8. Malam Minggu Bersamanya

2189 Kata
“Demi apa?” Rissa memekik heboh ketika Gavin baru saja selesai menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada Fany, beserta alasan mengapa laki-laki itu mengulang kembali adegan perkenalan mereka di kantin kemarin. Rissa membekap mulutnya sendiri menggunakan telapak tangan, masih tak percaya kalau ternyata sahabatnya itu tidak baik-baik saja di balik sikapnya yang selalu ceria. Melihat respon Rissa yang kelewat kaget, Gavin hanya tersenyum pahit sambil sesekali memasukkan sekeping biskuit cokelat ke dalam mulutnya. Hari ini Gavin datang ke rumah Rissa. Hari sabtu adalah hari di mana perempuan itu tak mempunyai jadwal kelas apapun. Begitu juga dengan Gavin, hari ini laki-laki itu pun tak ada kelas. Sepertinya kampus mereka membuat kebijakan baru di mana setiap hari sabtu semua kelas dikosongkan. Tapi itu hanya tebakan Gavin saja sih, hehe. “Jadi gimana, Ris? Lo mau ‘kan bantuin gue?” tanya Gavin saat ia menyadari kalau sudah beberapa menit berlalu dan perempuan yang duduk di hadapannya itu hanya membisu. Menurut Gavin, Rissa memegang peran penting di sini. Sebagai seorang sahabat yang selalu memberi nasihat dan meyakinkan Fany agar perempuan bermata sabit itu mau bekerja sama dalam perjuangan Gavin untuk mengembalikan ingatannya. “Iya, gue bantuin.” Rissa berujar setelah beberapa lama nampak bergulat dengan pikirannya sendiri, “Tapi Fany tuh keras kepala banget anaknya. Jadi lo harus ekstra sabar, ya,” lanjut Rissa. Gavin terkekeh. Tanpa Rissa beritahu pun Gavin sudah paham kalau Fany itu keras kepala. Tidak ingat? Kan Gavin sudah mengenal Fany sejak keduanya duduk di bangku SMA, jadi Gavin sudah hapal sekali dengan sifat Fany. “Intinya gitu, ya, gue mau melibatkan lo dalam misi gue untuk balikin ingatan Fany,” jelas Gavin. Terdengar dari nada bicaranya, bahwa Gavin tidak bermain-main dengan ucapannya. “Iya, iya. Gue paham.” Mendengar penuturan Rissa, Gavin tersenyum lega. Memang benar kata Fany, kalau Rissa itu selalu bisa untuk diandalkan. “Ya udah kalo gitu, gue balik, ya,” ucap Gavin setelah sebelumnya laki-laki itu meneguk jus jeruknya sampai habis dan hanya menyisakan beberapa butir es batu di gelasnya itu. “Thanks, ya, Ris,” lanjut Gavin. Rissa tersenyum, lalu perempuan itu mengangkat ibu jarinya sembari berujar, “Anytime, Vin.” * Perempuan itu tersenyum kala melihat pantulan wajahnya pada cermin, tangan kanannya tergerak untuk mengoleskan sedikit liptint berwarna merah pekat di bibir bagian dalam, menciptakan sebuah gradasi warna yang cantik setelah sebelumnya ia mengoleskan lipcream berwarna nude sebagai warna dasar pada bibirnya. Kalau kata anak jaman now sih, ini namanya teknik ombre lips. Pintu diketuk, membuat perempuan itu mengalihkan tatapannya pada pintu kamarnya. Belum sempat ia membuka suara, pintu tersebut sudah terbuka. Mengampilkan wajah kakak laki-lakinya dengan sebuah cengiran di wajahnya. “Cie, yang katanya males pergi tapi ternyata dandannya niat banget,” sindir laki-laki itu sembari berjalan mendekat pada sang adik yang tengah duduk di depan meja riasnya. “Apaan sih, Piktong,” dengus perempuan itu. Ia beranjak dari duduknya lantas mendorong tubuh laki-laki yang tak lain adalah Victor, kakak laki-lakinya itu untuk keluar dari kamarnya. “Fany ih, kasar banget lo jadi cewek,” ujar Victor ketika dirinya sudah berada di ambang pintu kamar adiknya. Fany berdecak, “Gue mau ganti baju ih, udah sana lo jauh-jauh.” “Jangan lama-lama, Gavin udah hampir sampe,” pesan Victor pada sang adik yang sudah menutup pintu kamarnya rapat-rapat. “Bodo amat,” sahut Fany dari dalam kamarnya yang masih bisa didengar jelas oleh Victor, membuat laki-laki itu ingin sekali melayangkan sebuah bantal pada wajah cantik sang adik. Sepuluh menit berlalu, Fany keluar dari kamarnya, dengan berbalutkan blus berwarna marun yang mengekspos bahunya, dipadukan dengan celana jeans berwarna putih dan serta sepatu wedges dan sling bag berwarna serupa, perempuan itu menuruni anak tangga menuju lantai satu rumahnya. Sesampainya di ruang tengah, Fany hanya mendapati sang kakak yang tengah bermain game sendirian di sana. Fany pikir, Gavin sudah di sini, karena tadi Victor mengatakan bahwa laki-laki jangkung iu sudah hampir sampai. Salah Fany juga sih, kenapa ia mau-mau saja dibohongi oleh kakaknya yang sengklek itu. “Eits, wangi amat nih adek gue. Pasti besok minta dianterin beli parfum baru karena malam ini parfumnya udah habis dipake sebadan-badan.” Mulut Victor lagi-lagi gatal sekali ingin meledak adiknya yang dari kemarin mengatakan bahwa ia tak mau pergi dengan Gavin, tapi kenyataannya perempuan itu sudah selesai bersiap diri bahkan sebelum Gavin datang menjemputnya. “Bisa diem nggak, sih? Gue bawain bawang goreng mampus lo,” dengus Fany. Jujur saja, ia sebenernya memang malas sekali jalan dengan Gavin malam ini. Tapi karena Maminya terus maksa, ditambah lagi dengan Rissa yang terus-terus mengirim pesan spam padanya, jadi ia turuti saja kemauan mereka. Untuk penampilannya malam ini, sepertinya tidak ada yang spesial deh. Ia kan memang sudah biasa dandan secantik ini. Iya nggak sih? Victor memicingkan matanya, laki-laki itu hampir saja kehilangan fokusnya dalam bermain game ketika telinganya mendengar dua kata yang sangat ia benci itu, “Sensi amat si lo, mau jalan juga,” ujarnya. “Sekali lagi lo ngomong, gue otw dapur,” ancam Fany tak main-main, karena kini perempuan itu sudah bersiap untuk melangkahkan kakinya ke dapur. Gerakan Fany terhenti ketika bel di rumahnya berbunyi, dan seketika itu juga Teh Mila selaku asisten rumah tangga di rumah itu bergegas untuk membukakan pintu. Tak sampai satu menit, Teh Mila menghampiri Fany dan mengatakan bahwa perempuan itu sudah ditunggu oleh Gavin di depan. “Makasih ya, Teh,” ujar Fany ramah saat Teh Mila hendak kembali ke dapur untuk melanjutkan aktivitasnya yang tadi sempat tertunda. “Awas ya lo, Piktong. Urusan kita belum selesai,” ucap Fany seraya menunjuk mataya menggunakan jari telujuk dan jari tengah, setelahnya, kedua jari itu ia arahkan pada kedua mata Victor, membuat laki-laki itu hanya terkekeh geli dengan tingkah menggemaskan sang adik. * “Hai,” sapa Gavin ketika Fany baru saja sampai di hadapannya. Fany hanya menatap Gavin tanpa ekspresi walaupun sapaan Gavin tadi sudah sampai di telinganya. Diam-diam, perempuan itu masih berusaha menetralkan detak jantungnya yang entah mengapa terdengar memburu. Padahal biasanya detak jantung Fany santuy-santuy saja tuh. “Mami di mana?” tanya Gavin, berniat untuk berpamitan sekaligus meminta izin lagi pada ibu dari perempuan di hadapannya itu. “Mami lagi pergi sama Papi, ke acara nikahan anaknya temen Papi,” jawab Fany. Mendengar hal itu, Gavin hanya menganggukkan kepalanya sambil ber-o ria. “Ya udah, mau berangkat sekarang?” tanya Gavin lagi. Fany mengangguk mengiyakan, Gavin pun tersenyum senang. Dalam hati laki-laki itu beberapa kali mengumpat sebab Fany cantiknya nggak ngotak sekali, membuat jantungnya bekerja dua kali lebih cepat untuk memompa darah ke seluruh tubuhnya. Gavin ingin sekali memuji perempuan di hadapannya itu, namun takut kalau perkatannya justru akan merusak mood Fany. Jadi Gavin urungkan aja niatnya itu. Keduanya lantas berjalan ke arah motor Gavin yang terparkir tak jauh dari teras rumah Fany. Namun sebelum menaiki motornya, Gavin terlebih dahulu melepas jaketnya, menyisakan kaos hitam yang kini membalut tubuh bagian atasnya. Lantas laki-laki itu memakaikan jaket berwarna abu-abu itu pada Fany, agar perempuan itu tidak kedinginan ketika di jalan nanti. Fany hanya diam dan patuh saja, tak memprotes saat lengan Gavin dengan sabar memakaikan jaket miliknya pada Fany. "Emang lo nggak dingin?" tanya Fany saat jaket milik Gavin sudah melekat di tubuhnya dengan sempurna. "Dingin sih, tapi nggak apa. Daripada bahu lo dilihat orang banyak, gue lebih nggak rela," kekeh Gavin di akhir kalimatnya, membuat Fany berdecak. Sepertinya malam ini ia salah kostum, harusnya tadi ia pakai kemeja saja. Gavin masih terkekeh sampai ia menyadari sesuatu. Jika Fany melupakan semua kenangan tentang Gavin, secara otomatis Fany juga lupa dengan motor putih kesayangannya itu, jadi sepertinya Gavin harus mengulang kembali perkenalan mereka berdua. "Oh iya, kenalin nih, si Sexy, motor kesayangan gue," ujar Gavin. Mendengar hal itu, Fany menaikkan sebelah alisnya, "Motor juga dikasih nama?" tanya Fany yang gagal paham dengan kelakuan Gavin. Laki-laki jangkung itu menyengir lebar, lalu kembali berujar, "Itu sebagai bukti rasa sayang gue, Fan." Gavin memberi jeda sepersekian detik sampai akhirnya ia melanjutkan ucapannya, "Tapi tetep sih, rasa sayang gue untuk lo jauh lebih besar." "Bodo amat." Fany memutar bola matanya malas, tak mau berkomentar apapun mengenai gombalan Gavin barusan. Sedangkan Gavin, laki-laki itu hanya terkikik geli, tersadar kalau dia alay sekali gombal-gombal begini pada Fany. Seingatnya, terakhir ia menggombal pada Fany itu ketika semester awal perkuliahan, dan itu sudah lama sekali. Ah, Gavin jadi rindu momen-momen manisnya dengan Fany dulu. "Oh iya, satu lagi, nanti kita balik ke rumah gue dulu, ya. Dompet gue ketinggalan dan kartu SIM gue ada di sana," jelas Gavin sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Musnah aja lo." Perempuan mungil yang berdiri di depan Gavin itu pun mengembuskan napasnya kasar. Kini emosinya sudah meluap, memuncak sampai ubun-ubun. Kenapa laki-laki bernama Gavino Pranaja itu selalu berhasil dalam urusan merusak suasana hati Fany sih. Heran. "Udah, gue mau masuk lagi aja," lanjut Fany, masih dengan emosi yang meluap-luap di kepalanya. Perempuan itu hampir saja beranjak dari sana, namun gagal saat lengannya justru di tahan oleh Gavin. Fany menatap Gavin cemberut, membuat laki-laki itu gemas bukan main, sampai-sampai ia secara refleks mencubit pipi kiri Fany. "Ngambekan banget sih. Rumah gue deket kok, tenang aja," ujar Gavin seraya memasangkan helm ke kepala Fany, yang masih menampilkan wajah cemberutnya. Fany mendengus kesal, namun perempuan itu tetap menuruti Gavin ketika laki-laki itu menyuruhnya untuk naik ke motornya. "Pegangan dong," kata Gavin sambil terlekeh ketika Fany sudah membonceng di jok belakang motornya. Bukannya menjawab, Fany justru menepuk helm yang dikenakan Gavin dari belakang, membuat laki-laki itu semakin terbahak. Tak mau menjahili Fany lebih lama lagi, Gavin pun melajukan si Sexy, meninggalkan pekarang rumah Fany, lalu berbaur bersama kendaraan lainnya di jalan perkotaan yang cukup ramai itu menuju ke rumahnya. * Laju si Sexy mulai melambat ketika sampai di daerah perumahan tempat Gavin tinggal. Fany yang nampak famikiar dengan lingkungan tempat tinggal Gavin itu pun menelurusi setiap meter perumahan tersebut melalui ekor matanya. Dalam hati, ia bertanya-tanya, apa mungkin ia pernah datang ke tempat ini sebelumnya? Kenapa rasanya. Fany seperti sangat kenal dengan tempat ini? "Fan, udah sampe." Fany terperanjat ketika tiba-tiba mereka sudah sampai di depan rumah bergaya minimalis yang didominasi oleh warna cokelat dan pastel yang tak lain adalah rumah Gavin itu. Dengan tangan yang bertumpuan pada pundak Gavin, Fany turun dari si Sexy. Setelahnya Gavin membantu Fany yang nampak sedikit kesulitan untuk melepaskan pengait helm yang ia kenakan itu. "Masuk dulu, yuk," ajak Gavin ketika keduanya sudah berada di depan pintu rumah Gavin. "Gue nunggu di depan aja," putus Fany. Gavin mengangguk untuk menyetujui hal itu, tak mau memaksa Fany untuk ikut masuk ke dalam rumahnya. Laki-laki itu lantas masuk ke rumahnya untuk mengambil dompet yang tadi tertinggal itu, meninggalkan Fany yang kini sudah mendaratkan tubuhnya pada sebuah kursi di teras rumah Gavin. Belum terlalu lama menunggu, datang seorang laki-laki yang berperawakan mirip seperti Gavin dengan sebuah paper bag di tangannya. Laki-laki itu sempat menghentikan langkahnya beberapa detik tatkala melihat Fany duduk seorang diri di sana. Sontak Fany pun beranjak dari duduknya dan tersenyum kikuk pada orang itu. "Nunggu Gavin, ya?" tanya orang itu pada Fany. Fany sudah hampir membuka suaranya ketika Gavin tiba-tiba datang dan berdiri di sampingnya. Membuat Fany sedikit terkejut. "Bang, kenalin, ini Fany." Gavin menatap perempuan di sampingnya itu dengan senyum lebar, lalu melanjutkan ucapannya, "Fan, kenalin ini kakak gue." "Hai, salam kenal ya, gue Revan," ujar laki-laki yang menyebut dirinya dengan sebutan Revan itu seraya mengulurkan tangannya ke arah Fany. Dengan canggung, Fany menyambut uluran tangan Revan, "Gue Fany. Salam kenal," ujarnya. Fany menatap wajah Revan cukup lama. Perempuan itu nampak sedang memikirkan sesuatu tentang Revan. Laki-laki itu nampak tidak asing bagi Fany. "Sorry, apa sebelumnya kita pernah ketemu, ya?" tanya Fany pada Revan setelah gagal menahan rasa penasarannya beberapa saat yang lalu. "Mungkin lo pernah lihat kakak gue pas dia nganter gue ke kampus." Bukan Revan yang menjawab, melainkan Gavin. Memang benar, keduanya pernah bertemu beberapa waktu lalu, dan hari itu sudah cukup lama. Tapi hebat sih, Fany masih bisa mengenali Revan, sedangkan Gavin, boro-boro dikenali, mendengar nama Gavin saja yang dipikirkan oleh Fany adalah Gavin Kwan pemain sepak bola. Menyedihkan sekali. Mendengar penjelasan dari Gavin tadi, Fany mengangguk paham. Masuk akal juga sih kalau Fany pernah melihat Revan saat mengantar Gavin ke kampus. "Kalian udah makan?" tanya Revan memecah keheningan yang menyelimutinya selama beberapa saat tadi. Melihat Fany dan Gavin membisu, Revan kembali berujar, "Makan di sini aja yuk, gue baru beli ikan bakar nih." Gavin dan Fany saling melempar pandangan, bingung harus memberikan respon seperti apa mengenai ajakan yang Revan oleh lontarkan. Niat awal Gavin kan mengajak Fany makan dan pergi nonton, tapi rencananya itu terancam gagal sebab Revan yang tiba-tiba menawarkan mereka berdua untuk makan bersama. "Gimana, Fan?" tanya Gavin pada perempuan di sampingnya itu. "Terserah lo aja," ujar Fany yang kini masih menatap kedua bola mata Gavin. Perempuan itu merasa tidak enak jika harus menolak ajakan Revan, namun ia menangkap adanya sedikit guratan kecewa pada wajah Gavin. "Udah, jangan kebanyakan mikir. Ayo masuk." Revan yang sudah merasa sangat lapar itu pun akhirnya menggiring sang adik dan dan Fany untuk masuk dan makan malam bersamanya di rumah. Dalam hati ia merasa lega karena keduanya tak melayangkan penolakan atas ajakannya barusan. *
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN