Seruni buru-buru menghampiri sumber suara, ia mendengar Venska berteriak tadinya. Tanpa harus memasuki kamar rekannya itu, ternyata Venska sudah berlari keluar kamar dengan tergesa-gesa, Seruni dapat melihat jika Venska nampak ketakutan, sisa-sisa peluhnya mengumpul pada dahinya. “Ada apa?” tanya Seruni saat Venska berada di luar pintu kamarnya. Venska menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya. “Hantu babi, dia ingin membunuhku.” Suara Venska terdengar serak, ia masih kesulitan untuk bernapas. Seruni memfokuskan pandangan matanya, tepat di leher Venska terlihat ada guratan merah yang menembus kulitnya. Darah masih keluar dari leher gadis itu, Seruni menutup mulutnya terkejut. Ia mendekat pada Venska, tangannya terjulur untuk menyentuh luka itu. “Ini…” “Bekas cekikan ma

