5. Perdebatan

1160 Kata
"Evelyn." Panggilan itu membuat Evelyn tersentak, dia menoleh dan melihat pemuda berpenampilan necis berdiri di samping kiri. Dia mengerutkan dahi, mencoba mengingat siapa nama pemuda yang kini tersenyum lebar. "Siapa, ya? Apa kita saling mengenal?" tanya Evelyn ketika tak berhasil membuka kotak memorinya. Sang pemuda terkekeh kecil saat melihat raut kebingungan Evelyn, dan itu membuat gadis itu tidak nyaman untuk alasan yang tak dia mengerti. "Oh. Gua Gerson, jurusan akuntansi angkatan 10." Evelyn mengangguk paham ketika pemuda itu memperkenalkan diri. Pantas saja dia tak mengenal Gerson, karena jurusan dan angkatan mereka berbeda. Evelyn yang mengambil jurusan manajemen dan berada di angkatan 11, otomatis adalah adik kelas Gerson. "Ada perlu apa Kakak memanggil saya?" tanya Evelyn dengan nada sopan. "Nggak ada apa-apa, kok. Gua cuma mau tanya apa lo baik-baik saja. Soalnya teriakan lo kencang banget," jawab Gerson yang membuat Evelyn meringis. "Apa teriakan saya mengganggu Kakak?" tanya Evelyn dengan senyum canggung. "Ya. Sedikit mengganggu, sih. Tapi sekarang semuanya udah balik normal lagi," ucap Gerson yang membuat Evelyn menghela napas lega. Tadinya Evelyn mengira jika Gerson akan segera pergi setelah sedikit berbasa-basi, tapi kenyataannya dia salah, karena sekarang pemuda itu dengan lancangnya duduk di depan Evelyn dan mulai bersikap sok akrab. Dengan setengah hati Evelyn menanggapi lelucon Gerson yang sama sekali tak lucu, bahkan gadis itu sudah berkali-kali menyindir sang kakak tingkat agar segera pergi meninggalkannya sendirian. Tapi pemuda itu terus melanjutkan ucapannya, entah tak peduli atau memang tak peka jika Evelyn terganggu dengan kehadirannya. Kesabaran Evelyn akhirnya mencapai batas, dia menggebrak kuat meja sehingga membuat Gerson berhenti berbicara. Pemuda itu lalu menatap heran gadis yang ada di hadapannya. Begitu juga orang-orang yang berada di sekitar meja Evelyn, mereka menoleh dan merinding saat melihat wajah gadis itu yang dingin. "Lo kenapa, Evelyn?" tanya Gerson dengan wajah tak berdosa. "Kakak masih tanya kenapa? Kakak memang nggak tahu atau pura-pura," kata Evelyn dengan nada sinis. Dia sudah terlalu muak saat menghadapi Roby dan Conny, ditambah dengan chat grup keluarga yang menyudutkannya. Dan kini Evelyn harus melayani ocehan kakak tingkat yang menyebalkan, jadi sudah sewajarnya kalau dia mengamuk. "Gua memang nggak tahu kenapa lo sampai gebrak meja seperti itu. Padahal gua ngomongnya biasa aja." Evelyn menarik napas panjang saat Gerson terlihat mencari alasan. "Kakak nggak tahu kalau Kakak ganggu banget? Lebih baik Kakak pergi sekarang, cari korban lain yang bisa dimainin perasaannya." Wajah Gerson memerah, merasa malu karena disindir terang-terangan oleh Evelyn. Pemuda itu menggeram kesal, dia bersiap untuk membalas sindiran itu. Namun sebelum dia sempat berbicara, suara bariton pria medahuluinya. "Saudari Evelyn. Keributan kedua di hari yang sama, apa kamu punya alasan logis yang dapat saya terima?" Mata Evelyn melebar meski untuk sesaat, tak lama senyum lega menghiasi wajahnya. Melihat Damian yang tak segan menolongnya, semakin membuat gadis terpukau akan sang dosen. Dan lagi setelah Evelyn pikir-pikir, wajah Damian lebih tampan dari Roby, tidak memalukan jika dibawa ke acara pesta atau undangan lainnya. "Saudari Evelyn. Apa saudari mendengar ucapan saya?" tanya Damian yang menarik Evelyn keluar dari lamunannya. "Ehh ... maaf saya melamun, Pak," sahut Evelyn yang sempat terkejut. Sementara Gerson merasa kikuk saat Damian menatapnya sedemikian rupa, setelah menelan saliva dengan susah payah, pemuda itu mencari alasan untuk pergi secepatnya dari sini. "Maaf Pak, apa saya boleh pergi? Kelas saya akan dimulai sebentar lagi," ucap Gerson dengan telapak tangan yang berkeringat dingin. Damian melihat sekilas jam tangannya, 13:20, tersisa 10 menit untuk jadwal kelas siang. "Silahkan pergi," ucap Damian singkat. Tanpa menunggu lama, Gerson segera melangkah keluar dari kantin. "Saudari Evelyn. Cepat ikut saya ke ruangan dosen," titah Damian setelah bayangan Gerson tak lagi terlihat. "Baik, Pak." Evelyn bangkit dari kursinya dengan enggan. Tatapannya sempat menyapu sekitar, menyadari beberapa pasang mata masih memperhatikan mereka. Bibir gadis itu mengatup rapat, menahan kesal yang belum sepenuhnya reda. Damian berjalan lebih dulu, langkahnya tenang namun tegas. Tanpa banyak bicara, pria itu memimpin Evelyn keluar dari kantin menuju ruang dosen. Suasana di lorong terasa kontras, hening berbanding terbalik dengan riuh yang baru saja ditinggalkan Evelyn. Sesampainya di depan ruangan dosen, Damian membuka pintu dan mempersilakan Evelyn masuk. Gadis itu duduk di kursi yang ditunjuk, sementara Damian mengambil posisi di balik meja kerjanya. Pria itu menyandarkan punggung, menautkan jemari, lalu menatap Evelyn dengan sorot mata tajam namun tidak mengintimidasi. "Saudari Evelyn," ucap Damian tiba-tiba tanpa menoleh, "bisa jelaskan apa yang terjadi sampai kamu kembali membuat keributan?" Evelyn mengangguk kecil. "Bisa, Pak." Evelyn menarik napas panjang. Untuk sesaat, raut dinginnya mengendur. "Saya tidak mencari masalah, Pak. Tapi mereka yang senang memancing emosi saya. Tadi kakak tingkat itu tidak mau pergi meski saya sudah menyindirnya." Damian mengamati ekspresi Evelyn, seakan menimbang kejujuran di balik kata-katanya. "Apa kamu sadar, kalau cara kamu bereaksi bisa disalahartikan oleh sebagian besar orang?" "Saya tahu, tapi itu urusan mereka mau menilai saya seperti apa. Yang saya inginkan hanya kedamaian selama kuliah, tapi mereka malah sengaja mencari ribut," ucap Evelyn setengah meluapkan kekesalannya. Hening menggantung beberapa saat. Damian menghela napas pelan, lalu melembutkan nada suaranya. "Kalau begitu kamu perlu cara untuk mengontrol emosimu yang gampang meledak ini. Saya tidak mau kamu melakukan hal yang aneh-aneh, seperti mencium pria yang tak dikenal." Bibir Evelyn mengerucut saat mendengar sindiran itu, dia menatap intens Damian setelah menarik napas panjang. "Apa Bapak tidak takut kalau ucapan Bapak akan didengar oleh dosen yang lain?" tanya Evelyn dengan sarkas. "Kenapa harus takut kalau saya tidak menyebut nama pria yang kamu cium?" Evelyn terdiam. Detik itu juga wajahnya memanas, campuran rasa malu dan kesal yang menjadi satu. Jemarinya mengepal di atas pangkuan, berusaha menahan emosi yang kembali mendidih. "Padahal semalam Bapak juga menikmati ciuman itu," sindir Evelyn. "Sebagai pria normal, saya mengakui kalau saya tergoda dengan ciuman itu," ucap Damian yang tanpa sadar terjebak kata-katanya sendiri. "Kalau begitu saya juga bisa bilang, sebagai manusia normal pada umumnya, saya tidak dapat menahan amarah jika ada yang memancing emosi." Damian terdiam setelahnya, menyadari jika dia kalah telak oleh Evelyn. Namun dia tetap harus mempertahankan wibawanya sebagai seorang dosen. Dia berdeham pelan, lalu merapikan posisi duduknya. Sorot mata pria itu kembali datar, seolah percakapan barusan tak pernah menyentuh sisi personalnya. "Saudari Evelyn," ucap Damian dengan nada lebih formal, "jangan membalikkan keadaan. Kita sedang membahas sikap kamu sebagai mahasiswa, bukan reaksi saya sebagai individu." Evelyn menyunggingkan senyum tipis, senyum yang lebih mirip tameng. "Saya hanya menjelaskan sudut pandang saya. Bukankah Bapak sendiri yang meminta penjelasan?" Lagi-lagi Damian terdiam, menyadari jika dia telah kalah dua kali dalam berdebat dengan Evelyn. Mungkin ini juga alasan mengapa gadis itu dapat menciptakan keributan tanpa dia sadari. Kerena Damian akhirnya menyadari aura tidak ingin mengalah dari Evelyn yang begitu besar. Entah ini bagus atau tidak, dia berharap ke depannya tidak akan ada lagi keributan yang berarti. Suasana hening itu pecah karena ponsel Evelyn yang berdering. Gadis itu segera meminta izin keluar untuk menerima panggilan itu. Evelyn menggeram saat mengetahui jika sang ayah yang kembali menghubunginya. Dia dapat membayangkan bagaimana Conny memainkan peran sebagai sepupu teraniaya dengan apik. "Baiklah. Dia jual aku beli," gumam Evelyn yang bersiap menerima panggilan dari sang ayah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN