14. Bersama Keluarga Gwen

1259 Kata
“Hai, Fan,” sapa salah satu dari sepasang kakak beradik itu pada Fany, membuat perempuan itu menampilkan senyum canggungnya. “Hai, Kak,” sahut Fany menyapa balik laki-laki yang sudah terlebih dahulu menyapanya tadi. Perempuan itu lalu mengalihkan tatapannya pada Gavin, detik setelahnya, Fany menarik kedua sudut bibirnya ketika laki-laki yang ia tatap itu tersenyum padanya. “Masnya sama mbaknya, tatap-tatapannya dipending dulu bisa, ya. Gue udah laper,” sindir Victor pada Gavin dan Fany yang sudah berhasil membuat jiwa jomblo Victor meronta-ronta sebab melihat kelakuan mereka yang bertatapan di depannya seperti itu. Menanggapi hal itu, Gavin hanya terkekeh, sedangkan Fany, ia sudah bersiap untuk melayangkan bogem mentah ke lengan Victor kalau saja Maminya tidak bersuara. “Sudah, ayo kita makan.” Angela berujar, yang kemudian disetujui oleh Fredy. Pria paruh baya itu mempersilakan Gavin dan Revan untuk duduk. Revan dan Gavin pun ikut duduk di kursinya saat Fredy dan sekeluarganya sudah terlebih dahulu duduk. "Revan makannya dikit banget, tambah lagi, ya," ucap Angela ketika mendapati nasi di piring makan Revan hanya seperempat porsi saja. Dengan telaten, Angela menyendokkan nasi ke piring Revan lagi, ditambah dengan sayur dan lauknya. Diam-diam, ada perasaan bahagia yang kini menjalari hati Revan. Sudah bertahun-tahun lamanya ia tak merasakan kehangatan makan malam dengan keluarga lengkap seperti keluarga Fany sekarang ini. Sudah bertahun-tahun pula Revan tak pernah lagi diperhatikan oleh seorang ibu, dan perhatian yang diberikan oleh Angela terhadapnya tadi mampu untuk sedikit mengobati kerinduan Revan akan hal itu. -ELEVEN- Jemari Gavin tergerak untuk menciptakan sebuah gambar berbentuk hati di pipi kiri Fany menggunakan bedak tabur, setelah beberapa saat lalu perempan itu meruntuhkan susunan jenga yang berujung pada pencoretan wajahnya menggunakan bedak. Tadi, setelah selesai makan malam, Victor menyampaikan idenya untuk bermain jenga, yang langsung disetujui oleh Revan dan Gavin. Fany yang sebenarnya malas itu akhirnya ikut bermain karena ia bosan memainkan ponselnya. Namun rupanya keputusan Fany untuk ikut bermain itu justru membawa petaka, karena terhitung sudah tiga kali ia kalah dan meruntuhkan susunan jenga di depannya. Artinya, sudah tiga kali pula Gavin mengukir hatinya di wajah Fany. Pertama di dahi, kedua di pipi kanan, dan yang ketiga di pipi kiri. Hm, Gavin ini bisa saja ya, modusnya. "Main lagi gak, nih?" tanya Revan pada tiga orang di sana. "No," sahut Fany terlalu cepat membuat mereka yang berada di ruang keluarga itu tertawa. "Nggak apa Fan, nanti aku kasih lope-lope lagi," kekeh Gavin yang semakin membuat Fany jengkel. "Modus banget lo." Fany merotasikan kedua bola matanya. Mendengar ucapan Fany, laki-laki jangkung itu justru tertawa renyah, membuat Fany benar-benar ingin menggebuk kepala Gavin. "Udah malem banget, nih. Kita pamit aja kali, ya?" Revan berujar dan berhasil menghentikan tawa Gavin dan Victor yang tengah menggelar di ruangan itu. Secara Refleks, tiga orang di tempat itu menoleh ke arah jam dinding secara bersamaan. Dan benar saja, sudah hampir pukul sebelas malam. Tak terasa, waktu berlalu begitu cepat, padahal sepertinya baru saja Revan dan Gavin tiba di rumah itu. "Ya sudah, gue panggil Mami dan Papi dulu," ucap Victor sembari beranjak dari duduknya menuju ke kamar kedua orang tuanya. Tak mau terlihat seperti orang bodoh di depan kedua orang tuanya, jemari Fany menyambar tissu yang berada di meja untuk membersihkan wajahnya dari berbagai coretan oleh ketiga laki-laki gendeng itu. "Fan, Fan, yang sebelah kanan belum bersih itu." Gavin gemas ketika Fany terus-menerus melewatkan coretan kecil di pipi kanannya itu. Fany bedecak, padahal sepertinya ia sudah menyapu seluruh wajahnya menggunakan tissu, tapi ternyata masih ada saja coretan yang tertinggal. Karena mesara gemas, Gavin akhirnya ikut menarik selembar tissu dari sama, lalu membantu Fany untuk membersihkan wajahnya. Dengan gerakan lembut, diusapnya wajah itu dengan tissu di tangan Gavin, membuat perempuan bermata sabit itu secara spontan menjauhkan tangan dari wajahnya. "Nah, gini kan cantik," kata Gavin ketika ia sudah selesai membersihkan wajah Fany yang semula cemong oleh bedak. Laki-laki itu mengusap pipi Fany lembus sebagai sentuhan akhir sebelum ia menjauhkan tangannya dari wajah Fany. Revan yang berada di tempat yang sama itu hanya bisa pura-pura untuk tak melihat adegan bucin keduanya. Karena seperti yang Victor rasakan tadi, jiwa jomblo Revan juga meronta-ronta. "Udah mau pulang?" Suara wanita paruh baya itu berhasil mengalihkan fokus ketiga orang di ruang keluarga itu. Ketika jarak Angela dan Fredy sudah lumayan dekat, Gavin dan Revan beranjak dari duduknya untuk menghampiri orang tua dari Fany dan Victor itu. "Kami pamit pulang dulu ya, Mi, Pi. Terima kasih untuk kehangatan makan malamnya," kata Revan sembari mengecup punggung tangan Angela dan Fredy secara bergantian. Mendengar hal itu, Angela mengembangkan senyum tulusnya, lalu mengusap puncak kpala Revan lembut, "Sama-sama. Jangan sungkan untuk main ke sini, ya," ucap Angela yang mendapat anggukan kepala dari Revan. Setelah Revan selesai berpamitan dengan kedua orang tua Fany, Gavin pun melakukan hal yang sama, yaitu mengucapkan terima kasih sembari mencium pungung tangan Angel dan Fredy. "Lo istirahat, ya." Gavin menatap manik cokalat milik Fany sebelum melangkah meningalkan ruang keluarga itu. Detik setelahnya, perempuan bermata sabut itu tersenyum tipis. Setelah berpamitan, Revan dan Gavin pun meninggalkan kediaman keluarga Gwen dengan perasaan gembira. Terlebih Revan, saking bahagianya ia bahkan tak melepas senyumnya barang sedetikpun. Revan sangat bersyukur karena telah diberi kesempatab untuk bertemu dengan keluarga Fany yang penuh cinta dan kehangatan itu. -ELEVEN- Hembusan angin malam menerpa wajah cantik milik perempuan bernama Stephany Gwen itu. Binar matanya mengisyaratkan kebahagian yang tak mampu ia sembunyikan. Tepat satu tahun ia bersamanya, sosok laki-laki yang selalu ada di sampingnya walau suka ataupun duka. Selalu memberikan bahunya di kala perempuan itu merasa rapuh. Selalu memberinya semangat di kala perempuan itu terjatuh. Bagi Fany, laki-laki itu adalah segalanya. "I love you," gumam Fany lirih, namun ternyatamasih bisa terdengar jelas oleh laki-laki yang kini berdiri di belakangnya itu dengan dua gelas cokelat hangat di tangannya. "I love you too," bisik laki-laki itu lembut, tepat di telinga Fany, membuat perempuan itu terkejut sebab kehadirannya yang begitu tiba-tiba. "Kenapa lama banget sih?" tanya Fany dengan nada sedikit menyelidik. "Aku harus antre demi cokelat ini, Fan," ucapnya seraya menyodorkan gelas berisi cokelat panas kesukaan Fany itu. Fany menerima satu gelas cokelat panas itu, dan menyeruputnya sedikit. Setelahnya, perempuan itu mengggosokkan kedua telapak tangannya untuk mendapat sedikit kehangatan karena malam ini terasa lebih dingin dari biasanya. "Kamu dingin?" tanya laki-laki yang duduk di samping Fany, lantas memeluk tubuh mungil perempun itu. "Masih dingin?" "Modus banget sih," ucap Fany. "Nggak apa dong, modus sama pacar sendiri." Laki-laki itu menaikturunkan alisnya untuk menggoda Fany yang kini sudah senyum-senyum nggak jelas. Fany memalingkan wajahnya agar laki-laki itu tidak dapat melihat semburat merah yang kini menghiasi wajahnya. "Yah, mukanya merah," ledek laki-laki itu yang rupanya masih mampu melihat wajah Fany, meskipun ia sudah memalingkannya. Shit! Fany ketahuan. "Lihat deh, sebentar lagi pukul sebelas." ucap Fany mengalihkan pembicaraan. Perempuan itu lantas menunjukkan jam tangannya pada laki-laki yang masih merangkulnya itu. "Okay, kamu tunggu di sini sebentar," laki-laki itu pun berlari ke arah mobilnya yang kini terparkir tepat di belakang mereka. Laki-laki itu kembali dengan membawa sebuah kembang api yang siap ia nyalakan tepat pada pukul sebelas malam lebih sebelas menit. Sebelas sebelas, adalah angka bersejarah bagi mereka. Angka itu merupakan tanggal di mana hati mereka bersatu. Ya, sebelas November tahun dua ribu sebelas adalah hari jadi mereka. "Udah siap?" tanya laki-laki pada Fany yang kini sudah berdiri di sampingnya. Fany mengangguk, dan laki-laki itu pun sudah siap untuk menyalakan kembang api tersebut. "Lima, empat, tiga, dua, satu!" Suara sekaligus indahnya kembang api itu menghiasi langit malam kota Jakarta. Kedua insan yang kini dimabuk asmara itu saling memeluk satu sama lain dengan seulas senyum yang tak pernah lepas dari bibir mereka. -ELEVEN- Fany membuka kelopak matanya ketika ponsel yang terletak di nakas dekat tempat tidurnya itu bergetar. Sebuah panggilan dari kakak laki-lakinya yang sinting itu berhasil membangunkan Fany dari tidur dan mimpi indahnya. Tunggu. Mimpi indah? Mengabaikan panggilan dari Victor, Fany justru tertarik dengan mimpinya, perempuan itu mengingat kembali mimpi tersebut. Seingatnya, ia bersama dengan seorang laki-laki di sebuah taman di Kota Jakarta. Namun sayangnya, Fany tak dapat melihat dengan jelas, siapa laki-laki itu. Dan laki-laki itu lah yang kini mengambil alih fokus Fany sepenuhnya. Siapa laki-laki itu? "Apa kamu adalah orang yang udah aku lupakan?" -ELEVEN-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN