-HAPPY READING-
Hari ini Raina tidak berangkat bersama Ale,karena Raina ingin berangkat bareng bundanya.Jarang jarangkan bundanya bisa mengantarkannya sekolah.
"Ayo raina nanti kamu ke siangan"teriak bunda dari bawah.
"Iya bun sebentar. Raina ambil buku yang ketinggalan."
"Anak itu selalu saja ada yang di lupakan"gumam Melisa.
Tap
Tap
"Ayo bun,Raina udah siap,"ucap Raina
"Yaudah ayok,langsung ke mobil ya"ucap Melisa.
Sesampainya Raina di sekolah iya langsung salaman ke bundanya dan mengacir menuju kelasnya.Karena hari ini ada ulangan.
Brakk
Raina menendang pintu dengan kerasnya sehingga orang yang ada di dalam kelasnya terkejut bukan main.
"Assalamualaikum,Pagi semua"ucap Raina dengan muka watadosnya.
"Waalaikumsalam"jawab mereka dengan muka yang kesal.
"Kenapa?"tanya Raina dengan muka polosnya.
"Gak kok gak papa"jawab Ale tersenyum.
"Untung cantik"gumam anak kelas.
"Hari ini jadi ulangan matematika?"tanya Gita.
"Mana kita tau kita kan bodo amat"ucap Cika.
"Kita?lo aja kali"ucap Ona dan Raina kompak.
"Anj-astaghfirulloh gak boleh ngumpat"ucap Cika.
Setelah ulangan matematika,mereka semua keluar kelas karena gurunya memberi jamkos.
*Lapangan basket*
Saat Raina dkk sedang asik asiknya bercanda ria di dekat lapangan basket,tiba tiba ada yang melempar bola basket itu ke arah Raina,Ona mengetahui itu lalu dengan secepat kilat iya menghadang bola itu dan akhirnya iya yang kena.
"Awww"ringis ona karena iya yang menghalangi bola itu agar tak terkena Raina
"lo gak papa kan na"tanya Raina khawatir
"Cuma pusing doang kok"ucap Ona tersenyum
"Upss sorry sengaja"ucap inez yang tiba tiba datang
"Jadi lo yang ngelempar bola ke arah Ona"ucap Raina marah
"Lebih tepatnya kearah lo,tapi temen b**o loh malah ngalangi sih"ucap inez remeh
"Jangan ngatain sahabat gue atau lo akan berurusan sama gue"ucap Raina dengan suara dingin.
"Siapa lo? ngapain juga gue takut,"ucap Inez.
"Oke. Kalau gitu lo lawan gue main basket siapa yang menang harus turutin perintahnya, setuju?"ucap Raina tersenyum devil.
Sahabat sahabat Raina dan yang lainnya melototkan matanya,karena mereka tau jika Inez adalah ketua basket putri.
"Na,lo jangan gegabah"ucap Gara menasihati Raina.
"Shut up"ucap Raina tajam
"Siapa takut,siap siap kalah adek kecil"ucap Inez tersenyum remeh.
"Lo akan malu dengan melawan orang yang lo sebut adik kecil ini,"ucap Raina tersenyum devil dan menatap Inez tajam.
Raina sudah berganti menggunakan pakaian olahraga milik Gita yang ada di loker.
"Sudah siap kalah adek kecil?"ucap inez meremehkan.
"Ck,kita lihat saja siapa yang akan malu di sini,kakak gila"ucap Raina sambil menekan kata kakak gila.
"Awas lo ya"ucap Inez marah namun di balas senyuman kemenangan dari Raina.
"Siap?"tanya wasit.
"Siap"ucap Inez dan Raina.
Pritt
Bola basket saat ini berada dalam kuasa Inez,dan inez sudah mendapatkan poin 10 namun Raina belum sama sekali.Tapi yang membuat mereka melongo adalah sikap santai dari Raina,seolah olah dialah penonton di sini. Ia jadi ingat teman masa kecilnya yang membuat Raina bisa bermain basket dengan baik. Ini semua berkat temannya itu, bahkan bisa di bilang saat ini Raina lebih menguasai teknik basket daripada teman yang sudah mengajarinya. Walau begitu Raina tak pernah menyombongan apapun yang ia bisa.
"NANA LO NGAPAIN ANJIR,CEPET KEJAR POINNYA"teriak Ona khawatir.
"TENANG ONA KITA PASTI MENANG,"balas Raina tersenyum meyakinkan.
"MENANG MATA LO GELINDING!! WOY ITU LO BELUM NYETAK SATU POIN PUN SAYANGKU"ucap Cika gemas.
"IYA IYA INI AKU MULAI"ucap Raina tertawa melihat raut muka teman temannya.
Raina langsung lari dan dengan mudahnya mengambil bola basket dalam kuasa Inez.Inez kesal karena iya tak bisa membaca gerakan dari seorang Raina.
"YESSS TERUSKAN BOCILLKUU"teriak temam teman Raina karena Raina bisa memasukkan bola dengan indahnya.
Waktu tinggal 10 menit lagi,poin Raina dan Inez menjadi seri,saat Inez akan merebut bola basket itu,Raina dengan indahnya memasukkan bola basket ke ring.
"s****n gue ketinggalan mulu"ucap Inez marah.
Raina selalu menggunakan serangan yang tak bisa di baca oleh lawannya. Jangankan lawannya,guru olahraga yang melihat pertandingan sengit ini pun tak bisa membaca gerakan yang akan di ambil oleh Raina.
"Nana jago banget main basketnya gak nyangka gue"ucap Ale.
"Iya,gue yang anak basket aja gak bisa baca tu gerakan"ucap Revan.
"Sama gue juga gak bisa baca gerakan yang dia ambil selanjutnya,"ucap Rehan kagum.
"Kayaknya kita harus berguru sama tu bocil deh,"ucap Gita.
"Iya tuh sekalian cara nyinyirin orang,Nana kan paling pinter tu kalau soal kicepin orang"ucap Ona.
"Setuju gue"ucap Cika terkekeh.
Kenapa lo selalu indah di mata gue sih batin Ale karena melihat rambut Raina yang tadinya di kuncir dengan rapi sekarang sudah terurai sendiri dengan indahnya,ditambah keringat kecil kecil di sekitar dahinya yang menambah kesan seksi sorang Raina.
"Wanjirr Raina hot banget"ucap Gara membuat Ale menatapnya tajam.
"Ulangi"ucap Ale datar dan tajam.
"Mampus lo,pawangnya aborsi"ucap Rehan
"Aborsi apaan njir"ucap Revan terkejut.
"Ituloh waktu gunung mengeluarkan magma"ucap Rehan polos.
"ITU ERUPSI b**o!"ucap mereka kompak.
"Gak beda jauh juga,"gumam Rehan.
"Beda setan! Aborsi itu pengguguran kandungan,kalau erupsi keluarnya magma,"ucap Revan gemas dengan kembarannya ini.
"Oh iya itu maksutnya"ucap Rehan tertawa?
"Kembaran lo van,begonya alami dan mengalir sampai jauh"ucap Ale.
"Ravika dong"ucap Gara.
"RUCIKA ONENG"ucap mereka.
"Nah itu maksut gue"ucap Gara.
"Eh kok udah selesai tandingnya"ucap Rehan.
"Lo sih. Kita jadi gak lihat sampai selesai kan"ucap Ale.
"Apa salah gue ya Allah,"ucap Rehan dramatis.
"Siapa yang menang?"tanya Revan ke Ona.
"RAINA DONG"ucap Ona dkk kompak.
"Kompak amat mbak"ucap Gara terkekeh.
"Hai"ucap Raina tersenyum.
"RAINAA SELAMAT LO JAGO BANGET"ucap Ona dkk lalu memeluk Raina erat.
"S...ess...akk"ucap Raina.
"Woyy ciwi ciwi,Nana sesak noh"ucap Hengki teriak.
"Ehh sorry na kita terlalu senang"ucap Ona yang di angguki yang lain.
"Gak papa kali"ucap Raina terkekeh.
"Raina kamu hebat sekali dalam bermain bola basket"puji guru olahraga yang sedari tadi ikut menonton pertandingan.
"Terimakasih pak"ucap Rainam
"Kenapa kamu gak ikut ekstra basket?"tanya guru itu.
"Mager pak,capek loncat mulu"ucap Raina terkekeh sedangkan yang lain hanya menggelwng mendengar ucapan polos seorang Raina.
"Kalau kamu ikut basket,saya bikin kamu jadi ketuanya deh"ucap guru itu
"Gak perlu pak,biar kak Inez aja,lagian Raina udah milih ekstra dance"ucap Raina menolak halus.
"Tapi kalau ada pertandingan basket putri kamu mau kan ikut"tanya guru itu.
"Bisa di atur pak"ucap Raina terkekeh.
"Yaudah bapak tinggal dulu"ucap guru itu.
"Na,lo beneran ikut dance?"tanya Gita.
"Iya gue milih ekstra dance,"ucap Raina.
"YESS KITA SAMA"ucap Ona dkk senang.
"Udah yuk temenin gue ganti,gerah banget njir"ucap Raina.
"Kantin aja dulu kita jamkos terus kok"ucap cika?
"Gimana na?"tanya gita ke Raina.
"Boleh deh"ucap Raina lalu mengikuti teman temannya ke kantin.
Di sepanjang jalan,Raina memikirkan ancaman Inez kepadanya karena iya tak terima kalah.
Gue tunggu permainan lo,setelah lo masuk perangkap lo sendiri giliran gue yang main ucap Raina tersenyum devil.
"Na...Na....NANA"teriak Ona.
"Apaan sih na kaget tau gak"ucap Raina kesal.
"Lagian lo bengong aja,dari tadi di panggilin loh"ucap Ona.
"Sorry sorry"ucap Raina terkekeh.
"Itu loh ada kakak kelas di depan lo"ucap gita gemas karena temannya ini tak sadar sadar.
"Ehh iya kak ada apa ya?"tanya Raina mengerjap polos membuat kakak kelas itu gemas.
"Ini buat lo,terima ya"ucap kakak kelas itu lalu pergi gitu aja.
"Coklat"gumam Raina bingung
"Gak usah di makan,kasihin mereka aja"ucap Ale yang langsung mengambil alih coklatnya.
"Loh Ale kok gitu"ucap Raina cemberut.
"Nanti gue beliin sendiri coklat,yang utu kasihin mereka aja"ucap Ale membuat mereka menahan senyum.
"Ekhmm cemburu ekhmm"sindir Hengki namun di hiraukan Ale.
"Bener ya nanti beliin coklat"ucap Raina yang aslinya tak tega memberikan coklat itu.
"Iya nanti gue beliin coklat,eskrim sama jajan lainnya"ucap Ale.
"Oke deal"ucap Raina lalu memberikan coklat itu ke Ona.
"Di kira super deal kali ya"ucap Gita terkekeh.
Mereka pun mulai memesan makanan untuk mengisi perut mereka.Banyak canda tawa yang di isi di meja itu entah ulah Gara ataupun ulah si kembar 2r.
Kalian temen temen gue yang berhasil bikin gue nyaman,semoga selalu seperti ini jangan coba berubah guys batin Raina tersenyum manis.
Tanpa Raina tau Ale memperhatikannya bahkan sempat tertegun melihat senyuman manis di bibir Raina.
Manis banget batin Ale tersenyum tipis.
"Tatap matamu bagai busur panah yang kau lepaskan ke jantung hatiku meski kau simpan cintamu masih tetap nafasmu wangi hiasi suasan"ucap Rehan menyanyi sekaligus menyindir Ale yang sedari tadi tak lepas menatap Raina.
"Saat ku kecup manis bibirmu"lanjut Revan yang mulai paham situasi.
"Pikiran gue traveling oneng"ucao gara terkekeh.
"Berisik"ucap Ale yang paham dengan sindiran si kembar.
"Kalian kenapa?"tanya Raina bingung.
"Itu si Ale mphhh"ucap Rehan terhenti karena mulutnya di bekap oleh Ale.
"Lo ngomong,jangan harap lo masih bisa bicara setelah ini"ucap Ale tajam sambil berbisik.
"Hehe itu si Ale kalau di lihat lihat ganteng juga"ucap Rehan karena takut tatapan tajam milik Ale.
"Ohh kirain apa"ucap Raina.