PART 1 •prolog•
-HAPPY READING-
"Kamu lagi kamu lagi. Capek saya ketemu muka kamu,"ucap seorang guru yang sedang memarahi muridnya.
"Muka saya cantik begini,gak mungkin bikin capek bu. Mungkin mata ibu sedang bermasalah,"jawab murid itu dengan gamplangnya.
"Heh berani kamu sama saya?"bentak guru itu dan jangan lupakan mata yang sudah melotot.
"Santuy dong bu,saya cuma berjanda,"ucap murid itu tertawa.
"Kamu ngatain saya janda?"bentak guru itu sampai air ludahnya keluar.
"Bu kalau marah jangan pakai kuah dong,basah nih muka saya,"ucap murid itu.
"Terserah.Saya capek ngadapin kamu,sekarang kamu saya keluarkan dari sekolah ini dan jangan kembali lagi kesini!"ucap guru itu dan memberi surat pengeluaran.
Anak itu hanya acuh karena dia sudah biasa di keluarkan oleh pihak sekolah karena ke bar-barannya.
"Siapa juga yang mau kesini lagi. Bukannya ketemu cogan malah ketemu ibu-ibu kos,"ucapnya lalu pergi meninggalkan guru itu yang sudah sangat emosi di buatnya.
"RAINAAAAA"teriak guru itu dengan kerasnya.
Anak itu adalah Raina Lovata Qiranni Shaenatte.Seorang anak perempuan yang tumbuh dengan tampang cantik dan memiliki sifat yang kadang polos,kadang bar bar dan kadang misterius.
Raina Lovata Qiranni Shaenatte yang biasa di panggil Raina itu bukan anak kandung dari seorang perempuan paruh baya bernama Melisa Qiranni.Melisa menemukan Raina di dekat pos ronda rumahnya saat ia mau ke warung.
Raina sudah tau jika ia bukan anak kandung dari perempuan paruh baya berumur 45 tahun yang berprofesi sebagai guru sekolah dasar.
Melisa sering kali di buat pusing oleh kelakuan ajaib anaknya itu. Bagaimana tidak,ia sering di panggil ke sekolah karena kelakuan anaknya yang terlalu berani dan sudah beberapa kali anaknya itu di keluarkan kesekolah dengan alasan yang sama, yaitu bertengkar dengan teman atau kakak kelasnya yang mengganggu ketenangannya.
Tapi bagaimanapun kelakuan anaknya itu,ia sangat menyayanginya seperti anak kandungnya sendiri begitupun Raina yang berpikir bahwa ia tak memerlukan orang tua kandungnya selagi dia masih bersama bundanya.
Bagi Raina,bundanya adalah hidupnya.Tanpa bundanya itu Raina tak bisa apa-apa.Mungkin Raina tak akan hidup sampai sekarang.
Tentang sifatnya,sebenarnya tergantung siapa dia,jika dia baik maka Raina akan lebih baik dengannya namun sebaliknya jika orang itu mencari masalah dengannya,tanpa menunggu bisa saja Raina membuat orang itu berada di rumah sakit saat itu juga.
Banyak yang tidak menyangka,muka sepolos itu,ternyata memiliki sifat yang bar-bar dan tak kenal takut kecuali dengan bundanya.
"ASSALAMUALAIKUM.RAINA COME BACK HOME,ADA ORANG GAK DI RUMAH"teriaknya.
Sudah menjadi kebiasaannya teriak teriak tak jelas seperti itu,untung suaranya gak terlalu cempreng jadi sedikit bernada lah.
"Oh iya lupa.Bunda kan masih ngajar,"gumam Raina lalu melangkah menuju kamarnya.
"Bunda marah gak ya,kalau tau gue di keluarin lagi.Kalau marah pun mungkin gak se seram waktu gue ngilangin tupperwarenya,"lanjut Raina lalu terlelep tanpa sengaja.
"Bagaimana?apa yang kalian temukan?"tanya laki laki paruh baya dengan umur sekitar 47 tahun.
"Maaf tuan kita belum mendapatkan apapun,"jawabnya.
"Coba alihkan ke daerah terpencil atau perbukitan,"ucap laki laki paruh baya tadi.
"Baik tuan,"jawabnya.
"Kau dimana princess. Daddy dan mommy sudah mencarimu kemana mana.Maafkan kesalahan kami dulu nak,"gumam laki-laki paruh baya itu.
"Dad,cari dia.Kita sudah lalai menjaganya saat itu,jadi tolong temukan dia.Dia matahari keluarga kita,"ucap perempuan baruh baya itu.
"Iya mom,daddy sedang berusaha;"jawabnya.
Melisa sudah pulang dari mengajarnya.Saat memasuki rumah tumben sekali tak ada suara teriakan yang menyambutnya.
"Kemana tu anak?"gumamnya lalu melangkah menuju kamar anak gadisnya dan ternyata dugaannya benar jika anaknya itu sudah terlelap di kasurnya.
"Anak ini,kalau tidur aja kalem tentrem tapi kalau bangun rusak sudah dunia,"ucap bunda terkekeh.
"Bunda takut sayang,bunda takut suatu saat nanti jika bunda gak ada kamu gak ada yang ngurus,bunda ingin orang tua kandung kamu mencarimu ke sini tapi apakah itu hanya angan belaka,"gumam melisa sembari mengelus pucuk kepala Raina.
"Raina bangun nak ini udah sore,"ucap melisa membangunkan Raina.
"Eunghh,"Raina mulai mengerjapkan matanya dan tersenyum kearah bundanya.
"Sore bunda,"ucap Raina.
"Sore. Sekarang mandi kalau udah turun bantuin bunda masak untuk makan malam ya sayang,"ucap Melisa.
"Siap bu guru,"ucap Raina.
Tapi sebelum ia beranjak dari kasur ia mengingat kalau iaa baru di keluarkan lagi dari sekolahnya.
"Bunda,"panggil Raina pelan dan jangan lupakan cengiran khasnya.
"Kenapa?"tanya Melisa namun saat melihat cengiran Raina ia pun paham.
Raina selalu mengeluarkan cengiran khususnya jika ia berbuat sesuatu. Dan dengan mudah juga Melisa memahaminya. Memang anaknya itu tak bisa diam sedikit saja pikir Melisa.
"Lagi? Ini udah yang ke lima kalinya kamu di keluarkan dari sekolah dalam waktu lima bulan Raina,"ucap Melisa gemas.
"Ya habisnya mereka ganggu Raina bun.Raina kan gak suka di paksa.Raina tau kok Raina cantik gak ada tandingannya tapi Raina kan juga pilih-pilih kali macarin cowok"ucap Raina jujur.
"Tapi gak usah pakai baku hantam bisa?"tanya melisa gemas.
"Gak bisa. Bunda kan tahu tangan aku sering gatel,"ucap Raina terkekeh.
"Terus kamu mau sekolah dimana? Udah lima sekolah yang ngeluarin kamu dengan alasan yang sama Raina,bunda pusing astaga,"ucap Melisa menggeleng.
"Maaf bunda,"ucap Raina berpura- pura sedih agar bundanya itu tak marah dengannya.
"Yaudah. Untuk sekolah baru kamu biar bunda yang urus tapi janji gak akan bikin ulah lagi bisa?"tanya bundanya.
"Gak janji bun,"ucap Raina dengan cengiran polos miliknya.
Lalu bundanya itu keluar dari kamar anaknya dan Raina lega karena bundanya tak semarah saat iya menghilangkan tupperwarenya.
"Aman kau Raina,"gumam Raina lalu melakukan ritual sorenya yaitu mandi.
Setelah makan malam,Melisa memanggil Raina untuk membicarakan tentang sekolah barunya.
"Pasti soal sekolah baru,"tebak Raina.
"Iya,"jawab Melisa.
"Bunda udah daftarin kamu di sekolah Staimond High School,dan besok kamu langsung bisa masuk,"ucap Melisa.
"Bentar deh,kayak pernah deng-BUNDA ITU SEKOLAH ELIT!"ucap Raina yang di akhiri teriakan karena terkejut.
"Gak usah teriak,bunda kaget.Kalau iya kenapa?"tanya Melisa.
"Raina gak mau ya bebanin bunda,kalau kayak gitu lebih baik Raina gak sekolah,toh Raina udah pintar,"ucap Raina.
"Tapi bunda maunya kamu sekolah di sana,bunda tau kamu pintar bahkan IQ kamu di atas anak anak seumur kamu tapi bunda gak mau ya kamu menyombongkan diri kamu karena kelebihan kamu,"ucap Melisa menasihati.
"Tapi kan bun-"ucapan Raina terhenti dengan ucapan bundanya.
"Bunda cuma ingin kamu tumbuh seperti remaja umumnya sayang. Bunda mau kamu merasakan masa masa remaja kamu dengan baik. Masalah keuangan bunda sudah bisa membayarnya,"ucap Melisa.
Masalahnya Raina juga termasuk donatur terbesar disana bundaa batin Raina.
"Baiklah jika itu mau bunda.Raina kali ini akan benar-benar menjadi anak yang baik,tapi gak janji,"ucap Raina dengan pelan di akhir kalimatnya.
"Yaudah tidur besok kamu sekolah,"ucap Melisa.
"Iya bunda,selamat malam,"ucap Raina lalu mengecup pipi Melisa begitupun Melisa.