BAB 25 Pengakuan yang Terlambat Kalimat itu terasa seperti sesuatu yang menghantam d**a Alya tanpa peringatan. “Orang yang berada paling dekat dengan Raka ketika dia jatuh ke danau… adalah kamu.” Angin sore berhembus pelan di halaman sekolah. Namun bagi Alya, dunia terasa seperti berhenti bergerak. Ia menatap Pak Arman tanpa berkedip. “Apa maksud Bapak?” Pak Arman tidak langsung menjawab. Ia hanya memandang Alya dengan ekspresi yang lebih berat dari sebelumnya. Seolah kata-kata yang akan ia ucapkan berikutnya bukan sesuatu yang mudah. Dimas berkata lebih dulu. “Itu tidak mungkin.” Pak Arman menatapnya. “Aku tidak mengatakan Alya yang mendorongnya.” Alya merasakan napasnya sedikit kembali. Namun jantungnya masih berdetak terlalu cepat. “Lalu apa maksud Bapak?” tanya Alya pe

