Kaki Aruna sudah lelah melangkah. Tanpa sengaja dia berhenti dan duduk di ruang tunggu jenazah. "Arumi?" Ternyata Mikayla bertugas di sana. "Kamu kenal aku?" Aruna balik bertanya. "Aku Mikayla." Ternyata benar, dialah yang sedang dicari oleh Aruna. "Akhirnya ketemu juga." Aruna nampak senang. "Kamu ngapain di sini? Kalau ada yang ngelihat bisa gawat." Mikayla malah panik. "Kamu harus nolongin aku. Aku amnesia." Kata Aruna. "Apa?!" Mikayla melotot. "Jangan bercanda Rum." Tetapi kemudian dia tertawa. "Aku serius, aku nggak inget siapa aku. Tiba-tiba aku udah nikah." Jelas Aruna. "Bukannya itu yang kamu mau?" Mikayla terus saja tertawa. "Please bantu temukan identitas aku yang sebenernya." Bujuk Aruna. "Udah ya, aku nggak mau terlibat lebih jauh. Selesaikan masalah kamu sendiri. Yang penting kamu happy kan sekarang." Mikayla terlihat serius.
Aruna mengeluarkan handphonenya. "Ok, aku minta nomor kamu!" Dia memaksa. Mikayla mengetik nomornya di handphone Aruna. "Tapi please jangan sampai karir aku terancam." Gumam Mikayla. "Thanks." Ucap Aruna.
Setelah berhasil menemukan Mikayla. Aruna menuju ke alamat Arumi yang tertera di CV lamaran kerja. Rumah sederhana itu tampak kosong. "Arumi?" Seorang warga menghampirinya. "Ibu kenal saya?" Tanya Aruna. "Iya lah, mana mungkin Ibu lupa sama orang baik kayak kamu." Wanita itu tersenyum. "Akhirnya kamu pulang juga. Sudah 1 bulan kamu nggak kelihatan." Aruna terkejut mendengar pernyataan itu. "1 bulan?" Dia terbelalak.
Ibu tersebut mengajak Aruna ke rumahnya. Ada seorang anak laki-laki sedang bermain bola di dalam rumah bersama adik perempuannya. "Bimbo sudah sembuh sekarang, semua berkat kamu. Kalau kamu nggak cepat-cepat kasih pertolongan pertama, mungkin dia nggak ada di sini sekarang." Wanita itu nampak terharu. "Oya, sebentar Ibu buatkan teh." Wanita itu pergi ke dapur dan membuatkannya secangkir teh. "Nggak usah repot-repot Bu. Sebenernya ada yang mau saya tanyakan." Aruna menyusulnya ke dapur. "Bu, saya amnesia." Aruna mengatakannya langsung. "Apa?" Spontan wanita itu kaget. "Saya ingin tau semuanya tentang diri saya. Ibu bisa bantu saya kan?" Pinta Aruna sambil menggenggam tangan wanita itu.
Mereka lalu kembali ke ruang tamu dan mulai bercerita. "Namamu Arumi, kamu seorang perawat, tapi entah kenapa kamu tiba-tiba berhenti. Terus kamu jualan di dekat pantai, dimodalin sama temenmu itu. Siapa ya namanya..." Wanita itu berusaha mengingat-ingat. "Mikayla?" Tebak Aruna. "Bukan, yang cowok naik motor sport itu loh." Wanita itu membantahnya. "Siapa ya?" Tetapi Aruna tidak mengingatnya. Dia lalu teringat pada pria yang ditemuinya kemarin di alun-alun kota. "Jaden." Kemudian wanita itu berhasil mengingat namanya. "Jaden?" Walaupun Aruna tidak mengingatnya. "Kamu itu orang yang baik, sering ngasih pengobatan gratis buat warga sini." Wanita itu melanjutkan ceritanya.
Aruna merasa senang karena dirinya adalah orang yang baik. "Orang tua saya Bu?" Tanyanya kemudian. "Sejak Nenekmu meninggal, kamu tinggal sendiri, kamu mandiri, kamu kuat, kami semua bangga sama kamu." Puji wanita itu. "Saya belum ingat apapun Bu. Kok bisa saya nikah sama Gabriel?" Gumamnya kemudian. "Gabriel siapa?" Si Ibu nampaknya tak pernah mendengar nama itu. "Tapi Ibu senang, sekarang kamu jauh lebih cantik." Pujinya. "Emangnya dulu saya gimana Bu?" Tanya Aruna. "Dulu kamu juga cantik kok, tapi nggak pinter merawat diri. Rambutmu keriting selalu diiket, gak boleh lepas. Pakai behel." Si Ibu tertawa saat menceritakannya. "Kok beda sama yang di CV ya?" Pikirnya.
Setelah puas bercerita, Aruna memutuskan untuk pulang ke rumah. Aruna membuka pintu pagar dan dia kaget karena Ibunya berdiri di sana untuk menunggunya. "Darimana aja kamu?" Mamanya segera menarik tangan Aruna masuk ke dalam rumah. "Sakit Ma." Padahal Aruna sudah mengeluh. "Untung aja Gabriel nggak tau soal ini. Kalau nggak bisa gawat kan." Mama memarahinya. "Aku yakin dia bukan Mamaku." Bisik hati Aruna. "Sekarang masuk ke kamar kamu dan ganti baju." Sifat Mamanya berubah 180°.
Aruna berdiam diri di kamarnya sambil mengingat satu nama. "Jaden." Kemudian dia mencari nomor kontak itu di ponselnya, namun tak ada. Aruna menghubungi Mikayla. "Mika, ini aku. Kamu punya nomor kontak Jaden nggak?" Tanya Aruna. "Astaga Rum. Kamu tuh udah nikah, ngapain sih hubungin Jaden lagi?" Kesal Mikayla. "Please Mik, mungkin dia bisa bantu aku." Pinta Aruna. "Gini deh, aku nggak punya nomornya. Tapi kamu bisa temuin dia di Senja Coffee and Resto. Tapi please, jangan bilang kalau aku yang ngasih tau." Mikayla pun luluh. "Thanks Mikayla, cuma kamu sahabat terbaikku." Ucap Aruna.
Sore itu kedua orang tua Aruna berpamitan pulang. "Jaga diri kamu ya." Papa Aruna memeluknya erat. "Jangan kabur-kaburan lagi!" Bisik Mamanya. "Lagi?" Tentunya kata-kata itu menimbulkan teka-teki di hati Aruna. "Bye." Gabriel dan Aruna melambaikan tangan melepas kepulangan mereka. "Gimana perasaan kamu sekarang?" Tanya Gabriel sambil merangkul pundak Aruna. "Semakin baik. Tapi aku pengen ke suatu tempat." Kata Aruna. "Kemanapun aku ikut bersamamu my princess." Kalimat Gabriel begitu romantis. "Senja Coffee and resto." Jawab Aruna. "Ok, malam ini kita dinner di sana." Gabriel selalu saja setuju. "Nggak ada yang mencurigakan dari Gabriel, dia memang sosok suami sempurna dan idaman para wanita." Aruna mengagumi lelaki tampan itu. "Jangan lama-lama dipandang loh, nanti kamu jatuh cinta lagi dan lagi sama aku." Goda Gabriel. Aruna nampak salah tingkah. "Aku masuk dulu." Dia segera berlalu meninggalkan Gabriell di depan rumah.
Malam itu Aruna tampil cantik dengan gaun biru muda bermotif bunga-bunga yang dibelikan Gabriel untuknya, senada dengan kemeja yang dikenakan oleh Gabriel. "Makasih ya." Ucap Aruna. "Sama-sama sayang. Tadi aku pesan di butik langganan kamu, mereka tau selera kamu." Tutur Gabriel.
Berangkatlah mereka menuju ke tempat tujuan. Tempat itu cukup ramai dimalam hari. "Saya udah reservasi meja tadi sore." Gabriel memberitahukannya pada seorang pelayan. "Mr. Gabriel and Mrs. Aruna?" Pelayan itu memastikan. Gabriel mengangguk. "Mari Pak." Segera pelayan itu mengantarkan mereka ke ruang VIP. "Kamu pesan tempat ini?" Aruna sampai kaget. "Special for you." Gabriel memang sangat romantis. "Lama-lama aku bisa jatuh cinta beneran ni. Bodo amat deh, kapan aku nikah ama dia, siapa dia, yang penting aku bahagia." Gumam hati Aruna. "Nggak, aku nggak boleh terkecoh. Aku harus ketemu sama Jaden buat tau diri aku sebenernya siapa." Tetapi cepat-cepat Aruna mengendalikan dirinya.
Gabriel memesan makanan dan Aruna pun sama. Hidangan pembuka telah disajikan, namun Aruna tak juga melihat tanda-tanda kehadiran Jaden. "Aku ke toilet bentar ya." Aruna meminta izin pada Gabriel. "Ok." Gabriel mengizinkannya. Saat hendak masuk ke toilet, tangan Aruna ditarik oleh seseorang. Mereka bersembunyi di dalam toilet laki-laki. "Ssst..." Ternyata Jaden pelakunya. "Kamu?" Aruna kaget melihatnya. "Arumi, kamu kemana aja?" Tanya Jaden. "Kenapa semua orang manggil aku Arumi?" Pikirnya. "Aku nyari kamu kesana kemari. Kata Mikayla kamu pulang ke kampung. Tapi di kampung juga nggak ada. Terakhir aku lihat foto pernikahan kamu dengan laki-laki itu di koran. Aku tau alasan kamu nggak pernah jawab pernyataan cinta aku. Karena aku bukan orang kaya seperti dia kan?" Cerita Jaden tak dapat dimengerti oleh Aruna. "Sebenernya aku kesini mau ketemu kamu, aku mau minta tolong. Tapi aku takut dia curiga. Jadi, simpan nomor kamu." Aruna menyerahkan ponselnya agar Jaden dapat menyimpan nomor kontaknya. "Apa yang terjadi?" Tanya Jaden. "Nanti aku ceritain semuanya. Sekarang aku harus pergi." Aruna segera keluar dari sana.
Aruna menemui Gabriel yang sudah menunggunya. "Kamu belum makan?" Tanya Aruna. "Aku nungguin kamu." Jawab Gabriel. Mereka lalu menikmati hidangan pembuka yang telah disajikan sebelumnya.
Jaden memanggil salah seorang pelayannya. "Ada apa Pak?" Tanya pelayan yang bertugas mengantarkan makanan ke meja Gabriel dan Aruna. "Saya pinjam baju kamu." Pinta Jaden. "Loh, Bapak kan Boss, kok pakai baju pelayan?" Pelayannya bingung. "Udah, nurut aja." Perintah Jaden. Setelah bertukar pakaian. Jaden mengantarkan hidangan utama ke meja Gabriel dan Aruna. Aruna sampai kaget melihatnya. "Maaf, teman saya yang tadi mendadak harus pergi karena hal mendesak." Jaden bersandiwara. "It's Ok." Gabriel menanggapinya dengan santai. "Apa malam ini adalah hari jadi Tuan dan Nyonya?" Tanya Jaden. "Bukan. Tapi setiap malam selalu special buat kami. Ya kan sayang?" Kata-kata Gabriel tersebut membuat Jaden cemburu. "Selamat menikmati." Dia lalu berpamitan pergi.
Di dapur, Jaden masih terbakar api cemburu membayangkan Aruna b******u dengan Gabriel setiap malam. Padahal hal itu tidak pernah terjadi.
Setelah makanan utama dilahap sampai habis. Tibalah makanan penutup. "Ini hidangan penutup special di tempat kami. Hidangan ini akan membuat anda berkata jujur, seperti kelezatan rasanya yang nggak bisa bohong." Jaden kembali menyajikannya di atas meja. "Sepertinya lezat." Puji Gabriel. "Ada tantangan untuk menu ini, kalau Tuan dan Nyonya berhasil, hidangan ini gratis." Lanjut Jaden. Aruna mulai gelisah. "Kami nggak ikut deh. Thank you." Dia hendak menolaknya. "Saya setuju." Tetapi Gabriel malah menerima tantangan itu. "Baiklah, peraturannya sederhana. Makan satu suap, sambil mengunyah jawab dengan jujur pertanyaan saya." Jaden menjelaskan peraturannya.