Kenyataan Yang Tak Logis

1258 Kata
Jaden berada di depan kantor polisi saat panggilan masuk dari Arumi datang. "Arumi, kamu dimana?" Tanya Jaden. "Kamu nggak usah cari aku lagi, aku baik-baik aja kok. Aku akan memulai hidup baru. Kehidupan yang aku impikan selama ini." Suara itu memang milik Arumi. "Maksud kamu?" Jaden tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh Arumi. "Arumi yang miskin, sebatang kara, tanpa cinta dan kecantikan udah nggak ada lagi. Sekarang aku akan jadi sosok baru." Kata-kata itu membuat mata Jaden melotot. "Jadi, kamu mau pergi jauh, ninggalin aku, ninggalin kota ini, ninggalin orang-orang yang sayang sama kamu?" Dia merasa sedih sekaligus kecewa. "Aku nggak bakal pergi jauh kok, tapi tolong ngerti aku, lupain aku, anggap aja kita nggak pernah kenal. Please Jaden..." Kalimat dari Arumi terasa menyesakkan d**a Jaden. "Kalau gitu, semoga kamu amnesia sekalian, supaya aku nggak benci kalau kita ketemu suatu hari nanti. Karena aku nggak bisa membenci kamu Arumi." Jaden mengakhiri pembicaraan. Giliran Aruna yang merasa sesak dan sedih setelah mendengar kisah itu dari Jaden. "Aku ngomong gitu?" Dia sangat terpukul. "Maafin aku Arumi, kata-kata aku dulu, nggak serius. Aku sedang sakit hati saat itu." Jaden memegang kedua tangan Aruna. "Apa aku ninggalin kamu demi Gabriel?" Tanya Aruna. "Aku rasa gitu. Karena nggak lama kemudian, aku lihat foto pernikahan kalian di koran." Jawab Jaden. "Tapi kenapa aku bisa amnesia?" Aruna masih saja penasaran. "Itu pasti perbuatan Gabriel." Tuduh Jaden. "Maksud kamu Gabriel mencelakakan aku? Nggak mungkin, dia tuh cinta mati sama aku. Kamu dengar sendiri kan jawaban Gabriel waktu di resto kamu malam itu?" Aruna tak mau percaya begitu saja. "Aku pernah ketemu Aruna." Jelas saja pernyataan Jaden membuat Aruna terkejut. Malam itu Jaden sedang memarkirkan sepeda motornya di depan cafe dan resto miliknya. Kemudian seorang gadis cantik yang sedang berlari menabraknya. Keduanya pun terjatuh. "Lain kali lihat-lihat dong..." Jaden nampak kesal. "Tolong saya Mas, dia nyiksa saya." Wanita yang berwajah mirip Arumi itu nampak ketakutan. "Arumi?" Jaden terkejut melihatnya. Wanita itu melihat ke belakang, ada seorang pria yang sedang mengikutinya dari kejauhan. "Ikut saya." Jaden mengajak wanita itu masuk ke dalam cafe dan restonya. Gabriel pun kehilangan jejak Aruna. Lengan kiri Aruna mengalami luka bakar akibat sulutan puntung rokok. Jaden segera mengobatinya. "Dia pacar kamu?" Tanya Jaden. "Dia tunangan saya. Kami dijodohkan sejak kecil." Jawab Aruna. "Orang tua kamu tau soal ini?" Tanya Jaden lagi. Aruna menggelengkan kepalanya. "Saya nggak berani, dia bisa lebih nekad lagi." Jawab Aruna dengan mata berkaca-kaca. "Udah lapor polisi?" Jaden nampak prihatin. "Saya nggak bisa kemana-mana, dia punya mata-mata dimana-mana." Air mata Aruna pun tumpah. Aruna lalu mengangkat roknya hingga selutut. Awalnya Jaden kaget dengan apa yang dilakukan Aruna, tetapi saat melihat bekas luka di kedua lutut Aruna, dia menjadi iba. "Dia selalu kasar kalau cemburu. Dia mendorong saya dari dalam mobil sampai jatuh tersungkur ke aspal." Jaden terbelalak mendengarnya. Apa yang diceritakan Jaden membuat Aruna terkejut, kepalanya terasa sakit. "Nggak mungkin. Gabriel bukan orang jahat." Dia tidak mau mendengar cerita Jaden lagi. Aruna segera beranjak pergi. "Arumi, kamu harus percaya aku. Kamu harus hati-hati sama Gabriel!" Teriak Jaden. Namun hal itu tidak menghentikan langkah Arumi, dia tetap saja pergi meninggalkan Jaden. Sebenarnya sejak tadi Gabriel sudah terjaga dan menunggu Aruna di ruang tamu. Jantung Aruna rasanya mau copot melihat Gabriel duduk di sofa. "Sayang, kamu nggak papa kan?" Melihat Aruna, Gabriel langsung memeluknya dengan erat. Gabriel sama sekali tidak menunjukkan sikap kasar pada Aruna. "Aku rasa, aku terkena sleep walker." Aruna memberi alasan palsu. "Ssst...! Aku nggak mau tau. Yang penting kamu baik-baik aja." Gabriel meletakkan jari telunjuk kanannya di bibir Aruna. "Mending kita kembali lagi ke kamar dan istirahat." Gabriel mengajak Aruna masuk ke kamar. Matahari bersinar cerah di perkebunan teh. Aruna sudah terbangun dan dia melihat Gabriel tak ada di sampingnya. Aruna menuju ke dapur. Rupanya Gabriel sedang memasak di dapur. "Sayang, kamu udah bangun?" Gabriel menyapanya dengan senyuman. "Kamu masak?" Aruna merasa kagum. "Iya Aruna, Gabriel pengen kasih kejutan untuk kamu katanya." Tutur Ibu Gabriel. Aruna merasa terharu. "Aku mandi dulu ya." Dia lalu kembali ke kamar. Sebelum mandi, Aruna memeriksa ponselnya, ada 7 panggilan tak terjawab dari Jaden. Aruna memutuskan menghubunginya kembali, namun nomor telepon Jaden sudah tidak aktif. Aruna merasa cemas, dia lalu menghubungi Mikayla. "Apalagi sih Rum?" Namun sahabatnya itu nampak tak senang. "Mik, Jaden nggak bisa dihubungi, aku khawatir terjadi sesuatu sama dia." Gumam Aruna. "Kalian ini kenapa sih, waktu kamu pergi, Jaden sibuk nyari kamu, sekarang Jaden mau move on, kamu sibuk nyari dia. Ingat Arumi, sekarang kamu udah jadi Nyonya Gabriel. Jadi lupain Jaden." Mikayla yang kesal malah menutup telepon. "Mik, Mika!" Aruna merasa sedih. Sarapan pagi itu dibuatkan khusus oleh Gabriel untuk Aruna. "Gimana rasanya?" Tanya Gabriel. "Enak." Puji Aruna. "Aku harus temui Mikayla secepatnya. Tapi gimana caranya?" Namun pikiran Aruna malah ke tempat lain. Aruna memegang kepalanya. "Kamu kenapa?" Cemas Gabriel. "Kepalaku sakit." Aruna bersandiwara. "Sayang?" Gabriel dan Ibunya nampak khawatir. "Bawa Aruna ke rumah sakit." Perintah Ibu Gabriel. Gabriel segera menggendong Aruna ke mobil dan hendak membawanya ke rumah sakit. Di tengah perjalanan, tiba-tiba Aruna menodongkan senjata ke arah Gabriel. "Berhenti!" Dia mengancam Gabriel. "Sayang, kamu kenapa?" Gabriel pun menurutinya. "Stop panggil aku sayang, karena aku bukan Aruna." Bentak Aruna/Arumi. Gabriel tercengang. "Maksud kamu apa?" Dia tidak mengerti. "Aku kira kamu manis dan romantis, ternyata kamu pembunuh!" Hardik Aruna. "Pembunuh, siapa maksud kamu?" Gabriel masih tak mengerti. "Keluar!" Aruna memintanya turun dari mobil sambil terus menodongkan senjata api ke arahnya. Gabriel masih dilanda kebingungan. "Kalau kamu bukan Aruna, lalu kamu siapa?" Dia balik bertanya. "Aku Arumi. Saudara kembarnya Aruna." Tampaknya Arumi sudah mendapatkan ingatannya kembali. "Kembar? Aruna itu anak tunggal." Gabriel meremehkannya. "Semua orang berfikir seperti itu. Kenyataannya aku adalah kembarannya Aruna." Tegas Arumi. "Dimana Jaden!" Tanya Aruni kemudian. "Jaden, siapa dia?" Gabriel mengernyitkan alis. "Pria yang kamu culik tadi malam." Tuduh Arumi. "Aku di rumah waktu kamu pulang." Gabriel memiliki alibi yang kuat. "Tapi sepatu kamu kotor bekas tanah yang lembab di area kebun teh." Ternyata semalam saat Arumi hendak ke kamar mandi, dia melihat Gabriel sedang membersihkan sepatunya yang terkena tanah. Arumi bersembunyi dan mengintip apa yang terjadi. "Cepat bereskan sebelum Aruna bangun." Bahkan Ibu Gabriel ikut bekerjasama. "Aku akan bawa dia jauh dari sini." Kata Gabriel. Lalu dia keluar dari rumah. Arumi tidak dapat membuntutinya lagi. Jadi Arumi kembali ke kamar, mencoba memeriksa lemari. Dia menemukan pistol dibalik pakaian Gabriel. Arumi sangat terkejut akan hal itu. Dia menyembunyikan pistol itu di bawah tempat tidurnya lalu berpura-pura tidur hingga saat Gabriel kembali. Gabriel tak dapat mengelak lagi. Dia menurunkan tangannya. "Angkat tangan!" Arumi menembak ke udara. Gabriel pun menurutinya. Suara tembakan itu terdengar oleh Ibu Gabriel. "Pasti Gabriel dalam bahaya." Ibu Gabriel segera menuju ke gudang penyimpanan stok daun teh kering. Rupanya benar, Jaden disekap di sana. Mulut, tangan dan kakinya diikat. Ibu Gabriel mengambil suntikan dari dalam tasnya dan hendak menyuntikkan ke tangan Jaden, tetapi Jaden yang sudah berhasil melepaskan ikatan tangannya segera menepis dan dia mendorong Ibu Gabriel hingga terjatuh ke lantai. Jaden segera melepaskan ikatan di kakinya, sedangkan Ibu Gabriel berusaha untuk mengambil suntikan bius tadi dan berusaha menyuntikkan lagi ke tubuh Jaden. Arumi masih berhadapan dengan Gabriel. "Aku mau bawa kamu jauh dari tempat ini, karena kamu mengalami gangguan mental." Alasan Gabriel membuat Arumi semakin tak percaya. "Kamu itu berkepribadian ganda. Kadang kamu menjadi Aruna, kadang kamu menjadi Arumi, saat itu terjadi, kamu akan sama sekali lupa dengan diri kamu sebelumnya." Gabriel memberi penjelasan. "Bohong! Terus gimana dengan Jaden dan Mikayla?" Arumi membantahnya. "Mereka nggak pernah ada, mereka cuma karakter dalam fikiran kamu. Sebenernya mereka adalah karakter yang kamu bangun sendiri." Jelas Gabriel.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN