"Damn!"
Evelyn reflek mengumpat saat melihat siapa yang berdiri di depan kelas.
Seorang pria dengan kemeja abu-abu gelap lengan panjang, memakai vest hitam sebagai luarannya. Rambut pria itu tertata rapi, ditambah kacamata berbingkai tipis bertengger di hidung mancungnya, memberikan kesan intelektual sekaligus mengintimidasi.
Dosen baru yang ternyata Damian, pria yang dia cium semalam di klub. Entah keberuntungan atau kesialan, Evelyn tak tahu harus bersikap seperti apa.
"Itu dosen baru kita?" tanya Evelyn tanpa sadar.
"Iya, Eve. Dan dia lihatin kamu terus dari tadi," bisik sang teman sembari menyikut siku gadis itu.
Evelyn meneguk saliva dengan susah payah saat menyadari pandangan Damian terus tertuju pada dirinya. Dia lalu berusaha sekuat tenaga untuk tidak mengalihkan pandangan. Karena Evelyn tahu, sekali saja dia menunduk, itu sama saja dengan mengakui kesalahannya.
Namun, tatapan Damian di depan sana tidak selayaknya tatapan dosen pada umumnya. Ada kilatan sinis yang membuat bulu kuduk Evelyn meremang.
"Selamat pagi semuanya," suara Damian menginterupsi keheningan kelas.
Suara bariton pria itu yang berat terdengar familiar di telinga Evely. Suara yang sama yang dia dengar di klub tadi malam.
Damian akhirnya memutuskan kontak mata dengan Evelyn dan meletakkan tas kulitnya di meja. Dia kemudian menuliskan namanya di papan tulis dengan gerakan yang sangat tenang.
"Perkenalkan nama saya Damian Yakobus. Dan selama sisa satu semester ini, saya yang akan bertanggung jawab atas mata kuliah Advertising yang sebelumnya diampu oleh Ibu Resta."
Suasana kelas masih hening, sebab tidak ada yang berani menyela ataupun membuat keributan. Keheningan yang membuat Evelyn semakin tercekat di tempat duduknya.
"Saya akan menjelaskan beberapa peraturan yang berlaku di kelas saya," ucap Damian yang sengaja menatap Evelyn sehingga kedua mata mereka bertemu.
"Yang pertama, saya tidak suka keterlambatan. Batas toleransi dari saya adalah 10 menit, jadi jika ada di antara kalian yang terlambat lebih dari itu, maka akan saya anggap alpa."
Terdengar bunyi bising dari sebagian mahasiswa yang tidak setuju dengan peraturan pertama itu, tapi Damian tidak terpengaruh. Dia memukul kuat meja dosen dengan penggaris besi, sehingga kembali menciptakan keheningan di dalam kelas.
"Yang kedua, saya tidak suka kebisingan yang tidak perlu. Jika ada yang dengan sengaja membuat keributan, silahkan keluar dari kelas dan saya akan memberi keterangan alpa pada absen mahasiswa tersebut."
"Dan yang ketiga mengenai tugas, tidak ada toleransi keterlambatan. Kerjakan lalu kumpulkan sesuai dengan tenggat waktu yang saya berikan."
Evelyn meremas ujung kaus di bawah meja hingga buku-buku jarinya memutih. Setiap kata yang keluar dari bibir Damian terasa seperti sindiran halus yang tertuju padanya.
Ketegasan Damian di depan kelas sangat kontras dengan sosok pria yang tadi malam membiarkan Evelyn menciumnya di suasana klub malam yang hingar bingar.
Damian kemudian berdeham, merapikan letak kacamata sebelum melanjutkan ucapannya. "Dan peraturan terakhir ...."
Damian sengaja menggantung kalimatnya dan berjalan perlahan ke arah barisan tempat Evelyn duduk. Langkah sepatu pria itu yang beradu dengan lantai kelas menciptakan irama yang mencekam.
Dia berhenti tepat di samping meja Evelyn, membuat aroma parfum woody maskulin miliknya menyeruak masuk ke indra penciuman gadis itu. Tanpa sadar Evelyn menahan napas, sebab aroma itu malah membuatnya mabuk kepayang seperti semalam.
"Saya tidak suka jika ada mahasiswa yang tidak fokus. Saat saya sedang berbicara, saya ingin mata kalian hanya tertuju pada saya. Bukan pada yang lainnya. Apa kalian mengerti?"
Damian berkata dengan nada yang luar biasa tenang, namun matanya melirik tajam ke arah Evelyn yang kini menunduk malu sebab membayangkan yang tidak-tidak.
Teman di sebelah Evelyn, lantas berbisik ngeri, "Eve, kayaknya Pak Damian tahu kalau kamu nggak fokus. Coba nengok deh, dia berhenti di sampingmu."
Evelyn akhirnya memberanikan diri mendongak dan langsung disambut oleh seringai tipis yang hampir tak terlihat di wajah Damian. Sebuah seringai yang hanya bertahan sepersekian detik sebelum pria itu kembali ke ekspresi datar yang profesional.
"Apa ada pertanyaan? Atau kalian semua sudah mengerti apa yang saya katakan barusan?" tanya Damian sambil kembali berjalan ke depan kelas.
Hening kembali tercipta selama beberapa menit sebelum akhirnya Darren kembali berbicara. "Karena kalian diam saja, saya anggap kalian sudah mengerti apa yang saya katakan."
Setelah itu perkuliahan dimulai dengan suasana tegang karena Damian memberikan kuis mendadak.
Evelyn yang biasanya dapat berpikir jernih, kini hanya memandang nanar kertas polio yang ada di hadapannya. Seakan-akan kertas itu adalah proyektor yang menampilkan kejadian semalam.
"Masa bodoh. Asal tulis aja, deh," ucap Evelyn dengan nada frustrasi.
Mata kuliah berakhir bertepatan dengan selesainya Evelyn mengerjakan kuis, dia mengembuskan napas lalu terburu-buru membereskan barang yang berserakan di meja.
Fokusnya hanya satu, yaitu menghindari Damian, kalau perlu dia akan berpura-pura tak mengenal pria itu.
Namun sayang harapan Evelyn tak terwujud, karena saat dia hendak meletakkan kertasnya di tumpukan paling atas, tangan Damian bergerak cepat menahan pergelangan tangannya.
Sentuhan itu singkat dan dingin, tapi terasa seperti sengatan listrik bagi Evelyn. Tanpa sadar gadis itu berjengit.
"Saya ingin bicara dengan kamu, jadi jangan keluar dari kelas dulu," ucap Damian datar tanpa melihat wajah Evelyn, seolah sedang bicara pada tumpukan kertas.
Teman-teman Evelyn yang masih di kelas mulai berbisik-bisik, melirik gadis itu dengan tatapan iba, mengira Damian akan memberikan ceramah karena Evelyn sempat melamun di awal perkuliahan.
"Baik, Pak," ucap Evelyn yang hanya berdiri mematung.
Evelyn berulang kali menarik napas setelah di dalam kelas hanya menyisakan dirinya dan Darren, dia merasa canggung sekaligus malu pada pria yang kini menatapnya tanpa ekspresi.
"Jadi." Damian memulai percakapan, dia melepas kacamata dan menyangkutkannya di saku vest. "Namamu Evelyn, bukan? Nama yang cantik untuk seseorang yang punya nyali sebesar itu di klub."
"Pak Damian, saya ... saya minta maaf soal semalam. Saya tidak tahu kalau Bapak adalah—"
"Seorang dosen?"
Damian memotong ucapan Evelyn sambil berdiri dari duduknya, memangkas jarak di antara mereka hingga gadis itu merasakan hembusan napas Damian yang mengenai wajahnya.
Namun ternyata hembusan napas itu membangkitkan sisi liar Evelyn, apalagi semalam dia sudah merasakan bibir Damian yang lembut.
"Kalau kamu tahu saya ini dosen, apa kamu tidak akan melakukannya? Atau justru kamu akan melakukannya dengan lebih ... bersemangat?"
Evelyn tersadar dari lamunan kotornya saat Damian kembali berbicara, dia menelan saliva dengan susah payah, wajahnya terasa panas.
"Kemarin itu tidak disengaja. Saya melakukannya agar pria pemabuk itu tidak mengganggu saya lagi, Pak," ucap Evelyn memberi alasan.
Damian terkekeh rendah, suara baritonnya bergema di ruangan yang sunyi itu. Dia mencondongkan tubuhnya, menatap lurus ke bibir Evelyn yang tadi malam merasakan ciumannya.
"Bagaimana bisa kamu menyebut sebuah ciuman yang penuh gairah adalah sebuah ketidaksengajaan, padahal kamu terlihat menikmatinya. Dan sejujurnya tadi malam kamu terlihat seperti wanita binal."
Mata Evelyn melebar saat mendengar sindiran Damian, tak menyangka jika sang dosen memiliki mulut yang cukup tajam.
Sedetik kemudian jiwa pemberontak Evelyn bangkit, dia ingin membuktikan seberapa binal dirinya di depan Damian yang kini menampilkan raut wajah arogan, sekaligus mewujudkan rencananya untuk membalas dendam kepada Roby dan Conny yang sempat pupus.
Evelyn kini balik menatap Damian dengan seringai jahil. Seringai yang menimbulkan kewaspadaan pada pria itu.
"Jadi menurut Bapak semalam saya binal? Bagaimana kalau kita ulangi adegan kemarin dengan cara yang lebih lembut?"
Kini giliran Damian yang melebarkan mata, dia memandang Evelyn dengan tatapan tak percaya.
"Evelyn! Mau apa kamu? Jangan macam-macam atau saya tidak akan meluluskan kamu dalam mata kuliah ini."
Ancam Damian yang hanya ditanggapi tawa kecil oleh Evelyn.
"Bapak lucu, deh. 'Kan Bapak duluan yang mengatakan saya binal semalam, jadi saya ingin membuktikan sebinal apa saya saat ini? Siapa tahu ciuman saya yang sekarang lebih b*******h loh, Pak."
Kini giliran Damian yang melebarkan mata, tak menyangka dengan reaksi yang diperlihatkan oleh Evelyn.
'Gadis ini benar-benar sudah gila,' gerutu Damian di dalam hati.