4. Surat Hampa

1488 Kata
Hari-hari berikutnya pun mereka jalani dengan suasana yang sama, di mana kedua orang itu selalu berbagi banyak cerita, tak jarang Meisha yang terkadang melayani para pembeli dan berlagak bagai penjual yang ahli memainkan harga. Walau begitu, ia sama sekali tidak melupakan tujuan utama dari kunjungannya ini, selain ingin membeli lukisan dan mengobrol dengan sang penjual, tentu saja keinginan terpendam Meisha adalah mengorek informasi dari Tara mengenai Mr. Suu. Namun, sayangnya sampai tiga minggu sudah Meisha berteman, ia sama sekali belum bisa mengetahui apa pun dari Tara, lelaki itu benar-benar memegang janji untuk tidak membocorkan informasi kepada dirinya. Di suatu hari, bahkan Meisha pernah menarik kedua pipi Tara karena gemas melihat kekukuhan lelaki itu yang tak mau berbagi sedikit pun hal mengenai Mr. Suu. Seperti hari ini di minggu ke empat, Meisha bersikeras masih terus menanyakan hal yang sama dan berusaha membahasnya kembali. “Ayolah, Tara. Sedikit saja berikan secercah ciri-ciri dari Mr. Suu,” ucap sang gadis gemas, sampai nyaris mencubit kembali wajah datar tersebut. “Ya, dia adalah laki-laki pastinya.“ “Jangan main-main, kamu tak perlu kuberitahu kan kenapa aku memanggilnya Mr. Suu? Dari namanya saja sudah jelas itu adalah lelaki, Lanlan.” Rasanya Meisha sangat ingin mengingit bahu lelaki penjual lukisan ini karena jika ia memukul lengan atau perut Tara, maka dipastikan kepalan tangannya lah yang akan memerah dan dirinya pula yang malah merasakan sakit. Untuk hal memukul tubuh lelaki berparas tampan ini, Meisha sudah bertobat. Otot lelaki memang lebih keras daripada wanita, ia pun sadar dengan hal itu. Apalagi jika diperhatikan tubuh Tara memang memiliki postur yang tegap dan bugar. Helaan napas adalah tanda dari keputus-asaan Meisha, ia tidak tahu harus melakukan apa lagi agar Tara mau mempertemukannya dengan Mr. Suu. “Baiklah, kalau begitu aku ingin kamu menyampaikan ini untuknya.” Meisha mengambil sebuah amplop merah muda yang bagian depannya adalah gambar rimbunan bunga mawar yang sedang mekar dan kelopaknya beterbangan ditiup angin. “Berikan surat ini kepada Mr. Suu, dan katakan padanya kalau aku adalah penggemarnya yang selalu ingin berjumpa dan membicarakan banyak hal tentang dia.” Meisha berucap dengan semangat dan berapi-api. “Eh?” lelaki itu berguman, dengan tanda tanya yang terlihat jelas terlukis di wajah. “Kenapa, Tara?” Sekarang Meisha malah bingung karena melihat Tara yang terdiam dan seperti terkejut sebab mendengar ucapannya. Lelaki itu hanya terhenyak sambil memikirkan sesuatu, sampai setelah terjebak bersama pikiranya cukup lama, Tara tersadar karena merasakan sentuhan pada lengannya yang utuh. Ia hanya menghela napas, masih bingung ingin memberikan alasan apa untuk menolak surat pemberian gadis ini. Bibir yang awalnya ingin mengucapkan sesuatu pun sekarang terkatup rapat, ada banyak persepsi yang muncul di kepalanya, jika ia menolak amplop pemberian Meisha. “Ya, baiklah.” hanya itu kata yang tergumam dari bibirnya, lengan kananya lalu terulur untuk menerima sebuah surat dari gadis yang merupakan penggemar Mr. Suu ini. Ia tersenyum kecil karena mendengar suara Meisha yang tidak bersemangat. “Rasanya kamu kelihatan gak iklas banget, sih. Terserahlah, yang penting aku akan menunggu jawabannya. Sampaikan salamku, ya, Tara.” Kembali hanya sebuah senyuman yang diberikan Tara sebagai jawaban atas ucapan si gadis yang telah sebulan lebih menjadi temannya ini. Hari yang semakin sore akhrinya menjadi penyebab untuk perpisahan mereka, Meisha pulang terlebih dahulu dan tinggal lah Tara seorang diri di area berjualannya. Lelaki itu hanya menutup mata sambil meresapi suara langkah sang gadis ceria yang terdengar semakin menjauh. Setelah suara itu menghilang dari pendengarannya, lelaki yang selalu dianggap menyusahkan bagi banyak orang ini membuka matanya, iris nan indah sewarna dengan emerald pun terlihat, walau begitu sang empu sama sekali tidak dapat menerima cahaya mentari dan hanya bisa menyaksikan kegelapan. Lengan kanannya masih memengan surat yang terbungkus apik, ada desiran aneh di d**a saat ia meletakkan amplop itu dipangkuannya dan menggunakan tangan kanan untuk meraba selembar pembungkus surat. Senyuman kecil tanpa sadar merekah. Sama sekali tidak menyangka kalau gadis yang baru dikenalnya ini sangat mengagumi lukisan karya Mr. Suu. Jam tangan yang berada di sakunya ia ambil dan dibuka lah penutup kaca bening tersebut, sehingga bagian jarinya bisa merasakan angka-angka dari jarum panjang, pendek dan jarum detik di sana. Pukul lima lewat, ia pun bergegas merapikan lukisan-lukisan dan menaruhnya di sebuah tas yang terbuat dari kain tebal dan merupakan buatannya sendiri. Tujuh buah lukisan telah berada di dalam tas dan ia gantungkan di bahu kirinya, lalu ia pun menyatukan dua buah kursi plastik dan mengikat seutas tali di lubang kursi, setelah itu Tara mengantungkannya di leher dan ia sibakkan ke belakang punggu. Kursi itu memang berukuran kecil, tingginya hanya sepuluh senti dengan tempat duduk yang pas untuk satu orang. Tongkatnya ia gerakkan dan Tara melangkah menelusuri Jalan Nipah, ia sudah sangat hafal dengan jalan ini karena setiap hari selalu melewatinya. Meter demi meter, tak terasa kaki dengan langkah yang lebar, tetapi tetap pelan dan berhati-hati kini membawanya kepada sebuah tempat kos berharga murah yang ia sewa. Lelaki itu menaiki tangga dengan perlahan dan ketika telah sampai di depan pintu kamar kos yang letaknya di paling ujung lantai dua, Tara lalu mengambil sebuah benda metal yang ada di saku celananya, kunci kamar kos yang memiliki bandul kelinci dan merupakan hadiah dari Meisha. Pintu terbuka dan menampilkan sebuah ruangan yang cukup luas—jika untuk satu orang penghuni. Setelah pintu depan, akan langsung di hadapkan dengan sebuah ruang dengan satu ranjang, bagian belakang merupakan dapur yang dilengkapi dengan kamar mandi. Tara pun melepaskan tas yang mengangkut tujuh buah lukisan itu, kemudian menaruhnya di sandaran dinding sudut kamar, peralatan lainnya juga ia lepas. Tubuhnya yang lelah langsung ia jatuhkan ke atas ranjang berukuran pas jika ditempati oleh dua orang, napasnya masih ia atur karena rasa penat yang melanda diri. Ruangan itu gelap gulita, terlihat adanya bolham yang beberapa bagian sudah menghitam karena rusak, dan ia tidak pernah berniat untuk memperbaikinya. Kini, hanya ada cahaya rembulan yang menyinari kamar tidurnya melalui celah-calah jendela yang sedikit terbuka. * Tak terdengar bunyi gemericik air dari kamar mandi, menandakan Tara telah selesai membasuh diri. Kemudian, deritan pintu yang terbuka pun terdengar dan meramaikan ruangan kamar yang senyap ini. Ketika rambutnya sudah tak menetesi air lagi, ia lantas memakai pakaiannya dan berjalan santai ke arah dapur. Tentu saja, sebagai pemilik kamar kos, Tara sudah sangat hafal setiap inci dari ruangannya. Ia bahkan tidak perlu memakai tongkat, dan malah berjalan layaknya seseorang yang indranya sempurna, walau nyatanya ruangan ini dalam keadaan gelap dan hanya ada cahaya dari api kompor yang menyala. Makanan yang ada di meja seadanya saja, sup telur dengan nasi, juga rebusan sayuran. Tara langsung melahapnya, teringat dengan sesuatu, ia pun mempercepat makannya dan menandaskan isi piring. Peralatan bekas makan telah ia cuci, Tara lalu berjalan dan memeriksa tas selempang yang biasa digunakannya untuk menyimpan uang hasil berjualan tadi. Bukan uang yang menjadi tujuannya saat ini, tetapi sebuah kertas amplop yang berisikan surat pemberian teman wanitanya. Jari Tara menemukan benda tersebut dan ia pun berusaha membuka amplop itu, tentu saja cukup sulit membuka amplop yang tertutup dengan rekatan lem—apalagi ia hanya memiliki satu tangan. Tidak mau ambil pusing, Tara mengigit ujung kertas pembungkus dan merobeknya sedikit. Dengan perlahan, ia lalu mengikuti arah lipatan kertas itu dan merobek sedikit demi sedikit dan hati-hati agar surat yang berada di dalam sana tidak ikut terkoyak. Kertas bagian dalam yang berisikan tulisan Meisha dapat diambil Tara, ia lalu membukanya dan untuk sesaat hanya terdiam dengan jari-jari yang memengang selembar kertas itu, tidak melakukan apapun. Lengannya yang utuh kini bergerak dan meletakkan surat pemberian Meisha di meja rendah yang ada di depannya, setelah yakin kertas itu tidak akan terlipat dan bagian depan berhadapan dengannya, Tara lalu menurunkan kelima jarinya dan menyentuh tulisan-tulisan tangan Meisha. Meraba surat dari atas ke bawah, ia dapat merasakan adanya bentuk tulisan, tetapi tidak terlalu jelas tersentuh kulit jarinya. Ia melakukannya berulang-ulang, tetapi sama sekali tidak dapat mengetahui apa yang tertulis di dalam sana. “Aku bahkan kesulitan hanya untuk ini, memang apa yang bisa dilakukan dengan keadaan sepserti sekarang.” Mengehela napas, ia lantas menggigit bibir. Tara mencobanya sekali lagi, ia pun mengatupkan kelopak mata, lalu berkonsentrasi agar bisa mengerti apa yang tertulis di dalam secarih kertas yang berada di meja. Namun, kenyataan membuatnya dirinya hampa. Nihil, tak ada yang bisa ia pahami dari tulisan yang tidak jelas dalam rabaan kulitnya itu. Tara tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Ia terdiam dengan rasa benci terhadap kekurangannya.  Kepala berambut hitam itu menunduk dan mengarah kepada letak kertas yang berada di bawah wajah. Kalau orang lain melihat dirinya, pasti mereka mengira bahwa ia sedang membaca surat itu saat ini, di tengah gulita yang menyesakkan d**a. Relung hatinya merasakan kehampaan karena tak dapat mengerti isi surat pemberian dari Meisha. Ada kalanya ia berpikir, kenapa ia harus ditakdirkan untuk tak sempurna seperti ini? Kenapa harus dirinya? “Meisha, kenapa kau aku mempersulit diriku serperti ini?” Tertawa lirih, ia lantas mutuskan untuk tidur. Dibiarkannya surah terbuka itu di atas meja, sementara ia berdiri dan melangkah ke atas ranjang. Meninurkan tubuhnya, kelopak mata Tara lantas terpejam. Bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi, kenapa dia lantas terus-terusan terpikir seperti ini? Mendecak kesal, ia pun membalikkan tubuh dan memutuskan untuk tidur dengan telungkup. Untuk sesaat biarlah alam mimpi yang membebaskan seluruh beban di hati Tara. . . . Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN