12. Rasa Cemburu

1416 Kata
Gavin menarik lengan Fany untuk menjauh dari tempat bernama kantin itu, meninggalkan Bima yang hanya bergeming di kursinya yang masih terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. Mereka kemudian berhenti di taman tengah kampus, dan berhasil menarik perhatian mahasiswa lain yang tengah berada di sana. Fany yang terlebih dahulu mengibaskan tangan Gavin, sontak membuat laki-laki itu menatap lurus pada manik cokelat perempuan di hadapannya itu. “Lo apa-apaan sih, Fan?” tanya Gavin tanpa melepaskan tatapannya pada Fany. “Harusnya gue yang tanya, lo tuh kenapa sih, Vin?” tanya Fany sedikit kesal dengan perlakuan Gavin yang dengan seenaknya datang dan menariknya ke sini, padahal tadi dia sedang asyik-asyiknya menonton di kantin. Gavin mengembuskan napasnya kasar, “Lo lupa, Bima itu siapa?” “Nggak, gue nggak lupa,” ujar Fany tanpa melepaskan tatapannya dari laki-laki jangkung di hadapannya itu. “Berarti lo masih inget dong, kalo dulu Bima itu suka sama lo?” tanya Gavin sarkas, membuat Fany sedikit tersentak. “Itu kan dulu, Vin. Bisa aja kan sekarang udah beda.” Fany memutar bola matanya jengah. Menurutnya, Gavin terlalu berlebihan karena mempermasalahkan perasaan Bima pada Fany yang sudah lama dimakan oleh waktu itu. Gavin mengacak rambutnya, merasa frustrasi dengan Fany yang terlalu polos hingga tak menyadari bahwa perasaan Bima padanya belum berubah. Ditatapnya lagi manik cokelat perempuan itu, sebelum Gavin kembali berujar, “Nggak. Dia masih suka sama lo. Jelas banget dari tatapannya.” Fany membuang tatapannya dari Gavin. Perempuan itu membisu, tak mampu menyangkal ucapan Gavin dengan alasan apapun. Karena perkataan Gavin itu pula, Fany kini bergulat dengan pikirannya sendiri, mempertanyakan tenang kebenaran perasaan Bima padanya, yang ia pikir perasaan itu sudah hilang sejak Fany menolak laki-laki itu. Tangan kekar Gavin kini berada di bahu Fany, meremasnya pelan hingga perempuan mungil itu kembali mengangkat wajahnya dan kedua bola matanya bertemu dengan bola mata hitam milik Gavin. Gavin menarik napasnya panjang, “Fan, gue sedang memperjuangkan lo. Jadi, gue minta kerja samanya, jangan ijinkan cowok mana pun deketin lo. Tolong hargai gue,” ujarnya dengan nada yang serius. Tak mendapat respon apapun dari Fany, Gavin mengembuskan napasnya kasar, sebelum akhirnya kembali berujar, "Balik bareng gue. Lo di sini aja, gue ambil motor sebentar." Setelah mengatakan kalimat itu, Gavin berlalu meninggalkan Fany yang masih termenung di tempatnya sembari mencerna baik-baik ucapan Gavin yang tidak ada sedikit pun nada candaan di sana. -ELEVEN- Fany menutup pintu rumahnya dengan gerakan yang tidak bersemangat, membuat sang Mami yang tengah duduk di sofa ruang tamu itu mengerutkan keningnya. "Fany," panggil Angela, membuat Fany langsung menoleh ke arah sumber suara. Ketika ekor matanya menemukan sang Mami di sana, Fany segera menghampiri wanita paruh baya itu dan mandaratkan tubuhnya di sampingnya. "Kenapa, sayang?" tanya Angela ketika Fany sudah menyandarkan kepalanya di bahu Maminya. "Nggak tau, lagi bingung aja," ujar Fany lirih. Pikirannya sedang kacau saat ini. Tadi ketika dalam perjalanan pulangnya, Gavin tak membuka suaranya barang sekalipun. Laki-laki itu mendiamkan Fany, dan baru berbicara saat keduanya sudah sampai di depan rumah Fany beberapa menit yang lalu, itu pun hanya dua kata, dan laki-laki jangkung itu sudah melaju dengan motornya sebelum Fany sempat membuka suaranya. "Bingung kenapa?" tanya Angela. Wanita paruh baya itu kini memfokuskan tatapannya lada sang putri, setelah beberapa saat lalu terfokus pada ponselnya. Fany membuang napasnya pelan, lalu detik berikutnya ia menjelaskan tentang kebingungannya itu pada Angela, "Gavin tuh kenapa ya, Mi? Tadi dia marah karena aku nonton film berdua sama Bima di kantin," ujarnya. "Gavin lihat kamu nonton berdua sama cowok lain?" Angela terkejut kala mendengar penuturan dari putrinya itu. Wajar saja sih jika Gavin cemburu dan merasa marah, karena status Fany itu masih sebagai pacarnya. Meski begitu, ia pun tak dapat menyalahkan Fany dengan keadaannya yang seperti ini. Kalau saja perempuan itu tidak kehilangan ingatannya, ia tidak mungkin melakukan hal yang dapat memancing rasa cemburu Gavin, dan tentu saja Fany akan sangat menjaga hatinya untuk laki-laki itu. Angela mengusap puncak kepala Fany dengan lembut, memberikan sebuah kenyamanan yang tak dapat Fany jelaskan dengan kata-kata, "Wajar kalau Gavin marah, dia punya alasannya sendiri. Sebelumnya, Gavin itu orang yang punya peran penting dalan hidup kamu. Jadi, Mami harap kamu bisa ngertiin dia, ya." Fany membisu, tak mau berkomentar apapun mengenai ucapan Maminya itu. Namun, Fany tak dapat memungkiri bahwa ucapan Maminya telah berhasil menambah satu lagi tanda tanya di kepala Fany, siapa Gavin sebenarnya. Kalau memang benar Gavin berperan penting dalam hidup Fany, kenapa tak ada satupun memori tentang Gavin di kepalanya. Tak mau berlarut dalam pergulatan batinnya, Fany beranjak dari dudukya. "Mi, Fany ke kamar dulu, ya," ujar Fany yang langsung disahuti oleh anggukan kepala Angela. Melihat hal itu, Fany tanpa ragu meninggalkan Maminya di ruang tamu dan melangkahkan kaki menyusuri anak tangga sebelum akhirnya ia masuk ke kamarnya. -ELEVEN- Di sisi lain, Gavin beberapa kali mengumpat sebab kalah dalam bermain game dengan kakaknya. Biasanya, laki-laki itu tak pernah kalah setelak itu ketika melawan sang kakak. Ah, iya, Gavin kan sedang sedikit kesal hari ini, jadi ia tidak fokus dalam bermain yang ujung pada kemenangan kakaknya tiga kali berturut-turut. Gavin melemparkan stick gamenya tatkala ia kembali mengalami kekalahan. Terhitung, ia sudah empat kali kalah. Dan menyebalkannya lagi, tadi sebelum bertanding mereka sudah sepakat, bahwa siapapun yang kalah akan membelikan pizza untuk makan malam mereka. "Sesuai kesepakatan, ya, bro," ujar Revan seraya menepuk pelan bahu sang adik yang sudah melemas itu. "Iya, ini lagi delivery order, Bang. Sans," ujar Gavin dengan tanpa mengalihkan tatapannya dari benda kotak bernama ponsel si tangannya itu. Setelah urusan delivery ordernya itu selesai, Gavin menaruh kembali ponselnya di atas meja. Namun belum genap satu menit setelahnya, ponsel Gavin berdering dan menampilkan nama Fany di atas sana. Tanpa ragu, Gavin menggeser tombol merahnya, membuat Revan yang melihat hal itu menyernyit heran. Tumben sekali adiknya itu menolak panggilan Fany, padahal biasanya dia paling semangat dengan semau hal yang menyangkut tentang perempuan itu. "Kok direject, kenapa?" tanya Revan yang tak mau menerka-nerka sendiri tentang apa yang terjadi dia antara sang adik dan pacarnya itu. "Lagi kesel, Bang. Panas banget hati gue lihat dia berduaan sama mantan gebetannya," ujar Gavin menjelaskan keadaan hatinya saat ini yang baru saja dibakar api cemburu siang tadi. Revan tersenyum tipis, "Cewek lo kan nggak bisa ingat semua tentang lo, jadi dimaklumi aja," ujarnya. Menanggapi hal itu, Gavin hanya menghela napasnya kasar. Tadi siang ia memang sudah digelapkan dengan perasaan cemburu, sampai-sampai tak dapat berpikir dengan jernih. "Semakin lo diemin dia seperti ini, itu artinya lo lagi ngasih kesempatan ke cowok lain untuk bisa dengan leluasa deketin dia," kata Revan yang sontak membuat Gavin mematung. Kakaknya itu benar, Gavin tidak boleh terlalu lama mendiamkan Fany. Toh tujuannya sekarang adalah mengembalikan ingatan perempuan itu, dan sejak awal Gavin sendiri pun tahu, bahwa perjuangannya tidak akan semudah yang ia bayangkan. "Bang, gue ke kamar dulu, ya," ucap Gavin sebelum akhirnya ia beranjak menuju kamarnya di lantai dua. Di kamarnya, jari Gavin menari di atas layar datar ponselnya, sebelum akhirnya benda tersebut didekatnya ke telinga kirinya. Beberapa detik terdengar nada sambung yang monoton, sampai akhirnya suara perempuan itu menyapa di seberang sana. "Fan," panggil Gavin pada perempuan itu. "Kenapa tadi telepon gue nggak diangkat?" sungut Fany di tempatnya yang membuat Gavin menarik sudut bibirnya tipis sebab membayangkan ekspresi wajah Fany ketika panggilannya ditolak tadi. Pasti sangat menggemaskan, pikir Gavin. "Tapi sekarang gue udah nelepon lo, kan?" ujar Gavin dengan nada lembutnya, tak seperti siang tadi yang berbicara dengan emosi yang sedikit meluap. Di seberang sana, Fany masih terdiam, dan Gavin mengambil kesempatan itu untuk melanjutkan ucapannya, "Gue cuma mau ngasih waktu buat lo aja, Fan. Karena gue nggak mau nyakitin lo," "Vin," panggil Fany. Perempuan itu sedikiy tersentak, tak menyangka kalau ternyata Gavin masih saja mau melindunginya dan tak ingin menyakitinya. "Fan, gue udah nggak marah sama lo. Maaf ya, tadi gue emosi." Tanpa sepengetahuan Gavin, Fany menarik senyumnya kala mendengar penuturan Gavin. Perempuan itu merasa lega karena Gavin sudah tidak marah terhadapnya lagi. "It's okay, Mami bilang wajar kalo lo marah," ujar Fany tulus. "Makasih ya, gue tutup dulu teleponnya." Gavin hendak memutuskan sambungan teleponnya, tetapi gagal saat Fany sudah lebih dulu memanggil nama Gavin. "Gue minta maaf, ya," ujar Fany lirih, namun masih dapat didengar dengan jelas oleh Gavin. Tanpa menunggu jawaban dari Gavin, Fany sudah lebih dulu menutup teleponnya, membuat senyum Gavin kembali mengembang dan menciptakan lubang di kedua pipinya. Kalau saja Fany berada di depannya saat ini, sudah bisa dipastikan kalau Gavin akan mencubit pipi perempuan itu saking gemasnya. Dan bisa dipastikan juga kalau Fany akan menggebuk Gavin karena telah mencubit pipinya. Membayangkan hal itu, mode bucin Gavin seketika menyala. Laki-laki itu kini terkikik geli di tempatnya, "Kenapa lo semenggemaskan ini sih?" -ELEVEN-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN