“Di dalem masih ada kakaknya, Fan.” Ucapan Gara barusan berhasil membuat Fany melepaskan gagang pintu masuk ruang ICU, diikuti dengan langkah kakinya yang perlahan mulai memundur. Mendengar kata ‘kakaknya Gavin’ membuat Fany membeku sesaat. Mungkin, hari ini akan menjadi pertama kalinya bagi Fany dan Revan untuk saling bertemu setelah perbincangan mereka di rumah Revan kemarin. Entah Fany sudah siap atau belum untuk bertemu Revan hari ini. Hatinya masih saja ngilu hanya karena memikirkan nama Revan. Mengingat betapa tidak manusiawinya perbuatan Revan padanya, membuat Fany sedikit takut untuk menatap mata laki-laki itu barang satu detik sekalipun. “Duduk dulu, Fan. Lo keringetan gitu, gue beliin minum, ya?” usul Gara. Ia menuntun Fany untuk duduk di salah satu kursi di depan ruang ICU it

