya, mereka hanya menggunakan kaos hitam dipadupadankan dengan celana jeans biru, lipgloss dan juga bedak padat. Itu sudah cukup untuk kulit putih mereka berdua. Keduanya meninggalkan hotel menuju Dago, sepertinya nongkrong malam di Bukit Bintang Dago sangat mengesankan. Perjalanan lumayan cukup lama hampir satu jam, jam sudah menunjukkan pukul 9, dan kebayakan di isi oleh tokrongan – tokrongan anak muda. Dira memasuki salah satu restaurant yang tentu saja diikuti oeh Kanaya dibelakangnya. Indoor or outdoor mbak? Outdoor mbak pilih Dira, mereka ingin menikmati kota Bandung di malam hari. Kalau outdoor hanya bisa berdua ya mbak, soalnya hanya tersisa dua kursi lagi. Iya mbak cuma berdua kok, sahut Dira. Mereka memesan Indomie tumis tanpa telur, roti bakar, pisang keju coklat dan tak lupa teh manis hangat. Udara sangat dingin. Pramuniaganya mengantar kami menempati kursi, sepertinya diarahkan ke arah sudut. Katanya rame tapi banyak kursi yang kosong tuh bisik Kanaya. Dira berhenti berjalan matanya mengarah kesuatu tempat. Arah pandangnya juga diikuti oleh NayaTunggu lagi dan lagi semesta seperti berniat mempertemukan mereka, iya Bryan dan Putri sedang duduk disalah satu kursi. Sepertinya semesta ingin mempertunjukkan kebrengsekan Bryan. Tapi disini tak ada yang b******k bukan, bukankah Bryan memang tak memiliki hubungan dengan Dira, lantas mengapa Dira terpaku seakan akan menjadi korban perselingkuhan. Tanpa disadari airmata Dira jatuh begitu saja, Dira membenci ketika dia menjadi lemah. Kayaknya kita pindah tempat aja deh Dir, ajak Kanaya. Iya untuk apa juga disini, memperlihatkan betapa kasihannya Dira. Penampilan dira saat ini jika dibandingkan dengan penampilan putri yang bak princess, menggunakan dress selutut dipadupadankan dengan hills yang senada dengan baju hijau costanya, jangan lupakan rambut yang di curly bagian bawahnya serta jepit rambut putih yang menambah kesan feminim dari perempuan itu, seperta wajah yang dipoles dengan sangat apiknya. Sebelum Bryan menyadari kehadiran mereka alangkah lebih baiknya jika mereka pergi. Naya dengan cepat mengatakan ke pramuniaganya bahwa mereka harus pergi, dan pesanan mereka untuk pramusajinya saja, toh juga mereka sudah membayarnya. Sayangnya mata Bryan melihat mereka, pertama Bryan terdiam merasa tak percaya, kemudian detik berikutnya Bryan lari menghampiri Dira, Dir panggil Bryan yang menarik lengan Dira, yang segera dihempaskan oleh Dira. Dir, kamu salah paham, ayo masuk dulu biar kujelaskan. Dira tetap berjalan menuju mobilnya, segera masuk dan melajukan mobilnya, keluar dari daerah itu. Sepanjang jalan Naya melihat Dira menangis tanpa suara. Nangis aja Dirr, ga usah ditahan suaranya, pasti menyakitkan. Kalau enggak kita ambil tempat untuk berhenti dulu biar kamu tetap tenang. Dira tetap melajukan mobilnya, beberapakali terdengar klaksonan mobil mobil lain, syukurlah mereka sampai hotel dengan selamat. Kanaya memutuskan untuk memesan via ojek online, mereka berdua butuh makan. Sepanjang jalan menuju ke kamar, dia memeluk Dira untuk menenangkannya, menyelimutinya, menghapus air mata. Setelah Naya liat Dira mulai tenang, dia membuka percakapan ,biar lega cerita ama aku Dir, apa yang membuatmu seperti tadi. Seperti katamu kalian sudah tak ada hubungankan. Tapi melihat reaksimu tadi, meskipun kamu masih meyayanginya, seharusnya kamu harus bersikap layaknya Dira yang memiliki gengsi setinggi langit itu. Ga perlu kabur kayak tadi. Dira menceritakan bagaimana hubungannya dengan Bryan akhir akhir ini. Bryan yang selalu mengabari hal – hal yang dilakukannya, menelfon Dira setiap malam, layaknya sebagai sepasang kekasih. Meskipun Bryan belum mengajak balikan. Dira sudah mulai nyaman dengan hal hal itu, bahkan terpikir apakah mereka harus mencoba hubungan jarak jauh. Awalnya Dira mau mendiskusikan itu dengan Bryan, tapi dia cukup ngengsi mengingat Bryan juga sepertinya tidak mengarah mengajaknya berpacaran. Kanaya tak pernah jatuh cinta tetapi dia mengerti perasaan sahabatnya. Diam diam tanpa sepengetahuan Dira, Kanaya DM Bryan. Jangan jadi b******k Kak, kau tak cocok memerankannya. Dulu aku sangat menyukai hubunganmu dengan Dira tapi melihatnya menangis seperti tadi, sepertinya bukan dirimu yang pantas bersamanya. Kalian dimana? Dira salah paham. Balas Bryan. Yang tentu saja Kanaya langsung memblokir Bryan.