Sang Pengagum Rahasia

1200 Kata
Jaden sedang melanjutkan perjalanan mencari jejak Aruna dan Gabriel. "Aku yakin mereka ke wilayah ini. Karena tol tadi memang menuju kota ini." Dia sempat berhenti sejenak untuk melihat-lihat ke sekitar simpang 3 itu. Aruna dan Gabriel sedang melanjutkan perjalanan mereka. "Seandainya aku bisa bahagia terus seperti ini." Tutur Aruna. "Maksudnya?" Gabriel penasaran. "Iya, sepertinya aku memang sangat mendambakan kebahagiaan seperti ini. Apa dulu kita nggak bahagia?" Pertanyaan Aruna semakin membingungkan. "Maksud aku, mungkin kita sering bertengkar?" Imbuh Aruna. "Kita nggak pernah bertengkar, tapi kamu sering ngambekan." Jawab Gabriel. "Ngambek?" Aruna tertawa kecil. "Kayaknya bukan aku banget." Pikirnya. "Tapi ketika dibujuk, kamu langsung lupa semuanya." Lanjut Gabriel. "Dibujuk? Kayak bocah dong." Aruna tertawa. "Iya, aku tinggal ajak kamu shopping aja." Kata Gabriel. "Berarti Aruna itu matre?" Aruna tak lagi tertawa. Dia malah tertegun dan berkomentar di dalam hatinya. "Kamu nggak papa kan?" Cemas Gabriel. "Aku ngantuk. Mau tidur aja." Tiba-tiba emosi Aruna berubah. Setelah menempuh perjalanan yang lumayan panjang, tibalah mereka di sebuah perkebunan teh. "Aruna, kita udah sampai." Gabriel membangunkan Aruna. Aruna kembali takjub melihat pemandangan sekitar yang indah. "Rumah Mama di depan sana." Tunjuk Gabriel sambil mengemudi. Rupanya Jaden juga sudah berhasil menemukan mereka. "Sebaiknya aku mencari penginapan di sekitar sini." Pikir Jaden. Sesaat setelah Gabriel memarkirkan mobilnya di depan sebuah rumah yang ada di dekat perkebunan teh. Seorang wanita berkerudung keluar dari rumah. "Gabriel, Aruna?" Dia adalah Ibu Gabriel. "Mama!" Gabriel memeluk Ibunya. "Aruna?" Ibu Gabriel menghampiri Aruna. Aruna tersenyum kepadanya. Segera wanita itu memeluk erat Aruna. "Kamu kenapa toh nak? Biasanya kamu yang langsung meluk Mama." Ibu Gabriel merasa sedih. "Ma, Aruna lagi kurang sehat." Gabriel merangkul pundak sang Ibu. "Kamu sakit?" Ibu Gabriel menyentuh pipi Aruna. "Ma, Aruna nggak bisa ingat apapun." Aruna langsung berkata jujur. "Apa?!" Terang saja Ibu Gabriel terkejut. Aruna duduk di samping Ibu Gabriel di ruang tamu. "Mama bener-bener nggak nyangka ini terjadi sama kamu." Ibu Gabriel merasa sedih setelah mendengar cerita dari putranya. "Kamu tenang aja. Kamu pasti sembuh." Ibu Gabriel nampaknya sangat sayang pada Aruna. Aruna juga merasa nyaman berada di dekatnya. "Sebaiknya kalian menginap di sini selama beberapa hari. Lagipula kalian kan pengantin baru. Lebih baik habiskan waktu bersama." Ibu Gabriel memberikan nasehat. Gabriel dan Aruna hanya tersenyum. Aruna mengeluarkan pakaiannya dari dalam koper untuk disimpan ke dalam lemari. "Ucapan Mama tadi jangan dipikirin ya." Gumam Gabriel. "Tentang apa?" Tanya Aruna. "Kita." Jawab Gabriel. Aruna berhent, dia duduk di samping Gabriel yang sedang mengeluarkan pakaiannya dari dalam koper. "Aku minta maaf ya." Ucap Aruna. "Nggak papa kok. Aku nggak akan nyentuh kamu sampai ingatan kamu kembali." Itulah janji Gabriel. Ketika pasangan pengantin baru itu sedang bertatapan mesra di dalam kamar tidur, ponsel Aruna berdering. Aruna beranjak meninggalkan Gabriel dan keluar dari kamar karena itu adalah panggilan dari Jaden. "Temui aku sekarang di kebun teh." Hanya itu yang disampaikan oleh Jaden. "Kebun teh mana sih? Di sini semua dikelilingi tanaman teh." Aruna masih bingung. Aruna memutuskan pergi ke kebun teh yang ada di belakang rumah tersebut. "Aruna, mau kemana?" Rupanya Ibu Gabriel melihatnya dan dia mengikuti Aruna secara diam-diam. Aruna sudah sampai di kebun teh, namun Jaden tak ada di sana. Dia malah mendapat pesan. "Sekarang nggak aman, ada yang ngikutin kamu. Kita ketemu nanti malam." Aruna mencoba melihat ke belakang, tapi Ibu Gabriel sudah bersembunyi. "Siapa yang ngikutin aku, Gabriel atau Mamanya?" Tanya hati Aruna. Aruna memutuskan kembali ke rumah. Betapa terkejutnya dia melihat Gabriel sudah menunggunya di depan pintu. "Kamu kemana aja, aku khawatir." Dia nampak kesal. "Maaf." Ucap Aruna. "Jangan pergi tanpa ngasih tau aku." Gabriel memeluk Aruna dengan erat. Melihat kebersamaan anak dan menantunya itu, Ibu Gabriel merasa senang. Aruna tak sabar menunggu malam tiba. Dia berpura-pura tidur di hadapan Gabriel. Namun ketika waktu menunjukkan pukul 12 [tepat tengah malam]. Dia beranjak dari tempat tidur. Dengan mengendap-ngendap bak pencuri, Aruna keluar dari rumah menuju ke kebun teh belakang rumah untuk menemui Jaden. Jaden sudah lebih dulu tiba di lokasi, dia mengenakan sweater hitam dan topi hitam. "Arumi." Betapa senang hatinya saat melihat Aruna atau dia panggil dengan nama Arumi. "Kamu nggak papa kan?" Jaden memeluknya. Entah kenapa Arumi merasa nyaman dalam dekapan Jaden. "Dia nggak ngapa-ngapain kamu kan?" Jaden melepas pelukannya, dia memeriksa kondisi Aruna. Aruna menggelengkan kepalanya. Jaden dan Aruna duduk di sebuah pondok kecil yang ada di area kebun teh. "Aku mencari kamu kemana-mana, tapi nggak ketemu. Terakhir kali kamu bilang mau ngelamar kerja di perusahaan Gabriel." Jaden pun mulai bercerita. Jaden mengajak Aruna ke salon kecantikan. "Kamu cantik banget seperti ini." Jaden kagum melihat kecantikan Aruna setelah kawat giginya dilepas dan rambutnya ditata. "Sekarang tinggal cetak fotodan tempelkan di CV kamu." Jaden mengajak Aruna pergi ke studio foto. "Pantas saja foto di CV itu..." Aruna mengingatnya. "Iya, kamu adalah Arumi, bukan Aruna." Jaden meyakinkannya. "Terus kenapa aku bisa hilang?" Tanya Aruna. Jaden melanjutkan ceritanya. "Nanti kalau udah selesai kamu telepon aja ya." Jaden mengantarkan Arumi ke perusahaan milik keluarga Gabriel dan Aruna. "Ok, see you." Arumi melambaikan tangan pada Jaden. Setelah itu Arumi masuk ke dalam kantor tersebut. Beberapa jam kemudian, Jaden kembali ke sana untuk menjemput Arumi. Tetapi Arumi tidak ada di depan kantor tersebut. "Permisi Mbak, interviewnya udah selesai?" Tanyanya pada seorang karyawati yang sedang berdiri di depan kantor. "Udah dari tadi Mas." Jawab karyawati itu. "Mbak ngeliat cewek ini nggak?" Jaden menunjukkan foto Arumi di ponselnya pada karyawati itu. "Nggak." Karyawati itu menggeleng. Jaden lalu masuk ke dalam kantor dan bertanya pada resepsionis. "Mbak, ngeliat temen saya nggak?" Sambil menunjukkan foto Arumi. "Oh... Bu Aruna? Udah pergi sama Pak Gabriel baruasan aja." Jawaban dari resepsionis membuat Jaden bingung. "Bukan Mbak, teman saya Arumi, bukan Aruna." Kata Jaden. "Yang di foto tadi itu Bu Aruna, calon istri Pak Gabriel." Jelas Resepsionis. "Nggak mungkin, pasti Mbak salah orang." Jaden tertawa kecil. Dia memutuskan pergi dari tempat itu. Jaden menghubungi ponsel Arumi, tetapi nomornya tidak bisa dihubungi. "Pasti dia lupa ngecas HP lagi." Pikir Jaden. Maka diputuskanlah untuk datang ke rumah Arumi. "Arumi! Rum!" Dia memanggil nama Arumi. "Arumi belum pulang Jaden. Kan tadi pagi pergi sama kamu, mau ngelamar kerja di perusahaan besar itu kan?" Tetangga Arumi memberitahu. "Belum pulang?" Jaden mulai panik. Jaden pergi ke rumah sakit untuk menemui Mikayla. "Mika, kamu ketemu Arumi nggak hari ini?" Tanyanya cemas. "Nggak tuh. Sejak nggak kerja lagi di sini, Arumi kan dilarang datang. Kalau ketahuan bisa gawat." Jawab Mikayla. "Arumi menghilang." Kata Jaden. Mikayla malah tertawa. "Anak itu nggak mungkin ngilang gitu aja. Kamu tau dia kan, selalu aja gegabah, nggak mikir panjang sebelum ambil keputusan atau tindakan. Tempo hari setelah dia sok jadi pahlawan di rumah sakit ini, hasilnya apa? Dia diskors kan." Cerita Mikayla membuat Jaden terduduk lesu. "Tapi ini beda, dia mau interview kerja di perusahaan itu." Jaden tidak bisa percaya begitu saja. "Perusahaan mana maksud kamu?" Mikayla pun penasaran. "Ghana Industries." Jawaban Jaden membuat Mikayla tercengang. Entah apa yang dipikirkan oleh Mikayla, namun sepertinya Mikayla mengetahui sesuatu tentang perusahaan itu. "Mending kamu pulang aja deh. Arumi nggak papa kok. Nanti juga dia pulang sendiri ke rumahnya." Seketika ekspresi Mikayla berubah acuh. Aruna semakin penasaran dengan cerita Jaden. "Kamu nggak coba lapor polisi?" Tanyanya. "Besoknya aku pengen laporin kasus kamu hilang, tapi..." Jaden melanjutkan kembali cerita tentang Arumi versi dirinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN