“Semudah itu kita jadian, tapi ternyata kisah kita akan jadi serumit ini,” ucap Fany lirih, bola matanya masih belum bosan memandangi angka jam digital pada ponsel miliknya. Sudah tiga jam berlalu, namun ia masih tetap pada posisinya, memeluk lututnya sendiri yang kini sudah terasa kebas dan hampir mati rasa. Ia tak peduli, karena nyatanya, hatinya sudah mati rasa beberapa saat setelah ia sadar dari pingsannya. Fany kira, setelah hujan badai menerpanya, ia akan menemukan pelangi dengan beragam warnanya di langit timur. Fany kira, setelah hari-hari kelam yang menyelimutinya, akan datang hari di mana ia tak perlu lagi mengingat betapa sakitnya hari kemarin. Fany kira, setelah mimpi-mimpi buruk yang terus menghajarnya, ia akan disadarkan oleh kenyataan yang membuatnya selalu tersenyum bahagi

