Perempuan berpakain serba biru khas baju rumah sakit itu mendengus ketika suara gaduh orang-orang yang berusaha membuka pintu kamarnya benar-benar menggangu ketenangannya. Belum lagi ditambah dengan suara bising di kepalanya yang membuatnya hampir gila. Fany menggeram saat kepalanya terasa semakin berat. Kondisinya masih belum stabil, apalagi semalam dia sama sekali tidak tertidur barang sedetik pun. Rasanya, hanya untuk memejamkan matanya saja ia tak mampu, bayang-bayang Gavin terus menghantuinya tanpa henti. Dalam mimpi dan sadarku, selalu ada kamu. Fany melirik pintu kamar itu dengan mata lelahnya, nampak jelas lingkaran hitam di sekitar matanya yang nampak kontras dengan warna kulit wajahnya yang pucat. Perempuan itu meraih tiang infus yang terhubung dengan selang di punggung tangan

