"Upss."
Evelyn menutup mulut, sadar karena telah menjadi pusat perhatian. Gadis itu melangkah mendekati Conny dengan sebuah senyum mengejek.
"Setelah aku pikir lebih lanjut, seharusnya aku berterima kasih sama kamu karena telah memungut sampah yang nggak bisa didaur ulang."
Tentu saja Roby yang mendengarnya merasa tersinggung, namun dia tak berani membentak Evelyn karena Damian masih menatapnya tajam.
Sementara Conny hanya terdiam sembari memaki Evelyn di dalam hati, dia berniat akan mengadukan kejadian ini kepada kakek mereka. Tentu dengan berbagai tambahan bumbu cerita yang pasti membuat sang sepupu dimarahi habis-habisan oleh keluarga besar mereka.
Melihat aura permusuhan yang kental pada ketiganya, membuat Damian akhirnya berdehem keras. Setelah atensi tertuju pada dirinya, barulah pria itu membuka suara.
"Perkenalkan nama saya Damian Yakobus. Saya adalah dosen pengampu mata kuliah Advertising, menggantikan Ibu Resta. Berdoalah semoga kalian tidak diajar oleh saya pada semester ini, karena nilai E sudah pasti ada pada nilai akhir kalian."
Wajah Roby langsung berubah pucat pasi saat mendengar ancaman yang berbalut perkenalan itu. Dia menelan saliva dengan susah payah, seakan ada yang menyangkut di tenggorokannya.
Sementara Conny hanya dapat memandang Evelyn dengan sinis, tanpa dapat mengucapkan sepatah kata pun. Alasannya karena tidak ingin citranya sebagai 'anak baik' di keluarga mereka tercoreng.
"Maafkan sikap kurang ajar saya, Pak," ucap Roby dengan nada memelas setelah terdiam beberapa saat.
Evelyn semakin tersenyum sumringah saat melihat ketidakberdayaan Roby, dia lalu mendekat ke arah sang mantan yang kini terlihat gemetar.
"Gimana? Kalian masih mau lanjut menghina 'selingkuhanku'? Atau mau aku ceritakan pada orang banyak mengenai kalian yang bercinta di apartemen Roby?" ucap Evelyn yang hanya dapat terdengar oleh Roby dan Conny.
Roby dan Conny langsung saling berpandangan dengan d**a berdebar-debar karena takut, sebab baru sadar jika telah menggali lubang kubur mereka sendiri.
Menghina seorang dosen di depan umum dengan tuduhan yang tidak berdasar adalah tiket cepat menuju skorsing, atau bahkan drop out.
Ditambah dengan Evelyn yang baru saja menantang mereka di depan umum seperti ini.
"Pak. Saya ... saya benar-benar tidak tahu kalau Bapak dosen di sini," ucap Roby yang kini berusaha membela diri.
"Tidak tahu bukan berarti kalian bisa seenaknya menghina orang lain. Apa kalian tidak punya tata krama saat berbicara dengan orang yang lebih tua?" sahut Damian dengan nada dingin.
Perkataan itu membuat keduanya tak berkutik, segala pembelaan yang sempat terlintas di dalam pikiran mereka menguap begitu saja.
Darren yang melihat rasa takut itu, kembali melanjutkan. "Ini adalah peringatan pertama dan terakhir untuk kalian. Jika saya mendengar kalimat penghinaan keluar dari mulut kalian berdua lagi, maka saya akan membawa kasus ini pada dekan agar kalian diberikan sanksi tegas."
Baik Roby dan Conny hanya dapat tertunduk, tak berani membalas tatapan Damian yang mengintimidasi.
"Karena kalian diam saja, maka saya anggap kalian mengerti dengan ucapan saya barusan. Sekarang, kalian boleh pergi dari sini," tukas Damian.
Tanpa menunggu perintah kedua, Roby menarik tangan Conny dengan kasar, menjauh dari sana secepat mungkin dengan menanggung malu karena kalau salah menuduh orang.
Setelah keadaan kembali tenang, Damian berbalik menatap Evelyn. Gadis itu masih berdiri di sana, menatap pria itu dengan sorot mata yang sulit diartikan.
"Pak Damian, terima kasih, ya. Bapak keren banget tadi," ucap Evelyn dengan nada manja yang khas.
Damian hanya mendengus kasar, berusaha meredam detak jantungnya yang kembali tidak beraturan saat Evelyn berdiri terlalu dekat darinya.
"Jangan senang dulu. Saya menolong kamu karena tidak suka jika ada mahasiswa yang menuduh saya macam-macam."
Evelyn terkekeh pelan, lalu melangkah mendekati Damian. Gadis itu baru berhenti ketika ujung sepatunya bersentuhan dengan sepatu pria itu.
"Oh ya? Jadi Bapak masih marah soal ucapan saya tadi? Atau Bapak sebenarnya ingin mengulang ciuman kemarin?"
Damian mengembuskan napas kasar, dan berbalik pergi tanpa kata meninggalkan Evelyn di koridor kampus yang sepi ini.
Namun sebelum Damian pergi, Evelyn sempat melihat sudut bibir pria itu terangkat sedikit. Sebuah senyum tipis yang membuat gadis itu terpesona.
Niat Evelyn untuk menjadikan Damian alat balas dendam kepada Roby dan Conny semakin besar. Apalagi dengan sifat sang sepupu yang selalu ingin menjatuhkan dirinya, membuat jiwa pemberontak Evelyn muncul.
Entah mengapa, kali ini Evelyn tidak ingin membiarkan Conny menjelekkan namanya di depan keluarga besar mereka.
Bunyi dering ponsel menarik Evelyn dari lamunan, gadis itu menghela napas panjang saat melihat nama sang ayah yang tertera pada layar. Dia menatap bimbang ponselnya sebelum memutuskan mengabaikan panggilan itu.
Evelyn memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas dengan perasaan dongkol. Dia tahu persis mengapa ayahnya menelepon.
Pasti Conny sudah bergerak cepat, mengadu dengan air mata buaya andalannya, dan Evelyn dapat menjamin jika sang ayah siap untuk meluncurkan rentetan teguran tanpa mau mendengar penjelasannya terlebih dahulu.
"Cepat sekali," gumam Evelyn sinis. "Belum ada 10 menit, tapi aduannya sudah sampai ke telinga Papa."
Rasa lapar membawa langkah Evelyn menuju kantin fakultas ekonomi, di sana dia melihat Damian yang duduk sendiri, tak terpengaruh oleh hingar bingar yang ada di sekelilingnya.
"Kalian sudah diajar sama Pak Damian?"
Langkah Evelyn terhenti saat beberapa mahasiswi mulai membicarakan Damian.
"Baru tadi pagi diajar Pak Damian, ternyata dia termasuk dosen killer juga, ya," sahut mahasiswi lainnya.
"Iya, masa kasih peraturan yang cukup berat. Duh jadi ragu apa gua bisa lulus mata kuliah Advertising," keluh mahasiswi lainnya.
Evelyn membuang napas panjang, setuju dengan yang diucapkan oleh beberapa mahasiswi itu. Karena tak mau mendengar lebih banyak, dia mulai melangkah lalu duduk membelakangi Damian.
Tak lama ponsel Damian yang tergeletak di meja berdering, pria itu napas panjang sebelum menerima panggilan itu.
"Iya, Pih. Tumben Papi telepon waktu aku kerja."
Evelyn mengerutkan dahi saat mendengar ketidakramahan yang keluar dari mulut Damian. Dia tahu jika menguping adalah tindakan yang salah, tapi rasa penasaran membuat gadis itu membuang jauh-jauh perasaan bersalah itu.
"Sekali lagi aku tegaskan sama Papi kalau aku tidak ingin menikah dengan Alyssa. Papi masih tanya apa alasannya?"
Evelyn membeku saat mendengar nada suara Damian yang dingin, tangannya yang hendak meraih daftar menu di atas meja seolah kaku. Dia menajamkan pendengarannya, mencoba mencerna setiap kata yang keluar dari mulut pria di belakangnya itu.
"Cukup. Jangan bahas soal perjodohan ini lagi. Aku sekarang ada di kampus untuk mengajar, bukan untuk yang lainnya."
Hening sejenak, karena orang di seberang telepon sedang membalas Damian dengan argumen panjang.
Damian memijat pelipisnya, merasa penat dengan perdebatan yang tak berujung ini. Berulang kali pria itu menghela napas berat, seakan beban berat diletakkan pada bahunya.
"Pih. Aku tidak akan pernah mengubah keputusanku. Sekali tidak, itu artinya tidak," ucap Damian dengan tegas.
Evelyn yang berada di belakang Damiab langsung menyunggingkan senyum lebar, harapannya untuk mengejar pria itu semakin terbuka lebar.
Siapapun Alyssa yang dimaksud, Evelyn yakin dia lebih unggul dari wanita itu.
Namun baru saja Evelyn larut dalam euforia, lagi-lagi ponselnya berdering. Kali ini bukan panggilan suara, melainkan notifikasi pesan.
Dengan enggan Evelyn mengambil ponsel dari dalam tas, dia berdecak keras saat membaca pesan yang ditujukan padanya dalam grup keluarga. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Conny.
Conny : Kalian harus tahu kelakuan Evelyn saat di kampus, dia tadi menamparku hanya karena cowok yang dia suka memilih aku.
Opa : Evelyn. Apa benar yang dikatakan Conny? Cepat katakan yang sejujurnya.
Om Pertama : Pah. Lebih baik malam ini kita adakan pertemuan keluarga, jadi kita bisa mendidik Evelyn bagaimana harus bersikap.
"b*****t! Keluarga sampah!"
Umpatan kasar itu keluar begitu saja dari bibir Evelyn, membuat beberapa mahasiswa di sekitarnya menoleh ke arah gadis itu, kecuali Damian. Pria itu tampak masih tenggelam dalam pikirannya sendiri setelah mematikan telepon.
Darah Evelyn mendidih, dia bisa membayangkan bagaimana Conny menelepon kakek mereka dengan nada menangis palsunya.
"Kamu salah jika mau bermain-main denganku, Conny," ucap Evelyn dengan tangan mengepal.