"Cepat keluar, sebelum saya memberi kamu nilai E untuk mata kuliah ini."
Damian yang kehilangan kesabaran dalam menghadapi Evelyn, akhirnya meminta gadis itu keluar dari kelas dengan sebuah ancaman.
Tapi bukannya merasa gentar, Evelyn malah semakin gencar menggoda Damian. Karena dia juga memegang kelemahan sang dosen, yaitu ciuman penuh hasrat semalam di klub.
Gadis itu berjinjit agar menyamakan tingginya dengan Damian, dia lalu berbisik tepat di telinga sang dosen. "Bapak tidak akan berani melakukan itu."
Hembusan napas Evelyn yang mengenai tengkuk Damian, ternyata menggelitik naluri kelelakiannya. Dengan sekuat tenaga, dia berusaha melawan hasrat yang muncul di waktu dan tempat yang salah.
Jantung Damian tak lama berpacu cepat, seiring dengan pipinya yang tiba-tiba memerah.
'Sial! Gadis ini benar-benar menguji kesabaranku.' Maki Damian di dalam hatinya.
Evelyn yang melihatnya tentu saja menyunggingkan senyum kepuasan, karena berhasil menggoda sang dosen.
Tapi sayang, Evelyn melupakan satu hal. Damian adalah pria dewasa yang matang secara fisik dan emosional. Jadi meski sempat terbuai akan godaan yang diberikan oleh Evelyn, dengan cepat Damian dapat meredam gairahnya.
Pria berusia 35 tahun itu kembali melayangkan tatapan tajam yang membuat bulu kuduk Evelyn meremang, saat itu jugalah gadis itu tahu jika waktu bercanda dengan Damian sudah usai.
"Baik, Pak. Saya akan keluar sekarang," ucap Evelyn dengan langkah terburu-buru.
Sementara Damian hanya menatap punggung Evelyn dengan ekspresi datar.
"Untung saja aku dapat mengendalikan diri." Monolog Damian di dalam hatinya.
Namun tak lama kemudian, ingatan mengenai ciuman semalam berkelebat di dalam benaknya, membuat Damian mengembuskan napas kasar.
Dering ponselnya menarik Damian dari lamunan, dia mengusap kasar wajahnya dan mengambil benda itu dari saku vest-nya.
Layar ponsel menampilkan nama Alyssa, dia mengerutkan dahi sebentar sebelum menerima panggilan itu.
"Mas Damian lagi di mana?" suara wanita manja terdengar dari balik sambungan telepon.
"Di kampus, aku baru saja selesai mengajar," jawab Damian singkat.
"Mas Damian serius mau jadi dosen. Memang penghasilan Mas masih kurang sampai mencari sampingan?" ucap Alyssa dengan nada meremehkan.
Damian mengembuskan napas panjang sebelum menimpali ucapan Alyssa.
"Alyssa. Aku jadi dosen bukan karena butuh uang. Mbak Resta sendiri yang memintaku menggantikan beliau."
"Tapi—"
"Tidak ada tapi tapian, sekarang aku akan tutup teleponnya," potong Damian yang lalu mengakhiri panggilan.
Dia bergegas membereskan mejanya, perutnya mulai terasa lapar karena melewatkan sarapan.
Dengan langkah mantap, Damian menyusuri lorong kampus, sekaligus mengamati detail setiap sudut dan memasukkannya ke dalam memori.
Namun tepat saat dia akan menuju kantin, sebuah suara yang familiar terdengar oleh Damian. Pria itu menoleh dan melihat Evelyn yang sedang berhadapan dengan seorang pemuda dan seorang gadis, dan dari raut wajahnya dia yakin jika gadis itu sedang marah besar.
Tadinya Damian tak ingin ikut campur dan berniat meneruskan langkahnya, tapi sang gadis melontarkan perkataan yang cukup provokatif.
"Eve. Kamu nggak mau ngaku kalau selingkuh di belakang Roby? Benar-benar kamu mirip ibumu yang jalang i—"
Sebuah tamparan menghentikan ucapan Conny yang belum selesai, tamparan yang membuat suasana di sekitar mereka bertiga menjadi hening.
Mahasiswa yang mulai berkerumun tak ada yang berani membuka suara, mereka merasa ngeri dengan ekspresi murka yang diperlihatkan oleh Evelyn.
Sementara Damian yang masih mengamati keadaan, tanpa sadar menyunggingkan senyum tipis, meski hanya sepersekian detik sebelum kembali memasang wajah datar.
"Jaga mulutmu, Conny!" bentak Evelyn yang kini berhadapan wajah dengan sang sepupu.
"Mamaku bukan wanita jalang, dan kamu tahu itu. Setelah kebaikan Mama selama ini sama kamu ... tega sekali kamu mengatakan Mamaku adalah wanita jalang," ucap Evelyn dengan jari teracung.
Conny memegang pipinya yang memanas karena tamparan Evelyn, raut wajahnya menunjukkan rasa malu dan amarah yang bercampur menjadi satu.
Tangan Conny melayang untuk menampar balik, tapi dengan cepat dicengkram oleh Evelyn.
"Kamu mau menamparku balik? Itu tidak akan pernah terjadi, Conny," ucap Evelyn dengan nada dingin.
"Auuuu! Sakit! Cepat lepasin atau aku akan mengadu sama Opa!" pekik Conny yang berusaha melepas cengkeraman Evelyn.
"Adukan saja. Aku nggak peduli lagi," sahut Evelyn yang semakin mengeratkan cengkramannya.
Roby yang melihat Conny terdesak segera menepis tangan Evelyn, lalu mendorong kuat tubuh gadis itu.
Mendapatkan serangan secara tiba-tiba, membuat keseimbangan Evelyn goyah dan terhuyung ke belakang.
Andai saja Damian terlambat sedikit saja, sudah pasti b****g Evelyn akan menghantam kerasnya lantai.
"Ada keributan apa ini?" tanya Damian dengan nada datar.
Evelyn terkesiap saat merasakan sepasang lengan kokoh menahan pinggangnya dari belakang. Aroma parfum maskulin yang familiar langsung menyeruak masuk ke indra penciumannya.
Dia mendongak dan mendapati rahang tegas Damian berada tepat di atas kepalanya.
"Pak Damian ...," gumam Evelyn lirih.
Jantung Evelyn yang tadi berdegup karena amarah, kini kembali berpacu karena alasan lain.
Damian tidak melepaskan tangannya begitu saja. Dia justru membantu Evelyn berdiri tegak sebelum akhirnya melipat tangan di depan d**a.
Tatapan Damian yang sedingin es kini tertuju pada Roby yang masih berdiri dengan tangan mengepal.
"Kamu," suara Damian rendah namun penuh penekanan, "Sejak kapan memukul atau mendorong wanita menjadi kurikulum di kampus ini?"
Roby yang belum mengenal mengenal Damian sebagai dosen, langsung melayangkan tatapan remeh kepada pria itu. "Siapa kamu? Lebih baik nggak usah ikut campur, deh."
Dia lalu menatap Evelyn dan mengulas senyum mengejek. "Eve, apa ini pria selingkuhanmu? Seleramu pria tua, ya, sekarang."
Perkataan Roby tak pelak membuat Evelyn dan beberapa mahasiswa yang mengetahui status Damian melebarkan mata. Mereka merutuki sikap kurang ajar Roby yang tidak pada tempatnya.
Damian yang mendengar ejekan itu hanya terdiam, yang perlu dia lakukan adalah mencari tahu data mahasiswa angkuh yang ada dihadapannya, dan memberikan nilai E pada penilaian akhir nanti.
Namun, sikap diam Damian dianggap sebagai tindakan takut oleh Roby. Pemuda itu kembali melanjutkan perkataannya setelah mengamati Damian beberapa saat lamanya.
"Eve. Melihat dari barang-barang yang dipakai pria ini, aku yakin kamu memilih dia karena uang."
Evelyn hampir saja tertawa terbahak-bahak mendengar tuduhan konyol Roby, namun rasa sesak di dadanya karena fitnah tersebut jauh lebih mendominasi. Dia melirik Damian, pria yang disebut 'tua' itu justru terlihat sangat tenang, ketenangan yang justru sangat mematikan.
"Uang?" Evelyn akhirnya bersuara, nada bicaranya penuh dengan sarkasme. "Roby, sepertinya otakmu sudah pindah ke dengkul karena terlalu banyak menghabiskan waktu bersama Conny."
Roby mendengus, dia menunjuk Damian dengan dagunya. "Lihat saja penampilannya, Eve. Setelan kemeja yang rapi, jam tangan mewah ... kamu pikir aku bodoh? Kamu cuma mau hidup enak tanpa harus kerja keras, makanya kamu rela jadi simpanan om-om ini, 'kan?"
Conny yang tadi memegangi pipinya kini ikut memanasi suasana.
"Pantas saja kamu berani membantah Opa belakangan ini, Eve. Ternyata karena sudah ada 'sugar daddy' yang menjamin hidupmu. Murahan sekali persis ibunya."
Evelyn kembali meradang saat sang ibu kembali dihina oleh orang yang dia anggap 'saudara'. Dan saat akan kembali menampar Conny, tangan Damian menahannya.
"Jangan menambah kesalahanmu karena melakukan kekerasan, apalagi ini daerah kampus yang CCTV-nya ada di mana-mana."
Setelah membisikan kalimat itu, Damian melangkah selangkah ke depan. Dia tidak tampak marah sedikit pun, justru ada kilatan geli di matanya yang dingin.
"Pria tua? Sugar daddy?"
Damian mengulang kata-kata itu dengan nada datar. Mahasiswa yang tadinya berbisik-bisik mendadak bungkam, langkah kaki mereka seakan tertahan di lantai keramik yang dingin.
Namun, itu tak berlangsung lama saat satu persatu kerumunan mulai meninggalkan koridor, karena tak mau ikut terseret masalah.
"Menarik sekali melihat bagaimana imajinasi mahasiswa zaman sekarang bekerja ketika mereka sedang terdesak."
Damian kemudian mengeluarkan sebuah kartu identitas dari saku kemejanya. Bukan KTP, melainkan kartu identitas yang menerangkan statusnya sebagai dosen di kampus ini. Dia lalu menunjukkannya tepat di depan wajah Roby yang langsung memucat.
Evelyn yang melihat itu, akhirnya tak dapat lagi menahan tawanya, membuat perhatian ketiga orang itu tertuju pada dirinya.