Seorang lelaki dengan pakaian rapi dan tidak kalah dari penampilan Meisha pun mendatanginya, dan berdiri pogah di depannya dengan dagu yang diangkat ke atas. Gadis itu tersenyum geli seketika karena melihat teman dari kecilnya ini yang sekarang tengah menggodanya. Uluran tangan sosok tersebut mengarah kepada Meisha dan ia langsung menerimanya. Rulan Sahara Putra tentu menyeringai karena berhasil mendapatkan gadis yang paling diincar ini.
“Terkejut karena kedatanganku yang tepat waktu, Meisha?”
Meisha memutar bola matanya bosan. Ia lalu meletakkan tangannya di siku Rulan .
“Tentu saja kehadiran Tuan Rulan Sahara Putra yang tepat waktu membuatku terperangah. Senang Lo, Padang Pasir Tandus!” ucapan pelan itu membuat Rulan tertawa kecil, sarkas Meisha seperti biasa.
Mereka lalu berjalan bersama dan bertemu sapa dengan orang tua, juga beberapa kerabat yang datang. Pembicaraan basa-basi pun dimulai dan Meisha sebenarnya sangat bosan dengan hal ini. Ia harus menjaga diri dan tidak boleh terlalu menampakkan emosi yang berlebihan. Senyum seadanya, tetapi harus terlihat memukau, berbicara dengan lembut dan sopan, tertawa pun harus dengan nada lembut dan teratur.
“Kalau begitu, kami undur diri, Papa, Mama, Paman dan Bibi.
Rulan bersuara dan menganggukkan kepalanya sebagai penghormatan kepada kedua orang tuanya dan orang tua Meisha.
“Permisi.”
Senyum di bibir Rulan disunggingkan, begitu pun dengan gadis yang sekarang masih menyematkan lengannya di lekukan siku.
“Mereka begitu serasi.” Kenanga yang merupakan ibu Meisha berkomentar dan memandang kedua orang tua Rulan, mereka pun menganggukkan kepala dan tertawa kecil bersama. Mengomentari keharmonisan antara anak-anak mereka.
Sementara itu, kedua sahabat yang sekarang masih berjalan bersama sesekali membengkokkan bibirnya dan berbasa-basi sebentar terhadap orang-orang yang berpapasan dengan mereka. Sampai akhirnya keluarlah dua mereka dari ruangan pesta, kemudian berjalan ke arah taman belakang rumah Meisha yang sepi.
Rulan langsung melepaskan dasi kupu-kupu yang dipakainya dan membuka dua kancing baju yang paling atas, sementara Meisha melepaskan sepatu yang benar-benar sangat menyiksa ini. Mereka saling menghela napas lega karena sudah bisa bebas dari acara mengerikan tersebut dan sekarang duduk di bangku taman yang terbuat dari batu.
Saling tatap dan mengernyitkan alis dan dahi, kemudian kedua sahabat itu tertawa bersama.
“Sial.” umpat Rulan setelah menyelesaikan tawanya. Ia lalu membuang napas kasar dan mengambil tas tangan Meisha.
Ketika menemukan jus lemon berbotol kaca kecil yang hanya berisikan 140 mililiter jus dan isinya tinggal setengah, Rulan pun langsung saja membuka tutupnya dan menenggak cairan itu hingga tandas, walau rasa asam kini sangat mendominasi kerongkongan.
“Hei, jangan dihabiskan, Gurun!”
Mata Meisha mendelik karena sekarang botol berisikan jus lemon kesukaannya itu telah kosong, seharusnya masih ada setengah lagi dan Meisha sengaja menyisakannya agar bisa ia nikmati sekarang, tetapi lelaki berambut ebony ini benar-benar menyebalkan.
Lidah Rulan kini membersihkan sisa-sisa cairan lemon yang masih menempel di bibirnya, lelaki itu lantas menyeringai dan menatap mata Meisha dengan raut wajah mengejek.
“Gue dapat ciuman lo,” ucapnya dengan suara jahil.
Mulut Meisha terperangah, saking sebal dan terkejut.
“Apa lo bilang? Dasar gila!” umpat sang gadis kepada lelaki yang duduk bersebelahan dengannya di taman yang sepi dan dingin ini.
Rulan kembali tertawa karena melihat Meisha yang masih bersungut-sungut. Ia lalu menarik napas dalam dan menyandarkan punggung nan kokoh di kursi yang terbuat dari batu, mata cokelat dengan kilau keemasan itu ia palingkan ke atas, sehingga bintang-bintang kini masuk ke penglihatannya.
“Kamu akan dihukum jika ketahuan berbicara frontal begitu, Nona Muda.”
Laki-laki itu bebicara dengan suara menyerupai bisikan, masih menatap langit gelap yang menyajikan gemintang.
“Lo juga sama.”
Meisha mengikuti posisi Rulan dan menyandarkan diri di batu, matanya menatap langit yang berkilau.
“Muak rasanya!”
Wajah Meisha langsung saja ia panglingkan menghadap Rulan yang masih bertahan dengan posisinya tersebut. Belum pernah ia melihat lelaki yang menjadi sahabatnya sejak kecil mengatakan kemuakan mereka terhadap atuaran keluarga secara gamblang begini.
“Gue dah mirip boneka mereka.”
Dengusan jengah mewarnai pendengaran Meisha.
Untuk beberapa saat mereka terdiam.
“Gue mau ke pantai, Lan. Lo ikut, ya.” Pernyataan itu Meisha ucapkan. Mengalihkan perhatian, mungkin.
Rulan masih saja diam, ia kelihatannya ingin mendengarkan apa lagi yang akan diucapkan gadis di sampingnya ini.
“Gue ingin lihat gejolak ombak, pasti tenang banget rasanya di pantai nanti, Lan.
Sesaat tak ada jawaban yang dilayangkan Rulan, laki-laki itu kembali asik menatap bintang.
“Tentu, pasti menyenangkan, Meisha.”
Entah sampai beberapa lama, kedua sahabat sedari kecil itu masih duduk bersama di taman yang dingin dan hanya dihiasi penyajian dari suara hewan-hewan malam yang ikut meramaikan keadaan mereka. Bahu Meisha yang awalnya hanya tertutup selendang tipis kini sudah ada jas Rulan yang menghangatkannya. Mereka masih terpenjara di dalam benak masing-masing, terdiam sambil menikmati angin malam yang bertiup mesra.
*
“Tidak ada? Nyebelin banget!”
Sungut-sungut Meisha pun semakin menjadi saja, gadis itu tiduran di kasurnya sambil ditemani sebuah laptop yang sekarang bekerja mencari suatu hal. Sudah hampir dua jam ia berkutik dengan benda itu, tetapi ternyata sama sekali tidak mendapatkan apa yang ingin diketahui Meisha.
Karbon dioksida meluncur indah dari bibir, embusan napas lelah menandakan kalau si empunya tubuh akan mencukupi aktivitasnya. Setelah mematikan benda elektronik itu, ia pun menutup dan membalikkan posisi badan menjadi menghadap langit-langit kamar. Rubinya menatap lamat ‘entah apa’ yang ada di atas sana, dan ia pun memejamkan kelopak matanya untuk beristirahat.
“Kenapa sulit mencari informasi tentang Mr. Suu?” tanya Meisha, setelah mengatakan hal itu, ia lantas memutuskan untuk menjelajah ke negeri jauh yang bernama alam mimpi.
Lima hari ia berada di Lombok. Di sana, selain pulang ke rumah orang tuanya dan menghadiri acara tahunan, Meisha juga menyempatkan diri ke pantai yang terkenal di kota itu bersama Rulan. Berlibur selama dua hari di pantai dan menghilangkan kepenatan yang melanda mereka.
Sore tadi ia tiba di rumahnya yang berada di Padang, dan sekarang setelah beberapa jam menyibukkan diri dengan menyelidiki informasi mengenai Mr. Suu, Meisha pun lelah sendiri dan akhirnya memutuskan untuk tidur meski belum menemukan apa pun.
Beristirahat sepanjang sore, tetapi pagi-pagi sekali ia sudah harus berangkat bekerja di sebuah rumah sakit. Meisha memanglah seorang dokter. Pekerjaan ini adalah cita-citanya sedari kecil, menyembuhkan orang sakit adalah sesuatu yang luar biasa bagi Meisha. Dan mengobati mereka dengan kesabaran adalah tantangan yang membuatnya semakin semangat untuk bisa bekerja lebih baik lagi. Sore hari setelah pulang bekerja dari rumah sakit, ia pun menyempatkan diri untuk ke lokasi sang penjual lukisan.
Sudah pukul empat, turun dari mobilnya, Meisha pun berjalan dengan wajah senang. Ketika ia berjarak seratus meter dari tempat berjualan Tara, gadis itu entah kenapa melambatkan langkahnya. Ia sedikit menyembunyikan suara tapak karena ingin mengejutkan pemuda yang masih berdiri menghadap lukisan.
Meisha terkikik kecil, dan lantas ketika tinggal selangkah lagi, dengan kedua tangan yang bersiap untuk mengagetkan Tara, ia tiba-tiba saja merasa mati kutu.
“Siapa? Apa yang Anda lakukan di belakangku?”
Mendengar suara tajam Tara, membuat Meisha membatu karena tak menyangka kalau dirinya ketahuan sebelum beraksi. Walau belum sempat menjahili lelaki yang sudah berbalik ini, nyatanya Meisha masih berusaha untuk mempertahan keisengannya. Ia lalu menutup mulut dengan tangannya dan membuat suara berat untuk menyamarkan identitasnya, guna menjahili teman barunya ini.
“Hei Penjual, kau harus membayar sewa.” Suaranya ia buat seperti nada berat lelaki pada umumnya.
Alis mata Tara terangkat sebelah karena ia mendengar suara aneh yang terlalu ketara, dan sedang dipaksakan menjadi berat. Ia berpikir sejenak, ‘mana mungkin ada yang menagih sewa di tempat ini?’ sesaat ia terdiam, kemudian lebih berkosnentrasi untuk mendengarkan suara dari orang asing di depannya, Tara pun menyadari sesuatu.
“Kenapa malah diam?”
Tara menyeringai.
“Apa yang kamu lakukan, Meisha?”
Tercekat, ia benar-benar terperangah saat ini. Meisha sampai terkejut karena ternyata Tara mengetahui kalau yang berdiri di depan lelaki itu sekarang adalah dirinya. Kekehan terpakasa pun terdengar oleh lelaki berambut hitam dengan poni menyamping, Tara hanya menggelengkan kepala karena tingkah konyol si teman barunya.
“Maaf, ya. Hehe.”
“Duduklah!”
Meisha melakukan apa yang diserukan oleh Tara, dan ia masih menatap sang penjual yang hanya diam saja, alisnya mengerut dan rasa bersalah itu kemudian kembali bergelora di d**a.
“Hey, maaf. Aku hanya bercanda, Tara.” Meisha mencubit-cubit kecil lengan kiri lelaki yang dipanggil dengan nada manja olehnya.
Teringat dengan sesuatu, ia pun langsung mengeluarkan sebuah kotak yang berisikan manisan yang merupakan oleh-oleh dan sengaja ia bawakan untuk lelaki penjual lukisan ini. Jari-jarinya menarik tali yang mengikat kotak itu dan membuka penutupnya.
“Ah, aku membawakan oleh-oleh untukmu, ini manisan pala. Beberapa hari yang lalu aku baru saja dari Lombok.” kotak itu sekarang berpindah ke pangkuan Tara, Meisha kembali berucap, “Makanlah!” serunya dengan nada yang riang.
“Jadi, kamu sedang menyuapku, hm?” Tara tersenyum jahil dan membuat mata Meisha kembali terbelalak.
Bibirnya mengerucut, lalu tiba-tiba saja ia mendapatkan ide cemerlang.
“Oh, jadi kamu ingin kusuapi, ya? Ayo buka mulutnya, aaa!” keisengan Meisha kembali bangkit, seruan dengan paksa adalah hal yang gadis berambut itu lakukan. Lengannya kemudian mengambil manisan pala yang ada di dalam kotak dan menyodorkannya ke arah bibir Tara.
Merasakan ada wangi yang manis dan sesuatu yang bergesekan dengan bibirnya, membuat Tara terpaku, ia bingung apakah harus membuka mulutnya atau menolak suapan yang diberikan untunya.
“Meisha, a—“ belum sempat perkataan Tara selesai, potongan manisan pala itu langsung saja Meisha masukkan ke dalam mulutnya setengah, lelaki yang masih kebingungan kini terpaksa menggigit manisannya dan mengunyah sambil mengeluh.
Tawa lepas Meisha terdengar oleh sang lelaki yang mengembuskan napas pasrah, Tara yang awalnya masih bersungut pun tersenyum kecil karena dapat mendengar tawa riang gadis di depannya ini. Suasana kebersamaan mereka semakin terlihat menyenangkan saja, tak jarang Meisha mengalami berbagai emosi yang dapat berubah-ubah secara gamblang. Dari tertawa menjadi bersungut, senyum menjadi marah, atau terkadang ia merasa malu karena pujian Tara.
.
.
.
Besambung