Seorang gadis berjas putih tengah berjalan di koridor, dengan riasan yang natural dan wajahnya yang ramah, tentu membuat siapa saja akan ikut tersenyum ketika menatapnya. Sepatu berhak beberapa centi membuat suara langkah terdengar dengan lumayan jelas, walau masih pagi, rumah sakit tentu sudah ramai dan dipenuhi kesibukan. Sesekali Meisha menyapa dan saling berbasa-basi dengan logatnya yang ceria. Alunan nyanyian bernada rendah pun keluar begitu saja dari pita suaranya. Membuka pintu ruangan, gadis yang berusia dua puluh empat lima itu langsung duduk dan memutarkan kursi dengan tubuhnya sembari menjerit tertahan.
“Aaaa! Ada apa ini, kenapa aku seperti orang gila?”
Rubi itu lalu menatap jendela yang tirainya sudah terbuka lebar, ia kemudian berdiri dan berjalan mendekati kaca jendela yang masih terkunci rapat. Pendingin ruangan yang ada ia matikan, digantikan dengan jendela yang sekarang telah dibukanya, angin pun langsung memenuhi ruangan itu dan membelai rambut yang tak terkucir dan poni sampingnya bergoyang-goyang, suasana memang sedang mendung dan berangin dingin, tetapi Meisha merasa bahwa hari ini sangat menakjubkan.
Kilat sesekali menyambar, tetapi Meisha tak peduli. Ia terus berdiri di depan jendela dengan perasaannya yang sedang dalam situasi bahagia, sehingga mendung di luar sana sama sekali tak ada artinya baginya.
Beberapa saat kemudian, ia kembali menutup jendela dan menyalakan pendingin ruangan. Berjalan ke arah meja kerjanya, Meisha langsung duduk dan memeriksa beberapa map pasien. Tak sampai lima menit, masuklah seorang perawat yang usianya kelihatan lebih muda dari gadis berjas putih itu, mereka berbincang dan sang perawat menjelaskan kalau ia akan memeriksa pasien rawat inap lima belas menit lagi.
Berbeda dengan hari Meisha yang cerah padahal sedang mendung, Tara yang mengemasi lukisannya merasakan hal berkebalikan. Lelaki itu sama sekali tidak menyukai cuaca ini, jika hujan turun, maka habislah seluruh dagangannya. Lelaki itu dengan susah payah memasukkan lukisan, ia lalu mengangkat tas dan membawanya ke teras toko yang biasa ia tumpangi jika cuaca sedang memburuk.
Alisnya berkerut, ia cemas.
Seorang gadis keluar dan menghampiri Tara, langsung menyerahkan sesuatu untuknya. Tami memberikan sebuah kotak bekal yang adalah pemberian Meisha untuk makan siang Tara. Ternyata, pagi-pagi sekali temannya itu datang dan mungkin gadis itu mengira bahwa dirinya sudah ada di sini, tetapi karena Meisha tak menemukan Tara di tempatnya berjualan, maka dia hanya memberikan bekal itu kepada penjaga toko. Meminta tolong kepada Tami agar kotak makanan itu diberikan kepad Tara.
“Ya, terima kasih.”
“Ok, sama-sama. Aku kembali bekerja, ya.”
Anggukan kepala menjadi jawaban dari pernyataan Tami, sementara itu Tara langsung menaruh kotak yang berisi makan siangnya di atas paha, telapak tangannya senantiasa berada di atas benda berbungkus kain bercorak mawar tersebut. Ia beberapa kali membelainya dan tanpa sadar bibirnya sudah membentuk kedutan karena perasaan bahagia yang menghampiri. Hanya karena Meisha memberikan bekal untuk santap siang saja, Tara merasakan yang namanya berbunga-bunga.
Yang diperkirakan terjadi, rintik-rintik hujan mulai membasahi bumi, angin yang dingin dan kilat yang menyambar sekarang sudah tak diresahkan oleh Tara, lelaki itu kini hanya merasakan hangat yang sedang menghinggapi hatinya. Menutup kedua kelopak mata, Tara lalu menengadahkan wajah, ia hirup dalam-dalam udara lembap itu, lalu embusan napasnya dikeluarkan dengan pelahan.
Kini senyuman kembali menghiasi diri, ia merasakan isyarat hati yang mengarah pada perasaan yang sebenarnya ditakutkan. Kelopak mata lantas terbuka, ketika ia sadar bahwa perasaan ini harus ia hapuskan, walau Tara sudah merasakan isyarat-isyarat dari cinta, tetapi ia merasa sakit saat kenyataan pahit menghentak diri. Kendala itu bernama kenyataan hidup, status mereka yang terlalu berbeda.
Tara mengerutkan alis, mengetahui bahwa temannya yang menjadi penyemangat hidup itu berasal dari keluarga terpandang, tentu saja membuat Tara merasa yang namanya rendah diri. Ia memiliki fisik tak sempurna dan berasal dari panti asuhan tanpa status yang jelas, marganya bahkan hanya pemberian dari salah satu kakak angkat yang sangat menyayanginya dahulu.
“Aku seperti kalah sebelum berperang, memuakkan.”
*
Bunyi langkah kaki terdengar nyaring, di tengah lorong rumah sakit yang sekarang agak menyepi karena sedang jam rihat siang, Meisha dan Karin berjalan berdampingan. Mereka sedang dalam perjalanan menuju kantin dengan masih berbincang, sesekali tertawa bersama. Alis gadis berambut hitam legam itu mengerut karena melihat sahabatnya yang sekarang agak berbeda, sedari tadi ia memerhatikan gerik Meisha yang selalu ceria dan energik melebihi kewajaran. Ditambah lagi, pipi merona dan terkadang tersipu malu ketika ia menanyakan apa yang dipikirkan sampai terbengong beberapa kali di dekatnya.
Mereka tiba di kantin, mereka pun segera memesan makanan dan memilih meja yang ingin ditempati. Santap siang sesekali diisi dengan canda dan tawa, apalagi Karin sekarang malah menggoda Meisha yang kelihatan dekat dengan Dokter Spesialis Anak bernama Rian.
“Yang benar saja! Dokter Rian sudah punya pacar kalau tidak salah, Bodoh.”
“Haa... kau tak tahu informasi terbarunya? Mereka sudah putus seminggu yang lalu. Ternyata si perawat genit itu telah memiliki tunangan, kasihan Dokter Rian yang dipermainkan.”
“Astaga, jahat sekali gadis itu. Syukurlah kedoknya terbongkar.”
Karin lalu menyeringai dan membuat Meisha mengerutkan alisnya karena merasa curiga, sate ayam dalam genggaman gadis itu tak kunjung masuk karena melihat ekspresi Karin yang janggal.
“Rumor bahwa kalian memiliki hubungan khusus sudah menyebar.”
“Apa-apaan itu? Kami tak memiliki hubungan apa pun.” Ada geraman dalam nada dari ucapan Meisha, tentu saja ia tidak menyangka kalau kedekatannya dengan Dokter Rian akan berimbas seperti ini, padahal ia menjadi akrab dengan salah satu dokter populer itu karena mereka cukup sering berdiskusi, dan lagi Rian memang seseorang yang baik dan ramah, sehingga siapa saja bisa menjadi temannya. Namun, Meisha sama sekali tidak percaya kalau hubungan pertemanannya dengan Rian menjadi gosip terpanas bulan ini.
“Hei, kalau kalian jadian juga tidak masalahkan? Dokter Rian itu tampan dan mapan, sudah cocok untuk mencari calon istri.”
“Tidak, aku tidak memiliki perasaan apa pun dengannya.”
“Jangan bilang... kamu sudah memiliki orang yang kamu suka, Meisha?” Karin memicingkan matanya menatap Meisha dengan curiga, sedikit terbelalak ketika menyadari wajah sahabatnya kini kembali memerah, dan apa-apaan tatapan terkejut yang dilayangkan Meisha kepadanya. Jadi, benar kalau gadis ini menyukai seseorang, tetapi siapa? Kenapa ia tak tahu?
“Sial, kamu benar-benar sedang menyukai seseorang. Oh, jadi kamu main rahasian denganku? Ayo, katakan siapa orang itu, Meisha?”
Kedua tangan Karin kini tengah bersidekap, sebelah tangannya tak tinggal diam, ia sesekali menaikkan posisi kacamata dan membuat wajah mengintimidasi, sehingga menjadikan Meisha yang sudah tertanggap basah berkeringat dan gugup.
“Apa, sih? A-aku tak menyukai siapa pun, kok.” Bibir Meisha mengerucut.
Senyuman licik terlihat di bibir Karin, gadis itu lalu mendelik tajam. Intonasi suaranya diatur sedemikian rupa.
“Siapa Meisha? Kamu sedang dekat dengan siapa? Aku sudah curiga kalau kamu sedang jatuh cinta sejak beberapa hari yang lalu, katakan!”
Mata dengan iris rubi terbelalak, dan apa-apaan yang dikatakan sahabatnya itu? Cinta? Meisha merasakan kalau dirinya hanya kagum kepada lelaki idolanya, tetapi kenapa Karin menyebut dirinya seperti orang yang sedang jatuh cinta, apa karena ia terlalu berlebihan merasa kagum terhadap pelukis luar biasa itu?
“Aku hanya kagum kepadanya, Karin. Kami hanya berteman dan belum lama, baru empat bulan lebih.”
Hela napas lalu keluar dari bibir gadis berambut hitam itu, ia tidak mungkin salah mengenali, ia dapat membaca perasaan orang melalui mimik wajah dengan sangat mudah dan itu adalah kelebihan yang ia miliki. Dan sekarang, ia melihat kalau sahabatnya ini bukan sekadar sedang kagum dengan seseorang, tetapi Karin melihat bahwa Meisha memiliki perasaan yang lebih dalam kepada orang yang dikaguminya itu.
Walau mereka baru empat bulan lebih berteman, tetapi cinta itu adalah sesuatu yang rumit, hati akan langsung mengeluarkan isyaratnya dan akan terlukiskan dengan jelas melalui ekspresi atau pun tingkah laku dari seseorang yang sedang mengalami yang namanya jatuh cinta. Cinta juga memiliki berbagai fariasi, mulai dari pada pandangan pertama, dari mata dan turun ke hati, bahkan ada pula sebaliknya, mereka tak pernah bertemu dan hanya berkomunikasi lewat media sosial dan mereka sudah bisa merasakan cinta sampai akhirnya dipertemukan dan mengikat status.
Setelah menghabiskan santap siangnya, mereka yang masih memiliki cukup waktu rihat untuk berbincang kembali, pun mulai bejalan ke arah ruangan Meisha. Gadis itu sesekali mengocehi dan mencekoki Meisha, bahwasannya dia telah salah tafsir dengan perasaannya.
“Karin, aku mengidolakannya. Ini hanya rasa kagum.”
“Meisha, lelaki yang sedang kita bahas ini bukan selebriti yang tak pernah kita jumpai. Lelaki ini berteman denganmu dan kau merasakan perasaan yang benar-benar selalu membuatmu berbunga-bunga, begitukan?” Meisha mengenggukkan kepalanya dengan ragu, tetapi Karin menangkap kenyakinan di dalam mata gadis itu. “Kamu bahkan merasakan cuaca yang buruk dan kehujanan di tengah jalan adalah sesuatu yang luar biasa, apa kamu gak ingat kemarin kamu mengajakku menerobos hujan dan malah kegirangan. Ayolah, kamu adalah Meisha yang sangat tidak akan nyaman jika merasa kotor. Tapi, kamu menari di genangan lumpur? Untunglah kemarin itu sedang sepi. Gila.”
Omelan terus saja Karin keluarkan, ia benar-benar kesal kepada sahabatnya karena gadis itu telalu bodoh untuk membedakan perasaannya sendiri, Meisha yang jarang mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari orang tuanya, menjadikan ia yang tak terlalu peka dengan perasaannya sendiri.
“Sadarlah kalau kamu ini sedang jatuh cinta.”
“Ta-tapi, Karin. Walau dia sangat baik, aku tidak yakin dia memiliki perasaan yang sama denganku. Bagaimana kalau dia menganggapku hanya teman saja?”
“Itu tidak perlu kamu pikirkan, yang jelas sekarang kamu sudah menyadari yang namanya jatuh cinta. Detak jantungmu meningkat dan wajahmu memerah. Sampaikan perasaanmu padanya, apa pun yang akan terjadi, cinta itu bukan hanya memiliki tapi juga melepaskan. Biarkan ia tahu, karena itu adalah haknya, kamu mencintainya dan ia harus tahu, aku yakin kamu akan lebih tenang setelahnya, Meisha.”
Meisha masih termenung setelah mendengarkan ucapan dan nasihat panjang dari sahabat yang bisa diandalkannya itu, ia sebernarnya merasakan banyak emosi sekarang, mulai dari malu, takut dan terkejut.
“Kalau belum siap, setidaknya yakinkan dirimu sendiri dulu kalau kamu mencintainya. Pikirkan saja, tapi, aku yakin kamu tidak akan tahan dengan perasaanmu itu, Meisha. Kamu pasti akan menyatakan perasaanmu.”
*
Akibat permbicaraannya dengan Karin, Meisha selalu memikirkan perasaannya. Ia menggerakkan tangan kanan dan menyentuh d**a kiri. Ketika detak itu terdengar, Meisha mulai merasakan degub normal jika ia tak memikirkan Tara, kemudian ia pun memikirkan lelaki itu, dimulai dari wajah rupawan, mata indah, suara yang khas dan tawa kecilnya. Meisha merasakan wajahnya memanas, jantungnya pun berdetak tidak normal, seperti orang yang habis berlari jauh, degub jantunya begitu kencang. Ditambah lagi, kini ada senyum malu-malu yang berada di bibir, kalau kakaknya sampai melihat hal ini, lelaki itu pasti akan bisa menebak bahwa ia tengah jatuh cinta.
Ternyata benar apa yang dikatakan Karin. Cinta, ia sekarang merasakan hal itu, segala yang terlihat biasa berubah menjadi istimewa, saat bertemu Tara wajahnya akan langsung memerah dan ia seperti salah tingkah. Waktunya menemani lelaki itu pun menjadi amat berharga, berjalan lambat dan mendebarkan. Setiap kali tidak berjumpa dengan lelaki pelukis itu, ia merasakan kerinduan yang membuncah, menanyai dalam pikirannya apa yang tengah dilakukan lelaki itu? Apakah dia merindukan dirinya? Apakah dia istirahat dengan baik? Meisha bahkan mendadak cemas setengah mati karena tidak mengetahui kabar tentang lelaki yang ia cintai.
Berada di kamarnya, Meisha sekarang menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang setelah melihat rembulan, ini adalah kebiasaan barunya setelah ia mengenal yang namanya cinta. Ia menjadi heran sendiri, padahal dirinya pernah berpacaran, tetapi kenapa ia tidak pernah merasakan perasaan yang seperti sekarang ini? Uring-uringan tidak jelas hanya karena tidak melihat wajah Tara dan tidak mengetahui kabar dari lelaki itu. Sepertinya, Meisha harus membelikan Tara ponsel agar ia bisa menghubungi dan menanyakan kabarnya jika mereka tidak berjumpa, setidaknya dengan mendengar suaranya saja, kerinduan itu pasti terobati bukan?
Di tempat lainnya, Tara duduk dengan dagu terjatuh di atas meja. Helaan napas beberapa kali terdengar, ia seperti seseorang yang tengah merasakan kegalauan yang amat sangat, hanya karena sudah beberapa hari tidak berjumpa dengan gadis yang kini menjadi penyemangat hidupnya.
“Aku akan mengatakannya kepada Meisha, akan kusampaikan perasaanku padamu.” Lelaki itu kini bertekat, keyakinan itu telah tertanam di dalam dirinya, tidak peduli kalau status mereka sangat berbeda, tidak peduli apa yang akan terjadi setelahnya, ia akan tetap mengatakannya. Setidaknya, ia sudah berusaha dan ia tidak ingin jadi pecundang yang malang karena tidak bisa berbuat apa-apa untuk perasaannya.
.
.
.
Bersambung