-HAPPY READING-
Seorang dokter memberikan hasil tes DNA kepada sepasang orang tua yang sudah menunggu beberapa menit yang lalu.
Seminggu yang lalu,ada sepasang suami istri yang memberikan sempel rambut untuk di tes DNA.Walau mereka yakin jika anak itu adalah anak mereka yang hilang empat belas tahun yang lalu.Namun mereka memerlukan bukti yang kuat agar anak itu dan yang lainnya percaya dengan kebenaran yang ada.
"Gimana dok hasilnya?"tanya sepasang suami istri itu kompak dan jangan lupakan raut muka yang penuh harapnya.
"Dari hasil DNA ini,hasilnya positif pak. Ini akurat dengan darah kalian,"ucap dokter itu membuat sepasang suami istri itu senang bukan main bahkan sang istri sudah menangis haru mendengarnya.
Sungguh,ini yang ingin mereka dengar.Dan benar saja feeling mereka sebagai orang tua tak pernah salah. "Terimakasih dok,kita permisi dulu."
"Silahkan"jawab dokter itu tersenyum.
Saat sepasang suami istri itu keluar dari ruang dokter,tak sengaja mereka bertabrakan dengan seorang ibu yang terlihat pucat dan letih.
"Maaf mbak,mas saya gak sengaja,"ucap ibu yang mereka tabrak.
"Iya bu gak papa,saya dan istri saya juga gak lihat-lihat tadi,"jawab laki laki yang keluar dari ruang dokter.
"Baiklah kalau gitu saya permisi,"ucap ibu itu lalu meninggalkan sepasang suami istri yang sedang bahagia.
"Dad,anak kecil ini kan,"ucap istri dari suami itu mengambil foto yang terjatuh di dekat mereka berdiri.
Daddy dan mommy pun saling pandang dengan raut muka tak terbaca.
"Mom,ini juga wanita tadi kan?"tanya daddy.
"Dad,sepertinya dia dekat bahkan sayang sekali dengan anak kita,"ucap mommy lirih karena sedih melihat anaknya menyayangi wanita lain sebagai ibunya.
"Sabar mom,sebentar lagi kita akan bersama sama kembali,"ucap daddy menguatkan istrinya.
"Tapi kalau anak kita gak mau ikut kita dan memilih ikut keluarga angkatnya gimana?"tanya mommy takut.
"Daddy juga gak tau mom,"jawab daddy yang baru sadar hal itu.
"Yaudah yuk pulang,kita bicarain nanti lagi tentang ini,"ucap daddy.
"Iya dad,"jawab mommy yang mau tidak mau mengikuti ucapan sang suami.
*Mall*
Raina dan teman temannya itu sedang menghabiskan waktu di sebuah mall besar yang terkenal.
"Gila baru kali ini gue kesini.Emang bener kata orang-orang,mall ini beda dari mall lainnya.Lihat tuh coraknya gak datar-datar kayak mall lainnya.Jadi gue gak bosen si disini sampai beberapa jam,"ucap Ona berbinar menatap setiap sudut mall itu.
"Iya bener.Harganya juga gak beda tipis lah sama mall lain,tapi kualitas di sini benar-benar bagus njir,"ucap Cika tak kalah antusias.
"Eh Na lo kok diem aja? Terus tu muka kayak biasa aja,lo udah pernah kesini ya?"tanya Gita heran.
"Apaan enggak kok,b-belum lah,"ucap Raina mencoba tak gugup dengan tatapan penuh curiga oleh teman-temannya.
Mereka tahu dari tadi menjadi perhatian banyak orang apalagi dengan kecantikan alami dari Raina.
Namun Raina cuek cuek aja dengan hal itu.
"Mata mereka gak bisa nyelow ya, ngelihatin Nana gitu banget"ucap Gara terkekeh.
"Pengen gue cokel tuh mata,padahal udah ada cewek masih lirik cewek lain,"ucap Ale dengan sinis.
"Lo....cemburu ya Le?"tanya Hengki menggoda Ale.
"Sibuk banget lo ngurusin hidup gue,"ucap Ale lalu mendekat ke arah Raina dan merangkulnya.
Gue harus hati-hati nih sebelum ada yang lihat batin Raina.
"Ehh"ucap Raina terkejut.
"Banyak mata setan disini,"ucap Ale yang di mengerti Raina.
"Tapi gak gini juga kali Le,lihat noh mereka ngelihatin kita semua,"ucap Raina.
"Biarin!"ucap Ale.
Tapi gue itu gak suka jadi bahan perhatian Ale....ni orang pengen gue tongseng dah batin Raina cemberut.
Mereka berjalan menuju stan pakaian-pakaian.
Mampus kalau sampai ada yang tau gue di sini gimana batin Raina menggit bibir bawahnya.
Lalu Raina membuka ponselnya dan mengetikkan sesuatu untuk manager mall ini.
Kak riska
Online
Kak,suruh semua pekerja di mall R'Q MALL untuk diam saat mereka lihat gue.
Oke.
****
Sudah tiga jam lamanya Raina dan lainnya menghabiskan waktunya di Mall dan sekarang waktunya mereka pulang.
"Gue duluan sama Nana,"ucap Ale.
"Heh,jaga ni boncel.Jangan lo apa apain ya,"ucap Gita menatap garang Ale.
"Hmm,"jawab Ale lalu menarik lembut tangan Raina.
"Bentar Le.Kalian stop panggil Raina boncel.Raina itu gak boncel gak kecil tapi Raina itu masih masa pertumbuhan!"ucap Raina cemberut.
"Terima ajalah cel kalau udah takdirnya lo kecil mah kecil aja,"ucap Revan terkekeh yang langsung di tatap penuh permusuhan oleh Raina.
"Raina tandain lu Revan Alibaba,"ucap Raina memicingkan matanya.
"Alibaba HHAHAHAA,"tawa mereka membuat Revan mendengus kesal.
Pengen jual ginjal aja deh kalau gini batin Revan.
"Gue duluan ya guys byee muach,"ucap Raina pamit dan mereka hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah Raina.
"Van kenapa gue ngerasa deket ya sama Raina,"ucap Rehan ke Revan.
"Gue juga.Lo nyadar gak sih muka Raina mirip waktu mommy muda,"ucap Revan.
"Iya,"jawab Rehan yang masih menatap punggung boncel mereka siapa lagi jika bukan Raina.
"Bisik bisik apa kalian?"tanya Cika.
"Kepo!!"ucap 2r lalu pergi gitu aja membuat Cika melongo melihatnya.
"Tu anak minta di santet online kayaknya,"ucap Cika sinis.
"Udah biarin kayak gak tahu mereka berdua kalo lagi kumat,"ucap Ona yang di angguki lainnya.
*Rumah Raina*
"Makasih,"ucap Raina tersenyum.
"Sama-sama,"jawab Ale sambil mengelus kepala Raina dan membenarkan rambut yang sedikit berantakan.
"Lo gak pulang?"tanya Raina.
"Jadi ngusir ni?"tanya Ale mengangkat satu alisnya.
"Enggak.Kan lo cuma nganterin gue kan,nah sekarang gue udah sampai di rumah,lo gak pulang?"tanya Raina.
"Iya-iya bawel,"ucap Ale terkekeh lalu pamit pulang.
Saat Raina memasuki rumahnya,seperti biasa rumahnya dalam keadaan sepi.
"Untung gue gerak cepat,"gumam Raina lalu membersihkan tubuhnya karena hari mulai sore.
Setelah mandi dan merasa lebih fress,Raina berjalan ke bawah menuju halaman belakang rumahnya yang luas,hanya ia dan bundanya saja yang tahu jika Raina punya Ruangan khusus miliknya dan hanya dia yang boleh masuk bahkan dia sendiri yang memegang kunci ruangan itu.
"Huhh gue capek,harusnya kan gue udah kagak sekolah,"ucap Raina yang mulai berkutat dengan kertas kertas di depannya.
"Kok ini gak sesuai ya,coba gue periksa,"ucap Raina yang melihat kejanggalan pada kertas yang ia baca.
"Penggelapan hmm,"ucap Raina dengan smriknya.
Lalu Raina mengambil ponselnya dan menelpon seseorang.
"Halo princess"ucap orang di seberang sana.
"Bang,penjarakan pak Handoyo selaku managemen keuangan,dia sudah menggelapkan uang sebesar 10 miliyar,"ucap Raina serius.
"Baiklah princess,"ucap orang itu.
Raina pun menutup panggilan itu dengan keadaan menahan amarah.
"Kau kira gue bodoh hmm? Udah gue kasih kepercayaan tapi kenapa gak lo gunain dengan baik"ucap Raina marah.
"Rai tenangin diri lo,karena sekarang ada orang yang lo sayang,membutuhkan bantuan lo," ucap keysa melalui batin Raina.
"Siapa yang lo maksut kak?"tanya Raina khawatir.
"Lo harus cari tahu sendiri Na,lo lihat sekitar lo pasti ada yang mencurigakan.Lo akan menemukan jawabannya,"ucap keysa lalu tak bersuara lagi
"Pliss dong jangan nambah pikiran gue,kerjaan gue banyak,"ucap Raina lirih sambil memegangi kepalanya yang terasa nyeri.
Bunda Raina barusan pulang namun tidak menemukan anak kesayangannya itu,padahal ia sudah mencarinya di kamar.
"Kemana tu anak?"gumam Melisa.
"Lagi di ruangannya kali ya,"lanjut Melisa lalu menutup kembali pintu kamar anaknya.
Karena Melisa tau jika anaknya itu gak mau ada yang memasuki ruang khusus miliknya,akhirnya melisa melangkah menuju kamarnya untuk membersihkan diri dan setelah itu turun untuk memasak makan malam untuk mereka.
Tes
Tes
Tiba tiba darah mengalir begitu saja dari hidung melisa,melisa cepat cepat mengambil tisu agar Raina tak melihatnya.
"Bunda udah pulang,"ucap Raina tiba tiba dari arah belakang.
"Ya ampun Raina bikin bunda kaget aja,"ucap bundanya sambil mengumpetkan tisu bekas darahnya.
"Bunda mimisan lagi?"ucap Raina khawatir karena darah itu belum berhenti.
"Iya,mungkin cuma kecapekan,"ucap bundanya santai.
"Bunda,ini sering kalau kecapekan gak mungkin,dan lihat muka bunda pucat banget sekarang,bunda istirahat aja ya,"ucap Raina menuntun bundanya ke kamar.
"Terus kita kan belum makan sayang,"ucap bunda lirih.
"Bunda lupa anakmu ini bisa masak,"ucap Raina sedikit menyombongkan bakatnya.
"Hehe iya deh tapi janji kamu hati- hati ya,"ucap bundanya yang sudah tiduran di kasurnya.
"Siap bunda,"ucap Raina lalu mencium pipi bundanya.
"Raina sayang bunda,jangan tinggalin Raina sendiri ya bun,"lanjut Raina dengan senyum tulusnya lalu pergi menuju dapur.
"Bunda gak tau sayang,umur bunda sampai kapan,bunda juga gak tau apakah bunda bisa lihat muka kamu sampai nanti kamu menikah,bunda juga gak tau apa bunda masih bisa bertahan selama mungkin,"ucap melisa yang mulai menangis.
"Bunda cuma berharap setelah bunda gak ada di samping kamu,orang tua kandung kamu datang menjemputmu.Bunda cuma gak mau kamu sendirian saat bunda gak ada,bunda cuma mau kamu bahagia setelah ini.Bunda juga sayang kamu,"lanjut melisa lalu mencoba menidurkan tubuhnya agar keadaannya membaik.
Di dapur Raina memikirkan ada apa sebenarnya sama Bundanya itu.Kenapa akhir akhir ini iya melihat bundanya selalu mimisan dan mukanya yang pucat dan juga mudah kelelahan.
"Gue harus cari tahu,"gumam Raina lalu mulai memasak untuknya dan untuk bundanya.