The Last Weird || Bagian 20

2076 Kata
Bagain 20 | Tidak sengaja Rasa sesak menyerang Alice sejak beberapa menit yang lalu. Logan yang baru saja membuka pintu segera berlari ketika melihat Alice tidak baik-baik saja. "Alice? Apa yang terjadi dengan mu?  Kau berkeringat  dan ini sedang musim salju!"  Keringat dingin semakin bercucuran dari kening Alice membuat Logan semakin panik. Ia segera berlari ke dapur, berharap menemukan apa yang sedang Ia cari.  Untung nya, Batin Logan saat menemukan segelas air dingin dan segera berlari menuju ruang tengah. "Alice, minum lah!"  "Tidak, rasa nya sakit jika aku minum. Hati ku, aku-- hati ku s--s-sakit Logan!" isak Alice sambil berbicara dengan nafas yang terengah-engah. Berusaha untuk mengambil udara sebanyak yang Ia bisa.  "A-apa yang harus aku lakukan? Apa yang kau butuh kan? Arkhhh, aku sama-sekali tidak tau!" teriak Logan sambil berusaha untuk menemukan sesuatu yang bisa membantu Alice yang semakin terlihat menyedihkan.  Tidak lama, sosok lelaki paruh baya tiba-tiba berdiri di depan Alice. Gadis itu menatap sosok itu dengan kening berkerut, rasanya tidak asing. Ia seperti nya pernah melihat sosok paruh baya yang ada di depan nya. "Si-siapa Anda?"  "Aku? Kau- Astagahhh, siapa kakek ini?" teriak Logan saat membalikkan badan nya dan menatap sosok lelaki berjubah serba hitam yang melekat di badan lelaki itu. Logan bahkan hampir terjungkal ke belakang sakin terkejut nya.  "Ini, minumlah jika kau ingin selamat kali ini!" Alice menatap botol di depan nya, Ia menatap kakek di depan nya lagi dengan tatapan bertanya. Alice mengerutkan kening nya, "Maaf tapi saya tidak bisa menerima ini, Anda saja yang meminum nya!" Botol itu kembali Alice serahkan pada sosok kakek tua berjubah itu.  "Aku tau hati mu sakit Alice, minum lah. Maka sakit nya akan berkurang. Aku tidak bisa berbuat banyak, aku harap kau mendengar kan ku. Aku pergi dulu!"  "Tu-tungg----" "Yak, dimana kakek itu?" seru Logan yang segera berdiri dan menatap ke sekeliling nya. Sosok kakek tua yang tadi duduk di hadapan Alice sudah menghilang. Logan lalu menatap Alice yang juga sama bingung nya dengan nya. Namun Logan baru tersadar satu hal, "Alice, bagaimana dengan mu?"  "Arkhhhh, s-sakittt!"   Tekk...  Pintu terbuka, Alice dan Logan menatap sosok yang muncul di depan pintu lagi. Alice menatap Xander yang seperti nya sedang kacau. Xander segera menghampiri gadis itu, "Alice? A-apa kau baik-baik saja? Kau panas!" ujar Xander saat Ia meletakkan tangan nya di kening gadis yang sedang pucat itu. Jantung Xander semakin berdetak dengan cepat. " Ini apa?" Tunjuk nya sambil menatap botol yang ada di meja.  "Ahhh itu, tadi, sebelum kau datang. Ada sosok kakek tua yang tiba-tiba duduk di depan Alice. Dan memberikan nya botol itu, dia juga tau Alice sedang tidak baik!" kali ini Logan yang menjawab  "Ck, minum lah Alice! Aku bisa menjamin bahwa cairan ini tidak berbahaya!"  Brakkk... " Dasar bodoh, apa kau ingin Alice terkena racun hah? Apa kau senang?" murka Logan meninju wajah Xander  Lagi, Logan lagi-lagi berada di luar kendali nya. Alice menatap Logan dan Xander lemah. Xander hendak membalas Logan, namun menatap raut wajah kesakitan Alice. Membuat amarah Xander berada di atas ubun-ubunnya.  "Sialan, tidak seharusnya kita bertengkar di saat sulit seperti ini. Aku akan meminum nya duluan.Jika aku memang keracunan, maka kau tidak perlu menguburku!". Xander langsung membuka botol itu dan segera meneguk nya. "Kau lihat bukan? Sekarang minum lah Alice, Aku bermimpi tentang ini sebelum nya!"  Dengan ragu, Alice mengangguk. Tetapi tidak dengan Logan yang segera menahan Xander lagi dan hampir membuat cairan itu tumpah. "Kau mau apa hah? Kau memberikan Alice cairan ini?"  "Minum lah Alice. Kau hanya perlu percaya pada ku!" seru Xander sambil mendorong Logan sehingga lelaki itu terjatuh.  Alice yang semakin merasakan sakit di d**a nya segera mengganguk, ia bergegas meminum cairan itu. Logan yang tidak sempat mencegah, segera menerjang Xander yang tidak siap dengan serangan nya. "Dasar sialan, kau mau membuat Alice bertambah parah hah? Dari awal aku sudah curiga dengan mu sialan!"  "Lepaskan Aku Logan, kau harus menguasai jiwa mu. Sialan!" Xander berusaha bangkit sambil mendorong Logan yang masih memukul wajah nya.  "Diam bodoh, aku akan membunuh mu!"  Brakk....Brakkk...Brakkk... "Kau sialan, kau yang menjebak kami sialan. Aku tau kau ingin memberikan kami sebagai tumballl... Kau sialan!" Brakk....brakk...  Logan terus memukul wajah Xander membabi buta, sementara lelaki itu benar-benar tidak sanggup membalas Logan karena tenaga nya yang terkuras saat ini. Namun, "Logan, Hentikan! Kau gila, kau bisa membuat Xander mati!" teriak Alice dengan murka. Karena Logan tidak berhenti memukul wajah Xander. Alice menatap bangku di belakang nya dan  Pranggggg  Bangku besi itu tepat mengenai punggung Logan, lelaki itu seketika berhenti memukul Xander dan jatuh dengan keadaan pingsan. Alice terkejut saat sadar apa yang ia lakukan. Alice segera membantu Xander, "Xander..., Kau tidak apa-apa?"  "Aku tidak apa-apa, Ck, Logan seperti nya sedang tidak sadar!" seru Xander yang sudah bangkit berdiri dengan wajah yang babak belur. Ia menatap Logan yang pingsan di bawah mereka. Menghela nafas nya lelah, Xander menatap Alice "Apa kau sudah lebih baik?"  "Ya, hati ku tidak sesakit tadi lagi!" Alice menjawab dengan cukup segar.  "Aku akan  memindahkan nya ke sofa. Biarkan dia sadar sendiri!" Xander langsung mengangkat Logan ke sofa dan pergi karena Alice menarik tangannya.  *** Alice berjalan dengan kotak yang berada di tangan nya, langkah gadis  masih sedikit terasa sakit. Namun tidak sesakit beberapa jam sebelumnya,  langkah Alice  berhenti di depan pintu berukirkan naga. Tangan Alice terangkat untuk mengetuk nya, namun terhenti sebelum tangan itu benar-benar menyentuh pintu itu. Alice menarik nafas nya, dan tok...tok.... tok "Masuk lah!"  Alice membuka knop pintu dan menatap Xander yang sedang bertelanjang d**a. "Alice? Maaf, aku akan segera memakai baju ku!" Lelaki itu bergegas mengambil sweater nya. Alice masih menutup kedua mata nya karena terkejut.  "Sudah, kau bisa membuka mata mu!"  Alice membuka kedua matanya dan menatap sosok Xander yang sedang berdiri di depan ranjang lelaki itu sambil menatap Alice, "Ada apa?" tanya Xander saat tidak ada percakapan di antara mereka berdua.  "Ahh, ituu. Aku hanya ingin membantu mu mengobati luka mu. Aku tau kau kesulitan!" seru Alice dengan wajah sedikit merona  "T-tidak usah, aku bisa mengobati luka ku sendiri!" Xander berucap dengan sedikit gugup  "Sudah lah, aku sudah terlanjur ke sini dan membawa obat ini. Aku tau membutuhkan ku!"  Alice segera masuk ke dalam kamar Xander dan segera mendudukkan Xander yang masih berdiri. Xander sedikit gugup, Alice yang bahkan berjalan saja masih belum normal masih memikirkannya. Ia lagi-lagi teringat pada Logan. Lelaki itu memang akhir-akhir ini selalu tidak bisa mengendalikan amarah nya, dan apa pun yang menimpa mereka. Logan pasti akan selalu saja lebih menyalahkannya. Padahal, Xander juga tidak tau apa yang terjadi. Ia juga ingin hidup normal, menyelesaikan studi nya dan bisa melanjut ke tingkatan yang lebih tinggi lagi. Xander suka belajar, suka fisika dan semua yang berbaur dengan angka. Terlebih juga, mereka bertiga harus segera menyelesaikan proyek akhir tahun mereka yang masih tertunda.  Karena untuk bisa dikatakan lulus nanti, mereka harus membuat sebuha proyek. Bisa berkelompok dan juga bisa secara pribadi.  "Buka baju mu, punggung mu terluka bukan?" seru Alice  Xander menatap Alice yang melotot pada nya dengan wajah gadis itu yang sedikit merona. Xander tersenyum dalam hati saat sadar bahwa gadis seperti Alice ternyata bisa juga merona. Xander segera berbalik dan membuka baju nya. Alice segera menahan nafas nya saat menatap luka di punggung Xander yang masih mengeluarkan darah.  "Ini akan sedikit sakit, Kau bisa menahan nya bukan?"  "Ya!" jawab Xander  Alice dengan telaten membersihkan luka Xander sambil menghela nafas nya dalam. Setelah selesai mengobati Luka Xander, lelaki itu segera mengenakan baju hangat nya. Alice masih duduk di atas kasur lelaki itu, membuat Xander tidak tau apa yang harus ia lakukan sekarang.  "Wajah mu juga belum di obati. Kemari lah, aku masih kesulitan untuk bergerak dan berjalan!" Alice yang sadar wajah Xander masih babak belur langsung memerintah lelaki itu untuk mendekat padanya. Xander menurut, ia memperdekat jaraknya dan juga Alice.  Alice dengan telaten membersihkan luka di wajah nya, dari dekat Xander bisa memperhatikan wajah putih Alice yang bersih. Mata Alice berwarna coklat terang, dan Xander begitu menyukai warna mata gadis itu sejak mereka pertama kali bertemu. Hidung mancung dan bibir tipis Alice. Melihat bibir Alice, wajah Xander tiba-tiba merona. Ia hendak meraba bibirnya, namun tangan Alice menghentikannya. "Jika sakit, tinggal bilang saja. Jangan menyentuhnya dulu!"  Xander terdiam, ia kembali meletakkan tangannya di sudut badannya. Wajah Alice terlihat begitu serius dan sangat telaten. Xander menarik nafas nya, jika bisa dihitung. Ia sudah dua kali mencium bibir Alice dalam kurun waktu berdekatan. Meski dalam kontes yang tidak sengaja, tetap saja Xander merasakan getaran jauh di dalam lubuk hatinya.  Lamunan Xander buyar saat Alice selesai membersihkan luka di wajah nya dan juga sudut bibirnya. Mereka berdua kembali duduk dalam diam. Alice terlihat memikirkan sesuatu.  "Aku ingin bertanya, apa boleh?" seru Alice memantapkan hati nya, yang sejak tadi kepikiran dengan sesuatu.  "Ya!"  "Mengapa kau bisa begitu yakin cairan itu tidak beracun? Dan apa yang kau mimpikan? Ahhh bukan, pertama sekali. Apa yang terjadi di sekolah?"  Xander tiba-tiba diam saat Alice mengungkit soal sekolah. Lelaki itu masih ingat mengenai kejadian di sekolah. Alice yang menatap perubahan raut wajah Xander langsung berdiri. "Ahhh, maaf jika kau tidak ingin bercerita mengenai sekolah. Aku akan pergi saja!" seru Alice bangkit berdiri dari ranjang yang sedang ia duduki dengan sedikit ngilu di bagian kakinya. Ia hendak meninggalkan Xander, namun..  "Tunggu!" Xander refleks menarik Alice yang hendak meninggalkannya. Namun nampak nya Alice tidak begitu siap dengan tarikan Xander yang cukup kuat.  "Arkhrrrhhh!" Teriak Alice karena tiba-tiba merasakan tarikan yang cukup kuat membuat ia harus membentur sesuatu yang kuat. Mata Alice menatap Xander yang tepat berada di depan nya. Jarak mereka tinggal beberapa centi saja. Jika salah satu dari mereka bergerak, maka bisa di pastikan mereka akan bibir mereka akan saling menempel. Xander yang pertama sadar segera menjauh kan wajah nya dan melangkah ke belakang. Namun karena tidak sadar di belakang nya adalah meja belajar nya. Ia malah kembali terjungkil ke depan dan ....  Mata Xander kali ini benar-benar melotot saat sadar ada sesuatu yang janggal. Ia menatap Alice yang berada tepat di depan nya. Tidak berjarak, dan---dan--- kedua bibir mereka saling menempel dan Ia dalam posisi yang menindih tubuh gadis itu.  Xander segera berguling ke bawah dan menutup wajah nya yang memerah. Tidak, ini benar-benar bukan unsur kesengajaan nya. Ia hanya bermaksud untuk menceritakan apa yang terjadi padanya.Namun ia tidak menyangka bahwa ia dan Alice akan kembali berciuman lagi.  Xander langsung berdiri, namun ia masih mendapati Alice berbaring di atas ranjangnya. Baju gadis itu juga sedikit terbuka dan menunjukkan pusat Alice yang begitu putih. Sadar bahwa Alice tidak baik-baik saja, Xander langsung membantu Alice untuk berdiri. Wajah Alice sama merahnya dengan wajah nya. Bahkan gadis itu memalingkan wajah nya, kemana pun selain padanya. Membuat Xander merasa tidak enak hati pada Alice.  "M--maaf Alice, aku tidak bermaksud melakukan hal ini padamu. Maaf untuk kejadian ini!" Xander langsung pergi dari hadapan Alice yang bahkan tidak mau menatap nya dan juga tidak menjawab per-minta maafan nya.  Xander berlari dengan cepat, melewati sosok mr.Erick yang berjalan entah kemana. Erick menatap punggung Xander yang sudah menjauh, tidak biasanya putra nya itu bersikap seperti tadi. Dan juga wajah Xander yang memerah  membuat Erick menatap darmana asal lelaki itu berlari. Erick hanya memasang senyum nya, ia yakin putranya itu pasti melakukan sesuatu yang memalukan.  Erick yang baru saja kembali berjalan menuju dapur, membawa beberapa botol minuman dari dalam kulkas dan naik ke lantai dua. Kucing hitam kesayangannya sudah menunggunya tepat di depan anak tangga. Erick langsung membawa hewan itu masuk ke dalam ruangan pribadinya.  Sementara Xander berakhir di dalam mobil nya, ia menatap taman yang cukup luas. Ia merutuki kebodohannya kali ini. Xander tidak  pernah merasa malu sebelumnya, namun kali ini berbeda. Untuk alasan yang begitu ambigu, Xander merasakan merona untuk kali pertama dalam hidupnya. Wajah nya kembali memanas, ia merasakan manis di bibirnya. Dan ia yakin itu pasti rasa dari lipbalm yang dipakai oleh Alice.  Jantung Xander berdetak dua kali lebih cepat, ia mengacak rambutnya dan menyalakan AC mobil untuk memberikan kedinginan pada otaknya yang mulai tidak berpikir jernih. Namun seberapa keras pun usaha Xander untuk menghapuskan Alice dari dalam otaknya. Tetap saja bayang-bayang kejadian tadi tetap menghantui nya.  Alice menatap pantulan dirinya dari dalam kaca ponsel nya. Raut wajah nya sudah tenang beberapa menit yang lalu. Namun melihat bibirnya, wajah Alice tiba-tiba memerah dan panas. Alice mengipas wajah nya dan berusaha untuk mengenyahkan pikiran itu dan memilih untuk keluar.  Sementara Xander masih menenangkan pikirannya, ia meraba jantungnya. Mungkinkah ia menyukai Alice? Batin Xander dalam hatinya. Pikirannya melayang entah kemana dan ia memutuskan untuk beristirahat di dalam mobil nya. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN