Tristan menarik kembali kerah kemejanya dengan ujung jari. "Kenapa udaranya panas ya? Apa AC-nya rusak?" Kini Lina yang bicara. "Iya, aku juga merasakan hal yang sama," sahut pria itu. "Tapi aku sudah dari bawah kepanasan." Ia melirik Lina. Entah kenapa hasrratnya timbul hanya dengan memandangi istrinya. Namun, ia coba hilangkan dengan menggeleng-gelengkan kepala dan berusaha fokus. "Eh, aku membawamu ke sini supaya Kakek tak curiga. Kamu tak masalah 'kan kita di sini?" "Tidak, tapi kenapa Kakek curiga?" Lina mengerut dahi. "Oh, dia tidak tahu kalau kita tidak tidur sekamar." Tristan berusaha berpaling ke arah lain. Lina menyatukan alisnya. "Memangnya kenapa kalau sekamar? 'Kan kita suami istri? Bukankah kamu yang tidak mau denganku?" Ia merengut. Tepat saat itu Tristan menoleh.

