Tiba-tiba pintu kamar gue terbuka. Sosok Bli Setya muncul dengan wajah yang kacau. Matanya nyalang menatap gue yang masih duduk di pinggir ranjang melihat kedatangannya. Ada luka memar yang menghitam di sudut bibir Bli Setya. Entah berasal darimana, karena gue tau dia bukan tipe orang yang akan bertengkar dengan mengutamakan tenaga. "Kamu hamil?" "Darimana Bli, tau?" "Bli Raja ayahnya?" Gue tertawa sekilas,"memangnya siapa lagi?" "Dia menyuruhmu mengugurkannya?" "Persis. Ada apa dengan wajah Bli Setya? Apa ada hal buruk yang terjadi?" Dia menggeleng lemah. Berjalan menghampiri gue dan duduk di kursi yang tak jauh dari ranjang. Kedua tangannya bertumpu pada lutut dan pandangannya jatuh ke lantai. Seperti orang pesakitan. Tidak biasanya dia bersikap begitu menyedihkan seperti ini. Bia

