6. Di balik Nama

1492 Kata
Sesampainya di dapur, sang Gadis cukup kebingungan dengan bahan makanan yang ada di sana. Hanya ada kubis dan bayam yang sudah mulai layu. Setelah terdiam cukup lama, kembali ia memeriksa dapur dan segala yang ada di ruangan itu, ia menemukan beras dan hanya tinggal satu kilo saja dan beberapa butir telur, juga mie instan. Mengehela napas, ia lalu memutar otak. Memasak bubur nasi untuk Tara, lalu menyuruh sopirnya untuk membelikan beberapa bahan makanan. Ia ingin membuatkan sup udang untuk lelaki yang masih terbaring di ranjang tersebut. Ternyata, tak sampai dua puluh menit, sang Sopir mengetuk pintu dan datang dengan membawa pesanannya. Keberuntungan masih memihak Meisha karena tadi ia tak menyuruh sang Sopir untuk pulang saja. Ya, Meisha pun beraksi. Setelah beberapa saat, ia pun berjalan ke arah ranjang Tara dengan membawa napan yang harum masakannya mengungah selera orang yang sedang sakit. Menaruh napan di meja nakas, Meisha pun membangungkan Tara dan mendudukkan lelaki itu di sandaran ranjang dengan bantal di punggungnya. Lengan lembut Meisha memeriksa sebentar suhu Tara, panasnya masih berasa dan ia pun bersegera untuk menyuapi bubur dengan sup udang sebagai lauknya. Meski lidah Tara tidak bisa merasakan lelantnya karena perngaruh sakit yang diderita hingga ia agak meresa mati rasa di pengecap, tetapi wangi masakan Meisha saja sudah cukup untuk dapat membangkitkan nafsu makan. Ditambah lagi perhatian gadis itu yang tiada habisnya sedari tadi, membuat ia menjadi bersemangat. Tara memakan hidangan istimewanya dengan lahap karena ia memang kelaparan, dari pagi sampai siang tak ada satu makanan atau minuman pun yang masuk ke dalam mulut dan melewati kerongkongannya. Setelah hidangan istimewa itu habis, Meisha memberikan obat yang ada di rumah Tara dan menyuruh lelaki itu untuk meminumnya. Bibir Tara dan Meisha sama-sama tersenyum, setelahnya ia melihat deru napas lelaki itu yang teratur, maka ia pun melihat kamar yang berantakan ini dan membersihkannya secara bergantian dari kamar, dapur, hingga kamar mandi. “Beres.” Meisha merenggangkan tubuhnya yang lelah, satu jam lebih ia membersihkan kamar Tara. Pandangannya pun menangkap lukisan yang tadi telah ia susun di bagian sudut ruangan, tatapan matanya intens mengamati benda persegi itu, di sana Meisha mendapati lukisan-lukisan yang catnya terlah rusak seperti terkena siraman air. Lalu, ia menatap kepada lukisan dan peralatan melukis yang berada di sebelah sudut lainnya, di sana Meisha melihat kanvas yang isinya masih belum terselesaikan dengan sempurna. Kanvas yang tadi sempat membuatnya terhenyak karena tidak menyangka, dan sekarang Meisha menyentuh benda yang belum sempurna itu dan meraba bentuk yang tergambar di dalam sana. Wajahnya, Meisha dapat melihat wajahnya yang terlukis di sana, wajah yang terdiam dan terlihat anggun. Ia tersenyum dan bertanya-tanya, apakah yang melukis hal ini adalah lelaki yang masih membuana itu? Jadi, apakah di balik nama Mr. Suu adalah nama Tara? Meisha terdiam, ia berpikir bahwa tidak mungkin Tara yang tunanetra bisa melukis, ini mustahil.  Sulit untuk memercayai hal ini, tetapi hati kecil Meisha juga merasakan kalau Mr. Suu itu adalah Tara. Tidak mungkin jika Mr. Suu datang ke sini hanya untuk melukis atau apa Tara tinggal bersama lelaki yang namanya selalu tertulis di ujung lukisan? Itu lebih tidak mungkin. Untuk lebih menyakinkan lagi, Meisha mencoba mencari tahu apa benar Tara tinggal sendiri atau berdua. Kalau dilihat dari ruangan yang berantakan saat ia masuk, seharusnya sudah jelas kalau sang lelaki tinggal sendiri. Namun, untuk lebih jelasnya, ia bisa menanyakan hal ini kepada Tara saat lelaki itu sudah lebih baik nantinya. Teringat sesuatu di kamar mandi, Meisha pun memeriksanya. Kalau tidak salah, ia tadi melihat jemuran pakaian yang seperti dibuat Tara seadanya untuk menjemur cucian bajunya, tadi ia lupa kalau menaruh pakaian kering Tara di ember. Gadis itu lalu membawa seember pakaian kering Tara untuk dilipatnya. Sekitar lima belas menit melipat pakaian dan sekarang hanya tinggal sebuah celana lee saja. Dengan agak kesusuahan, Meisha membalikkan celana dan mendapati sakunya berisikan sesuatu, ketika dikeluarkan ternyata itu adalah uang. Kerutan di alisnya pun tercetak, dan Meisha kebingungan ingin menaruh uang itu di mana. Karena sekalian ingin meletakkan pakaian di dalam lemari, maka Meisha berinisiatif untuk menaruh uang Tara di laci yang ada di dalam lemari pakaian lelaki itu. Begitu dibukanya, Meisha menemukan sebuah kotak sepanjang satu jengkal yang kemungkinan sang lelaki gunakan untuk menyimpan uang. Begitu penutup kotak cokelat itu ia lepaskan, isinya ternyata hanya sobekan kertas tak jelas yang entah kenapa disimpan Tara. Meisha penasaran dan bertanya-tanya dalam hati. Gadis itu mengambil kotak dan menaruh uang Tara di dalam laci, setelahnya ia duduk dan meletakkan benda kecokelatan tersebut di meja berkaki rendah yang ada di kamar. “Hmm, kenapa ini disimpan?” Jari Meisha mengambil sobekan kecil seukuran kuku ibu jarinya, dan ia masih tak mengerti. Kemudian, diletakkannya lagi sepotong kertas itu di dalam kotak. Masih dengan penasaran, Meisha pun mengambil sobekan yang lebih besar dan mendapati adanya tulisan yang membuatnya terperangah. “Mr. Suu. I-ini?” Ia lalu menaburkan sekotak robekan kertas itu di meja dan menyusunnya seperti teka-teki, baru tersusuh seperempatnya saja, Meisha sudah menyadari sesuatu. Ini memanglah surat darinya. Lalu, kenapa suratnya berbentuk seperti ini dan disimpan Tara? Setelah berpikir dan bergelut dengan asumsi-asumsinya, Meisha menarik beberapa kesimpulan. “Jadi, Tara memang Mr. Suu.” Ia berpikir lagi, sampai mengerutkan alisanya.  “Terus, yang menyobek kertas ini adalah Tara karena dia gak bisa melihat? Kesal dan merobek kertas, kemudian merasa bersalah dan akhrinya menyimpannya? Begitukah?” “Kamu salah, Meisha.” Wajah Meisha langsung menatap Tara yang sudah terduduk di ranjang dengan arah menghadap dirinya. “Asumsi yang kedua, kau salah.” Meisha semakin terpaku. Tara benar-benar Mr. Suu. Meisha berucap di dalam batin. * Mereka masih berdiam diri dan sesekali Meisha menatap iris emerald yang terlihat kosong dan wajah Tara yang sudah tidak sepucat tadi, lelaki itu terduduk di kasurnya, sementara Meisha mulai berpindah tempat untuk bisa mendekati sang pria dan meminta penjelasan darinya. Bukan hanya karena alasan itu, tetapi juga karena sang gadis berambut merah muda ingin memeriksa kembali kondisi sang Tara sekarang. Melihat dari dekat, Meisha menyadari kalau lelaki di sebelahnya benar-benar banjir keringat. Wajahnya juga tidak sepucat saat pertama kali berjumpa, sudah lebih baik dan saat telapak tangannya menyentuh dahi berponi itu, Meisha merasakan kelegaan karena sekarang temannya sudah mulai pulih, panasnya menurun dan kemungkinan akan sembuh esok harinya. “Syukurlah, demammu sudah turun, Tara.” Meisha tersenyum dan membersihkan bulir-bulir keringat yang menetesi pelipis lelaki itu. “Ya, terima kasih.” Uap panas keluar dari celah bibir tipis Tara, lelaki itu memejamkan mata dan merasakan dengan saksama sentuhan-sentuhan yang diberikan Meisha melalu tangannya yang tengah membersihkan peluh. Setelahnya ia membuka mata, walau yang terlihat hanyalah kegelapan saja. “Em, jadi... kau ini memang Mr. Suu?” tanya Meisha dengan untaian kata yang suaranya terdengar ragu-ragu, gadis itu pun menatap wajah Tara yang sekarang tengah tersenyum tipis. Ada jeda yang terjadi, tetapi tak beberapa saat kemudian Tara pun bersuara dan menjawab pertanyaan dari Meisha. “Menurutmu?” Alis mata tersebut langsung menekuk dan bibir indahnya mengerucut sampai kelihatan imut, walau kamar ini hanya diterangi cahaya mentari yang masuk melalui jendela, tapi Meisha dapat mengetahui kalau lelaki di depannya ini sedang menguji kesabarannya, Tara menyeringai dan ia sadar kalau tengah dikerjai. Hanya tiupan angin yang menjadi pengiring alunan suara Tara saat lelaki itu kembali bergumam dengan ambigu, wajah yang tadinya menekuk, sekarang terlihat menatap semakin tajam. Dengan jawaban yang tak jelas begitu, mana bisa Meisha memahami apa makna dalam gumaman yang tak dimengertinya tersebut. Ia merasa gemas sendiri, kenapa ada makhluk seperti Tara ini, yang benar-benar bisa menguji kesabarannya. Lengannya bahkan ingin bergerak untuk menjepitkan jari pada kulit lelaki yang duduk berhadapan dengannya, ia ingin mencubitnya kalau tak mengingat bahwa sang teman tengah dalam kondisi yang tidak sehat. “Jawab dengan ungkaian kata, Tara!” di akhir kalimat, Meisha bahkan menekankan suara. Tara menggerakkan tangannya dan memijat belakang lehernya, ia kelihatan tersenyum dan sesekali tertawa kecil karena mengingat suara teman barunya yang mengerang jengah. “Iya, lalu kenapa? Kau ingin mengidolakanku dan memekik senang?” Mata lanmrud itu terbelalak, bibirnya terperangah dan membentuk bulatan kecil. Ternyata benar apa yang dipikirkannya, bahwa Tara adalah Mr. Suu. “Huaaaaa... kau benaran? Benaran Mr. Suu? Huaaa!” Kedua telapak tangan Meisha kini bergerak dan langsung menggenggam tangan kanan Tara, ia masih memekik senang karena akhirnya mengetahui siapa sebenarnya seorang pelukis yang diidolakannya. “Astaga, luar biasa Tara. Kau hebat! Ternyata memang kau sang pelukis bernama Sweet Suu.” Alis mata Tara tiba-tiba saja naik satu karena mendengar namanya dipanggil dengan tersebut, telinganya sama sekali tak salah dengar, kan? Sementara itu, Meisha masih saja sibuk dengan keterpukauannya terhadap lelaki bermata beda warna ini, sang gadis yang kini tertawa gembira sambil mengoyang-goyangkan tangan Tara dalam genggaman kedua tangannya, terus saja memuji sang lelaki idola. Namun, tiba-tiba saja suara tawa Meisha terhenti, gadis itu terdiam dan membuat Tara bingung karenanya. “Eh, tapi... bagaimana caranya kau melukis? Anu, maksudku... Tara kan, itu bukannya aku tidak percaya, tapi kau... kau kan memiliki keterbatasan aktivitas, sehingga... tidak—“ “Ya, aku cacat. Kenapa kau susah sekali menyebutkannya, Meisha? Santai saja.” Tara tertawa kecil, tawa halus dengan suara khasnya. “Maaf,” bisik itu ternyata didengar oleh Tara, tentu saja dengan ketidak punyaan terhadap indra penglihatan, membuat ia menjadi lebih peka terhadap indra yang lainnya, termasuk pendengaran. Maka dari itu, walau hanya bisikan, dirinya tentu bisa dengan jelas mendengarnya.             Tersenyum tipis, ia melihat ketulusan Meisha dengan menjadi temannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN