Sinar matahari mulai masuk kedalam ruangan kamar Kanaya dan Dira, matahari mulai meninggi di ufuk timur, yang menganggu tidur mereka. Kanaya segera bangun dan melirik handphonenya, kemudian mengaktifkan handphone yangsegaja dia nonaktifkan semalam. sudah menunjukkan pukul 8.30. ada panggilan tak terjawab dari nomor yang tak dikenal dan w******p dari kakak Dira, alex. Kanaya tak langsung membuka isi pesan tersebut, ia mengabaikannya. Dir, bangun ayo sarapan, ajak gadis itu. Rencananya kemarin sebelum sarapan dia akan berenang di pagi hari, tapi apa daya, mereka mulai tertidur pukul 3 dini hari. Dira bercerita banyak ntah itu tentang Bryan ataupun tentang kuliahnya, dan Kanaya dengan sabar mendengarkan cerita temannya itu. Biasanya patah hati selalu diidentikkan dengan tidak selera makan dan tidak melakukan apapun, dan tentu saja itu berbeda dengan Dira. Dimeja makan mereka berdua sudah tersedia nasi goreng, nasi putih dengan sapi lada hitam, ikan dori tepung, lontong sayur. Bergantian Dira mengambil makanan itu. Kanaya yang melihat sahabatnya itu kalap mengambil makanan, langsung menghentikan Dira, Habisin ini dulu Dir, baru ntar ambil. Tenang aja Nay, makanan ini akan habis dan gua akan malas jika mengambilnya lagi kalau aku sudah duduk. Habisin dulu, ntar kalau lu mau makanan yang mana lagi, ntar gua ambilin. Mereka makan dengan tenang dan sangat lahap, lihat saja makanan itu sudah habis tak tersisa. Lu mau roti Dir, tanya Kanaya? Gua mau tapi di lapis es cream coklat ya, Kanaya langsung segera mengambil roti yang dipesan Kanaya. Jangan berpikir Dira akan duduk diam bak putri raja, oh tentu tidak. Dia juga pergi mengambil makanan yang lainnya, bubur ketan hitam, jus jeruk, dan juga buah – buahan. Peduli setan dengan Bryan, perut kenyang hati tenang, pikirnya. Mereka sudah kekenyangan hingga rasanya malas untuk bangkit. Pulang dari sini sepertinya gua diet dah Dir, sambil melihat perutnya yang sudah bergelimbir lemak, sebentar lagi perutnya penuh dengan lipatan, rutuk Kanaya yang telah kalap menghabiskan begitu banyak makanan. Dira hanya tertawa mendengar itu, habis ini berenang aja kali ya, ajak Dira. Baru makan Dir, nasi gua juga belum turun. Kan gua ga bilang sekarang, ntar aja. Kita pindah hotel atau enggak? Disini ajakali ya, gua ke resepsionis dulu untuk penambahan hari. Terserah lu aja Dir, gua ngikut aja. Dira dan Kanaya segera ke resepsionis. Sayangnya untuk hari itu kamar sudah penuh, jadinya mereka harus check out hari itu juga, maklum hari weekend, kamar memang selalu penuh. Mereka harus segera mencari hotel yang baru. Berenang tak jadi prioritas, matahari sangat tinggi, cukup panas, mereka sedang tak berniat untuk menggosongkan badan. Mereka kembali kekamar, untuk mengemasi barang barang. Jam sudah menunjukkan pukul 10.30. jam 12 mereka sudah harus check out. Dira sedang membrowsing Hotel di daerah Bandung, dia mengabaikan pesan kakaknya dan panggilan tak terjawab dari Bryan. Sepertinya Dago adalah pilihan baik untuk bersenang – senang, tetapi mengingat mereka ketemu Bryan di Dago, Dago bukanlah pilihan yang tepat. Hotel grand mercure menjadi pilihannya, makanannya cukup enak – enak menurut riviewan pengunjung sebelumnya. Syukurlah untuk hari itu kamar belum penuh, Dira memutuskan untuk mengambil 2 malam di mercure. Kita langsung ke hotel atau ke lembang aja Nay? Belum sempat Naya menjawab, handphone Dira berdering, kakaknya menelfon. Karena tau kakaknya akan merecokinya jika tak diangkat, Dira memutuskan mengangkatnya. Ada apa Kak? Tanya Dira. Dir lu dimana? Tumben banget nanya gua dimana? Kalau tujuanlu mau ngasih tau temanlu gua dimana,ga ada gunanya. Enggak siapa bilang. Lu enggak sekepo itu terkait gua kak, gua dimana, sama siapa, itu bukan lu banget? Ok bryan sudah jelasin ke kakak, jadi, belum sempat Alex menjelaskan Dira langsung memotong, lu bukan jubirnya kak, jadi ga usah kasih penjelasan ke gua. Alex tau kalau adek se childish itu. Kasih tau gua lu dimana, atau enggak gua bakal laporin Papa kalau lu nangis – nangis, yang otomatis liburan lu bakal gagal, ancam kakaknya. Coba aja lu kasih tau ama papa, gua akan pastikan kalau yang namanya Bryan ga akan pernah datang kerumah lagi dan tak akan berteman dengan lu lagi, coba aja, lu taukan gua putri satu satunya pak Pandu, ancam Dira tak main – main. Ok, ok jawab kakaknya, gua denger lu ngomel ngomel gini, artinya lu baik baik saja. Kakaknya langsung mematikan sambungan telfonnya. Nay, ke hotel dulu atau ke lembang? Tanya Dira lagi. KE hotel aja, gua takutnya lu ketemu Bryan, dan berakhir kayak kemaren lagi. Emang lu udah siap kalau ketemu Bryan, mendengarkan penjelasannya. Kalau lu siap kita ya pergi kalau enggak kita di hotel aja. Menonton drakor ampe matahari terbenam dan terbit lagi adalah hal yang menyenangkan bukan, sahut Naya sambil tertawa. Dira menyukai ide itu. Drama apa sekarang yang lu mau tonton. Gua tertarik ama Drama Lama song hye kyo dan Hyun Bin, Worlds within, gua mau bandingan akting dia dengan descendent, kalau ga salah di drama worlds within Dia juga berpacaran dengan Hyun Bin, emang ya enak banget punya wajah cakep, laki yang cakep cakep bisa di embat, sahut Kanaya yang masih membayangkan 2 aktor kesayangannya menjadi kekasih Song hye kyo, beruntungnya gadis itu. Apa kita tamat kuliah kerja di agency mereka aja ya? lumayankan bisa melihat langsung, lu ga mau bilang ke bokap lu Dir, beli apertemen yang terkenal di Korea selatan yang kabarnya apertemen tersebut di tinggali oleh beberapa aktor salah satunya Lee min ho dan Hyun Bin, manatau waktu kita berlibur ke korea tinggal di gedung apartemen yang sama dengan mereka dan tak sengaja berpapasan atau 1 lift, Naya berucap dengan nada berapi api, kan bokap lu sekaya itu Dir. Dira hanya tertawa mendengar celotehan Kanaya. Tak terasa mereka sudah sampai di loby hotel grand mercure. Udaranya lebih dingin dibandingkan di ciumbeluit. Kanaya menunggu Dira yang sedang check in, yuk gua dah dapat kamar, ajak Dira. Mereka memasuki kamar, melihat banyak orang dikolam renang, membuat mereka malas untuk berenang. Ngedrakor aja kali ya, ajak Naya. Tak terasa waktu terus berjalan, matahari sudah menenggelamkan dirinya, streaming drakor membuat mereka lupa segala termasuk makan siang, syukurlah ketika ngedrakor mereka memiliki cemilan. Capek ngedrakor mulu, keluar yuk aja Dira, yang memang mulai bosan, bagaimanapun mereka sudah menonton hampir 6 jam lebih, tadi karena berhubung kamar banyak yang kosong, jam 12 mereka sudah boleh masuk kamar. Kemana? Tanya Kanaya, Bukit Bintang, sahut Dira. Lu yakin? Yoi, dibanding di kamar mulu. Gimana nanti kalau kita ketemu Bryan? Ya gapapa, sahut Dira yakin. Ia sudah memantapkan dirinya untuk tidak percaya apapun laki – laki itu katakan nanti. Mereka bersiap siap, kali ini Dira berpenampilan berbeda, jika nanti Ia ketemu mantannya dan kekasihnya, Ia tidak berpenampilan buruk seperti kemarin. Dress berwarna peach selutut dipadukan dengan heel 5 cm berwarna salem , menambah kesan cantik gadis itu. Dan Kanaya, Ia juga berpenampilan tak kalah menariknya, Dira memang selalu menyiapkan segala sesuatu dengan begitu apik. Dia memang sengaja membawa 2 gaun untuk Diranya dan Kanaya, awalnya dia pikir untuk wanti – wanti ketemu pria tampan, tapi siapa sangka baju yang dipersiapkannya malah sebagai senjata jika bertemu mantannya. Mereka bersiap siap menuju bukit bintang, dan jangan lupakan sweater senada mereka yang tidak merusak gaun cantik gadis itu, udara memang cukup dingin. Mereka berjalan ke arah resto yang mereka datangi kemarin. Mbak yang kemarinkan sapa pria pramusaji kemarin yang mengantarkan mereka ke meja. Iya A, sahut Dira ramah dan langsung memesan pesanan yang sama ketika mereka ke bukit bintang. Mata kanaya menjuru kesegala arah, untuk memastikan tidak ada hawa hawa Bryan disekitar sini, ataupun gadis itu. Udah ga usah lu cari, malah kalau ketemukan bagus, gua sudah dengan perlengkapan perang gua, sahut Dira. Kanaya hanya tertawa, temannya memang berbeda. Sebelum pesanan mereka datang, dari arah pintu sosok laki – laki datang dengan tergesa gesa, dan nafas yang ngos – ngosan. Dira tetap duduk manis merasa tidak terganggu dengan kehadiran Bryan didepannya atau lebih tepatnya Dia berlagak tak melihat Bryan. Dir, sapa Bryan yang telah mengontrol nafasnya. Dira hanya menatap dengan pandangan judes ala Dira, tapi kemudian tersenyum dan berkata Maaf mas, kami hanya memesan 2 kursi disini, mas boleh cari kursi yang lain yang disana masih kosong. Dir kita perlu bicara, sahut Bryan. Naya yang mengerti kondisi hanya diam saja, Dia tak mau terlibat terlalu jauh hubungan percintaan temannya itu. Ga ada yang perlu dibicarakan mas, saya ga kenal mas, mungkin kamu salah orang. Dira yang biasanya marah hanya menggunakan sepatah 2 patah kata, kini berbeda Dia cukup banyak bicara, dan itu artinya Dira sungguh menganggapnya orang lain sekarang. Terserah kamu mau dengar apa enggak, aku sama Putri ga seperti yang kamu pikirkan, kami hanya temenan, dan kemaren itu bukan kami berkencan, kami sedang menunggu teman – teman yang lain. Cuman waktu kamu datang, teman temanku yang lain belum disini. Dan aku sudah berulang kali menghubungimu untuk mengatakan akan pergi nongkrong dan menjemput putri, karena arah kostannya tak jauh dari arah kostannya Putri, tapi kamu ngak angkat juga. Bryan menjelaskan panjang lebar. Dira hanya diam dan bermain dengan ponselnya, seperti yang Ia katakan sebelumnya, Ia tak akan mendengarkan pria itu. Dir, panggil Bryan lagi. Dira hanya mengucapkan, sepertinya kamu ga perlu jelasin aku apapun, aku ga kenal kamu siapa, dan aku ga ngerti kamu bahas apa, sahut gadis itu datar. Bryan segera pergi. Dir, panggil Naya. Ya Nay, lu udah dengerkan, kenapa lu masih marah. Belum sempat Dira menjawab pertanyaan Kanaya, Bryan datang bersama pramusaji tadi. Ini temanku sekaligus pemilik kafe ini, kamu boleh tanya Dia, kalau memang kamu ga percaya sama aku. Dan aku tau kamu disini juga dari Dia. Kamu ga tau bagaimana begonya aku lihat kamu nangis kemaren. hari ini seluruh teman dekatku ku suruh untuk ada disetiap tempat wisata di kota ini, supaya aku bisa ketemu kamu dan jelasin ke kamu kejadian yang sebenarnya. Iya mbak. Saya temannya Bryan, dan semua yang dikatakan oleh Bryan bener mbak, ini bukti chatnya, sambil menyerahkan handphonenya ke gadis itu. Dira tak menerima handphone itu dan malah menatap Bryan Ok, aku ga perlu dijelasin apapun, sekarang boleh kamu jangan nganggu aku, aku mau makan. Atau jika kamu ga suka aku berada disini, gapapa aku akan pergi sambil membawa tasnya. Bryan menarik tangan Dira untuk menyuruhnya duduk dulu. Baik, kamu silahkan makan dan aku ga akan nganggu, Bryan duduk di meja yang berdekatan dengan Dira, untuk melihat gadis itu yang makan dengan tenang. Melihatnya baik baik saja, sudah cukup Bryan. Cukup lama mereka berada disana, memandangi kota Bandung yang dipenuhi oleh lampu – lampu, indahnya. Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam, mereka memutuskan untuk pulang, dan tentu saja diikuti oleh Bryan. Dira mengancam Bryan jika sampai mengikuti aktivitas selanjutnya, Dia akan memastikan tak akan melihat Dira lagi, dan akan masuk daftar blacklist daftar orang – orang kerumah Dira. Iya, tapi kalau aku telfon angkat ya, tawar Bryan. Enggak, kamu ga berhak maksa aku untuk mengangkat telfon kamu. Ok, aku akan tetap ngabarin kamu melalui chatt, putus Bryan. Handphonenya jangan di nonaktifkannya, selamat malam. Nay, buka block gua, seru Bryan. Ok kak, sahut Naya. Gua bukan pria b******n kata Bryan kemudian melajukan mobilnya ke bahu jalan.