Aku Mulai Mencari

1641 Kata
Aruna masih merasa sedih dengan kondisinya. "Keluargaku?" Tanya Aruna pada Gabriel. "Besok aku akan minta mereka datang ya." Gabriel mengelus punggung Aruna. Mbok nampak cemas melihat Aruna. "Pantas saja saya merasa ada yang aneh dengan Nyonya." Dia bercerita pada Gabriel. "Kita harus sabar Mbok." Tutur Gabriel. Malam itu, Gabriel mengambil bantal dan selimut. "Kamu mau kemana?" Tanya Aruna. "Aku tidur di kamar tamu." Jawab Gabriel. "Jangan!" Aruna menarik tangan Gabriel. "Kamu bisa tidur di sofa kan? Aku takut sendirian." Pinta Aruna. Gabriel tersenyum. "Ok." Dia pun menuruti permintaan istrinya itu. Malam sudah larut, tetapi Aruna belum juga dapat tidur. Diam-diam dia bangun dan membuka lemari. "Baju-baju mahal ini, aku nggak akan sanggup beli." Aruna merasa ada yang mencurigakan. Dia lalu memeriksa laci. "Perhiasan semewah ini, Gabriel bener-bener orang kaya. Istrinya beruntung banget. Tapi aku kan istrinya? Tapi aku nggak inget apa-apa." Aruna hanya bisa bicara di dalam hati. Selanjutnya Aruna melihat dirinya di depan cermin meja rias. "Aku adalah wanita di foto itu, berarti aku adalah Aruna. Tapi kok aku ngerasa aku belum nikah?" Pikirannya terus saja berkecamuk. Keesokan harinya. "Sayang, aku berangkat kerja dulu ya." Gabriel berpamitan pada Aruna yang sedang sarapan. "Kamu nggak sarapan dulu?" Tanyanya. "Aku buru-buru, ada klien penting dari luar Negeri. Sebenarnya ini masih jatah cuti aku sih." Jelas Gabriel. Aruna mengangguk. "Aku boleh ikut nggak?" Tanyanya. "Kamu yakin?" Gabriel balik bertanya. "Aku janji nggak bakal gangguin kamu kerja." Rengeknya sambil tersenyum. Gabriel pun ikut tersenyum. "Yaudah, cepetan ya." Dia setuju. "Makasih ya." Aruna nampak senang. Aruna segera berganti pakaian dan dia menyusul Gabriel yang sudah menunggunya di dalam mobil. "Maaf lama ya?" Ucap Aruna. "Nggak kok. Yuk." Gabriel tetap saja bersikap manis pada Aruna. Di sepanjang perjalanan, Aruna terhibur oleh pemandangan Kota yang indah dan bersih. "Sebenernya ini dimana? Kok aku nggak kenal tempat ini." Pikirnya. "Kamu suka?" Tanya Gabriel. "Ah, iya. Indah." Aruna tersenyum. "Syukurlah kalau kamu senang." Gabriel tersenyum kepadanya. "Tapi Gabriel pasti bukan orang jahat." Pikirnya lagi. Mereka tiba di sebuah kantor besar. "Perusahaan ini bergerak di bidang apa ya?" Aruna takjub melihatnya. "Pagi Pak, Bu." Ucap security. "Pagi." Jawab Gabriel. Mereka lalu masuk ke dalam gedung tersebut. "Pagi Pak, Bu." Dan beberapa karyawan yang ditemui menyapa mereka. Gabriel hanya tersenyum pada mereka. Gabriel dan Aruna naik lift menuju lantai 3. "Ini perusahaan kamu?" Tanya Aruna. "Mendiang Ayah aku, Pak Pasmudji. Beliau rekan bisnis Papa kamu. Pak Wijayanto. Mereka berjuang bersama membesarkan perusahaan ini sampai sekarang ini. Karena itulah mereka menjodohkan kita supaya perusahaan ini nggak jatuh ke tangan orang lain." Cerita Gabriel membuat Aruna merasa bangga. "Berarti aku anak orang kaya dong. Apa ini cuma mimpi?" Tanya hatinya. Aruna lalu mencubit tangannya. "Au." Ternyata dia kesakitan. "Kamu kenapa?" Seperti biasa, Gabriel akan sangat mencemaskannya. "Nggak papa." Aruna menggelengkan kepalanya. Pintu lift sudah terbuka. "Ayo." Ajak Gabriel. "Pagi Pak, Bu." Lagi-lagi ada karyawan yang menyapa mereka. "Ini ruang kerja aku. Kamu di sini aja sampai meeting aku selesai ya." Gabriel mengajak Aruna ke ruang kerjanya yang besar. "Iya." Jawab Aruna. Tinggallah Aruna seorang diri di ruangan tersebut. Dia melihat foto dirinya di letakkan di atas meja kerja Gabriel. "So sweet banget sih." Puji Aruna. Aruna lalu duduk di kursi Direktur utama itu. Dia mengambil sebuah berkas untuk dibaca. Isinya adalah tentang laporan masuk. Aruna membuka laci meja kerja Gabriel, hanya ada beberapa kwitansi dan stempel di sana. Merasa bosan menunggu, Aruna membuka lemari kerja Gabriel yang tersusun rapi. Dia melihat ada map lamaran kerja. Aruna membukanya dan dia bicara seorang diri. "Nama kamu siapa tadi?" Seolah-olah dirinya adalah pimpinan HRD. "Oh, ada di CV kamu ya." Aruna membuka lembaran selanjutnya. Dia terkejut melihat foto dirinya di sana. "Arumi?" Matanya melotot. Aruna segera mengambil lembaran itu lalu dilipat kecil dan dimasukkan ke dalam tas. Gabriel sudah selesai rapat dan dia kembali ke ruangannya. "Maaf aku lama ya?" Ucapnya pada Aruna yang malah ketiduran di sofa. "Sayang." Gabriel membelai rambut Aruna untuk membangunkannya. "Kamu udah selesai?" Aruna membuka matanya. "Iya. Sekarang kamu mau kemana?" Tanya Gabriel pada Aruna. "Aku mau jalan-jalan keliling kota." Jawab Aruna. Gabriel pun tertawa. "Cuma itu? Kamu nggak pengen keliling Eropa?" Goda Gabriel. Keduanya tertawa. Lalu Gabriel mengajak Aruna ke alun-alun Kota. "Katanya kalau kita bisa bertemu di tengah-tengah pohon beringin ini, berarti cinta kita abadi selamanya. Mau coba?" Tutur Gabriel. "Aku nggak percaya mitos sih, tapi siapa takut." Sahut Aruna. Kemudian Gabriel menutup mata Aruna dengan kain. Meninggalkannya di sisi utara pohon beringin sedangkan dirinya menuju ke sisi selatan, meminta pengelola tempat itu menutup matanya juga. "Dalam hitungan ketiga, kalian harus berjalan lurus ke depan dan temukan pasangan kalian." Pengelola tempat memberi arahan. Gabriel mulai melangkahkan kakinya, begitupun dengan Aruna. Namun baru saja beberapa langkah Aruna berjalan, dia malah bertabrakan dengan seseorang. "Ketemu!" Aruna membuka penutup matanya. Ternyata sosok di depannya bukanlah Gabriel. "Arumi?" Dan pria yang ditabraknya itu malah menyebut Aruna dengan nama lain. "Maaf, salah orang." Aruna segera menutup matanya kembali. "Jangan dibuka dulu sebelum saya beri aba-aba." Pengelola tempat itu menghampirinya. Pria itu masih terus melihat kearah Aruna dengan tatapan misterius. Gabriel berhasil menemukan Aruna pada babak kedua. "Aku berhasil." Dia nampak begitu senang. Aruna berpura-pura bahagia di hadapannya. "Siapa cowok tadi, kenapa dia panggil aku Arumi?" Padahal dia sedang memikirkan pria tadi. Setelah lelah bermain di alun-alun Kota, mereka menikmati es dawet di pinggir jalan. "Tumben kamu mau makan di pinggir jalan begini." Ujar Gabriel. "Mungkin karena aku bukan Aruna." Jawab Aruna. Gabriel terdiam. "Terus, kamu siapa?" Tanya Gabriel kemudian. "Mungkin aku punya wajah yang mirip dengan Aruna." Aruna menjadi sentimentil. "Sayang, nanti sore orang tua kamu datang ke rumah. Semoga kamu lebih tenang ya." Gabriel berusaha menenangkannya. Dari kejauhan Aruna kembali melihat pria tadi mengawasinya dari atas sepeda motor. Sore hari yang dinantikan datang juga. Kedua orang tua Aruna datang ke rumah. "Sayang..." Sang Ibu segera memeluknya dengan erat. "Apa yang terjadi nak?" Cemas Ayahnya. "Aruna amnesia Pa, Ma." Jawaban Gabriel sungguh menyesakkan. "Kok bisa, semua baik-baik aja kan?" Ibunya meneteskan air mata. "Cidera masa lalu yang tidak ditangani dengan tepat juga bisa jadi pemicunya." Jelas Gabriel. "Kita harus bawa Aruna ke luar Negeri, di sana pengobatannya lebih mutakhir." Usul Ayah Aruna. "Nggak Pa, Aruna nggak mau kemana-mana. Aruna mau di sini aja, sama Papa, Mama, dan Gabriel. Aruna yakin pasti sembuh kok." Tetapi Aruna menolaknya. Malam itu keluarga Aruna menginap di rumah Gabriel. Aruna kembali tak dapat tidur. Diam-diam dia keluar dari kamarnya dan menuju ke ruang kerja Gabriel. Aruna membuka laptop milik Gabriel, namun malah diberi sandi. "Tanggal pernikahan?" Pikir Aruna. Dia mencobanya namun gagal. "Tanggal lahir Gabriel, aku nggak tau, tanggal lahirku, apalagi." Aruna merasa putus asa. Dia teringat CV Arumi yang diambil di ruang kerja Gabriel di kantor. Aruna membuka lembaran kertas itu. Aruna mengetik tanggal lahir tersebut, anehnya laptop Gabriel malah terbuka. "Arumi ini siapa sih? Selingkuhannya dia? Tapi kok pas fotonya wajah aku?" Aruna semakin bingung. Aruna mulai memeriksa setiap folder yang ada di laptop Gabriel. "Foto prewedding." Aruna membuka folder yang berisi foto-foto prewedding mereka berdua. Mulai dari lokasi di pantai hingga di atas bukit yang menjorok ke pantai tadi. Ada juga foto-foto Aruna seorang diri sedang minum teh, makan cake, memetik bunga, merangkai bunga dan bermain piano. "Ternyata aku pernah hidup semewah ini." Aruna tersenyum sambil memandang foto dirinya sendiri. Aruna tak tau kalau Gabriel terjaga karena Aruna tak ada di sampingnya. "Sayang?" Dia memanggil Aruna. Aruna kembali melihat CV di tangannya. "Arumi itu siapa?" Dia mulai membaca biodata diri Arumi yang berwajah mirip seperti dirinya. "Arumi Salsabila, alamat, Jalan Amir Hamzah, Dusun Luhur Murni, Lorong Kedondong, No.54." Baru saja Aruna membaca informasi itu, dia mendengar suara Gabriel. "Sayang?" Gabriel sedang mencarinya. Aruna segera menutup laptop dan dia menyembunyikan CV Arumi ke balik bajunya. Perlahan-lahan Aruna keluar dari ruang kerja Gabriel. Gabriel sedang bicara pada Ayah dan Ibu Aruna. "Dia nggak ada di kamar dan kamar mandi." Gabriel sedang menceritakan yang terjadi pada mereka. "Gabriel?" Kemudian Aruna datang. "Sayang, kamu darimana?" Segera Gabriel memeluknya. Aruna yang risih, melepaskan pelukan itu. "Malu tau, ada Papa sama Mama." Dia memberi alasan. "Iya, maaf." Gabriel menjadi salah tingkah. "Kamu darimana saja sih?" Tanya Papanya. "Aruna cari angin ke luar Pa." Jawab Aruna. "Sendirian? Bahaya." Gabriel terlihat tegas, tak seperti biasanya. "Em... aku di balkon sana." Tunjuk Aruna. "Lain kali jangan pernah ninggalin aku gitu aja." Perintah Gabriel. "Iya." Jawab Aruna. Aruna mulai merasa kalau Gabriel terlalu over protective terhadap dirinya. "Gabriel itu cinta mati sama kamu. Dia nggak bisa hidup tanpa kamu." Begitulah tanggapan Ibu Aruna. "Tapi masa Aruna nggak boleh keluar dari rumah ini." Protesnya. "Itu karena kamu pernah kecelakaan tepat di hari pertunangan kalian." Jawab Ibunya. "Kecelakaan?" Aruna tidak mengingatnya. "Harusnya malam itu kalian bertunangan, tapi kamu minta izin ke acara ulang tahun sahabat kamu, tapi saat pulang..." Cerita itu terdengar sangat mengerikan. "Jadi gara-gara itu aku trauma otak?" Pikir Aruna. "Sahabat Aruna, siapa namanya Ma?" Tanya Aruna. "Kalau gak salah namanya Mikayla. Dia perawat di rumah sakit umum." Jawab Ibunya. Kini Aruna sudah mendapatkan informasi, segera dia mencari nomor kontak Mikayla di ponselnya. Tetapi tidak ditemukan. "Kok sahabat tapi nggak punya nomornya?" Itu sangat janggal. Suasana rumah terasa sepi, Gabriel pergi bekerja dengan Ayah Aruna. Sementara Ibunya sibuk mengobrol lewat video call bersama teman-teman sosialitanya. Saat yang tepat bagi Aruna untuk pergi dari rumah. Aruna berpura-pura duduk di gazebo, lalu ketika satpam rumahnya lengah, diapun melarikan diri. Aruna menuju ke rumah sakit umum setempat dengan taxi online pesanannya. Dia langsung masuk ke dalam dan menanyakan informasi tentang Mikayla pada satpam. "Perawat, namanya Mikayla, kami kurang tau Mba'. Perawat baru ya?" Tanya Satpam rumah sakit. "Barangkali begitu. Saya juga lupa nanya." Jawab Aruna. Aruna lalu mencari sendiri ke setiap ruangan di rumah sakit. "Permisi, suster Mikayla ada?" Mula-mula dia menuju ke ruang rawat anak. "Mikayla? Nggak ada tuh." Ternyata tak ada. Lalu dia ke ruang rawat inap lainnya. "Nggak ada." Tapi Mikayla juga tak ada di sana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN