Sorry ya, gue nggak bisa antar lo pulang
Laki-laki jangkung bernama lengkap Gavino Pranaja itu menekan tombol send pada layar ponselnya, dan selang beberapa saat setelahnya, pesan tersebut sudah dibaca oleh si penerima pesan. Tak mendapat balasan apapun, Gavin memasukkan kembali ponselnya. Sejak mengalami amnesia, Fany—si penerima pesan dari Gavin itu jadi punya hobi baru, yaitu hanya membaca pesan Gavin tanpa berniat untuk membalasnya. Tapi hal itu tidak mengurangi rasa sayang Gavin pada Fany kok.
Siang ini Gavin dijemput oleh kakaknya, sebab si Sexy harus menjalani perawatan di bengkel sejak tadi pagi. Itulah mengapa Gavin tidak dapat mengantar Fany pulang.
Ketika mobil sang kakak sudah berhenti di depannya, laki-laki itu lantas naik ke mobil berwarna putih itu.
“Safety belt,” ujar Revan singkat mengingatkan sang adik untuk memasang sabuk pengamannya.
Tanpa sepatah kata pun, Gavin memasang safety beltnya seperti yang diinstruksikan oleh kakaknya tadi. Revan melirik Gavin yang duduk di kursi sebelahnya itu melalui ekor matanya, ketika Revan mendapati bahwa safety belt itu sudah melilit di tubuh sang adik, Revan menyalakan mesin mobilnya, dan melajukannya meninggalkan parkiran Fakultas Gavin, yaitu Fakultas Ilmu Komputer.
Mobil putih yang ditumpangi oleh sepasang kakak adik itu hampir melewati gerbang kampus, namun Revan tiba-tiba menghentikan laju mobilnya ketika bola matanya menangkap sosok perempuan yang ia kenal tengah berdiri tak jauh dari sana.
“Kenapa, Bang?” tanya Gavin yang sedikit terkejut sebab kakaknya itu menginjak pedal rem secara mendadak.
“Fany,” sahut Revan dengan tanpa mengalihkan tatapannya pada perempuan yang tengah berdiri sambil memainkan ponsel itu, membuat Gavin secara refleks mengikuti arah pandang sang kakak.
“Ajak pulang bareng aja, Vin. Kasian sendirian di sana.”
Gavin mengangguk, menyetujui usul dari kakaknya itu. Setelahnya, laki-laki itu turun dari mobil dan menghampiri Fany di tempatnya berdiri.
“Fan,” panggil Gavin pada perempuan itu.
Mendengar namanya dipanggil, Fany yang semula tengah fokus pada ponselnya itu kini mengangkat kepalanya demi menemukan seseorang yang baru saja memanggilnya itu.
“Kok belum pulang?” tanya Fany pada Gavin yang kini sudah berada di depannya.
“Lo juga belum pulang,” ujar Gavin, membuat perempuan bemata sabit itu menyengir lebar.
“Pulang bareng gue dan Bang Revan aja, yuk,” ajak Gavin.
Fany nampak berpikir sejenak, sebelum akhirnya menyahut, “Nggak usah deh, sopir gue udah di jalan juga.”
“Fan, bareng gue aja, ya. Lo sendirian gini, gue khawatir,” bujuk Gavin perempuan bermata sabit di depannya itu.
Fany merotasikan kedua bola matanya, “Vin, gue bukan anak kecil.”
“Fan, gue mau memastikan lo pulang dengan aman." Gavin kembali berujar, masih tetap membujuk perempuan itu untuk mengikuti ajakannya.
Fany berdecak, namun setelahnya perempuan itu mengalah dan menuruti Gavin untuk pulang bersamanya dan Revan.
-ELEVEN-
Mobil putih itu berhenti di depan sebuah rumah yang cukup luas yang tak lain adalah tempat tinggal Fany. Sebelum turun dari mobil, Fany menawarkan pada Gavin dan Revan untuk mampir dulu, namun tawaran Fany itu terpaksa ditidakkan karena Revan masih memiliki cukup banyak pekerjaan di kantornya, mengingat laki-laki itu akan membuka cabang bengkel baru di daerah Bogor.
“Ya sudah kalo gitu, makasih ya, Vin, Kak Revan,” ujar Fany tulus sembari memandang Gavin dan Revan secara bergantian. Setelahnya, perempuan itu turun dari mobil Revan dan langsung masuk ke rumahnya.
Setelah memastikan Fany menghilang di balik pintu rumahnya, Revan kembali melajukan mobilnya, melewati pagar rumah Fany, dan membaur bersama kendaraan lain di jalan raya menuju bengkelnya. Iya, Gavin memang sengaja meminta agar diantarkan ke bengkel Revan untuk menjemput si Sexy di sana.
“Lo tahu nggak, sebenernya gue pengen banget kenal sama keluarga Fany. Pengen bisa merasakan kehangatannya, sama seperti yang selama ini lo rasakan,” ujar Revan memecah keheningan yang menyelimuti mereka berdua.
Mendengar ucapan kakaknya, Gavin teringat kalau beberapa waktu lalu pernah berjanji pada Angela untuk memperkenalkan sang kakak pada ibu dari pacarnya itu.
“Gue juga pengen banget ngenalin lo ke mereka, Bang. Cuma belum nemu waktu yang tepat aja,” sahut Gavin.
Dalam hati, ia merasa teriris tatkala mendengar ada sedikit getaran sendu dari nada bicara Revan. Sejak kecil mereka memang tak merasakan kehangatan itu, terlebih Revan. Masa kecilnya yang penuh dengan luka tentu membuatnya ingin sekali berada di sebuah keluarga yang harmonis dan hangat.
"Kalo gitu, besok lo ajak keluarga Fany untuk makan malam di rumah kita," usul Revan setelah beberapa saat lalu laki-laki itu nampak bergulat dengan pikirannya sendiri, mencari hal apa yang bisa dilakukan agar ia dapat bertemu dengan keluarga Fany.
"Gue telepon Mami dulu." Gavin yang merasa setuju dengan usul sang kakak itu pun sontak menarik ponselnya dari saki celana jeansnya.
Nada sambung yang monoton itu memenuhi telinga Gavin selama beberapa detik sebelum akhirnya suara wanita paruh baya yang sudah ia hapal itu menyapanya di seberang sana.
"Halo, Mi," sapa Gavin pada wanita yang tak lain adalah ibunda dari Fany itu.
"Mi, aku pengen kenalin Mami sama kakakku, besok malam Mami ada waktu nggak untuk makan malam bareng aku dan kakakku," ujar Gavin langsung pada intinya.
Di seberang sana Angela tertawa senang, terdengar jelas di telinga Gavin, hingga membuat laki-laki itu menarik sudut bibirnya.
"Kebetulan banget, Vin," ujar Angela dengan sumringah. Wanita paruh baya itu menarik napasnya sebelum akhirnya kembali berujar, "Penjualan usaha catering Mami mengalami peningkatan yang cukup tinggi bulan ini, dan sebenernya Mami sudah merencanakan makan malam sekeluarga untuk merayakan ini. Nanti kamu dan kakak kamu sekalian datang, ya."
Mendengar penjelasan Angela, senyum Gavin semakin mengembang lebar. Akhirnya ia punya kesempatan untuk mengenalkan sang kakak dengan keluarga Fany.
"Okay, Mi. Nanti kami datang," ujar Gavin sebelum sambungan teleponnya dengan Angela itu akhirnya terputus.
Gavin lantas mengalihkan tatapannya pada Revan yang diam-diam mendengar Gavin berbicara dengan wanita yang sepertinya ibunda Fany itu.
"Bang, Maminya Fany ngundang kita untuk makan malam di rumahnya," ujar Gavin dengan perasaan bahagia yang tak mampu ia tutupi itu.
Sama halnya dengan Gavin, Revan pun merasakan kebahagiaan yang sama. Terlihat jelas dengan betapa lebarnya senyum yang terukir di bibir Revan saat ini.
-ELEVEN-
Hampir pukul delapan malam, dan meja makan di kediaman keluarga Gwen itu sudah penuh dengan berbagai macam makanan yang nampak lezat dan menggiurkan. Tidak heran sih, karena salah satu pemilik usaha catering paling laris di kota Jakarta itu merupakan salah satu anggota keluarga Gwen.
Mendengar bel rumahnya terdengar nyaring memenuhi seisi rumah, Angela meminta tolong pada asisten rumah tangganya untuk membuka pintu pada tamu yang kemarin ia undang untuk makan malam bersama itu.
Tak berselang lama, dua laki-laki berperawakan mirip itu sudah duduk di ruang tamu dan mencium punggung tangan Angela ketika wanita itu datang dan menyapa mereka berdua. Diikuti dengan kehadiran Fredy di belakang Angela, sontak membuat keduanya juga mencium punggung tangan pria yang tak lain adalah suami dari Angela itu.
"Oh iya, Mi, Pi, ini kakakku, Revan." Gavin berujar memperkenalkan sang kakak pada kedua orang tua pacarnya itu.
"Hai, Revan. Senang bisa bertemu kamu," ujar Angela pada laki-laki yang berdiri di sebelah Gavin itu.
Revan tersenyum saat keinginannya untuk bertemu dan mengenal orang tua Fany itu akhirnya terwujud pada malam ini. Kebahagiaannya menjadi berlipat ganda tatkala ibunda Fany itu menginstruksi Revan agar ia memanggil Angela dengan sebutan Mami, dan memanggil Fredy dengan sebutan Papi, seperti yang dilakukan oleh Gavin selama ini.
Tak mau menghabiskan waktu lebih lama lagi, Angela pun menggiring dua kakak beradik itu untuk menuju ke ruang makan untuk makan malam bersama. Di sana sudah ada Fany dan kakaknya yang tengah berdebat tentang lebih enak mana opor ayam dengan gulai kambing.
"Sudah, sudah, tamu kita udah datang, kalian jangan bertengkar gini dong," ujar Angela melerai kedua anaknya itu.
Mendengar suara sang Mami yang sudah berada di ruang makan, Fany dan Victor langsung menghentikan perdebatan mereka.
Fany membelakakkan matanya kala mendapati Gavin dan Revan berada di ruang makan bersama dengan keluarganya. Perempuan itu benar-benar tidak tahu kalau tamu yang diundang oleh Maminya itu adalah Gavin dan Revan.
Tahu gitu Fany tidak akan berdebat dengan Victor tadi. Gengsi lah, suara Fany kan cempreng sekali kalau sedang berdebat dengan Victor, ditambah dengan kelakuan barbarnya pada sang kakak laki-lakinya. Hancur sudah citra Fany di depan Gavin dan Revan.
"Hai, Fan," sapa salah satu dari sepasang kakak beradik itu pada Fany, membuat perempuan itu menampilkan tersenyum canggung.
-ELEVEN-