"Kamu pikir aku bercanda?" Mata wanita ini melebar sempurna. Sudut bibirnya melengkung ke atas. Ia adalah orang Indonesia. Suaminyalah yang orang bule. Ia punya segalanya, tapi punya segalanya bukan berarti itu cukup baginya. Lina merasa tak diperlukan di sana. Ia tahu suaminya takkan memilihnya. Daripada sakit hati mendengar ucapan mereka, lebih baik ia pergi dari tempat itu secepatnya. Baru saja Lina berbalik, Tristan sudah memanggilnya kembali. "Lina!" Lina tak berani membalikkan lagi tubuhnya. Kakinya membatu. Ia memandangi anaknya, Dion yang tengah bermain mobil-mobilan di sebuah kursi di depannya. Alangkah nyamannya jadi anak kecil yang tak tahu apa-apa, jadi ia tak harus merasakan rasanya sakit hati seperti yang dirasakannya saat ini. Kenapa ia harus sakit hati? Bukankah ia ta

