Gabriel mengambil sesendok makanan itu lalu memasukkannya ke mulut, awalnya rasa manis yang terasa. "Seberapa besar Tuan mencintai Nyonya?" Pertanyaan pertamapun diberikan. "Seluas samudera." Jawab Gabriel. Lalu suapan berikutnya dimasukkan ke mulut, kali ini rasanya mulai asin dan gurih. "Hal paling gila apa yang bisa Tuan lakukan untuk membuktikan cinta Tuan kepada Nyonya?" Pertanyaan kedua diberikan. "Membunuh orang yang berani macam-macam sama dia." Jawaban Gabriel membuat Aruna merasa takut. Lalu suapan ketiga, rasanya mulai agak pahit getir, namun Gabriel menahannya. "Tuan masih sanggup?" Tanya Jaden. "Sure." Jawabnya. "Bagaimana jika ternyata Nyonya menyimpan sebuah rahasia besar?" Pertanyaanpun semakin berat. "Kalau itu sebuah rahasia baginya, biarlah rahasia, saya nggak ingin tau dan nggak akan peduli hal itu. Bagi saya dia adalah segalanya." Tapi jawaban Gabriel sungguh bijaksana. Jaden terdiam sejenak. "Cintanya lebih besar dariku Arumi." Jaden mengakui kekalahannya di dalam hati. "Pertanyaan terakhir." Katanya kemudian. Gabriel mengambil suapan terakhir itu. "Aku aja." Tetapi Aruna malah memakannya dari tangan Gabriel. Kali ini rasanya sangat pedas. "Kalau aku pergi dari hidup kamu?" Aruna yang memberi pertanyaan. "Aku nggak bisa hidup tanpa kamu, aku lebih baik mati." Jawab Gabriel.
Semua pertanyaan berhasil dijawab oleh Gabriel dengan baik. "Selamat, anda berhasil." Ucap Jaden. "Makasih." Balas Gabriel sambil tersenyum. "Hah...!" Aruna masih kepedasan. "Minum ini." Gabriel menyodorkan minumannya untuk Aruna. Hati Jaden terasa sakit. Dia segera pergi meninggalkan pasangan pengantin baru itu.
Aruna masih kepedasan bahkan setelah tiba di rumah. "Minum s**u hangat ini." Mbok membawakannya segelas s**u hangat ke kamar. "Makasih Mbok." Ucap Aruna. Dia lalu meminumnya perlahan. "Biasanya kamu suka pedas, makanya aku nggak khawatir waktu kamu rebut makanan itu." Gabriel malah tertawa. "Benar Nyonya, biasanya Nyonya selalu minta sambal atau cabe rawit pelengkap makanan kalau makan siang di sini." Mbok menambahkan. "Karena itu bukan aku." Aruna berkata di dalam hati.
Aruna mencoba memejamkan mata malam itu. Dia mencoba untuk tidur, di sampingnya ada Gabriel yang sudah tertidur. "Aku nggak tau apakah aku Arumi atau Aruna, tapi kenapa istri kamu kabur-kaburan dari kamu? Kelihatannya kamu baik, ganteng, kaya." Aruna memandang wajah Gabriel sambil memujinya di dalam hati. "Aku harus menemukan jati diri aku sebenarnya." Itulah tekadnya.
Pagi itu, Aruna bangun lebih awal dan memasak di dapur. "Sejak kapan Nyonya Aruna pintar masak?" Mbok sampai heran melihatnya. "Sayang, kamu ngapain?" Lalu Gabriel datang. Mbok segera pergi meninggalkan mereka berdua. "Masak." Jawab Aruna. "Kamu bisa masak?" Gabriel terlihat antusias. "Kan tiap hari juga aku masak." Jawab Aruna. Gabriel mengernyitkan alis. Dia lalu memeluk pinggang Aruna dari belakang. Aruna yang sedang mengangkat wajan panas terkejut dan tak sengaja menumpahkan tumisannya ke kaki Gabriel. "Maaf...Maaf!" Ucap Aruna. Segera dia mengambil air dingin dari keran dengan gelas dan menyiramkan ke kaki Gabriel. "Ayo, aku obatin." Aruna memapah Gabriel untuk duduk.
Aruna mengambil salep di dalam kotak PPPK lalu mengoleskannya ke kaki Gabriel. Dia terlihat sangat cekatan. Gabriel semakin heran melihatnya. Aruna yang dia kenal tidak seperti itu. Ketika jarinya tak sengaja terkena pisau saat belajar mengupas bawang merah. "Aduh... Sayang... jariku." Dia mengeluh kesakitan sambil menangis. Gabriel menghampirinya lalu membalut luka itu. "Jariku terluka, bagaimana bisa memasangkan cincin?" Kalimatnya juga sangat baku. "Dia bukan Aruna, dia seperti orang lain." Pikir Gabriel.
Setelah mengobati Gabriel, Aruna juga merasakan ada yang aneh pada dirinya. Dia mengingat dirinya saat bekerja di rumah sakit sebagai perawat. Dia begitu cekatan, ramah dan pasien senang padanya. Kepala Aruna terasa sakit, dia pun jatuh pingsan. "Aruna?" Gabriel segera menolongnya.
Dokter telah selesai memeriksa kondisi Aruna. "Untuk pemeriksaan lebih detil, sebaiknya dilakukan pemeriksaan di rumah sakit." Dokter memberi saran pada Gabriel. "Baik Dokter." Jawab Gabriel. Saat Gabriel mengantarkan Dokter itu pergi, Aruna membuka matanya. "Apa itu tadi ingatan masa lalu aku? Artinya aku Arumi bukan Aruna. Tapi kenapa wajah mereka sama?" Pertanyaan itu muncul di benaknya.
Gabriel memutuskan tidak pergi bekerja hari itu. Dia menemani Aruna di rumah. "Seperti apa aku dulu?" Tanya Aruna. "Kamu itu feminim, lembut, kadang manja, tapi kamu susah ditebak, karena tertutup." Jawab Gabriel. "Apa aku punya adik atau kakak?" Tanya Aruna lagi. "Nggak, kamu anak semata wayang." Jawab Gabriel sambil tersenyum. "Dimana pertama kali kita ketemu?" Tanya Aruna. "Kita dikenalin sama orang tua kita di restoran." Jawab Gabriel. "Oh ya, aku pengen ketemu orang tua kamu dong." Pinta Aruna. "Kita kesana?" Usul Gabriel. "Orang tua kamu nggak disini?" Tanya Aruna. "Sejak Papa meninggal, Mama mutusin tinggal di kampung halamannya. Berkebun di sana. Hobynya." Gabriel bercerita. "Kalau gitu, besok kita kesana." Lanjutnya.
Keesokan harinya Aruna dan Gabriel berpamitan pada Mbok selaku asisten rumah tangga senior mereka. "Titip rumah ya Mbok." Tutur Gabriel. "Ya Tuan. Hati-hati di perjalanan." Jawab Mbok. "Bye." Aruna melambaikan tangan. Saat mobil mereka keluar dari pintu gerbang. Tampak Jaden mengikuti mereka. Baik Aruna maupun Gabriel sama sekali tidak menyadarinya. "Perjalanan kita akan panjang, kamu mungkin akan bosan. Jadi kalau kamu perlu apapun, kasih tau aja ya." Gumam Gabriel. "Iya, paling spot-spot foto yang lucu deh." Jawaban Aruna membuat Gabriel ternsenyum. "Aku rasa kamu memang sudah berubah Aruna." Namun hatinya mulai merasa ragu pada istrinya itu. Gabriel mengingat Aruna yang dia kenal adalah sosok yang pemalu, dia bahkan tak berani menatap camera saat difoto. "Sayang, lihat sini dong." Pinta Gabriel. "Yang, jangan foto-foto ih..." Protes Aruna.
Jaden masih terus membuntuti mereka. "Mereka mau ke luar Kota, ngapain?" Jaden penasaran saat melihat mobil yang dikemudikan oleh Gabriel berbelok ke arah jalan utama menuju ke luar kota.
Aruna menikmati pemandangan di luar jendela mobil. "Semoga aja pikiran aku jauh lebih tenang dengan suasana sejuk pedesaan di sana. Aku ingin secepatnya tau masa lalu aku." Dia berdoa di dalam hati. Gabriel mencuri pandang padanya. "Aku nggak tau kamu Aruna yang aku kenal atau kamu orang lain, tapi aku tetap cinta sama kamu." Bisik hatinya.
Beberapa saat kemudian, mobil Gabriel memasuki jalan tol. "Sial!" Itu artinya Jaden tidak bisa mengikuti mereka. Jaden harus memilih jalan lain. "Semoga aja aku bisa susul mereka." Tekadnya sudah bulat.
Jalan tol bebas macet membuat perjalanan terasa menyenangkan. Aruna hendak menyalakan musik, begitupun dengan Gabriel, hingga tak sengaja tangan mereka bersentuhan. Keduanya salah tingkah. "Mau aku putarkan lagu kesukaan kamu?" Tawar Gabriel. Aruna mengangguk sambil tersenyum. Mendengar alunan melodi itu membuat Aruna terhibur. Aruna bahkan ikut bernyanyi. "Dia tau lagu ini, artinya dia memang Aruna." Bisik hati Gabriel. "Ayo nyanyi bareng." Ajak Aruna pada Gabriel. "Nggak. Suaraku jelek." Gabriel menolaknya. "Ini bukan audisi, jadi kamu nggak bakal tereleminasi." Bujuk Aruna. Gabriel tertawa, mereka lalu bernyanyi bersama dengan bahagia.
Setelah puas bernyanyi. Mereka menepi di pinggir jalan. "Dari sini aja udaranya udah terasa sejuk." Aruna mengagumi area persawahan itu. "Iya. Udaranya masih segar." Imbuh Gabriel. "Mau foto di sini?" Tawar Gabriel sambil mengeluarkan handphone dari kantong celananya. "Boleh juga." Aruna setuju. "Beneran nggak papa kan?" Gabriel merasa ragu. "Asal angle nya dari kiri." Jawab Aruna. "Ini beneran bukan kamu Aruna." Sejenak Gabriel terdiam dalam pikirannya. "Gabriel?" Hingga panggilan dari Aruna menyadarkannya. "Ah. Iya." Pria itu tersenyum dan mulai mengambil foto. "Bagus nggak?" Tanya Aruna sambil melihat hasil foto di ponsel Gabriel. "Bagus banget, kamu berbakat juga jadi fotographer." Puji Aruna. Gabriel mengangguk, berusaha tersenyum. "Foto bareng yuk." Ajak Aruna kemudian. "Selfie?" Tanya Gabriel. "Nggak lah, kita pakai tripod." Aruna masuk ke mobil lalu mengambil tripod miliknya lalu meletakkan di tanah. "Siap ya." Aruna mengarahkan tangannya ke camera ponsel yang terpasang di tripod dan mereka berfoto bersama.