Sinar matahari pagi yang menelisik melalui celah jendela kamarnya itu mengusik Fany dari tidur nyenyaknya. Ditambah dengan suara alarm yang melengking nyaring di dekat telinganya membuat perempian itu menarik selimutnya hingga menutupi kepalanya.
Fany menggeram ketika alarm itu kembali berdering. Seingatnya, ia tak pernah memasang alarm di hari minggu seperti ini. Perempuan itu menghempaskan selimutnya kesal kala menyadari siapa yang sudah memasang alarmnya di samping tempat tidurnya itu.
“PIKTONG!” pekik Fany tertahan, perempuan itu melirik jam dindingnya yang masih menunjuk angka enam, masih terlalu pagi bagi Fany untuk membuat keributan dengan kakak laki-lakinya.
Fany meregangkan kedua tangannya, lalu gerakannya terhenti ketika perempuan itu mengingat sesuatu.
“Gue? Mimpiin Gavin? Yang bener aja?!” ujar Fany pada dirinya sendiri dengan sewot. Bisa-bisanya semalam ia memimpikan laki-laki tengil itu. Dengan cepat, Fany menggelengkan kepalanya, mencoba mengenyahkan wajah Gavin yang dengan seenak udelnya malah berputar-putar di kepalanya.
Mimpi Fany semalam terasa seperti nyata, yang bahkan Fany dapat mengingatnya dengan detail. Mulai dari Gavin menjemputnya di rumah, lalu laki-laki itu memakaikan jaketnya pada Fany, Gavin mengajak Fany ke rumahnya, mereka kehabisan tiket bioskop, hingga berakhir dengan bermain di berbagai macam wahana pasar malam. Fany juga masih ingat kalau Gavin menembak sepuluh angka berhadian di sana, dan salah satu hadiahnya adalah boneka berbentuk awan.
Fany menoleh ke arah kiri, detik setelahnya perempuan itu membeku, ”Kok boneka awannya ada di kasur gue?” tanya Fany yang hanya disahuti oleh udara yang berhembus dari pendingin udara di kamarnya.
Belum juga mendapat jawaban atas pertanyaannya ponsel yang berdering nyaring sontak membuyaran fokus Fany pada boneka awan di atas kasurnya itu. Perempuan itu kembali terkejut saat ia membaca nama seseorang yang meneleponnya pagi itu adalah Gavin.
Dengan malas, Fany menggeser tombol hijau, lalu mendekatkan ponsel itu ke telinganya. Seketika itu juga suara seorang laki-laki terdengar di seberang sana.
“Jadi, semalem tuh bukan mimpi, ya?” tanya Fany pada Gavin, setelah beberapa saat lalu bertanya-tanya pada dirinya sendiri dan tak mendapatkan jawaban apapun.
Gavin terkekeh, “Semalem kan kita beneran jalan, Fan,” ujarnya.
Di tempatnya, Fany memukul pelan keningnya sendiri. Kenapa dia mau-mau saja sih diajak pergi oleh Gavin, laki-laki tengil yang sering sekali membuat Fany emosi dengan berbagai kelakuan absurdnya.
“Kesambet apa gue sampe mau jalan sama lo,” dengus Fany membuat Gavin terkikik geli.
“Segitu nyeselnya lo jalan sama gue, Fan?” canda Gavin yang sebenarnya ada sedikit nada kecewa dalam kalimat Gavin. Dan Fany menyadari hal itu.
“Bukan gitu, tapi….” Fany belum sempat menyelesaikan kalimatnya, ketika Gavin sudah lebih dulu memotong ucapan Fany.
“Fan, udah dulu, ya,” ujar Gavin, lalu memutuskan panggilan secara sepihak.
“Lah, dia ngambek?”
-ELEVEN-
Setelah mandi dan ganti baju, Fany turun ke lantai satu rumahnya untuk menuju ruang makan. Di sana sudah ada Mami, Papi, dan Victor yang masih nampak sibuk dengan aktivitas mereka masing.
Mami sedang membantu Teh Mila meletakkan beberapa piring dan gelas di atas meja makan, Papi sedang nampak sibuk dengan sebuah tablet di tangannya, dan Victor sedang kurang kerjaan, laki-laki itu mengetuk-ngetuk toples berisi selai. Nggak penting banget kan aktivitas Victor ini.
"Pagi semuanya," sapa Fany pada empat orang di meja makan itu.
"Pagi, sayang." Itu suara Mami yang menyahutinya dengan tanpa mengalihkan tatapannya dari piring-piring di depannya.
"Eh, adik kesayangan gue udah bangun," sahut Victor seraya mengikuti langkah Fany yang tengah melangkah ke kursinya di sebelah kursi sang Mami itu melalui ekor matanya.
"Sinting lo, ngapain naruh jam weker di sebelah telinga gue?" tanya Fany dengan sedikit emosi. Fany nggak habis thinking sih, dosa apa dia punya Kakak sengklek seperti Victor. Padahal laki-laki itu tahu kalau Fany baru tertidur sekitar jam setengah tiga pagi gara-gara menonton drama korea favoritnya.
"Ih, sembarangan nuduh lo," ujar Victor mencoba membela diri.
"Ya terus kalau bukan lo, siapa lagi?"
"Tangan gue," sahur Victor enteng sebelum akhirnya ia terbahak dengan ucapannya sendiri. Victor tidak menyangka kalau ternyata ia pintar sekali. Ya iya lah, yang naruh jam weker di sana tangannya, masa kakinya.
Mendengar hal itu, Fany hanya merotasikan bola matanya jengah. Rasanya ia ingin sekali melempari wajah Victor menggunakan selembar roti tawar di depannya itu. Namun keinginan Fany harus ia kubur dalam-dalam ketika Maminya membuka suara dan menyuruhnya untuk menyantap sarapan paginya dengan tenang.
Fany lantas mengambil selembar roti tawar di depannya, lalu mengolesinya dengan selai cokelat hingga selai tersebut menutupi seluruh permukaan roti. Setelah dirasa selainya sudah dioleh secara merata, perempuan itu mengambil lagi selembar roti untuk ia tangkupkan dengan roti yang sudah diolesi selai tadi.
"Oh iya, kak. Nanti temenin gue yuk," ujar Fany di sela kegiatan mengunyah roti selai cokelatnya.
"Mau ke mana?" tanya Victor lembut, membuat aura kakak idaman dalam dirinya itu kembali terpancar.
"Ke mall, mau beli parfum."
Victor hampir saja tersedak tatkala mendengar ucapan Fany barusan. Jadi, tebakan Victor semalam tepat sasaran. Adiknya itu benaran meminta ditemani untuk membeli parfum sebab parfumnya habis setelah dipakai dari ujung kaki sampai ujung kepala saat hendak pergi dengan Gavin semalam.
Laki-laki itu sedikit menahan tawanya, "Tuh kan bener, parfum lo langsung habis setelah semalam dipakai sebadan-badan pas mau ketemu Gavin," ledek Gavin yang membuat Fany membelalakan mata sipitnya.
"Apaan sih, sok tau banget. Parfum gue emang udah mau habis dari satu minggu yang lalu," jelas Fany. Perempuan itu benar-benar tak terima jika semua hal yang ia lakukan disangkutpautkan dengan laki-laki jangkung bernama Gavun itu. Ya, walaupun ucapan Victor itu tidak sepenuhnya salah, tapi tetap saja, gengsi lah untuk mengakuinya.
Victor terkikik pelan, diikuti dengan Maminya yang kini juga tengah terkekeh di tempatnya. Sontak wajah Fany kini terasa memanas, hingga perempuan itu beberapa kali mengibaskan tangannya di depan wajahnya.
"Tapi sayang banget, gue udah ada janji sama temen gue. Jadi nggak bisa nemenin." Fany menekuk bibir bawahnya ketika mendengar penuturan Victor. Namun hal itu tak berlangsung lama sebab laki-laki itu melanjutkan ucapannya, "Tapi nanti gue antar lo ke mall deh."
"Oke deh." Fany tersenyum sumringah sembari mengangkat ibunya lalu mengarahkannya pada Victor. Memang benar, semenyebalkan apapun kakak laki-laki, dia tetap lah seorang kakak akan melakukan apapun agar adiknya bahagia. Dan Fany sangat bersyukur mempunyai kakak seperti Victor.
-ELEVEN-
Fany melambaikan tangannya pada sang kakak yang berada di depan kemudi dan bersiap untuk melaju meninggalkan perempuan itu di depan sebuah gedung berlantai lima yang disebut dengan Mall itu.
Setelah mobil sang kakak menjauh dan semakin tak terlihat oleh pandangan matanya, Fany bergegas memasuki gedung tersebut dan langsung menuju ke lantai tiga, tempat di mana segala jenis barang yang dibutuhkan oleh wanita tersedia dengan lengkap di sana.
Tanpa melirik-lirik ke arah lain, Fany langsung masuk ke sebuah store yang menjual berbagai macam kosmetik dan parfum yang biasa ia kunjungi. Ketika sampai sudut yang ia tuju, Fany menghentikan langkahnya. Lalu tangannya meraih salah satu parfum yang berjejeran di sana.
Fany nyemprotkan sedikit cairan dibotol kaca itu ke pergelangan tangannya, lalu mencium aroma cairan tersebut. Perempuan itu terseyum ketika aroma segar dan manis yang bercampur menjadi satu itu menyapa indera penciumannya. Parfum kesukaannya itu tak pernah berubah. Fany sangat suka parfum dengan aroma segar dan manis khas buah seperti ini.
Perempuan itu lantas mengambil satu lagi parfum yang serupa, lalu bergegas menuju kasir untuk membayarnya. Namun langkahnya yang belum sampai pada tujuan itu harus tiba-tiba berhenti ketika bola matanya menangkap sosok laki-laki yang nampak familiar itu.
"Kak Revan?" sapa Fany pada seseorang yang sepertinya sedang kebingungan itu.
"Hai, Fany. Di sini juga?" tanya Revan basa-basi yang langsung diberi anggukan kepala Fany. Perempuan itu mengamati gerak-gerik Revan yang tampak bingung itu.
"Lagi nyari apa, Kak?" tanya Fany.
Revan mengembuskan napasnya pelan, "Lagi mau cari kado buat temen gue. Tapi bingung mau beli apa," ujar Revan seraya menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.
"Mau belikan dia kosmetik? Lo tau dia suka pakai kosmetik dari brand apa?" tanya Fany lagi, membuat Revan hanya menggelengkan kepalanya. Entahlah, ia saja bingung kenapa kakinya malah membawanya ke tempat ini.
Fany terkekeh geli melihat raut wajah Revan yang kebingungan itu. Ia jadi penasaran, apa laki-laki memang sebingung itu ketika ingin membelikan kado untuk seorang perempuan?
"Saran gue, lo jangan kasih kosmetik kalo belum tau brand apa yang biasa dia pakai, Kak. Karena belum tentu kulit wajah cewek itu cocok dengan semua brand kosmetik," jelas Fany. Revan hanya mengangguk-angguk saja, karena baru mengetahui hal itu.
"Terus gue kasih apa dong?" tanya Revan di tengah kebingungannya yang semakin menjadi-jadi.
"Lo bisa kasih dia tas, dompet, aksesoris, atau kalo lo tahu ukuran sepatunya, bisa juga kasih dia sepatu." Fany menarik napasnya sepersekian detik sebelum akhirnya melanjutkan ucapannya, "Tapi kalo mau yang simpel tapi berguna banget, lo bisa kasih dia kantung kompres perut, Kak," kekeh Fany.
Revan mengangguk paham. Kini laki-laki itu sudah memiliki sedikit gambaran tentang apa yang harus ia beli.
"Lo bisa nggak temani gue untuk cari kadonya?" tanya Revan sedikit ragu, takut perempuan di hadapannya itu akan menolak. Namun yang terjadi selanjutnya adalah kebalikannya. Perempuan itu bersedia untuk menemaninya, dan Revan merasa lega dengan hak itu.
"Tapi gue bayar belanjaan gue dulu ya, Kak," ujar Fany sebelum akhirnya keduanya melangkahkan kaki menuju kasir untuk membayar belanjaan Fany.
-ELEVEN-
"Thanks ya, Fan, udah mau temani gue," ujar Revan tulus ketika ia dan perempuan bermata sabit itu sudah sampai di depan pintu keluar mall setelah beberapa saat lalu keduanya sibuk berpindah-pindah toko demi mencari kado yang pas untuk teman Revan.
"Sama-sama, Kak." Fany tersenyum tulus sembari menyibakkan helaian rambutnya yang tertiup angin itu ke belakang telinganya, membuat Revan yang berdiri di sampingnya tak dapat mengalihkan tatapannya pada perempuan itu.
"Kak? Kenapa bengong?" tanya Fany kala mendapati Revan mematung seperti orang kesambet di siang bolong begini.
Revan hanya terkekeh, tak mau menjawab pertanyaan Fany dengan kalimat apapun.
"Oh iya, lo pulangnya bareng gue aja, ya," ajak Revan yang langsung ditolak oleh Fany. Perempuan itu mengatakan bahwa ia akan menunggu taksi saja, karena tak mau merepotkan Revan.
"Udah, bareng gue aja. Nggak ngerepotin kok. Lo tunggu sini, ya." Setelah mengatakan kalimat itu, Revan bergegas menuju parkiran untuk mengambil mobilnya, meninggalkan Fany yang berdiri mematung di sana.
Sebenarnya ia sedikit canggung jika harus pulang dengan Revan. Entah mengapa ada sedikit perasaan tak mengenakkan dalam hati Fany. Rasanya seperti, takut Gavin akan salah paham ketika ia pulang diantar oleh kakaknya. Terlebih tadi pagi laki-laki itu memutuskan sambungan ponselnya secara sepihak.
Menyadari keanehanya, Fany menggelengkan kepalanya kuat. Untuk apa juga Fany takut laki-laki jangkung bernama Gavin itu akan salah paham. Baru kenal juga beberapa waktu yang lalu.
Suara klakson dari mobil Revan itu berhasil menginterupsi Fany dari lamunannya. Perempuan itu lalu masuk ke mobil Revan, sebelum akhirnya mobil merah itu melaju meninggalkan tempat itu.
Sepanjang perjalanan, yang keduanya lakukan hanyalah saling membisu, bingung harus membahas apa agar suasana di dalam mobil itu tidak terasa canggung.
"Fan, gue denger, Gavin cukup akrab dengan orang tua lo?" tanya Revan setelah sebelumnya berpikir mati-matian untuk mencari suatu topik bahasan agar keduanya tak saling diam.
"Iya, gue juga nggak tahu dia kenal orang tua gue dari mana," sahut Fany dengan sesekali melirik Revan di kursi kemudinya.
Revan tersenyum, lalu kembali berujar, "Kalo gue pengen kenal dengan orang tua lo juga, boleh nggak?"
-ELEVEN-