Bagian 18 || Pencarian pertama||Jangan lupa tinggalkan jejak vote& komen nya ya sodara!!!!!
***
Gadis dengan topeng yang menutupi wajah nya, serta jubah hitam nya membuat nya tidak bisa dikenali. Gadis itu memantau dari ketinggian, tepat-nya di atap sekolah mereka. Meski sekolah sudah libur natal, masih ada saja beberapa siswa yang memakai sekolah untuk acara-acara kecil. Dan, dari siswa yang ada di dalam sekolah itu, ada seseorang yang menjadi target gadis itu.
"Kau sudah tau bukan? Kau harus mengambil hatinya dan sudah harus ada di dalam singgasana ku malam ini. Jika kau tidak berhasil, maka hati mu yang akan menjadi pengganti nya!"
Mizuki, gadis itu menahan sakit akibat tarikan kuat di rambut nya. Ia menatap sosok pemuda yang melakukan itu, pemuda iblis yang harus terpaksa ia layani. Xavier, sosok iblis yang terikat dengan nya. Mizuki mengangguk lalu tiba-tiba terjatuh saat jambakan itu sudah lepas dari rambut nya. Ia mengalihkan perhatiannya dengan air mata yang menetes. Namun ia langsung menyeka air matanya, tidak pantas bagi seorang Mizuki untuk mengeluarkan air mata akibat kebodohannya sendiri.
Ini semua karena kesalahan nya sendiri, jika ia percaya dengan tuan nya. Maka ia tidak akan berakhir menjadi b***k, b***k yang harus mengambil hati manusia sebagai ganti agar ia tetap hidup. Kejam mungkin, namun, untuk mendapatkan sesuatu. Terkadang, kita, para manusia, sering kali terjebak dalam rasa egois kita sendiri. Rasa yang membuat semuanya menjadi hancur, rasa yang dimiliki oleh para Iblis. Mizuki menatap sosok di depan nya yang sudah menghilang, kali ini. Ia harus menjadi seorang pembunuh lagi, ia menatap benda yang diberikan oleh Lord nya pada nya. Lalu menghela nafas nya lagi.
Mizuki menghela nafas nya,satu-satu nya harapannya adalah Alice. Ia berharap Xavier, iblis itu tidak menemukan gadis itu dengan cepat. Ia hanya berharap bahwa mereka bertiga bisa menyelesaikan tugas yang mereka harus lakukan. Sebelum, sebelum Xavier membunuh semua sumber energi kehidupan gadis itu.
Terjebak dalam lika-liku kehidupan yang menyeramkan, Mizuki hampir beberapa kali mencoba untuk membunuh dirinya sendiri. Namun itu pasti berujung sia-sia, karena Mizuki akan mengingat masa-masa itu, masa-masa dimana Alice mengorbankan nyawanya untuk nya. Untuk mereka dan semua yang ia lupakan saat itu.
Dari kejauhan, Mizuki menatap lelaki yang menaiki anak tangga. Dengan seseorang yang tak kasat mata berada di punggung sosok itu. Mizuki baru ingat bahwa sosok gadis itu adalah manusia bodoh yang membunuh dirinya sendiri karena lelaki itu tidak bertanggung jawab atas kehamilan nya.
Mizuki tidak terlalu peduli, ia tidak boleh terlalu banyak berhubungan dengan mahluk fana itu. Karena mahluk fana itu memberinya efek lain. Mizuki lalu menatap ke bawah, para murid yang sedang berkemah itu terlihat sudah menyiapkan api untuk memanggang. Dan salah-satu dari mereka adalah target nya kali ini. Mizuki menarik nafas nya lagi, lalu menatap sosok itu.
***
"Kau sudah bisa berdiri? Wahhh, secepat ini?" seru Logan yang histeris saat menatap Alice yang sudah berjalan menuju ruang tamu. Xander yang sedang membaca buku sedikit melirik ke arah pandangan Logan, ia menatap Alice sebentar lalu kembali lagi membaca buku nya. Namun gadis itu masih terlihat kesulitan untuk menggerakkan sebelah kakinya yang masih membiru. Melihat itu, Logan segera menghampiri Alice dan membantu gadis itu. Karena untuk menuju ruangan baca, ada sedikit anak tangga. Karena sofa-sofa nya memang sengaja di letakkan sedikit di bawah.
Alice berhasil duduk di sofa berkat bantuan Logan, ia menatap Xander yang duduk di depan nya. Lelaki itu nampak kembali lagi seperti diri nya semula. Datar, dingin dan tidak banyak bicara.
"Apa yang membawa mu kemari?" seru Logan
"Dengar, saar istirahat tadi. Aku mendapat sebuah mimpi!" seru Alice sambil menarik nafas nya dalam. Pasalnya, akhir-akhir ini, setiap mimpinya benar-benar selalu berkaitan dengan darah. Dan itu benar-benar menyiksa nya.
"Ada apa?"
"Aku bermimpi, bahwa Mitha. Sekelas kita. Kau tau bukan?" seru Alice menatap Logan
"Ya..Ya.. aku mengenal nya, ada apa dengan gadis arrogan itu ?" seru Logan yang memang kurang suka berhadapan dengan gadis satu itu. Gadis itu akan selalu menggangu Logan yang sayang nya Logan tidak terlalu menyukai nya. Namun gadis itu hanya akan menganggu Logan seorang, membuat nya muak. Ia tidak terlalu suka dengan gadis yang gencar untuk mendekatinya.
"Dia-dia, aku bermimpi dia mati di sekolah. Dengan kasus seperti sebelum nya!" seru Alice lalu menahan nafas nya
"Shittt, Aku rasa kita harus pergi. Aku rasa ada sebuah petunjuk di sana!" seru Xander segera berdiri dan menutup buku nya.
"Pergi? Apa kau berpikir ini adalah ide yang bagus?" seru Logan tidak setuju dengan ide Xander
"Jika kita tidak menghentikan nya dan mencari tahu siapa sosok pembunuh nya. Kita juga akan terus di teror seperti ini Logan. Percayalah pada ku bahwa semua mimpi yang datang pada kita akan selalu menjadi kenyataan dan itu juga sebuah petunjuk. Ki-kita memang tidak bisa mengubah garis takdir, tapi kita bisa mencegah nya!" seru Xander
"Lalu, kau harus membahayakan diri mu sendiri lagi? Holll, jangan bodoh Xander!" seru Logan tidak terima. Xander hendak angkat suara, namun ia tidak sengaja menatap Alice yang sepertinya sedang merintih kesakitan. "Alice? Kau kenapa?" seru Xander segera berjongkok di depan gadis itu
"Tidak, kepala ku semakin sakit. Bayang-bayang pembunuhan itu masih terlihat jelas di kepala ku dan hati ku sedikit sakit!" seru Alice dengan keringat yang semakin banyak dan membasahi wajah nya lagi.
"Tunggu, aku akan membawakan mu segelas air putih!" seru Logan segera beranjak
Sementara Xander masih berjongkok di hadapan Alice, ia merasa ada sesuatu yang aneh dengan Alice. Dan, ia sudah memperhatikannya semenjak kasus pertama kali pembunuhan. "Alice, apa kau benar-benar hanya sakit kepala? Apa kau merasakan sakit yang lain? Aku sudah bertanya pada ayah, aku tau bahwa sejak kasus pertama hati mu juga sakit bukan" seru Xander
Alice yang masih berkeringat menatap Xander, ia juga bingung dengan keadaan tubuh nya sendiri. Rasanya benar-benar tidak bisa di ekspresikan. "Tidak, aku-aku mera---!
"Minum dulu Alice dan jangan banyak bertanya, dan !" Logan datang dan memotong pembicaraan mereka "Jangan terlalu banyak bertanya pada nya untuk saat Ini xander!" sambung Logan.
Xander nampak menatap Alice, ia menghela nafas nya dan berusaha untuk tidak berpikiran yang lain. Mr.Erick yang menatap mereka dari lantai dua menatap ke arah Xander, ia lalu masuk lagi ke dalam kamar nya saat Xander menatap nya. Seolah mengerti dengan apa yang terjadi, Xander sadar bahwa lelaki itu ingin menyampaikan sesuatu padanya.
"Tunggu sebentar, aku rasa ayah ku ingin mengatakan sesuatu untuk ku!" seru Xander segera menaiki anak tangga. Namun Xander sedikit berhenti saat di atas anak tangga lantai dua terdapat seekor kucing. Berusaha untuk tidak peduli dengan tatapan tajam kucing hitam itu,Ia terus melangkah hingga berhenti di sebuah pintu dengan ukiran kelelawar, tangan nya hendak terulur namun "Masuk lah, ayah sudah menunggu mu!" . Suara itu menghentikan tangan Xander. Ia beralih dan segera membuka knop pintu dan menatap ayah nya yang sedang duduk di sebuah kursi hitam di tengah ruangan.
"Ayah, apa yang ingin ayah katakan?" seru Xander
"kau harus menyelamatkan sosok yang disebutkan Alice di dalam mimpinya itu nak. Ayah rasa, ada yang aneh dengan gadis itu! Apa kau mengerti apa yang kumaksud?" seru Erick menatap Xander
"A-a-aku ragu ayah, tapi apakah ayah berpikiran bahwa orang itu ada hubungan nya dengan Alice?"
"Ayah rasa begitu, ini!" Xander menatap sang ayah yang berjalan ke arah rak buku dan kembali lagi pada nya "Ini, ini adalah buku mitologi. Semua yang ada di dalam buku ini adalah nyata. Aku rasa ada sesuatu yang mungkin bisa membantu mu dari buku ini, lekas lah pergi ke sekolah. Ayah akan mengutus anak buah ku untuk membantu mu !" Seru Erick
"Apa ayah percaya pada ku?"
Lama, cukup lama hingga Erick menatap netra putra nya itu. "Tidak, ayah tidak pernah percaya pada siapa pun nak. Bahkan, ayah tidak pernah percaya pada diri ayah. Tapi, ayah percaya pada takdir. Jika kau sudah ditakdrikan bisa menyelamatkan nya, maka kau harus mengikuti naluri mu!" Untuk pertama kalinya Erick mengatakan apa yang ia percaya selama ini. Erick memang seperti itu sejak dulu,ia tidak pernah percaya pada siapapun. Takdi dan nasib, ia hanya percaya dengan apa yang sudah di atur oleh sang pencipta mereka. Sang pembuat skenario kehidupan mereka dan Erick percaya padanya.
Xander terdiam seribu kata, jika di pikirkan kembali. Ucapan ayah nya memang benar. Ia bahkan mengajukan pertanyaan konyol. Sebelumnya, ia bahkan tidak pernah bertanya pada seseorang apakah mereka percaya pada nya atau tidak. Kini, Xander merasa tau mengapa ayah nya juga berubah sikap saat menatap Alice untuk pertama kali.
"A-aku percaya pada diri ku sendiri, aku pergi dulu ayah!"
***
"Kau mau kemana?" seru Alice menatap Xander yang sudah di ambang pintu dengan jaket hitam nya.
"A-alice? Mengapa kau bisa ada di sini? Kemana Logan?" seru Xander
"Dia pamit untuk pergi ke rumah nya sebentar, dia mau mengambil beberapa barang nya untuk tinggal di sini!" ujar Alice.
Xander menghela nafas, ia menatap Alice "Aku akan menyelamatkan gadis itu, aku yakin rasa sakit mu ada hubungan nya dengan nya juga!"
"Maksud mu, kami terhubung?" seru Alice
"Y-yahh, aku rasa begitu, meskipun aku tidak yakin dengan apa yang aku pikirkan ini.Tapi, tapi aku harus menyelamatkan nya!Apa kau ingat pukul kematian nya?" seru Xander berjalan mendekati Alice
"Waktu itu, saat pesta kembang api. Mitha pergi sendirian dan ada sosok yang langsung membunuh nya! Hati nya diambil! Luka sayatan di sekujur tubuh nya dan lambang itu lagi!" seru Alice yang tiba-tiba merasa area hatinya sakit. Rasa nya sedikit ngilu saat membicarakan hal itu lagi. Alice manarik nafas nya dalam, berusaha agar tetap kuat.
"Dengar, kau cukup berada di sini saja. Aku akan menyelamatkan nya, kau percaya pada ku bukan?" seru Xander yang lagi-lagi merasa bodoh saat bertanya soal percaya." Ahhh, tidak perlu kau jawab, aku harus pergi saat ini!"
"Xander!" seru Alice menghentikan lelaki itu yang hampir menghilang di balik pintu. Alice menatap Xander dengan senyum nya "Apa pun yang ingin kau lakukan, aku percaya dengan mu. Dan, aku percaya bahwa kau bisa kembali tanpa lecet sedikit pun. Aku percaya pada mu!" ujar Alice membuat dunia Xander terasa runtuh. Ia menelan saliva nya lalu segera menutup pintu itu, bersamaan dengan hilang nya Alice dari tatapannya. Xander menutup kedua matanya, merasakan debaran dihatinya saat menatap senyum tulus gadis itu. Ia menarik nafas nya dalam dan segera berlalu saat merasakan kehadiran anak buah ayah nya yang tidak jauh darinya.
Alice menarik nafas nya dalam, ia berusaha menahan sakit di hatinya. Dan berjalan menuju sofa dimana Xander duduk beberapa menit yang lalu. Ia lalu menatap sampul buku itu, sebelum sebuah bayangan yang membuat pandangan nya sedikit gelap. Alice mantap sosok mr.Erick yang berdiri di depan nya sambil menyodorkan segelas air.
"Ini nak, minumlah. Aku seperti nya bisa merasakan bahwa aura mu sedikit meredup!"
"B-bagaimana anda tau?"
"Kau tau nak?" seru mr.Erick sambil mengambil duduk di depan Alice "Aku sudah menjadi pemburu Satan untuk waktu yang lama. Aku memiliki sebuah kelebihan sehingga aku bisa menyelamatkan manusia. Aura mu begitu terlihat jelas bagi manusia seperti kami. Saat aku menyelamatkan Xander, aura nya juga sama seperti mu!"
Alice meneguk air di tangan nya sambil mendengarkan "Aku tidak berharap banyak mengenai ramuan itu, setidak nya itu bisa membuat mu merasa baikan!"
"Sir, anda berkata bahwa anda sudah lama menjadi pemburu Satan. Apa anda bertemu dengan semua jenis mereka? Dan darimana anda mendapatkan keistimewaan itu?"
"Aku sudah mendapati keistimewaan ini sejak awal nak. Saat pertama kali bertemu dengan sesama orang spesial seperti ku, di situ lah aku berhenti mengutuk diri ku sendiri. Dulu, aku begitu merasa bahwa aku adalah orang sial. Sampai aku bertemu dengan sosok sahabat lama ku, Albert. Kami terpisah saat dia kehilangan putri nya beberapaa tahun silam. Dia jatuh cinta pada sosok gadis yang aku sendiri tidak tau siapa!"
"Lalu, dimana dia sekarang?"
"Aku tidak tau nak, tapi dia sedang mencari putri nya!"
"Mengapa putrinya bisa hilang? Apa yang terjadi dengan keluarga nya?"
"Aku tidak tau banyak nak, tapi putrinya hilang karena ia kalah bertarung dengan salah-satu satan yang cukup kuat. Dan- cukup sekian dulu nak. Aku rasa teman mu Logan sudah datang!" seru mr.Erick segera beranjak dari duduk nya dan kembali menaiki anak tangga lagi. Tepat dengan Logan yang membuka pintu dan duduk di sebelah nya.
"terimakasih atas obat nya sir!"
"Anyway nak!"
"Well, ini apa?" seru Logan menatap gelas yang sedang berada di tangan Alice
"sebuah ramuan, mr.Erick memberikan nya pada ku!"
Logan menaikkan alis nya dan menatap sosok Alice, pasalnya ia baru saja melewati mr.Erick di taman. Kapan lelaki tua itu datang dan memberikan Alice sebuah ramuan?