"Sengaja mematikan lampu di rumah, dan saat ketahuan Tika malah minta cerai. Ia ingin bersama pria itu." Kalimat terakhir Tristan terdengar menyedihkan. Suaranya kembali parau. Walau ia berusaha tegar, air matanya kembali jatuh. "Menurutmu mataku salah ...." "Maaf." Lina tak tega melihatnya. Ia menunduk demi menghindari melihat lebih jauh lagi. Sedang Tristan berusaha memperbaiki kata-katanya di tengah cairan bening yang berlomba jatuh di pipi. "Seandainya ...." Suaranya semakin parau. "Sudah, Bang ...." "Aku ...." Lina mendekap tubuh pria itu. Ya, pria itu pasti butuh seseorang yang bisa membuatnya meredam itu. Meredam rasa sakit karena dikhianati. Tristan memeluk balik Lina. Ia masih terguncang. Pelukan itu teramat ia butuhkan. Mungkin, sudah lama ia butuhkan. Sejak ia kehilanga

