Gelisah telah dirasakan Tara, lelaki itu duduk dan merasakan udara mulai menurun, gemuruh langit terdengar dan secepat mungkin ia menyusun lukisan unutk dimasukkan ke dalam tas. Jika sampai hujan turun sekarang, maka semua lukisannya akan rusak.Embusan angin dingin menandakan lembapnya udara karena hujan, tak menyurutkan Tara untuk tetap bertahan di wilayah berjualannya. Lukisan-lukisan itu ia simpan di dalam tas besar yang ia punya dan diletakkan di salah satu teras toko pernak-pernik, di sanalah ia berteduh dengan sebagian tubuh yang kuyub. Suasana kian menyepi karena derasnya tangisan langit yang mengguyur di jalan Nipah, hingga barang dagangannya tak satu pun terjual, meski begitu Tara sama sekali tidak menyalahkan alam.
Bukan hanya hujan, semenjak surat pemberian Meisha yang tak pernah ada jawaban, gadis ceria yang biasanya datang kini tak terdengar suaranya. Sudah seminggu dan Tara memaklumi hal itu, tidak seperti dirinya, sang Bunga pastilah seorang yang sibuk dengan pekerjaannya atau mungkin teman wanitanya itu tengah marah karena kekeras kepalaan Tara.
Udara hangat dari kedua belah bibir keluar, ia mendecak karena merutuki kebodohannya. Bukan karena tidak ingin menjawab, tetapi dialah yang tidak bisa menjawabnya. Tulisan di dalam surat pemberian Meisha saja tak dimengerti, dan lagi Tara juga mungkin telah kehilangan benda itu hampir seminggu yang lalu.
Menanyakan isi tulisan dalam selembar kertas berhias bunga mawar kepada orang yang tidak tepat, membuatnya dipermalukan di gedung kosnya dengan cara amplop yang dirobek habis di depan wajahnya. Walau ia mengutip sisa-sisa sobekan kecil itu, tetapi Tara benar-benar tidak yakin kalau ada yang mau membacakan isi dari potongan yang dianggap sampah bagi orang banyak. Akhirnya, Tara hanya menyimpan kertas yang sudah tak berbentuk di kotak, dan ia taruh ke dalam laci lemari.
Ia, benar-benar merutuki diri.
Kelopaknya berkedip, bertanda kalau Tara tersadar dari lamunan. Dari suara rinai hujan yang begitu jelas ketika menghantam atap, ia mengerti bahwa hujan semakin deras saja. Beberapa orang berbondong-bondong keluar dari toko, kemudian bunyi pintu toko yang ditutup membuat Tara sadar bahwa hari sudah semakin gelap, ketika berdiri, kesemutan pun langsung menerjang.
Menunggu berhentinya hujan adalah hal yang dilakukan pria yang kini berjongkok di teras, sementara dinginnya malam semakin mengingit. Jika pulang, meski ia melapisi tas lukisannya dengan plastik yang ia buat mirip jas hujan, tetapi dengan hujan sederas ini, maka itu akan percuma. Tetesan air pasti akan membasahi dan merusak lukisannya, dan ia akan rugi jika hal itu terjadi.
Dengan memakai jas hujan, Tara mengambil tongkatnya dan mencoba mencari seseorang yang ada di sekitar sini, ia ingin memintai tolong untuk memanggilkannya taksi.
Tara berdiri di terotoar jalan, tetapi tak mendengar suara orang lain di sekitarnya, dan yang ada hanya suara deras hujan juga laju kendaraan yang berlalu-lalang.
“Taksi! Taksi!” teriakan Tara tak menghentikan laju kendaraan yang berlomba-lomba ingin sampai ke berbagai tujuan. Sementara itu, wajah Tara telah basah karena air dan angin yang berembus cukup kuat.
Beberapa kali ia meneriaki lagi, tetapi pendengarannya tak menangkap adanya kendaraan yang berhenti. Tidak ada satu pun, ia lalu kembali dan mengambil jam tangan yang ada di saku. Benda itu menunjukkan pukul delapan lewat, dan di tengah keterpaksaan ia pun akhirnya berjalan dengan iringan hujan yang terus menumbukki bumi tampa henti.
Tara bahkan mengikat jas hujannya di area gantungan tas yang tak terlalu tertutup plastik penghambat air hujan. Biarlah ia yang kuyub, asal jangan lukisannya ini yang tertetesi air dan rusak.
Tidak bisa berjalan cepat, Tara mungkin dianggap gila bagi sebagian orang yang melihat, dan tidak ada yang mau menolong orang sepertinya, apalagi harus berbasah-basahan di malam yang dingin seperti ini.
Sampainya di kamar kos, Tara langsung meletakkan tas gendong lukisannya di sandaran dinding, ia lalu menarik lengan bajunya dengan gigi sampai ke atas siku, kemudian membukan jas hujan yang diikatnya di celah tali tas yang tak tersentuh plastik. Dengan cepat pula tangannya membuka plastik yang membungkus tas cokelat gelap itu. Decakan bibirnya terdengar ketika telapak tangannya yang pucat dan dingin karena hujan menyentuh bagian atas yang basah, dibukalah tas itu dan Tara lantas mengeluarkan lukisan satu perasatu, lalu merabanya.
Lukisan terakhir yang ia buka juga sama dengan sebelumnya, basah.
“Ini tak akan bisa diperbaiki.” Hela napasnya menandakan dirinya telah putus asa, ia rugi banyak dan bukan sesuatu yang murah untuk membeli kebutuhan hidup ataupun peralatan melukis.
Tanpa mengganti apapun dari tubuhnya yang kuyub, Tara menjatuhkan dirinya di kasur dan menutup mata. Ia tidak ingin peduli apa pun untuk saat ini.
*
Walau kesal, akhirnya ia menurunkan egonya karena merasa tak enak hati kepada Tara. Satu minggu lebih tiga hari ia sama sekali tidak mengunjungi penjual lukisan itu dan kini dengan berat hati, akhirnya Meisha memutuskan sepulang dari rumah sakit ia akan melihat apakah sang Lelaki penjual benda berseni tersebut mau meluluhkan hatinya atau tidak.
Dari beberapa meter sebelum sampai di tempat biasa Tara berjualan, Meisha tengah keheranan karena tak menemukan sosok yang dicarinya, kosong tak ada lukisan yang biasanya menghiasi jalanan dekat taman dan berada di depan toko pernak-pernik. Celangak-celinguk, Meisha menatap toko yang berada di depan tempat itu, lalu ia menjumpai pelayannya yang berada di luar toko.
“Hai, Tami.”
“Ah, Meisha. Hai, lama tidak melihatmu.”
Meisha tertawa kecil, ia dan beberapa pelayan dan penjual berbagai pernak-pernik di area ini memang sudah saling kenal. Tentu saja karena sifatnya yang ramah.
“Ya, aku sedang banyak urusan, sepertinya Tara tidak berjaualan, hmm?”
“Begitulah, udah tiga hari. Aku juga bingung, kemungkinan Tara sakit atau ada urusan? Aku juga baru masuk kemarin, temanku yang jelasin.” Tami membelai-belai dagunya, kelihatan berpikir.
“Emm... anu, apa Tami tahu alamat rumahnya? Aku mau lihat kondisi Tara.”
Gelengan kepala menandakan Tami yang tak menahu tentang hal itu, tetapi kemudian gadis berambut ikal tersebut menyarankan agar Meisha menanyakan hal ini kepada bosnya, sebab bosnya dan Tara cukup akrab sepengetahuannya.
Gadis itu lantas melakukan apa yang disarankan Tami kepadanya, dan syukurlah Bos memberikan alamat rumah Tara yang berada tak jauh dari sini. Dengan mobil, Meisha pun mencari alamat tempat tinggal lelaki yang sedang berada di dalam pikirannya. Ketika sampai, ia ditunjukkan kepada seorang anak remaja di mana tempat Tara tinggal yang adalah sebuah gedung kos-kosan.
Masuk ke gedung bertingkat empat dan cukup luas, Meisha langsung bertanya kepada penjaganya dan tentu saja nomor kamar Tara ia dapatkan.
“Dua puluh tiga C, ah yang ini.”
Bunyi ketukan pintu terdengar, walau begitu Tara sama sekali tak bergerak dari ranjangnya. Kepalanya pusing dan berat, dan dengan usaha yang cukup gigih, akhirnya lelaki itu bisa duduk di kasurnya.
“Sebentar,” suara serak Tara sayup-sayup terdengar oleh Meisha dari luar ruangan.
Terseok-seok berjalan, dan terkadang berhenti karena rasa berdenyut di kepalanya, membuat Meisha semakin khawatir di luar sana karena cukup lama menunggu. Bunyi pintu pun akhrinya membuat Meisha bisa menatap Tara, sekarang tengah berdiri terkejut karena mendengar suara sang Gadis.
“Tara, kamu gak apa?” langsung kekhawatiran melandanya, melihat wajah lelaki yang lesu dan pucat dengan bibir kering juga berdarah sedikit, membuat Meisha semakin prihatin atas kondisi temannya.
“Apa yang—“
“Sebaiknya kita masuk dan kamu kuperiksa, Tara.” Meisha tergesa dan menarik tangan Tara yang panas karena demamnya.
Sesaat, Meisha terhenyak karena melihat kondisi kamar kos Tara yang tak beraturan. Lukisan berserakan dan bersandar di dinding kamar, bekas makan yang masih berada di meja dan sudah mengeluarkan bau menusuk, lantai yang tersisa sesuatu seperti darah yang mengering dan bekas pecahan gelas, juga ranjang Tara yang berantakan.
Lelaki itu tak acuh dan langsung mendudukkan dirinya di ranjang karena rasa pusing kembali menyerangnya, ia pun menidurkan diri dan menutup mata untuk beberapa saat. Sementara itu, pandangan mata Meisha menangkap peralatan melukis yang ada beberapa meter dari mereka di pinggir kanan kamar, walau ia penasaran, tetapi tujuannya saat ini adalah kondisi Tara.
Meisha meletakkan tangannya di dahi pria itu, suhu tubuhnya cukup tinggi, mungkin sekitar tiga puluh sembilan derajat. Ia juga memeriksa nadi di pergelangan tangan Tara.
“Aku gak apa, Meisha. Kemarin malam aku sudah enakan, tapi entah kenapa dari pagi tadi suhu tubuhku panas lagi. Tapi, aku sudah tidak apa-apa.”
“Tapi, sekarang kau masih demam, Tara. Oh, ya, sudah berapa lama? Apa kamu minum obat atau semacamnya?”
“Dua hari yang lalu, dan aku gak tahu apa obat itu masih bisa dipakai atau sudah lewat batasnya.”
Uap panas keluar dari mulut Meisha, gadis itu memaklumi, dan bergerak setelah menyuruh Tara untuk istirahat saja. Tidak memedulikan pertanyaan lelaki berambut gelap itu, ia langsung saja mengangkat mangkuk kotor yang sudah mengeluarkan bau ke tempat pencuci piring. Dirinya ingin memasakkan sesuatu, dan menyiapkan kompres untuk Tara setelah mengetahui lelaki itu tak menyimpan plaster penurun panas.
Suara langkah kaki membuat Tara sadar bahwa kini Meisha telah mendekatinya, gadis itu lalu menaruh sebuah sapu tangan yang bahannya seperti handuk di dahinya, setelah menyibakkan poni rambutnya dengan tangan lembut milik sang Bunga.
Bibir Tara yang kering dan sedikit ada bekas darah pun merasakan sesuatu, manis itu adalah madu. Meisha mengolesinya dengan jari gadis itu, lalu menyendokkan sesuap untuknya. Kakinya yang terluka pun, yang ia balut seadanya, perlahan-lahan dibuka Meisha dan diobati kembali, kemudian gadis itu juga memerban dengan lebih baik pastinya.
“Sebentar, aku masakkan sesuatu.”
Hanya gumaman saja yang ia berikan atas pernyataan Meisha, saat ini entah kenapa hatinya sedang menghangat. Tara tidak mengingat kapan terakhir kali ia mendapatkan perhatian sedemikian rupa dari seseorang. Sekarang, terlihatlah bengkokan kecil yang menghiasi bibirnya yang ada bekas darah.
“Terima kasih,” bisiknya tak terdengar Meisha.
.
.
.
Bersambung