11. Layang-layang

1353 Kata
Laki-laki berperawakan tinggi itu mematikan mesin motornya ketika ia baru saja sampai di parkiran Fakultas Ilmu Komputer, sebelum turun dari motornya laki-laki itu memutar kaca spion motornya untuk menghadap ke arahnya. Ia merapikan rambutnya yang sedikit berantakan karena memakai helm tadi. Seolah mendapat efek slow motion, adegan menyisir rambut yang dilakukan oleh Gavin itu membuat para perempuan yang melihatnya menjadi jejeritan di hati mereka. “Eitss, tumben amat parkir di wilayah sendiri? Biasanya kan parkir di Fakultas tetangga,” sindir seorang laki-laki yang entah sejak kapan berada di samping Gavin itu. Gavin yang sedari tadi sedang asyik merapikan rambutnya itu hampir aja mengebuk kepala Gara—laki-laki yang baru saja muncul itu—saking kagetnya. Saat tersadar bahwa laki-laki itu adalah sahabatnya, Gavin bedecak, “Ngagetin aja, Nyet.” “Pertanyaan gue nggak dijawab, Nyet?” tanya Gara ketika Gavin sudah turun dari motornya, dan kini sudah berjalan di sebelahnya. “Lo tau perumpamaan layangan nggak sih?” decak Gavin yang disahuti Gara dengan mengendikkan bahunya. “Pantes pacarannya nggak awet,” ledek Gavin pada Gara. Laki-laki itu terkekeh pelan sebelum melanjutkan kalimatnya yang tadi ia jeda, “Ngejar cewek tuh seperti main layangan. Jangan cuma ditarik terus, tapi perlu diulur juga.” Mendengar penjelasan dari sahabatnya itu, Gara hanya mengangguk-angguk paham. Pantas saja dulu Gara diputuskan oleh pacarnya. Sepertinya Nadya bosan ditarik terus oleh Gara, tanpa memberi kebebasan untuknya. Duh, Gara jadi menyesal dan ingin mengulang semuanya lagi dari awal. “Apa gue ajak Nadya balikan aja kali, ya?” tanya Gara yang sebenarnya ditujukan untuk dirinya sendiri. Namun bodohnya dia mengucapkan kalimat itu dengan suara yang masih dapat didengar oleh Gavin. “Halu mulu lo, dasar sad boy,” sahut Gavin membuat ekspresi wajah Gara berubah masam sebab ia teringat satu kenyataan bahwa Nadya, mantan pacarnya itu kini sudah pnya pacar baru. Dan tentu saja tak ada peluang bagi Gara untuk dapat balikan dengan perempuan itu. “Lo juga sad boy kali, dilupain sama cewek lo,” ujar Gara tak mau kalah. Biar sahabatnya itu sadar kalau bukan hanya Gara yang nampak menyedihkan di sini, dan Gavin pun sama menyedihkannya. Hanya saja, Gavin memiliki peluang, sedangkan Gara tidak. “Malah gue yang kena, anjir,” dengus Gavin. -ELEVEN- “Kemaren lo jalan sama Gavin ya?” Perempuan bermata sabit itu menautkan alisnya ketika sahabatnya itu bertanya padanya. Ia pun menolehkan wajahnya untuk melihat sang sahabat yang duduk di sampingnya itu. “Kapan?” tanyanya. “Tuh kan, Fany jiwa dodolnya kumat. Kan di pertanyaan gue tadi ada kata kemaren, gimana sih?” sungut sang sahabat pada pempuan yang ia panggil dengan sebutan Fany tadi. Fany tekekeh saat menyadari kebodohannya beberapa saat yang lalu, “Nggak, Ris, kemaren gue sama Kak Victor,” ucapnya menjelaskan. “Masa sih? Tapi kok postur tubuhnya beda, ya?” Rissa, sahabat Fany itu mengacak kembali memorinya saat di mall kemarin yang tak sengaja melihat Fany bersama seorang lak-laki di depan pintu keluar mall. Sebenarnya Rissa hendak menghampiri mereka berdua, namun gagal karena keponakannya yang baru berusia enam tahun itu menyeretnya ke area bermain. Tersadar akan sesuatu, Fany kembali bertanya pada sahabatnya, “Lo lihat gue di mana?” “Di depan pintu keluar mall. Sama cowok, dan lo bilang itu bukan Gavin? Please Fan, gue nggak pernah ngajarin lo buat nakal kayak gini. Kasian Gavin, dia udah bucin banget sama lo,” omel Rissa pada Fany yang sudah mirip seperti emak-emak yang tengah memarahi anaknya. Tawa Fany menggema pada koridor kampus tempat mereka duduk sembari menunggu kelas selanjutnya. Melihat sahabatnya yang malah tertawa itu membuat Rissa ingin sekali membenturkan kepalanya pada tembok, saking gemasnya dengan sahabatnya itu. “Ris, dia itu Revan, kakaknya Gavin,” jelas Fany. Rissa membelalakkan matanya ketika kalimat Fany sudah sepenuhnya masuk ke telinganya. Ia tak salah dengar ‘kan? Untuk apa Fany jalan dengan Revan, alih-alih dengan Gavin yang sudah jelas-jelas pacarnya itu. Seakan dapat membaca pikiran sahabatnya, Fany berujar, “Kemarin itu gue nggak sengaja ketemu dia di mall. Dia lagi mau cari kado buat cewek, tapi bingung. Ya sudah, akhirnya gue bantuin dia.” Dapat terdengar jelas, Rissa mengembuskan napasnya lega. Ternyata mereka tak sengaja bertemu, berbading terbalik dengan tebakan Rissa yang berpikir bahwa mereka sengaja janjian untuk bertemu di sana. Lagipula, sepertinya Revan sudah mempunyai pacar dan mungkin saja kemarin dia sedang mencari kado untuk pacarnya. Jadi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, dan perang saudara pun tidak akan terjadi, batin Rissa. “Tapi lo udah bilang Gavain tentang hal ini, kan?” selidik Rissa sekedar memastikan. “Harus banget gue bilang sama Gavin? Emang apa urusanya sama dia?” Rissa menggaruk belakang kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Dia lupa kalau sahabatnya itu amnesia dan tidak dapat mengingat siapa Gavin dan apa peran Gavin dalam kehidupannya. Keduanya saling membisu selama beberapa menit sebab terfokus pada ponsel masing-masing yang menampilkan pesan di groupchat kelasnya yang mengabarkan bahwa kelas mereka hari ini kosong sebab dosen yang mengajar mendapat tugas dinas ke luar kota secara mendadak. Fany dan Rissa saling bertatapan seakan sedang berkomunikasi menggunakan telepati mengenai apa yang akan mereka lakukan setelah ini, mengingat kelas mereka tiba-tiba dikosongkan. “Kantin,” ujar keduanya secara bersamaan, membuat mereka tertawa kompak. Setelah mengemasi barang-barangnya, kedua pasang sahabat itu pun melenggang santai melewati koridor fakultas mereka yang tidak terlalu ramai itu. -ELEVEN- Fany memandangi ponselnya tanpa minat, sejak tadi perempuan itu hanya membuka sosial medianya. Tiga puluh menit yang lalu Rissa ditelepon oleh kakaknya, ia diminta untuk membantu menjaga keponakannya karena sang ibu yang tak lain adalah kakak Rissa itu hendak ke supermarket untuk membeli kebutuhan bulanan. Perempuan bermata sabit itu menelusuri kantin Ekonomi Bisnis yang cukup ramai itu melalui ekor matanya. Sebenarnya ia ingin menonton film menggunakan ponselnya, tapi ia lupa membawa earpods-nya. Jadi, lupakan saja keinginan itu karena akan sia-sia menonton film di tempat seramai ini. Fany tidak akan fokus. Jemari Fany masih menari di atas layar datar ponselnya ketika seorang laki-laki bermata sipit tiba-tiba duduk di bangku yang berseberangan dengan bangku yang diduduki oleh Fany. “Gue boleh duduk sini?” tanya laki-laki bermata sipit itu bernama Bima yang tak lain adalah teman sekelas Fany itu. “Silakan, Bim,” sahut Fany dengan suara lirihnya. Menyadari hal itu, Bima kembali membuka suaranya, “Kenapa, Fan? Lo sakit?” Fany menggeleng pelan, lalu mengangkat kepalanya yang beberapa menit lalu ia sandarkan di meja. “Bosen banget. Pengen nonton film tapi rame gini,” ujar Fany seraya mengelilingikan pandangaannya ke seluruh penjuru kampus, diikuti Bima yang juga melakukan hal yang sama. Laki-laki itu nampak mencari sesuatu di dalam ranselnya, membuat Fany secara refleks mengerutkan keningnya. Setelah menemukan apa yang ia cari, Bima mengambil benda tersebut dan menunjukkannya pada Fany. “Mau pake ini?” tanya Bima seraya menunjukkan headset miliknya, membuat Fany tersenyum lebar. “Boleh?” tanya Fany yang langsung diiyakan oleh Bima. “Tapi gue ikut nonton juga, ya,” ujar Bima. Setelah mendapat persetujuan dari Fany, laki-laki bermata sipit itu berpindah tempat duduk di sebelah kanan Fany. Lantas, setelah menemukaan film yang ingin ditonton oleh Fany tadi, keduanya pun memasang headset tersebut di telinga masing-masing. Fany di telinga kanannya, sedangkan Bima, ditelinga kirinya. -ELEVEN- Gavin mengepalkan tangannya ketika melihat pemandangan tak mengenakkan di depan matanya. Niatnya untuk menghampiri Fany dan mengajaknya pulang bersama itu justru berakhir dengan menguapnya emosi Gavin. Bagaimana tidak? Pacarnya itu sedang menonton film berdua dengan laki-laki lain menggunakan satu headset yang mereka bagi. “Bro, kayaknya layangan lo nyangkut,” ujar Gara yang tiba-tiba teringat tentang perumpamaan layang-layang yang tadi pagi dibicarakan oleh Gavin. Gavin memutar bola matanya jengah, “Itu cuma perumpamaan, Nyet. Jangan panggil cewek gue dengan sebutan layangan juga kali,” ujarnya memuat Gara terkekeh pelan. Tak mau membuang banyak waktu, laki-laki jangkung itu pun meninggalkan Gara dengan langkah lebarnya, menuju dua orang yang tengah cekikikan di depan ponsel milik Fany itu. Lalu dengan satu gerakan, headset yang tercantol di telinga Fany dan Bima itu terlepas. “Fan, bangun,” ujar Gavin tegas. Seketika perempuan bermata sabit itu mengangakat kepalanya dan menemukan Gavin sebagai pelaku penarikan headsetnya itu berdiri di depannya dengan rahang yang sudah mengeras. -ELEVEN-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN