11. Berbeda

1491 Kata
Tara mengembuskan napas, bibirnya ia gigit. Ia mengingat dengan jelas, bahwa beberapa saat yang lalu ada seorang lelaki datang dan membeli beberapa lukisan bercorak bunga mawar yang akan lelaki itu berikan untuk tunangannya, lelaki itu pun mengatakan bahwa tunangannya itu sangat menyukai lukisan yang dijual di tempat ini. Dengkusan lucu keluar dari bibir Tara, ia menggelengkan kepala dan menjambak rambutnya pelan. Benar-benar tidak bisa dipercaya. Dunia ini memang sempit, siapa yang menyangka kalau tunangan dari lelaki bernama Rulan itu adalah gadis yang selalu menemaninya beberapa bulan ini, yang sudah menghujaninya dengan perhatian dan membuat Tara melambung karena diberikan harapan, karena dapat merasakan yang namanya jatuh cinta. Lalu, sekarang ia pun merasakan yang namanya sakit saat terjatuh dari buaian harapan semu amini. Benar-benar begitu menyakitkan baginya, dadanya teramat sesak dan ia hanya bisa menundukkan kepala sambil mengigit bibirnya. Kenapa gadis itu tidak pernah cerita kalau dia sudah memiliki tunangan? Atau sebenarnya memang Tara lah yang terlalu berharap di sini. Memangnya ia siapa, hingga Meisha mau menceritakan berbagai hal tentang kehidupan gadis itu padanya. Mereka hanya sebatas teman baru, hanya untuk basa-basi belaka jika bertemu. Apakah mencintai itu salah, karena perbedaan ini? * Mobil bergerak sesuai kecepatan yang diimbaukan di papan penunjuk jalan, dua orang muda mudi yang berada di dalam tengah asik dengan pemikirannya sendiri. Sang gadis terlihat menghadap jendela, memandangi entah apa yang ada di luar sana. Sesekali terdengar menghela napas atau pun memainkan ponse. “Meisha!” “Hm?” Di dalam mobil, sang gadis dan lelaki yang sibuk dengan kemudinya itu biasanya selalu berdiam diri karena tahu sama-sama sedang lelah atau menikmati perjalanan. Namun, untuk saat ini seperti ada yang berbeda dengan Rulan, buktinya lelaki itu berbicara saat sedang mengendarai mobil, padahal itu bukanlah kebiasannya. “Lo akan habis jika ketahuan mereka.” Meisha merenung, benar apa yang dikatakan pemuda di sampingnya, ia akan dalam masalah besar kalau sampai kedua orang tuanya tahu jika ia memiliki teman dan terlalu akrab dengan pemuda seperti Tara, menjadi seorang dokter di salah satu rumah sakit saja sudah membuat hubungan antara Meisha dan kedua orang tuanya seperti ini. Apalagi jika mereka mengetahui kalau ia berteman dengan pemuda itu, pasti akan terjadi hal pelik. “Gue gak mau mikirin hal itu dulu, Rulan.” “Setidaknya, cobalah untuk mengambil hati mereka kembali.” “Dengan menerima lamaran keluarga lo? Lo akan melakukan hal yang sama jika diposisi ini, lo hanya lebih beruntung karena gak punya orang tua seperti orang tuaku.” Gadis itu hanya menatap jendela dan membuang napasnya dengan kuat. “Gue hanya memperingati, jangan sampai lo terlewat batas, Meisha. Tarikan napas pun dilakukan oleh lelaki yang masih memegang kemudi itu, walau ada emosi yang melintas di kepalanya, tetapi ia mencoba menahan diri dan mengerti kalau Meisha tidak ingin ia membahas hal ini. Jadi, ia tidak menimpali dan memilih diam sambil terus berkonsentrasi mengendarai mobil. * Ada kalanya, dalam hidup ini kita akan diberikan dua pilihan. Dari kedua pilihan itu, akan ada konsekuensi masing-masing, positif dan negatif. Jika kau diberikan pilihan A, maka kau akan mendapat hal yang kau inginkan, tetapi ada hal buruk yang akan terjadi kedepannya. Jika kau diberi pilihan B, maka kau akan mengalami kekecewaan yang amat sangat hingga membuatmu ingin mati, tetapi kau akan membuat semuanya menjadi lebih baik. Jadi, pilihan mana yang akan kau pilih? A atau B? Dan inilah yang sedang dipikirkan Tara dan Meisha secara bersamaan di tempat yang berbeda. Yang satu termenung di tempat berjualannya dan yang satu lagi berada di ruang makan dan tak menyentuh secuil pun hidangan yang tersedia. Mereka masing-masing sedang menimbang, apakah dari kedua pilihan itu ada yang layak untuk diambil. “Meisha, lo gak nyentuh makanan dari tadi.” Rulan yang duduk di sampingnya mengerutkan dahi karena gadis yang sudah menjadi tunangannya sejak kecil itu terlihat sedang memikirkan sesuatu. “Ya, gak berselera.” Ia hanya mengaduk-aduk santapannya dan menaruh garpu itu di samping piring, “Gue mau tidur, permisi.” Tanpa menunggu respons Rulan, Meisha langsung saja menggerakkan kakinya dan pergi ke luar ruangan, ia menaiki tangga dan dengan secepat kilat memasuki kamarnya. Sementara itu, Rulan yang masih terdiam di meja makan hanya bisa menghela napas, kemungkinan gadis itu masih merasa marah karena perkataannya saat di mobil tadi. “Aku tidak pernah menerima pertunangan ini, aku tidak mau menikah dengan Rulan.” Isak kecil terdengar, gadis itu mengurung diri di kamar. Beberapa jam Rulan menunggu, ia pun akhirnya bertindak dan mengetuk pintu kamar Meisha, alasannya sederhana saja, ia khawatir karena gadis itu tidak makan apa pun sejak tadi. Dengan membawa nampan yang berisi makanan, ia lalu mengetuk beberapa kali. Tidak ada sahutan, ia pun mencoba membuka pintu, dan terbuka. Walau begitu, ia tak langsung masuk, hidup dengan peraturan keluarga yang ketat dan kesopanan yang harus selalu dijaga, maka ia pun terbiasa dengan hal itu, ada sedikit keraGuen karena memasuki kamar seorang gadis (meski tunangannya) tanpa permisi dan itu merupakan tindakan yang tidak sopan. Namun, dengan alasan khawatir dan takut Meisha kenapa-napa, maka ia pun membuka celah pintu itu semakin lebar. “Meisha?” Beberapa langkah saja, Rulan sudah menemukan gadis yang dipanggilnya itu tengah tertidur di ranjangnya yang indah. Ia lalu menaruh nampan itu, dan mendekati sang gadis. Dilihatnya wajah Meisha yang sedang lelap itu, ada igauan kecil yang tidak jelas, dan membuat senyum kecil Rulan langsung lenyap ketika telinganya menangkap ucapan yang lebih jelas dari igauan Meisha. “—lan, mmm... cinta... Tara.” “Lo cinta dia, ya?” bisikan itu terdengar dan setelahnya Rulan keluar dari kamar Meisha dan berjalan seperti seorang yang kehilangan arah. * Duduk di kursi kecil itu adalah hal yang masih dilakukan Tara, ia terkadang memijat lehernya karena pikiran-pikiran negatif yang terus merasuki otaknya. Rasanya ada bagian dari dirinya yang menyuruhnya untuk berhenti saja mencintai gadis sempurna itu, tapi sebagian lagi dari dirinya berkata untuk mengejar gadis itu dan mengatakan perasaannya. Namun, Tara bingung, ia sendiri tidak tahu harus memilih yang mana, kalau ia bisa bersikap egois, maka ia ingin sekali mengatakan persaannya kepada Meisha dan mengejar gadis itu agar juga mencintainya. Hal yang paling rumit sudah hadir sekarang, gadis itu sudah memiliki tunangan, apakah ia pantas untuk merebut milik orang lain, bisa saja Meisha selama ini baik dan perhatian padanya hanya karena rasa iba dan kasihan gadis itu terhadap orang cacat seperti dirinya dan ia lah yang salah mengartikan kebaikan gadis itu. Ia terlalu berharap ada keajaiban layaknya di negeri dongen yang selalu menghadirkan roman picisan yang sering di dengarnya. Merana, itu adalah perasaan yang sedang ada pada dirinya, seingatnya ia tidak pernah jatuh cinta kepada seorang gadis pun, tetapi kenapa ketika ia telah merasakan cinta, gadis yang dicintainya itu ternyata adalah seorang yang telah memiliki tunangan. Ini sangat kejam, cinta itu memang kejam karena tidak mengenal perbedaan. Beberapa hari setelahnya, Tara melihat Meisha yang mendatanginya dengan logat ceria yang melebihi keseharian gadis itu, awalnya ia merasa bingung dengan diri sang gadis yang seperti baru merasakan suka cita dalam hidupnya, sampai membuat telingnya terus saja mendengar tawa kecil saat dia sedang bercerita banyak hal. “Aku tidak pernah merasa sebahagia ini, kukira Rulan akan menolak keputusanku, tetapi ternyata kita berdampingan dan memiliki pemikiran yang sama.” Ada luka ternganga di hatinya ketika untaian kata Meisha dapat didengarnya, saat ini ia berharap telinganya tuli. “Begitukah?” “Dia telah meyakinkaku dan aku semakin percaya kalau perasaan cinta ini memang benar adanya, Tara.” “Hm.” Mereka terdiam sesaat, walau hari semakin meredup dengan cahaya jingga yang menyebar indah, tetapi entah hanya perasaan Tara atau apa, ia menyadari kalau gadis ini sama sekali tidak ingin beranjak juga. Sampai akhirnya pukul lima dan Tara pun harus membereskan dagangannya. Meisha membantunya, menyusun satu persatu lukisan dan meletakkannya di tas besar cokelat Tara. Melakukan semua itu dengan semangat dan tak kenal lelah, padahal sudah lebih dari tiga jam sang gadis menemaninya berjualan dan sesekali bercengkrama dengan pelanggannya. “Tara, aku ingin ke melihat mata hari terbenam.” Tara hanya diam, tetapi ia terus melanjutkan langkahnya agar segera sampai di kamar kos. Suasana hatinya sedang tidak baik sekarang. “Maaf, Meisha. Aku lelah dan tidak bisa menemanimu.” “Ayolah, Tara. Cuacanya sedang baik, dan lagi di sana kita bisa sekalian beristirahat, bukan? Bayangkan angin sore yang akan menyapu seluruh tubuhmu, itu akan menghilangkan penat.” “Aku tidak bisa.” “Kumohon.” Nada Meisha berubah menjadi sedih, gadis itu mengenggam dan membawa jemari Tara di antara kedua telapak tangannya. Menarik napas, Tara hanya bisa mengangguk. Mereka lalu berjalan, mencari tempat yang lebih tinggi untuk melihat matahari terbenam, tetapi tidak banyak orang yang berada di sana. Ketika sampai, angin sore langsung menerpa tubuh mereka, rambut Meisha dan Tara berliuk-liuk karena belaian angin yang terus menjilatinya. Mata rubi itu menyisir, mencari tempat yang tepat. Memutuskan untuk duduk di bangku yang tersedia, di bawah pohon angin terasa membelai dan begitu senjuk, dapat didengar Tara suara dersik yang membuat daun pohon bergoyang-goyang, begitu pula dengan rumput dan beberapa semak yang ada di pinggir taman. Suasana begitu tenang, sejenak Tara memejamkan matanya karana ingin menikmati belaian angin. Tanpa diketahui lelaki yang tengah menyembunyikan bola mata, Meisha kini terus memandangi wajah rupawan yang sedang menikmati sejuknya sore hari. Mata yang seindah rubi itu menatap takjub wajah lelaki yang selama ini dikenalnya pekerja keras, dan sekarang tengah dipapari cahaya jingga yang membuatnya kelihatan semakin menawan, bibi itu bahkan terbuka kecil karena melihat salah satu ciptaan Tuhan yang sangat memesona. “I love you, Tara.”  . . . Berbeda
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN