9. Harum Manis dan Martabak

2030 Kata
Perempuan bermata sabit itu mencebikkan bibirnya saat tiket untuk menonton film yang ia inginkan itu sold out sebab ia dan Gavin telat datang ke bioskop. Sebenarnya masih ada sih, tetapi untuk sesi jam sebelas malam, dan sudah dipastikan Fany tidak akan mendapat izin dari Papinya untuk menonton dan pulang tengah malam. "Udah ih, jangan cemberut terus," ujar laki-laki yang tengah berjalan di sampingnya itu. "Bodo amat, gue bete, Gavin," ujar perempuan itu, membuat Gavin terkekeh pelan. "Fan, tadi di jalan gue lihat sorotan lampu gitu di langit. Kayaknya ada pasar malam deh, mau ke sana nggak?" usul Gavin yang berhasil untuk menarik perhatian Fany. Pasar malam? Sudah lama sekali Fany tidak pergi ke pasar malam, ia jadi ingin ke sana. "Gas-in, Vin." Fany berujar semangat. Saking semangatnya, perempuan itu sampai tidak sadar kalau tangannya kini menarik lengan Gavin untuk beranjak dari sana dan mencari tempat di mana pasar malam itu berada. Dengan berbekalkan keyakinan terhadap lampu yang berpijar lurus menembus langit malam, Kini keduanya telah sampai di pasar malam yang ternyata terletak di lapangan yang tak jauh dari mall tadi. Setelah memarkirkan si Sexy, sepasang kekasih yang sedang menjadi teman baik itu masuk ke area pasar malam yang nampak ramai itu. Di sana banyak sekali wahana yang ingin Fany coba, dan Gavin akan setia menemani perempuan itu untuk melakukan apapun yang dia inginkan. "Vin, gue pengen ke sana," ujar Fany seraya menunjuk salah satu wahana yang berada di sudut lapangan. Gavin mengikuti arah pandang Fany, laki-laki itu sontak menelan ludahnya secara kasar, mengetahui bahwa wahana yang baru saja ditunjuk oleh Fany adalah... "Rumah hantu?" tanya Gavin dengan suara yang tergagap. Fany mengembangkan senyumnya, sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya. "Yang lain aja, ya. Jangan ke situ," bujuk Gavin pada perempuan bermata sabit itu. "Tadi katanya gue boleh lakuin apa aja yang gue mau, gimana sih?" dengus Fany. "Iya, apapun kecuali rumah hantu, Fan," cicit Gavin dengan suara lirihnya. Bodoh sekali. Kenapa tadi Gavin tak melihat sekeliling dulu sebelum berucap. Ia tak menyadari kalau di sana terdapat wahana Rumah Hantu yang paling dihindari oleh Gavin. Sumpah demi apapun, Gavin paling tidak suka dengan yang berbau-bau horor seperti itu. Fany terbahak saat menyadari perubahan raut wajah Gavin. Yang tadinya gembira dan bersemangat, kini menjadi suram dan masam. "Lo takut ya?" ledek Fany pada laki-laki jangkung yang berdiri di sampingnya itu. Gavin terdiam, tak mau menjawab ledekan Fany terhadapnya itu. Gengsi lah, kalau ia jujur pada Fany bahwa ia takut dengan hantu. Walaupun sebelumnya Fany tau kalau Gavin itu penakut, tapi kan saat ini kondisinya sudah berbeda. "Vin, ayo ih," ajak Fany sembari menarik-narik jaket Gavin. "Yang lain aja, Fan." Gavin berujar lemah, yang justru terdengar seperti permohonan agar Fany tak memaksanya untuk masuk ke wahana Rumah Hantu itu "Nggak mau, Vin." Fany menggeleng kuat. Perempuan itu meraih lengan Gavin untuk berjalan mengikutinya, "Ayo, cepetan." Mau tak mau, Gavin menuruti Fany. Laki-laki itu berjalan mengekori Fany yang sudah mendahuluinya menuju loket untuk membeli dua buah tiket wahana Rumah Hantu yang dadi luarnya saja sudah nampak mengerikan itu. -ELEVEN- "Ih sumpah ya, lo penakut banget, anjir." Fany masih saja tertawa ketika teringat kelakuan Gavin yang terus-terusan berteriak sambil mencengkeram lengan Fany sebab terkejut dengan kemunculan hantu palsu di wahana Rumah Hantu tadi. "Fan, gue nggak ada tenaga buat bercanda," ujar Gavin dengan suara lemahnya. Napasnya terdengar memburu, setelah beberapa saat lalu ia dan Fany baru saja keluar dari wahana s****n itu. Gavin jadi penasaran, siapa sih yang mencetuskan ide untuk membuat Wahana Rumah Hantu di pasar malam? Membuat emosi saja. "Lo tunggu sini, ya. Gue beliin minum dulu," ucap Fany pada Gavin. Laki-laki itu belum sempat merespon apapun ketika Fany sudah berlalu meninggalkannya. Tak berselang lama, Fany kembali membawa dua botol air mineral. Satu botol ia berikan untuk Gavin, dan langsung ditenggaknya hingga tersisa setengah botol. Setelah di rasa detak jantung dan napasnya normal kembali, bola mata Gavin berpendar mengelilingi lapangan dari ujung ke ujung. Lalu bola mata sehitam obsidian itu berhenti pada satu titik yang berhasil menarik perhatiannya. "Ikut gue," ujar Gavin. Lalu tanpa aba-aba, laki-laki itu menarik lengan Fany dan melangkahkan kaki menuju tempat yang menarik perhatiannya itu. Gavin berhenti di depan wahana tembak-tembakan diikuti dengan Fany yang berada di sampingnya. "Lo mau main ini?" tanya Fany memastikan. Karena jujur saja, Fany belum pernah bermain di wahana ini. Gavin mengangguk. Laki-laki itu lantas mendekat ke seorang penjaga di sana. "Bang, minta pelurunya," ujar Gavin pada si penjaga wahana itu. Laki-laki penjaga wahana itu pun memberikan sebuah kantung berisi sekitar sepuluh peluru, lalu Gavin menyerahkan dua lembar uang pecahan sepuluh ribu rupiah pada si penjaga. Setelahnya, Gavin memilih pistol mainan yang akan ia gunakan sebagai senjatanya. Aturan mainnya begini, setiap pemain harus menembak plang yang terbuat dari kertas dengan nomor urut nol sampai sembilan. Ketika peluru meluncur dan berhasil menembus plang angka itu, maka pemain berhak untuk membawa pulang hadiah yang berada si balik plang angka tersebut. "Fan, lo mau angka berapa?" tanya Gavin pada perempuan di sampingnya sembari bersiap untuk mulai menembak angka yang akan dipilih oleh Fany. Fany mengetukkan jari telunjuknya di dagu, dengan mata yang masih fokus menatap deretan angka di depannya. "Gue bingung, Vin. Hadiahnya nggak kelihatan sih," kekeh Fany di akhir ucapannya, membuat Gavin secara refleks mengacak surai hitam perempuan itu. "Udah, lo tembak semua angka ganjil di sana, Vin," putus Fany kemudian. Gavin pun menurutinya. Gavin kini sudah bersiap untuk menembak. Tanpa membuang banyak waktu, laki-laki itu menarik pematik pistol mainannya. Detik setelahnya, sebuah peluru meluncur merobek kertas bertuliskan angka satu di hadapannya. Melihat hal itu, Fany melompat kegirangan sambil menepukkan tangannya beberapa kali. Ternyata Gavin pandai juga bermain tembak-tembakan. Padahal beberapa menit lalu laki-laki itu lemas ketika baru saja keluar dari wahana Rumah Hantu. "Hebat juga lo," ujar Fany dengan alis yang terangkat sebelah. Jari telunjuknya mencolek lengan Gavin, membuat laki-laki itu tersenyum lebar hingga menciptakan lubang di kedua pipinya. Sang penjaga wahana itu pun memberikan hadiah di balik angka yang Gavin tembak tadi berupa sebuah boneka berbentuk awan dengan ekspresi wajah tersenyum. Fany pun menerima boneka itu. Senyumnya secara refleks mengembang sebab boneka di tangannya itu menggemaskan sekali. "Suka?" tanya Gavin yang langsung disahuti oleh anggukan kepala Fany. Masih dengan senyum di bibirnya, Fany kembali berujar, "Tembak lagi, Vin." -ELEVEN- "Mau main apa lagi?" tanya Gavin pada Fany yang kini tengah menelusuri sekelilingnya, memilih permainan apalagi yang ingin ia mainkan. Fany nampak berpikir sejenak, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk menyudahi kegiatan bermainnya, karena kini ia merasakan perutnya keroncongan. Mereka berdua sudah mengunjungi hampir seluruh wahana di pasar malam ini, jadi wajar saja kalau kini cacing di perut Fany sudah menggelar konser di dalam sana. "Udahan aja yuk, gue laper," ujar Fany yang disambut oleh kekehan Gavin. Padahal sebelum ke berangkat tadi mereka sudah makan dengan Revan. Tapi tidak heran sih jika Fany merasa lapar, sejak tadi perempuan itu pecicilan ke sana sini nggak ada capeknya. "Ya udah yuk, cari makan." Gavin mengulurkan tangannya, berharap perempuan di hadapannya itu mau menggenggam tangannya. Namun harapan tetaplah harapan, karena kenyataannya tangan Gavin malah digebuk oleh Fany. "Nggak usah modus lo," ucap Fany. Perempuan itu lalu berjalan mendahului Gavin yang masih tertawa geli di tempatnya. Sepertinya perempuan itu lupa kalau tadi ia yang lebih dulu menyeret lengan Gavin saat ini masuk ke wahana Rumah Hantu. Dari belakang, Gavin mengikuti langkah Fany yang sepertinya bingung memilih makanan apa untuk mengganjal perutnya sebab berbagai jenis kedai makanan kini berjejer di depannya. Gavin lalu menyernit ketika ia menyadari Fany berjalan santai menuju sebuah kedai yang bahkan tidak Gavin sangka akan dipilih oleh Fany, mengingat perempuan itu mengeluh kelaparan sejak tadi. "Lo mau makan ini?" tanya Gavin. Sekedar memastikan kalau Fany tidak datang ke tempat yang salah. "Iya. Emangnya kenapa?" sahut Fany pada laki-laki yang kini sudah berdiri di sampingnya. "Beneran?" tanya Gavin untuk memastikan lagi. "Emang kenapa sih? Pasar malam kan identik dengan harum manis," dengus Fany. Laki-laki di sebelahnya itu terlalu banyak tanya di kala perutnya yang sedang lapar seperti ini. Membuat kesal saja. "Emangnya harum manis bisa bikin kenyang?" Gavin mengangkat sebelah alisnya. "Nggak bikin kenyang sih, tapi gue pengin," kekeh Fany setelah mengucapkan kalimatnya barusan. Mendengar hal itu, Gavin hanya mengembuskan napasnya pelan, tak mau berkomentar apapun dengan pilihan Fany itu. "Setelah ini gue mau beli martabak, ya," ujar Fany lagi yang kali ini disetujui oleh Gavin. Selain identik dengan harum manis, pasar malam juga identik dengan martabak. Benar tidak? Kalau menurut Gavin sih, benar. Karena sejak kecil, ketika ia datang ke pasar malam, hal yang tak pernah sekalipun Gavin lupakan adalah membeli martabak. Setelah menunggu selama beberapa menit, akhirnya si penjual pen menyerahkan sebuah harum manis berwarna pink itu pada Fany. Dengan semangat, Fany menerima harum manis itu setelah sebelumnya ia menyerahkan uang untuk membayar makanan manis tersebut. "Mau coba?" Fany menyodorkan harum manis di tangannya itu ke mulut Gavin. Tanpa sepatah kata pun, Gavin meraih tangan Fany untuk ia dekatkan dengan bibirnya. Sepersekian detik, harum manis yang semula berada di tangan Fany kini sudah melebur di dalam mulutnya. Dalam hati, Gavin berujar, Harum manis yang memang sudah manis itu tambah manis kalau makannya dari tangan Fany yang manis. Nggak jelas. Oke, lupakan. "Modus banget sih lo," ketus Fany ketika ia tak mampu menyembunyikan keterkejutannya karena kelakuan Gavin tadi. Tidak sopan sekali, laki-laki itu dengan seenak jidatnya membuat jantung Fany berdegup lebih cepat dari biasanya. Menanggapi hal itu, Gavin hanya menyengir lebar seperti tak merasa bersalah. Keduanya lantas melanjutkan langkah menuju kedai martabak. Di sana terdapat berbagai macam pilihan topping. Namun yang dipilih oleh Gavin dan Fany adalah topping cokelat dan keju. Cokelat untuk Fany, dan keju untuk Gavin. Setelah memesan, keduanya memilih untuk duduk di kursi yang tak jauh dari gerobak Abang martabak itu. Fany melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya, "Vin, udah jam segini," ujar Fany lantas menunjukkan jam di tangannya dengan jarum jam yang lebih pendek hampir menunujuk angka sebelas itu. Bisa mati Fany kalau jam dua belas nanti ia belum sampai di rumahnya. Papinya nggak akan segan untuk menguncinya di luar rumah kalau Fany terlambat pulang. Walaupun beliau tahu kalau Fany pergi dengan Gavin, tapi itu tetap tidak akan mengubah peraturan jam malam yang sudah ditentukan oleh Papi pada anak-anaknya. Tidak boleh lebih dari jam dua belas malam. "Martabaknya dibawa pulang aja, ya," usul Gavin yang langsung disetujui oleh perempuan bermata sabit itu. Gavin sudah sangat paham dengan batasan jam malam Fany, karena sudah bertahun-tahun keduanya menjalin hubungan bersama. Kini, pesanan martabak keduanya sudah siap. Setelah membayar, keduanya beranjak dari sana. Namun sebelum ke parkiran, mereka terlebih dahulu pergi ke wahana tembak-tembakan untuk mengambil hadiah yang mereka titipkan di sana. Tadi, setelah Gavin berhasil menembak seluruh angka ganjil tanpa meleset sekali pun, Fany menyarankan Gavin untuk menembak semua angka yang ada di sana. Niat hati hanya bercanda, tetapi laki-laki jangkung itu justru menurutinya hingga berakhir dengan mendapat seluruh hadiah di balik deretan angka yang totalnya ada sepuluh hadiah itu. Fany berdecak ketika kedua tangannya dipenuhi oleh hadiah yang di dapatkan oleh Gavin tadi. Mulai dari boneka, botol minum, tempat makan, sampai gantungan kunci, semuanya ada di dalam kantung plastik di kedua tangan Fany. "Susah nggak?" tanya Gavin yang kini sudah berada di atas motornya, dan mengengok ke belakang, tempat di mana Fany membonceng dengan segala keribetannya karena dua kantung plastik berisi hadiah-hadiah itu. "Ya lo pikir sendiri aja sih, susah apa nggak?" decak Fany yang justru disahuti oleh kekehan Gavin. Menyebalkan sekali. "Ya udah, satu kantung taruh di depan," ujar Gavin, lalu meraih salah satu kantung plastik di tangan Fany. Setelah dirasa cukup nyaman, Gavin melajukan Sexy, meninggalkan area pasar malam yang sudah nampak lenggang itu menuju ke rumah Fany. -ELEVEN- Fany turun dari si Sexy dengan bertumpuan pada bahu Gavin, seperti biasa. Setelahnya, Gavin memberikan kantung plastik berisikan hadiah itu pada Fany, tak lupa juga dengan martabak yang tadi mereka beli itu. "Kok dikasih ke gue semua?" tanya Fany sambil memandangi beberapa kantung plastik di kedua tangannya itu. "Nggak apa, buat lo semua aja. Gue susah bawanya," ujar Gavin. Fany mendengus, namun tak pelak ia menurutinya juga. Perempuan itu mengucapkan terima kasih pada Gavin sebelum ia masuk ke dalam rumahnya. "Fan," panggil Gavin saat Fany sudah berada di depan pintu rumahnya. Kini Gavin sudah beranjak dari motornya dan melangkahkan kaki menghampiri Fany yang masih menunggunya di sana. Saat sampai di depan Fany, Laki-laki itu lantas menyerahkan ponselnya, membuat Fany menyernyit. Tak paham dengan maksud Gavin tadi. "Ngapain?" tanya Fany. Perempuan itu masih menatap dengan gamang ponsel di tangan Gavin itu. Gavin tersenyum tipis sebelum akhirnya berujar; "Nomor lo. Gue belum punya nomor ponsel baru lo." -ELEVEN-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN