Bagian 19 || Mitha ||
Mizuki menghela nafas nya, ia mengeluarkan belati dari sakunya dan menatap sosok gadis di depan nya dengan wajah datar dan mata yang ditutupi. Sedangkan sosok gadis di depan itu menatap Mizuki dengan gelengan kepala. Jantung Mizuki terasa sakit, menandakan bahwa Xavier sepertinya menyuruh nya agar tidak lama menyelesaikan misi nya, 'maaf kan aku' batin Mizuki dalam hati.
"Ehmmm, mmmmphhhh!" seru Mitha menggelengkan kepala saat Mizuki mulai melangkah dengan seringai nya
"Maaf, aku tidak bermaksud. Tapi, ini demi kebaikan kita bersama!" seru Mizuki mulai mendekatkan mata pisau nya ke arah leher Mitha.
Mitha, gadis arrogant yang tidak terlalu di sukai oleh Mizuki. Mitha satu kelas dengan Alice, dan Mizuki cukup tau bahwa gadis yang sedang berada di hadapannya ini membenci Alice. Karena Logan, Mitha menyukai Logan dan cenderung menggoda lelaki itu. Namun sayangnya, satu-satunya gadis yang menjadi sahabat Logan adalah Alice. Dan itu membuat Mitha benci dengan Alice. Mitha sering ingin mengerjai Alice, dan sering kali Mizuki tau hal itu. Namun, dari semua jebakan itu. Tak satupun yang berhasil membuat Alice terjebak, selain cantik. Alice juga cerdas dan pintar, membuat jebakan kecil itu tidak akan mampan dengan otak cerdas Alice. Di sekolah mereka, banyak lelaki yang menyukai Alice. Namun tidak ada yang terlalu berani mendekati nya, karena Alice selalu bersama dengan Xander. Lelaki dingin yang tidak tersentuh namun genius. Dan juga Logan, yang sering tersenyum dan lebih ramah daripada Xander.
Mitha menatap Mizuki dengan air mata yang terus berlinang. Ia berusaha untuk mengeluarkan tangan nya dari ikatan yang memborgol nya. Tapi susah, ini begitu susah. Sementara Mizuki mulai mendekatkan pisau itu dan Jlebb, Pisau itu mengenai lengan Mitha. Gadis itu semakin berusaha untuk meronta, namun Mizuki juga semakin kuat dan gencar mulai menyayat lengan nya. Mitha tidak bisa berteriak karena mulutnya di sumpal. Mitha sekarang menyesal, ia memang naik ke lantai atas karena ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Dan ia tidak menyangka, malah akan bertemu dengan sosok gadis bertopeng di depannya. Namun meski mengenakan topeng, Mitha jelas tau bahwa gadis itu adalah Mizuki.
Sialnya lagi, Mitha pergi dengan tidak ada yang mengetahui. Ia tidak meminta ijin pada Gordo, selaku penanggung jawab acara kamp libur natal mereka. Bahkan ia juga tidak ijin dengan Karin, wakil dari Gordo. Ia meninggalkan mereka ketika semua sibuk memasak makan malam mereka.
"Darah! Aku benci ini, aku benci saat menyakiti diri ku sendiri!"
Mizuki menarik pisau nya yang tertancap di betis Mitha, ia kembali menarik nya. "Aku tidak ingin! Tapi haruss!" seru Mizuki dengan helaan nafas panjang. Ia terus memberikan luka sayatan di sekujur tubuh Mitha. Darah muncrat ke wajah nya, ia tersenyum mengejek. Ia berdecih. Semua tubuh Mitha sudah dipenuhi dengan luka dari pisau nya. Mitha bahkan sudah tidak sanggup lagi untuk melawan gadis iblis yang ada di depannya saat ini.
Langkah terakhir, Mizuki bergegas mengambil kapak, membaringkan Mitha. Sementara Mitha menggelengkan kepalanya, ia menatap ngerti Mizuki yang mengambil benda tajam yang sekarang ada di hadapannya. "Mmmmmm!" Mitha berusaha untuk meronta, namun...
Jlebbbb
Kapak nya kali ini tepat mengai bagian rusuk Mitha, dimana hati gadis itu berada. Darah membasahi jubah hitam Mizuki, sesaat gadis itu terdiam sambil menatap Mitha yang bergerak dengan rintihan dan nafas yang tinggal satu-satu. d**a gadis itu sudah berhenti naik turun, dan Mizuki segera mengambil hati itu. Ia juga melukiskan lambang yang seperti biasa ia lakukan.
Mitha menatap kepergian Mizuki, gadis itu bahkan meninggalkannya yang sudah bersimbah darah. Semakin lama, nafas Mitha semakin tidak terasa lagi. Dan sampai, ia meraskan gelap. Tidak ada lagi yang bisa ia lihat.
***
Xander bergegas turun dari dalam mobil nya, ia segera berlari ke arah kerumunan di tengah-tengah lapangan sekolah mereka. Xander kesetanan saat tidak menemukan sosok yang ia cari, ia segera mencari Gordo. Sementara sosok anak buah ayah nya bergegas mengelilingi sekolah sebelum Xander sampai.
"Xander? Ada apa? " seru Gordo saat menatap Xander seperti mencari seseorang. Ia segera berjalan mendekati lelaki itu. Gordo sedikit terkejut dengan kedatangan Xander tengah malam begini di acara kamp malam keakraban natal yang biasanya tidak pernah di hadiri oleh mereka.
"Mitha, dimana gadis itu? Dia berada dengan mu kan? Dimana dia!!!!" teriak Xander
"hoooooo, tenang dulu Xander. Mitha memang ada di sini, tapi dia berada di tenda sebelah. Kemari, aku akan menunjukkan nya pada mu!" seru Gordo segera menuju tenda dua
"Karinnn!" seru Gordo menghampiri sosok wanita yang sedang asik memanggang jagung bakar
"Ahh Gordo? Dan...Xander? Ada apa?" seru Karin menyerahkan alat pemanggang pada salah satu sahabat nya sambil menatap Xander, lelaki yang cukup jarang berbicara dengan nya meskipun mereka satu kelas. Karin sekilas menatap ke belakang, mencari keberadaan dua orang yang selalu bersama dengan lelaki itu. Namun karena tidak menemukan Alice dan Logan, perhatian Karin lalu tertuju lagi pada dua pemuda di depan nya.
"Apa kau melihat Mitha?" seru Gordo
"Mitha? Ahhhhh, tadi ia pergi sendiri ke gedung itu, dia ingin mengambil sesuatu katanya. Tapi, dia belum kembali sejak tadi!"
"Shittt!"Umpat Xander menatap lantai atas mmebuat Karin dan beberapa gadis yang berada di belakang gadis itu sedikit terkejut mendengar Xander yang pertama kali ini mengumpat.
"Hey, Xander!! Sebenarnya ada apa? Aku tau kau tidak ada hubungan nya dengan gadis itu, tapi mengapa kau tiba-tiba mencarinya seperti ini?" ujar Gordo menahan Xander dengan rasa curiga
"Dengar, kau mungkin tidak akan percaya. Tapi, aku bermimpi darah di sekolah ini. Pita berwarna pink. Apa kau tau itu milik siapa? Logan bilang itu adalah Mitha, makanya aku mencari nya ke sini!" seru Xander
"Kalau begitu, aku akan membantu mu mencarinya!" seru Gordo
"Tunggu, aku juga akan ikut!" seru Karin yang juga ikut berlari dan mengejar Gordo dan Xander yang sudah berlari menjauh menuju anak tangga. Lift memang tidak beroperasi karena mereka sedang masa libur natal.
"Dimana dia?" seru Xander
"Aku rasa dia ada di gedung selatan lantai tiga, perasaan ku saja atau tidak. Tapi aku merasa dia sedang berada di sana!"
Shitt... Xander mengumpat lagi dan segera berlari menaiki anak tangga lagi, ia menatap jam tangan nya yang sudah menunjukkan pukul 08 malam. Ini benar-benar sudah larut. Ia tetap berlari dan langkah Xander berhenti di depan ruangan yang "Tidak... mengapa harus di ruangan ini?" seru Xander berhenti di depan pintu ruangan itu.
Gordo dan Karin sampai, mereka ikut berhenti di belakang Xander, menatap lelaki itu yang hanya diam saja. "Ada apa? mengapa kau tidak lanjut?" seru Gordo
"Tidak, kau saja yang membuka!" seru Xander
Gordo mengangguk dan segera berjalan menuju ke arah pintu itu, ia juga sempat mendengar peristiwa beberapa hari yang lalu, saat Xander dan kedua sahabat nya menemukan mayat di ruangan ini. Tangan Gordo sedikit bergetar saat membuka knop pintu itu, setelah pintu itu terbuka. Gordo langsung mundur beberapa langkah dan hampir menabrak Xander.
"K-kau benar, Mithaaaaaaa!" teriak Gordo yang langsung memasuki ruangan itu dan menyingkirkan jubah yang menutupi wajah itu. Benar, sosok itu adalah mayat Mitha. Darah di lantai membuat Xander hampir muntah. Ia segera berjalan mendekati mayat itu, menatap setiap luka sayatan yang berada di sekujur tubuh gadis itu. Sementara Karin langsung sibuk menelepon yang tidak ia ketahui sama sekali.
"d**a nya terbelahh!" seru Gordo saat membuka jubah itu. Ia menatap bagian d**a Mitha yang sudah tidak berbentuk lagi dan "Hati nya hilang? Lagi?" ujar Gordo dengan tangan yang bergetar. Gordo menatap Xander, "Apa yang kau mimpikan benar-benar nyata, sebenarnya ada apa ini?"
"Kau tau apa arti simbol dari sayatan seperti ini?Aku sudah memperhatikannya dan semua gadis yang terbunuh memiliki simbol seperti ini!" ujar Xander
Gordo menatap luka sayatan itu, dan Xander benar. Luka ini seperti....., mata gordo langsung membulat. Ia terjatuh dan menabrak ding-ding, wajah nya tiba-tiba pucat. "Hey? Ada apa dengan mu?" seru Xander
"Kalian berduaaa, minggir!"
Xander mengalihkan perhatiannya dan menatap sosok polisi yang seperti nya akrab baginya. Ia langsung bangkit berdiri dan menarik Gordo ke luar. Para polisi itu dan bahkan kepala sekolah sudah berada di lokasi.
"Kau-hey nak!"
Xander yang merasa di tunjuk segera menatap sosok polisi yang berjalan ke arah nya. "Kami butuh kesaksian mu, setiap kali ada kejadian. Kau selalu berada di lokasi, kami curiga ini semua ada hubungan nya dengan mu!"
"Kami baru saja datang kemari pak, dia tidak ada hubungan nya dengan ini. Tapi, dia berkata bahwa dia bermimpi bahwa ada darah di sekolah ini dan pita yang terletak di atas nya.Oleh sebab itu dia langsung segera datang kemari. Xander juga tidak ada hubungan nya sama-sekali dengan Mitha!" seru Karin menjawab pertanyaan polisi itu dengan lantang.
"Kami perlu bukti bahwa dia tidak bersalah nak, jangan ikut campur!"
"Sebaik nya anda mencari solusi dengan ini semua pak, kami bertiga pamit dulu!" seru karin segera membawa Xander dan Gordo ke bawah. Namun, karin tiba-tiba berbalik "Sebaiknya anda melihat cctv baru nya pak, sekolah sudah memasang nya beberapa hari yang lalu!" teriak Karin
****
Xander menatap Karin dan Gordo yang seperti nya sedang syok, ia menghela nafas. Ia sedikit penasaran dengan Gordo, "Hey, mengapa kau terlihat begitu pucat saat aku bertanya soal luka sayatan itu?" seru Xander memulai pembicaraan.
Gordo melihat, wajah nya tidak sepucat tadi. "Aku juga mendapatkan mimpi seperti itu sudah sejak beberapa hari ini. Aku tiba-tiba saja mengingat nya saat kau bertanya!" seru Gordo sambil meneguk soda nya kasar.Jika bisa jujur, ia memang sedikit tertarik pada Mitha. Namun ia tidak pernah berpikir bahwa gadis itu akan berakhir seperti ini. Terlalu mengejutkan dan terlalu tiba-tiba.
"Aku memimpikan Mitha berpamitan pada ku beberapa saat yang lalu, aku tidak tau apa makna-nya. Namun, saat kau bertanya pada ku soal Mitha, itu sebab nya aku langsung bergegas membantu mu!"
Mereka kembali terdiam dengan sosok yang menatap mereka dari jauh, sosok itu nampak menghela nafas nya. Ini sudah korban ke tiga, dan mereka hanya tertinggal beberapa lagi. Jika ia tidak melakukan sesuatu, maka Alice akan berada di dalam bahaya.
Xander kembali diam, ia menatap kaluang nya dan tidak ada sinar. Ia menghela nafas nya saat Alice setidaknya baik-baik saja. Tatapan Xander lalu menerawang dan mengingat apa yang baru saja di katakan oleh sosoki itu. Sosok seorang lelaki berjubah hitam mendekati Xander membuat dia segera berdiri "Apa anda menemukan sebuah petunjuk?" seru Xander
"Aku rasa ini sudah terencana tuan, kami tidak bisa menemukan apa-apa. Tuan besar memberikan sinyal agar kami segera kembali. Apa anda masih ingin berada di sini?"
"Aku akan berada di sini dulu, kau sudah bisa kembali. Terimakasih sudah membantu ku!"
"Baik tuan muda!"
Xander kembali duduk dan mendapati tatapan penasaran dari Gordo dan Karin, namun Xander hanya menaikkan bahu nya menandakan bahwa ia tidak ingin membahas nya. Gordo lalu teringat sesuatu, "Hey, dimana Alice dan Logan? Biasanya kau selalu bersama dengan mereka!"
Xander menatap Gordo "Alice sedang tidak sehat dan dirawat di rumah ku, Logan berada di rumah nya. Ini sudah malam, lagian tidak mungkin aku mengajak mereka tiba-tiba begini!"
"Alice? Dirawat di rumah mu? Apa hubungan kalian berdua seistimewa itu? Aku rasa kalian ada hubungan yang disembunyikan dari kami!" goda Karin mencoba memecahkan aura tegang mereka sejak tadi.
"Kami tidak ada hubungan apa-apa, aku hanya membantu nya saja. Jangan terlalu banyak memikirkan yang tidak penting! Aku pergi dulu!"
"Hey Xander, jika kau tidak ada hubungan dengan Alice. Bisa aku mendekati nya?Aku menyukai gadis itu sejak pertama kali bertemu!"
Xander yang sudah cukup jauh berbalik dan menatap Gordo datar, ia tau betul lelaki itu adalah lelaki playboy cap kakap. Biasanya Xander tidak akan peduli jika Gordo mendekati perempuan mana pun, namun ketika mendengar nama Alice. Entah mengapa perasaan Xander tiba-tiba tidak suka. Tidak-tidak, tepatnya Xander sama-sekali tidak ingin mendengar itu. Xander sama-sekali tidak menjawab dan segera memasuki mobil nya.
"Hey?? Kau tidak mau? Xander!!!" teriak Gordo membuat Karin menatap Xander dengan tatapan sulit diartikan
"Hey, kenapa tatapan mu seperti itu?Apa kau menyukai nya?"
Karin sadar dan segera berdiri, "bukan kah sudah cukup jelas bahwa Xander menyukai Alice? Jangan terlalu banyak berurusan dengan mereka, apa kau tidak bisa merasakan bahwa aura mereka bertiga itu sedikit berbeda?" kesal Karin saat menatap tatapan jenaka Gordo yang jelas-jelas ingin menggodanya "dan jangan berharap dengan ku sialan!"
"Yak, hey!!!, kau benar-benar manusia esss!" teriak Gordo lalu menatap punggung Karin yang sudah menghilang. Ia lalu tersenyum mengejek saat tidak ada lagi yang bersamanya. "Xander, apa kau berpikir bisa mendapatkan Alice dengan mudah? Aku adalah pengantin nya, tidak boleh ada yang lain!" kekeh Gordo dengan seringai nya dan tiba-tiba menghilang.