Sama sekali tak dapat disangka, hanya dalam kurun waktu empat bulan lebih saja ia merasakan perasaan yang sedemikian rupa terhadap teman barunya. Rubi yang ada pada matanya memejam, menyesapi perasaan bahagia karena untuk pertama kali ia merasakan cinta diusia yang dewasa, sebelumnya Meisha menamai perasaan itu hanyalah cinta monyet karena ia merasakannya pada saat SMA dan sama sekali berbeda dengan keadaan yang sekarang ini. Ingatannya entah mengapa membuana kepada kejadian memalukan beberapa bulan yang lalu, ketika untuk ketiga kalinya Meisha mampir ke kamar kos Tara dan ia menemukan bahwa di dalam ruangan itu masih belum ada penerang untuk malam hari. Ia langsung saja memutuskan dan membawa Tara menuju minimarket yang berada sekitar seratus meter dari area kos lelaki itu, ingin membeli beberapa bolham dan juga sekalian membawa pulang camilan.
Angin mendung menerpa mereka, sepertinya sudah mau hujan dan sialnya Meisha menyuruh sopirnya agar pulang setelah mengantarnya. Dengan perasaan yang waswas karena melihat langit yang gelap, Meisha yang mengangkap gerak jalan Tara yang memang lambat karena kekurangan lelaki itu, langsung saja dirinya menggandeng lengan tunggal yang ada pada pria di sebelahnya. Awalanya, Meisha takut-takut saat melakukan hal itu, tetapi karena Tara sepertinya tak mempermasalahkan, ia pun jadi merasa lega.
Hela napas pelan masuk ke dalam pendengaran Tara, lelaki itu tersenyum kecil karena merasakan kegugupan yang ada pada gadis di sebelahnya.
Bergandengan tangan selama berjalan, tentu saja menarik perhatian beberapa orang, ditambah lagi Meisha yang terlihat menawan sedang merengkuh tangan lelaki seperti Tara. Walau lelaki itu rupawan, tetapi tetap saja ia tidak sempurna seperti yang lainnya. Bisik-bisik mulai terdengar, tapi entah kenapa Meisha maupun Tara sama sekali tidak mengacuhkan ocehan orang yang menatap mereka.
Hal memalukan yang terjadi bukan hanya karena dikira pasangan pengantin baru, tapi yang sebenarnya dan paling memalukan adalah setelah kembali ke kamar kos lelaki seniman itu.
“Sampai juga.”
“Apa kamu merasa lelah?”
Gelengan kepala Meisha menandakan kalau berjalan dalam jarak kurang lebih seratus meter sama sekali bukan masalah untuknya.
“Aku bersyukur karena kita tidak kehujanan. Hahhh. Nah, apa kau pernah memasangkan bolham, Tara?”
Hanya ada gelengan kepala yang menjadi jawaban dari pertanyaan Meisha. Gadis itu lalu terdiam, ia sebenarnya juga belum pernah melakukan hal ini, tetapi tidak mungkin bila Tara yang akan melakukannya. Walau ia merasa takut, setidaknya ia memiliki kelebihan daripada lelaki yang juga ikut terdiam di sampingnya. Gadis itu lalu menarik napas dan meyakinkan diri kalau ia pasti bisa, dan jangan sampai tersetrum listrik karena melakukan kesalahan.
Setelah terjadi perdebatan yang cukup alot karena Tara tidak bisa memercayai dan tidak menerima Meisha yang akan memasangkan bolhamnya, akhirnya lelaki itu pun mengalah dan memberikan pekerjaan yang cukup berisiko ini kepada sang gadis keras kepala.
“Hati-hati, sebaiknya kita memin—“
“Aku bisa, Tara. Aku bisa!”
Meja yang letaknya beberapa meter dari ranjang pun mereka seret dan diletakkan tepat di bawah sangkar lampu yang akan ditaruh bolham. Meisha menarik napas, setelah saklar sudah diketahui mati, maka ia mulai menaiki meja dan mencoba memasukan bolham ke sangkarnya. Beberapa kali putaran dan terpasanglah benda yang akan menerangi malam di kamar kos Tara.
“Sudah. Coba dihidupkan saklarnya.”
Tak ada perubahan apa pun, ruangan tetap gelap dan mereka hanya diterangi oleh cahaya mendung sore yang membuat ruangan menjadi temaram. Meisha menatap wajah Tara yang masih berdiri di tempat yang sama, memati-hidupkan saklar lampu, namun tidak ada yang terjadi.
“Kenapa tidak menyala?”
“Mungkin kamu belum benar memasangkannya, Meisha.”
Gadis itu kembali naik ke atas meja, sedangkan Tara sendiri berjalan dan mendekati Meisha, sementara itu saklar lampu belum dimatikan olehnya.
“Hidup, aww.”
“Meisha!”
Saking gembiranya karena melihat cahaya yang dikeluarkan dari bolham itu, Meisha sampai melangkah mundur dan memijak ujung meja yang menjadikannya kehilangan keseimbangan. Gadis itu terbelalak dan menggapai-gapai udara hingga suara cukup gaduh masuk kependengarannya.
Rubi itu terpejam kuat karena keterkejutan dan ketakutan akan rasa sakit akibat dari kecelakaan yang menimpanya, sama sekali tak sadar kalau sebentar lagi ia akan mengubur diri karena merasakan malu yang amat sangat, dan hal itu pun terjadi, mata Meisha terbuka karena mendengar suara berat Tara yang memanggil namanya.
Langsung saja, wajah rupawan itu yang menyambut dalam penglihatannya ketika ia membuka mata. Kelopak mata itu terbelalak dan wajahnya memerah. Merasa bodoh dan ingin mati saja saat sadar kini dirinya telah menimpah tubuh Tara, lelaki yang tidak dapat melihat itu berada di bawahnya dan Meisha bersumpah dapat merasakan napas hangat dari sang pria karena saking dekatnya jarak antara wajah mereka.
“Hua—hmppp.”
Ketika teriakan akan keluar dari bibir, Meisha merasakan telapak kanan Tara membekapnya. Ia dapat melihat mata Tara yang terpejam sebelah karena mendengar jeritan tertahan Meisha. Dengan rasa malu yang amat sangat, gadis itu perlahan melepaskan lengan Tara dari bibirnya dan menggerakkan tubuh untuk berdiri dari timpahannya terhadap tubuh Tara yang masih terlentang di bawah sana.
“Ma-maaf.” Hanya suara cicitan saja yang terdengar. Meisha menundukkan wajahnya, ia ingin sekali segera pergi dari hadapan Tara.
“Kau tidak apa, kan?”
“Eh? Aa.” Anggukan kepala mengiringi jawaban Meisha.
“Syukurlah, aku sampai kaget karena mendengar suaramu saat terjatuh tadi.”
Ruangan yang menjadi tempat mereka bertatap muka saat ini sudah terang, dan Meisha masih saja merasakan kegugupan pada dirinya. Padahal, sekarang Tara berada di dapur untuk membuat teh, lelaki itu memaksa agar dia saja yang akan melakukan hal itu karena dirinya merupakan tuan rumah dan Meisha adalah tamu.
Kedua tangan Meisha kini berada di depan wajahnya, gadis itu menggelengkan kepalanya. Pikiran-pikiran aneh pun mulai berseliweran di benaknya.
Jangan bilang, tadi dadaku menghimpit dadanya. Astagaa. Apa... apa Tara merasakannya? Bodoh, jangan memikirkan yang aneh-aneh.
Meisha berdehem untuk menormalkan detak jantungnya. Di lain pihak, Tara yang berada di dapur dan sedang memasak air pun hanya bersandar di dinding. Ia menghela napasnya, dan tiba-tiba saja menggeleng-gelengkan kepalanya pelan karena memikirkan peristiwa yang terjadi beberapa saat yang lalu. Karena kekurangannya dalam indra pengelihatan, membuatnya menjadi lebih peka terhadap indra yang lain, termasuk indra perasa pada tubuhnya. Tara kembali menghela napas karena tadi dapat merasakan dengan jelas tubuh Meisha yang menempel dengan dirinya ketika terjatuh di atasnya.
Memikirkan hal yang telah terjadi beberapa bulan yang lalu, menjadikan wajah Meisha semakin memerah. Gadis berambut pirang yang sedang tiduran di kamarnya itu pun berguling-guling saking merasa malu karena mengingat kembali peristiwa absurd yang menimpa mereka.
“Hm, dari jarak sedekat itu, Tara terlihat sangat tampan.” Kembali kedua telapak tangannya menyentuh pipinya yang memerah.
Meisha sudah memahami dan menyadari dirinya kalau ia sedang jatuh cinta kepada Pranata Tara Palimbani, memang cinta itu adalah sesuatu yang berada pada luar logika, sama sekali tidak dapat dicegah jika bibit itu mulai tumbuh di hati. Semakin mekar, maka akan semakin memengaruhi tingkah dan psikis dari orang yang sudah ditanami dan dipupuki dengan cinta di hati, selalu ingin bertemu dan melakukan banyak hal bersama seseorang yang dicintainya.
Tidak mau menyia-nyiakan waktunya, Meisha pun menggerakkan tubuhnya dan langsung saja menuju ke tempat sang pangeran tercinta. Walau Tara memiliki fisik yang tidak sempurna, maka di sinilah keistimewaan cinta, tak perlu kesempurnaan, jika sudah merasa pas dan nyaman, maka cinta akan mendatangi siapa saja, tanpa membedakan harus mencintai seseorang yang seperti apa.
Dengan senyum di wajahnya dan napas yang terengah karena berlari, Meisha mulai berjalan dan mendekati Tara yang sedang melayani beberapa pembeli.
“Tara!”
“Meisha.”
“Meisha?”
Pembeli yang berada di tempat penjualan Tara itu membalikkan separuh tubuhnya, wajah dari balik topi yang menutupi rambut dan kepalanya itu pun terlihat, iris mata kelam dan terlihat sedang menatap dengan sorot tanya, ketika ia menemukan sang gadis yang sedang berada di tempat ini juga.
“Rulan?”
Tara hanya terdiam dan mendengarkan pembicaraan antara kedua orang yang sepertinya saling kenal itu, kemudian ia pun melanjutkan aktivitasnya dan membungkus beberapa lukisan yang telah dibeli oleh pelanggannya yang masih memakai topi dikepala berambut merahnya. Seolah, ia seperti tidak mengacuhkan kedua orang yang sedang saling beratanya jawab di belakangnnya.
“Aku ingin membelikan lukisan untukmu, Inayah bilang kamu menyukai lukisan yang dijual di sini.”
“Eh? Iya, aku menyukai lukisan Tara. Memang sangat indah.” Meisha yang tersenyum saat mengucapkan pujian untuk Tara yang sedang di tatapnya, membuat dahi Rulan berkerut dan memandang kedua orang itu secara bergantian. Yang menjadi perhatian Rulan adalah tingkah Meisha yang berbeda saat menatap si penjual yang masih sibuk dengan beberapa lukisannya. Tatapan itu tidak pernah diberikan sang gadis untuknya, lantas apakah mereka memang saling kenal?
“Kalian saling kenal?” tanpa sadar, Rulan berucap dan kata itu didengar Meisha dengan cukup jelas.
“Hehe. Oh ya, Rulan. Perkenalkan, ini Tara. Dan Tara berdirilah dulu. Ck. Nah, Tara, ini adalah Rulan, orang tua kami sudah berteman sejak lama.”
Antara Rulan dan Tara hanya saling bergumam saja, tak ada dari mereka yang mau mengulurkan tangan untuk berjabat tangan. Melihat hal itu, Meisha pun mendekati Rulan dan memaksa lelaki itu untuk mengulurkan tangannya terlebih dahulu.
“Rulan, cepat ulurkan tanganmu,” Meisha berbisik, walau begitu Tara mendengarkan apa yang dibicarakan meraka.
“Aw, apa sih? Jangan mencubit perutku.”
“Cepat, ulurkan, Gurun Pasir Tandus.”
“Tidak masalah kalau tidak berjabat ta—aduh! Meisha, hentikan. Jangan sampai aku menarik hidungmu?”
“Makanya, cepat!” Mata rubi itu mendelik menatap oniks Rulan yang sekarang memandangnya dengan tatapan mengalah dan kesal.
Rulan pun akhirnya mengulurkan tangannya dan Meisha tertawa kecil karena mendengar suara Rulan yang malas-malasan.
“Aku, Rulan.”
Tara membalas uluran tangan itu dan mereka berjabat tangan.
“Tara.”
“Baiklah, Tara, senang berkenalan denganmu. Meisha, ayo kita pulang, lukisan ini sengaja kubelikan untukmu.”
“Tapi, ada yang ingin kubicarakan dengan Tara.”
Mereka lalu terdiam, sementara itu Meisha mencoba memujuk dan mengatakan agar Rulan ke rumahnya saja lebih dahulu, gadis keras kepala itu terus berbicara dan membujuk Rulan, namun semua itu percuma karena lelaki yang berada di sampingnya ini juga memiliki kekeras-kepalaan yang sama.
“Pulanglah, Meisha. Kapan-kapan kita bisa membicarakannya.” Lelaki berambut kelam itu berbalik dan mengambil lukisan yang sudah ia bungkus rapi, lalu diberikannya beberapa benda petakan itu kepada Rulan yang masih dihadiahi omelan oleh Meisha. Tanpa menunggu reaksi Meisha, ia pun langsung saja melakukan apa saja agar tidak berdekatan dengan gadis yang akan dibawa pergi oleh Rulan Sahara Putra.
“Eh, tapi... tapi,”
“Ayo! Terima kasih, Tara.”
“Hm.” Lelaki itu hanya berdehem dan mengarahkan wajahnya kepada sumber suara Rulan, sementara tubuhnya masih membelakangi mereka berdua.
“Tara, nanti aku akan ke sini lagi. Bye!”
Tak ada jawaban, Tara hanya duduk di kursi kecil yang selalu menemaninya disaat berjual sejak beberapa tahun silam. Alis mata lelaki itu berkerut, sekarang banyak hal yang ia pikirkan, terutama mengenai seorang gadis yang sejak beberapa bulan ini telah menjadi penyemangat hidupnya. Bibirnya berkedut, ia tersenyum karena mengetahui sesuatu yang menjadi penghambatnya dalam mengutarakan perasaannya kepada gadis itu. Namun, mungkin inilah yang terbaik, orang yang cacat seperti dirinya mana mungkin layak menyatakan cinta kepada gadis sempurna seperti Meisha. Mereka terlalu berbeda.
“Jadi, dia tunangannya.” Hela napas getir itu keluar dan Tara merasakan dirinya remuk.
.
.
.
Bersambung