Farah membuka matanya. Sensasi pengap langsung meringkus indra penciumannya. Semula pandangan Farah kabur, tidak fokus karena pencahayaan minim di ruang sempit yang kumuh ini. Kejadian terakhir yang dia ingat adalah ketika dia pergi meninggalkan Setya untuk kembali ke keluarganya. Seperti janji laki-laki itu ketika menurut Setya keadaan mereka sudah aman. Tidak akan ada yang akan cukup curiga jika Farah menghilang. Maka dia boleh pulang. Tapi apa? Farah kini berusaha berteriak di balik sumpalan kain bau yang membekap mulutnya. Kedua tangan Farah terikat ke belakang, begitu pula kedua kakinya yang diluruskan dan disatukan dengan seutas tali tambang kasar. Tubuhnya bersandar ke dinding, duduk di lantai kotor berdebu. Farah masih bisa melihat cahaya matahari dari teralis besi persis di ata

