Darren mengulurkan kacamata itu. Namun saat Eloisa mau mengambil kacamata itu, Darren malah menarik tangannya sehingga tubuhnya tertarik ke pelukan pria itu untuk kesekian kalinya.
“Kamu …!” Eloisa mendongakkan wajahnya untuk memarahi pria di depannya, namun omelannya tidak sempat keluar karena pria itu kembali menciumnya. Eloisa berusaha memberontak untuk melepaskan diri, namun pria itu mendekapnya erat.
Darren masih berusaha merayu Eloisa dengan ciumannya. Dia mengerahkan semua kemampuannya untuk membuai wanita itu agar menyerah di pelukannya. Dia membutuhkan Eloisa, dia memerlukan pelukan dan ciuman Eloisa untuk menenangkan emosi yang sejak tadi bergejolak dalam dirinya!
Akhirnya usahanya berhasil, wanita itu berhenti berontak dan balas menciumnya. Namun bukan ciuman lembut yang dia terima, tapi ciuman galak. Dia terkejut karena ciuman balasan wanita itu, namun dengan senang hati dia membalas wanita itu dengan cara yang sama, yang membuat mereka terbuai dalam sebuah ciuman panas yang panjang dan menggairahkan.
Hujan yang turun membasahi mereka seakan menambah atmosfer disana menjadi lebih romantis, tanpa sadar mereka semakin merapatkan tubuh karena angin dingin yang berhembus.
Entah berapa lama ciuman itu berlangsung, tautan bibir mereka terlepas saat mereka kekurangan pasokan udara. Darren menatap takjub pada mata yang perlahan terbuka di depannya, mata yang menatapnya linglung dengan bibir yang bengkak. Setelah beberapa saat, wajah wanita itu merona setelah menyadari apa yang baru saja mereka lakukan? Tapi menurutnya wajah itu terlihat sangat cantik!
Eloisa tersadar dari kegilaannya yang mencium Darren seakan ingin melumat habis bibir pria itu. Awalnya dia berusaha melepaskan diri dari pria itu, tapi pria itu terus memaksa menciumnya. Emosinya semakin tidak bisa dia tahan yang membuatnya malah membalas ciuman itu untuk melampiaskan kemarahannya. Semuanya semakin kacau saat pria itu membalas ciumannya dengan cara yang sama, yang membuatnya tidak bisa berpikir dan akhirnya dia hanyut dalam ciuman itu, menikmati rasa yang diberikan pria itu.
Eloisa mengambil dengan kasar kacamata yang dipegang Darren dan menggunakannya, lalu kembali memelototi mahasiswanya itu yang sekarang sudah bisa dia lihat dengan lebih jelas. Dia mengabaikan wajahnya yang warnanya mungkin sudah seperti kepiting rebus.
“Saya harap itu sudah memuaskan rasa ingin tahumu. Mulai sekarang menjauhlah dari saya dan jangan pernah mencium saya lagi. Sebentar lagi saya akan menikah!” kata Eloisa dingin sebelum berjalan meninggalkan pria itu. Dia membanting pintu rooftop saat masuk kembali ke dalam gedung kampus.
Darren masih mematung di tempatnya dan jarinya sekarang menyentuh bibirnya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia begitu menikmati sebuah ciuman.
Ciuman yang membuatnya jantungnya berdebar cepat dan rasanya begitu memabukkan hingga tidak ingin dia akhiri. Jika saja Eloisa sedikit lebih lama disana, pasti dia sudah menarik Eloisa kembali ke pelukannya untuk melanjutkan kembali ciuman itu.
Sekarang dia sudah tidak ingin mencari jawaban mengapa ciuman Eloisa berbeda, dia sudah tidak peduli dengan hal itu. Sekarang dia sadar dengan sangat, kalau yang dia inginkan hanyalah Eloisa.
Dia menginginkan ciuman dan pelukan wanita itu. Dia suka melihat wajah menggemaskan wanita itu saat marah padanya, wajah wanita itu ketika merona karena gombalannya, cara bicara wanita itu yang jutek, apalagi saat wanita itu menciumnya panas seperti tadi.
Ciuman itu menyadarkan dirinya kalau sebenarnya sejak pertama kali dia mencium Eloisa, dia sudah tidak menginginkan ciuman dari wanita lain.
Darren yakin kalau dirinya telah jatuh cinta. Dia jatuh cinta pada dosennya sendiri yang lebih tua lima tahun dan selalu jutek padanya. Wanita dingin yang awalnya dia dipikir mirip dengan kakaknya yang kaku dan kurang ekspresi, tapi ternyata bisa menciumnya dengan begitu panas.
Derasnya hujan yang turun sekarang seakan menyerupai derasnya luapan cinta yang mengalir di dadanya. Namun, perasaan luar biasa yang baru dia rasakan itu tiba-tiba meredup saat teringat perkataan terakhir wanita itu.
Eloisa tadi mengatakan kalau wanita itu sebentar lagi akan menikah!
***
Eloisa terburu-buru turun dari tangga dan berlari menuju mobilnya. Dia mengambil rute memutar agar sebisa mungkin tidak bertemu dengan orang lain walaupun hal itu mustahil karena sekarang baru jam tiga sore. Tapi setidaknya dia hanya berpapasan dengan beberapa orang.
Sebelum menuju rooftop, dia sudah membereskan semua barangnya dan menaruhnya di mobil, karena memang dia sudah selesai mengajar. Saat dia sedang bersiap menyalakan mesin mobil, ibunya menghubunginya dan membicarakan tentang perjodohan yang membuat moodnya menjadi buruk.
Itulah sebabnya dia tidak jadi menyalakan mesin mobilnya dan memutuskan untuk keluar dari mobil untuk meredakan rasa sesak yang tiba-tiba datang. Dia mengadahkan kepalanya untuk melihat langit dan melihat rooftop tempat dia biasa menghabiskan waktu saat gundah dan memutuskan untuk kesana.
Bukankah si buaya sudah tidak ada urusan lagi di kampus sejak tadi pagi? jadi seharusnya mereka tidak akan bertemu lagi disana. Lagipula kemarin itu adalah pertama kalinya mereka bertemu di rooftop, jadi mungkin memang hanya kebetulan.
Namun ternyata dia memang sedang sial, mereka bertemu lagi dan pria itu kembali menciumnya. Parahnya lagi, dia membalas ciuman itu.
Awalnya dia berusaha berontak sekuat tenaga, namun perlahan pertahanannya melemah. Selain karena pria itu sangat pandai mencium, emosinya sendiri sedang tidak stabil, yang membuatnya merasa membutuhkan pelampiasan, karena air hujan tetap tidak bisa membantu mengurangi kegundahan hatinya.
Hal itulah yang membuat dirinya membalas ciuman pria itu. Dia meluapkan semua emosinya di hatinya yang sudah dia tahan selama bertahun tahun. Semua sakit hatinya, kekecewaannya pada Viktor dan Susan, ketidakberdayaannya sekarang yang harus mengikuti kemauan orang tuanya. Semua hal itu mendorong kesabarannya hingga di batas yang sudah tidak sanggup dia tahan sendiri lagi.
Dia baru menyadari betapa mengerikannya cara dirinya mencium pria itu saat tautan bibir mereka terpisah dan dia melihat luka di bibir pria itu! Tanpa dia sadari, ternyata dia menggigit bibir pria itu saat mereka berciuman.
Dalam kepanikannya, dia segera pergi menjauhi pria itu. Dia sangat malu sampai tidak tahu harus berkata apa. Seharusnya dia meminta maaf karena telah melukai pria itu lagi, tapi rasa malunya lebih besar karena dia tidak pernah bertindak agresif seperti itu.
Rasanya kalau bisa dia mau langsung berlari pulang dan bersembunyi di bawah selimut ranjangnya dan tidak pernah keluar lagi.
Sekarang dirinya sudah kembali berada di mobilnya dalam keadaan basah kuyup seperti tikus kecebur got.
Tanpa memperdulikan kondisi tubuhnya yang basah, dia langsung menyalakan mesin mobilnya dan bergegas pulang ke rumah. Dia takut pria itu akan menghampirinya ke mobilnya untuk meminta pertanggung jawaban atas luka di bibirnya, seperti pada luka di pipi pria itu.
Setelah tiba di rumahnya, dia mengendap perlahan masuk ke rumahnya agar ibunya tidak melihat kondisinya dan mempertanyakan mengapa dirinya bisa kehujanan?
Dia bersyukur saat masuk dan tidak menemukan melihat siapapun di ruang tamunya. Dia berjalan tanpa suara menaiki tangga hingga sampai di kamarnya dan dia langsung masuk ke kamar mandi. Lucu rasanya harus mengendap endap di rumah sendiri, pikir Eloisa.
Setelah mandi dan berganti pakaian, dia duduk di meja riasnya untuk mengeringkan rambutnya yang basah. Tanpa dia sadari, matanya menatap pantulan wajahnya di cermin.
Fokus matanya ada pada bibirnya berwarna sedikit lebih merah dan sedikit lebih tebal daripada biasanya, padahal harusnya sekarang dia agak pucat karena kedinginan setelah kehujanan.
Wajahnya kembali merona menyadari kalau kemungkinan bibirnya agak bengkak karena ciuman panas tadi dengan si buaya.
Tanpa dia inginkan, bayangan ciuman tadi kembali memenuhi benaknya. Bahkan pada saat dia menyerang bibir pria itu, yah, dia menyebutnya serangan karena dia dengan beringas mencium dan menggigiti bibir pria itu.
Namun bukannya pria itu mendorongnya menjauh, malah pria itu ikut berpartisipasi dengan sangat aktif yang membuatnya semakin terlena dalam ciuman itu.
Ya ampun, bagaimana dia bisa punya muka untuk bertemu pria itu lagi! Mungkin pria itu sekarang akan sulit makan karena bibirnya luka-luka. Dia menghentikan kegiatannya dan meletakan pengering rambut itu di meja riasnya dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Rasa malunya membuat wajahnya merah hingga ke lehernya.
****