“Zidan kangen sama Papa, ya?” tanya Arka sambil mengangkat bocah itu ke pangkuannya. Bocah itu mengangguk. “Hu-um, aku kangen sama Papa. Kangen banget, ayah.” Bukan tanpa alasan bahwa pada Andre, Zidan memanggil Papa, sementara pada Arka dia memanggil Ayah. Andre akan tetap menjadi Papa bagi Zidan, dan kedatangan Arka bukan lantas menggantikan—apalagi menyingkirkan—keberadaan Andre, melainkan menambah satu tempat istimewa lagi di hati Zidan, yakni sebagai ayah. Keduanya sama-sama memiliki tempat yang istimewa di hati Zidan. “Kalau begitu, kalau Zidan kangen sama Papa, gimana kalau nanti sore kita ziarah ke tempat peristirahatan Papa?” usul Arka. Bocah di pangkuan Arka langsung memekik senang, dia melompat dari pangkuan Arka dan berlari-lari girang. “Yeye yeyeee … main sama Papa nanti!

